Bagian 1

2152 Words
Aku harap hidupku kini bisa tenang. Aku harap semua itu tak kembali terjadi lagi. Aku harap. – Queena Brylee Juliana "Ini punyaku, Anna!" teriak Queen di hadapan adiknya. Tangannya masih menarik boneka yang diambil paksa. "Nggak! Ini punyaku!" balas Anna berteriak. Ia mempererat tarikan agar tidak diambil oleh sang kakak. Mereka terus meneriaki satu sama lain, tak ada yang mau mengalah. Mereka merebutkan sebuah boneka berwarna merah muda. Sebenarnya, boneka itu adalah milik Queen yang diberikan oleh Adrian, sahabatnya, sebagai hadiah kelulusan sekolah. Boneka itu selalu ia letakkan di kamar, tepatnya di atas meja belajar agar Anna, adiknya, tidak mengetahuinya. Namun saat Anna mau mengajak main Queen, Anna tidak sengaja menyenggol meja belajar Queen hingga membuat beberapa barang terjatuh, termasuk boneka itu. Mendengar keributan itu, orang tua mereka mendatangi kamar Queen dan melihat kegaduhan yang terjadi. "Kalian ini apa-apaan sih?" tanya Lianne, ibu mereka, kesal. Tadi ia sedang di dapur untuk memasak dan menyiapkan makan siang. Namun, keributan Anna dan Queen membuatnya harus menunda memasak. Ia berjalan masuk ke kamar Queen dan melihat keadaan kamar yang sudang berantakan. "Queen! Kenapa kamar kamu berantakan gini sih?!" bentaknya pada Queen, anak pertamanya. Matanya melihat sekitar yang sangat berantakan. Buku dan boneka berserakan di lantai. Ditanya seperti itu, Queen melepaskan tangannya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Anna memeluk boneka itu erat, seolah takut kehilangan boneka itu. Setelah Queen menjelaskan, ia lalu menarik boneka yang ada di dekapan Anna sehingga membuat Anna ikut tertarik dan terjatuh. "Anna!" teriak Lianne menghampiri Anna yang sudah terjatuh dalam posisi tengkurap. Ia langsung menggendong Anna keluar dari kamar Queen. Baru di ambang pintu, ia berhenti dan memarahi Queen. "Kamu itu harusnya mengalah sama Anna! Kamu kakaknya! Harusnya kamu memberi contoh yang baik! Bukan seperti ini!" ucap Lianne pada Queen yang mukanya sudah memerah menahan tangis juga. Setelah kepergian Lianne dan Anna, Abrisam, ayah mereka, menghampiri Queen yang mulai terisak. Dielusnya lembut kepala Queen sambil berucap, "Sudah, jangan menangis. Bonekanya kan nggak jadi diambil Anna." Queen mengangguk dan menyeka air mata yang membasahi pipi chubby-nya. "Sekarang kita bereskan, yuk. Ayah bantu," ajak ayahnya. Queen menaruh boneka itu di kasur untuk sementara. Lalu mulai membereskan barang-barang yang berserakan di lantai. *** Jam istirahat sudah berlalu sejak sepuluh menit yang lalu. Queen, Nada, dan Mika sedang menikmati makanan yang baru saja dibeli. Queen membeli satu porsi pempek, Nada memesan satu porsi mie ayam, dan Mika memesan satu porsi ayam geprek dengan saos barbeque. Suasana kantin sangat ramai, meja kantin sudah penuh, banyak yang tidak mendapatkan tempat untuk makan, mereka terpaksa harus makan di gazebo yang terletak di depan kelas masing-masing. Saat kedua sahabatnya telah selesai makan, Queen masih berusaha menghabiskan pempeknya. Di antara ketiganya memang Queen yang paling lama menghabiskan makanan. Kenyang alasannya. Namun, baik Nada maupun Mika bersikukuh menemani Queen hingga ia selesai menghabiskan makanannya. Seseorang mendatangi meja mereka dengan seragam OSIS yang sudah berantakan, rambut acak-acakan, serta senyum dingin yang melekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Berbagai macam pandangan tertuju padanya. Kagum, memuja, dan teriakan histeris yang tertahan selalu ia dapatkan di sekolah ini. Namun, ia tak mengindahkan tatapan orang-orang di kantin itu. Matanya terfokus pada seorang perempuan berambut hitam agak kecoklatan yang sedikit bergelombang dan menutupi setengah punggung seorang gadis yang sedang berusaha mati-matian menghabiskan makanannya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai di belakang gadis itu, tapi sepertinya ia kalah cepat karena gadis itu berbalik badan lebih dulu. Satu cengiran khas menghiasi wajahnya, membuat gadis-gadis lain di kantin memekik. Sedangkan gadis yang kini berada di hadapannya hanya menaikkan satu alisnya seolah berkata, ‘Ngapain lo di sini?’ Tangannya mengacak pelan rambut gadis itu membuat Queen, gadis yang dari tadi disebut, berdecak, “Adrian!” Walaupun sudah diperingati, Adrian tetap saja mengacak rambut Queen hingga kusut. “Apaan sih. Udah, ah!” kesal Queen. Tangannya memegang pergelangan tangan Adrian agar laki-laki itu tidak meneruskan gerakannya, tapi Adrian tidak mengindahkannya. Sekarang ia malah mencubit kedua pipi gadis itu. Queen terus berusaha menghentikan kelakuan Adrian hingga sebuah suara menginterupsinya. “Ehm! Dunia serasa milik berdua, ya, Mik,” ucap Nada sambil bertopang dagu melihat malas kelakuan kedua teman baiknya itu dan diikuti anggukkan Mika. “Apaan, sih!” elak Queen sambil mengaduk-aduk kuah pempek. “Lo berdua nggak sadar sekarang jadi bahan tontonan?” lanjut Nada membuat keduanya melihat keadaan sekitar dengan cuek. “Bodo amat,” sahut keduanya serempak membuat dua gadis itu menggelengkan kepala. Adrian duduk di sebelah Queen. Saat ia hendak minum, Adrian mencekalnya. Ia melihat piring yang masih tersisa setengan potong pempek. “Lo nggak habis lagi?” tanya Adrian sambil menatap Queen, sedangkan Queen dengan santainya menggelengkan kepala kemudian menghabiskan minumannya. Hal itu lantas membuat Adrian berdecak, “Dasar manusia batu. Dibilangin nggak pernah nurut.” “s****n,” sahut Queen. Tidak lama setelah itu, Adrian pamit untuk bermain basket. “Gue cabut. Sampai ketemu nanti, manusia batu.” “Adrian s****n,” umpat Queen pelan. Nada dan Mika sudah tidak memperhatikan keduanya lagi. Mereka sudah bosan melihat Queen dan Adrian bertengkar. Nada dan Mika malah sedang asik membicaran trailer film Raja, Ratu, dan Rahasia. Queen hanya mendengarkan pembicaraan mereka. Kadang-kadang juga ikut menjawab bila ditanya atau sekadar menimpali. Bel berbunyi membuat siswa-siswi yang ada di kantin mendesah, termasuk mereka bertiga. “Yah, habis ini geografi,” keluh Mika. “Bikin ngantuk,” sahut Nada. “Gue ke kamar mandi dulu. Kalian duluan aja,” suruh Queen. Mereka berdua pun meninggalkan Queen. Queen berjalan menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari kantin. Kamar mandi itu jarang sekali digunakan karena letaknya jauh dari ruang kelas. Saat berada di kamar mandi, Queen mendapatkan pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal mengatasnamakan seseorang yang familiar. Queen terkejut hingga ia tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Ia buru-buru menghapus pemikiran buruk. Queen bergegas menuntaskan niat di kamar mandi dan ingin segera masuk kelas. Baru beberapa langkah menuju ke kelas, ia berpapasan dengan Lucas, sekretaris OSIS di sekolah ini. “Hai Queen,” sapa Lucas sambil tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Queen. “Lo tadi dipanggil sama Pak Boni. Katanya gudang mau dibersihin, jadi beberapa barang yang sekiranya masih dipakai disuruh ngambil. Barang-barang sisa mading mending lo buang aja,” lanjutnya sambil memberi saran. “Oh. Oke,” balas Queen, “em–makasih.” Mau tidak mau ia berbalik menuju gudang untuk mengambil barang-barang yang sekiranya masih bisa dipakai untuk mading selanjutnya. Gudang terletak tidak jauh dari kamar mandi yang digunakannya tadi. Hanya saja, gudang ini jarang digunakan oleh para siswa bila tidak ada kebutuhan yang mendesak karena letaknya yang agak jauh dari jangkauan para siswa maupun guru. Queen sampai di depan gudang itu. Sebenarnya, ada rasa takut karena tempat ini terbilang cukup gelap dan sunyi. Queen membenci itu. Sangat benci. Ia mulai membuka pintu gudang yang tidak terkunci kemudian masuk dan menyingkirkan beberapa barang yang menghalangi jalannya. Namun, tiba-tiba pintu gudang tertutup dan terkunci dari luar. Matanya mengerjap berulang kali berharap ini hanyalah mimpi, tapi kali ini adalah mimpi terburuknya. Matanya memanas, ia tak bisa melihat dengan jelas karena air mata yang menggenang. Ia tidak mau berada di gudang ini seorang diri. Ia berusaha membuka dan menggedor pintu gudang. Meski sakit, tapi ia terus berusaha mendobrak pintu terkutuk itu. Sesekali ia berteriak minta tolong, tapi tak ada yang menyahut. Sedangkan di sisi lain, seseorang tengah tersenyum licik. *** “Queen kemana, sih? Lama amat,” bisik Nada pada Mika. Yang ditanya malah menghendikkan bahu. “Awas aja kalo dia nyekip nggak ajak-ajak,” gerutu Nada. Biasanya, guru yang paling ditakuti dan disegani oleh semua murid adalah guru matematika atau guru bk. Namun, bagi kelas 10-8 guru paling disegani adalah guru geografi. Selain mengajar, Bu Bos, panggilan murid-murid kepadanya, juga menjabat sebagai wali kelas 10-8. Kelas paling pojok yang hampir semua guru menyerah pada kelakuan murid-muridnya. Suara langkah kaki Bu Bos menggema di lorong membuat penghuni kelas 10-8 menghentikan segala aktivitasnya. Nada dan Mika semakin kebingungan karena satu temannya itu tak kunjung kembali. Bu Bos duduk di kursi kebesarannya. Tak ada yang berani berbicara, bahkan membuat keributan. Sebelum memulai pelajaran Bu Bos selalu mengabsen anak-anak didiknya itu. “Queen,” panggil Bu Bos. Dia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Nihil. “Ketua kelas, di mana Queen?” tanyanya. Tidak hanya ketua kelas, semua mata yang ada di ruangan itu mencari keberadaan sosok Queen di kelas. “Maaf bu, tapi saya tidak tahu,” jawabnya sopan. Bu Bos tidak terlihat marah, ia hanya terlihat bingung dan sedikit khawatir. “Bu,” panggil Mika takut-takut sambil mengangkat tangan, “tadi saat bel bunyi, Queen izin ke toilet. Tapi sepertinya dia belum kembali.” Bu Bos mengangguk paham. Setelah satu jam berlalu, yang tandanya satu jam lagi pulang, Bu Bos memberikan sebuah tugas kelompok yang membuat semua siswa mendesah. Satu kelompok beranggotakan empat orang. Dan kelompok itu ditentukan oleh Bu Bos, membuat semua siswa 10-8 mendesah malas. Sayang sekali sepertinya Nada, Mika, dan Queen sedang tidak beruntung. Mereka mendapatkan kelompok bersama seorang laki-laki yang jauh dari kata rapi, sopan, dan taat aturan. Abyan Cetta Orland. Teman-temannya hanya mengenalnya sebagai Abyan Cetta saja, seorang yang pecicilan dan tidak tahu aturan. Meskipun begitu, dia suka membantu teman-temannya, termasuk Queen. Ya walaupun mereka harus memberikan sesuatu padanya. “Mik, gue khawatir deh sama Queen,” keluh Nada. Raut khawatir jelas terlihat di wajah keduanya. Abyan bertanya, “Emang Queen kemana, sih?” Nada dan Mika mengendikkan bahu. “Nggak kayak biasanya,” lanjut Abyan. Ketiganya hening sejenak. “Coba ditelepon deh,” usul Abyan, “tapi jangan sampai ketauan.” Nada mencoba menghubungi Queen. Berkali-kali Nada melakukan panggilan tapi hanya ada jawaban dari operator bahwa nomor telepon yang dituju sedang dialihkan. Mereka terus memikirkan cara untuk menemukan Queen. Bel pulang sekolah telah berbunyi, Bu Bos mengakhiri pertemuan hari ini dengan berdoa. Tiga orang yang sejak tadi tidak mengerjakan tugas masih memikirikan keadaan temannya itu. “Gimana kalo kita nanya Adrian?” usul Mika. Usul tersebut disetujui oleh Nada, tapi tidak dengan Abyan. “Ngapain nanya tu orang? Kita bisa minta bantuan yang lain,” balas Abyan. “Nggak, kita nggak perlu kasih tau yang lain dulu. Adrian kan orang terdekatnya Queen, bisa aja Queen sama dia,” jawab Nada meyakinkan Abyan. “Kalo Queen ternyata lagi nggak sama Adrian gimana?” tanya Abyan agak menantang. “Ya nggak mungkinlah. Queen nggak mungkin ilang,” sahut Nada sambil menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dari pintu kelas ada yang menyahut agak keras. “APA? Maksudnya apa lo bilang gitu?” Mereka bertiga sontak langsung menengok ke arah pintu dan menemukan Adrian sedang berdiri di sana sambil menggendong tasnya di bahu kanannya. Ia berderap menghampiri ketiganya. “Kenapa bisa? Jelasin!” tuntutnya. Abyan mendengkus. “Tukang merintah.” Ucapan Abyan tidak ditanggapi oleh Adrian. Ia meminta penjelasan kepada Nada dan Mika karena mereka berdualah yang sejak tadi bersama Queen. “Queen nyuruh kita ke kelas duluan soalnya dia mau ke kamar mandi. Tapi sampai sekarang dia belum balik. Nih masih ada tasnya,” ucap Mika sambil menunjukkan tas Queen. “Kenapa dibiarin gitu aja sih? Kenapa nggak lapor guru?” tanya Adrian kesal bercampur khawatir. “Ya kita juga udah lapor ke Bu Bos tadi. Kita juga khawatir, nggak cuma lo,” jawab Nada menaikkan nadanya. “Udahlah,” ucap Abyan sambil berdiri, menimbulkan suara berderit antara kursi dengan lantai. “Gue mau nyari Queen daripada buang waktu nungguin kalian debat,” lanjutnya meninggalkan kelas dengan menggendong tas seperti gaya Adrian. Kepergian Abyan diikuti oleh ketiganya. Mereka bersama-sama mencari Queen. Mulai dari lorong kelas sepuluh, kantin, hingga kamar mandi yang digunakan Queen. Namun, masih tidak membuahkan hasil hingga sebuah teriakan membuat keempatnya bergegas menuju suara. “TOLONG!” teriak Queen diikuti suara gedoran pintu. “Lo pada denger suara gitu nggak?” tanya Mika hati-hati. “Denger sih kayak suara –” jawab Nada. “QUEEN!” teriak mereka bersamaan. Adrian berjalan lebih dulu ke arah suara yang ternyata menuju ke gudang diikuti Abyan, Nada, dan Mika. “Q! Is that you?” teriak Adrian. “A! Help me!” balas Queen berteriak. Tangannya tak henti menggedor pintu gudang. Suara Queen terdengar bergetar. Entah habis menangis atau menahan tangis. Mendengar suara serak gadis itu saja mampu membuatnya bertambah khawatir. Ia berusaha membuka pintu gudang melalui knop-nya, tapi tidak berhasil. “Q! Mundur!” teriak Adrian yang dipatuhi oleh Queen. Queen menggerakkan kakinya yang sudah lemas ke belakang, matanya kembali basah. Adrian berusaha mendobrak pintu gudang itu dengan tubuhnya. Dua kali percobaan tetap tidak berhasil. Akhirnya, Abyan membantu Adrian mendobrak pintu itu. Setelah pintu terbuka, Adrian melihat gadis kesayangannya sedang berdiri dengan tubuh gemetar dan wajah yang penuh keringat dan air mata. Adrian langsung memeluk Queen dan membawanya keluar. Tubuh gadis itu benar-benar gemetaran. Adrian tahu besarnya ketakutan Queen terhadap gelap dan sunyi. Tanpa disadari Adrian, perlahan mata gadis yang didekapnya itu mulai memberat dan pandangannya menggelap. Ia mengeratkan pelukannya, tapi tubuh yang dipeluk tiba-tiba merosot dan terduduk di lantai. “Q!” teriak Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD