Prolog
Aku tidak ingin memiliki perasaan seperti ini. Rasa di mana aku tidak bisa bebas. Aku ingin menyudahinya. Aku sudah terlalu lelah menghadapi ini seorang diri. Ingin berteriak, namun tak sanggup. Hati dan pikiranku terus dipenuhi rasa ini. Menjalani kehidupan dengan tenang adalah hal tersulit.
Aku tidak bisa melakukannya sendirian seperti ini. Rumor-rumor itu menyudutkanku. Telah bertahun-tahun lamanya aku hidup dalam kesendirian sekaligus rasa bersalah. Aku ingin bebas; terlepas dari segala beban. Aku lelah terkukung rasa bersalah, yang bahkan aku tidak tahu apa penyebabnya.
Tuhan ... izinkan aku lepas dari kegelisahan ini. Petang yang temaram, membuatnya semakin kelabu. Aku tak mau lagi terjerat dengan perasaan ini. Ingin kuberubah.
Aku bukan manusia sempurna dan aku tak menuntut untuk sempurna. Maka tolong ... siapa pun aku hanya ingin tertawa lepas, tanpa memikirkan mimpi apa nanti malam. Atau ... setidaknya izinkan aku untuk bernapas lega. Izinkan bongkahan batu yang menyesakkan d**a ini melebur.
Aku menjalani hidup dengan penuh ketidakpastian. Aku seolah dikejar oleh bayang-bayang masa lalu. Bahkan, aku pun tidak tahu wujudnya. Entah perasaan ini muncul dari mana. Sudah berulang kali aku mengelaknya, tapi ia datang lagi. Ia datang bagai debuman di kepala. Sesekali rasanya menyakitkan, sesekali rasanya memuakkan, tapi aku masih tidak tahu harus berbuat apa.
Aku tidak tahu sebenarnya ada apa.