I’ll be there for you. – Adrian Adinata
Hal terakhir yang diingatnya adalah saat Adrian mendobrak pintu gudang itu dan memeluk tubuhnya erat. Setelah itu pandangan mengabur, kepala terasa berat, dan tubuh yang melemas. Saat itu ia merasa tubuh yang semakin lama semakin merosot di pelukan Adrian, lalu semua gelap begitu saja.
Ketika dirinya mulai sadar, ia merasakan ada yang mengelus-elus punggung tangan. Ia perlahan membiasakan mata dengan cahaya.
“Q? Kamu udah bangun. Mau minum?” tawarnya. Wajah Adrian kembali terlihat panik hingga membuatnya ingin tertawa, tapi takut disangka gila.
Queen mengangguk, mengiyakan tawaran Adrian. Setelah itu dia mengomel. “Lo tuh kenapa sih harus ada di gudang itu. Udah tau gelap, masih aja masuk.”
Gadis yang masih terbaring itu menatapnya lekat-lekat. “Lo pikir gue mau masuk di ruang kayak gitu?” tanyanya sarkas.
Yang benar saja seorang Achluophobia dengan senang hati masuk ke ruangan tanpa penerangan. Cari mati namanya.
“Ya siapa tau lo cari mati gitu,” sahutnya cuek. Ia memegang tangan Queen dan memainkannya. Kebiasaannya sejak dulu jika mereka sedang berdua.
Sialan.
Ingin rasanya Queen menonjok muka songongnya itu, tapi berhubung tenaganya belum pulih, Queen hanya menatapnya tajam.
Gadis itu mendengkus. “Kayak nggak ada kerjaan lain aja.”
“Lo kan emang nggak punya kerjaan,” jawabnya sambil menggigit lengan bawah sahabatnya.
“Ah! SAKIT A!” teriaknya sambil memukul bahu Adrian. Adrian tertawa melihatnya meringis.
Queen merengek. “Lo bisa nggak sih nggak usah pake acara gigit-gigitan gitu?! Sakit tau.”
Adrian tidak bisa melihatnya merengek. Itulah kelemahan Adrian dan kini menjadi s*****a andalan Queen.
“Yah, maaf. Jangan ngrengek gitu dong, ntar nenek denger dikira gue ngapa-ngapain lo lagi,” ucap Adrian memelas.
“Ya kan lo emang ngapa-ngapain gue!” balasnya ketus. Queen menarik tangannya menjauh agar tidak digigit lagi.
***
Pintu kamar terketuk. Kirana, nenek Queen, datang membawa minum dan makanan kecil di nampan. “Kalian ngapain sih teriak-teriak? Malu didengar tetangga,” ucap Kirana saat sedang menaruh nampan ke meja belajar Queen. Adrian dan Queen saling melirik.
“Dia duluan Nek,” adu Queen yang dibalas sanggahan Adrian. “Nggak, Nek. Queen tukang boong nggak usah didengerin.”
Kirana hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Udah, udah. Minumnya diminum, makanannya dimakan. Adrian nanti makan malam di sini ya,” ucapnya.
Adrian mengiyakan. Lalu langsung mengambil minuman dan menghabiskannya. “Lo doyan apa haus?” ledek Queen. Kirana terkekeh. Adrian mencibir.
“Snack-nya dimakan juga ya Dri,” ucap Kirana dengan nada mengejek. Lalu Kirana meninggalkan mereka kembali ke dapur.
“Gue mau ngomong serius deh Queen,” ucap Adrian setelah Kirana berlalu.
Queen mengernyit.
“Kamu ... kenapa bisa di gudang?”
Tubuh Queen sedikit menegang. Matanya mulai memerah, mencoba menahan air mata agar tidak lolos. “A-aku nggak mau bahas itu,” jawab Queen serak.
Adrian dan Queen beberapa kali menggunakan panggilan aku-kamu saat mereka sedang membicarakan sesuatu hal yang serius.
“Kenapa?” tanya Adrian lembut. Jika sudah seperti ini, maka Queen susah untuk mengelaknya.
“Aku ... takut,” cicit Queen. Ia mencoba tidak menangis.
“Ssshh. I’m here. Kamu bisa cerita apa aja ke aku, nggak usah takut,” bujuk Adrian sambil mengusap-usap rambut Queen.
Queen mengambil ponsel dan memberikannya pada Adrian dengan gemetar. “Tadinya aku nggak percaya.”
Adrian membaca pesan itu dengan seksama.
‘Masa lalu yang terjadi tak seharusnya dilupakan. Bukan begitu Queena Brylee Juliana?’ – Hanna Zainisa
Adrian menggeram. “Sejak kapan?”
Mereka bertatapan. Queen dengan pandangan takutnya dan Adrian dengan tatapan tajamnya. “Sejak kapan kamu diteror kayak gini?!”
Queen hanya diam. Bukannya tidak mau menjawab, dia hanya sedang mengingat-ingat. “Jawab Queen! Sejak kapan?” Adrian bertanya dengan sedikit membentak, membuat Queen menunduk takut. Ia cukup trauma dengan suara keras atau bentakan.
Merasa gemas, Adrian mengangkat dagu Queen agar ia menatap matanya. “Jawab Queen. Adrian nggak akan bentak kamu kalo kamu jawab.” Ucapan Adrian melembut, penuh sihir yang bisa membuat siapa saja luluh.
Queen menatap mata Adrian dengan mata memerah. “S-sejak semester lalu,” ucapnya pelan.
Adrian melotot. Bisa-bisanya Queen tidak memberitahunya mengenai hal ini. “Kenapa nggak bilang?” Adrian mencoba bertanya dengan lembut lagi agar Queen tidak merasa takut.
“Cuma satu kali, A. Queen pikir kamu nggak perlu tau,” jawabnya takut-takut kalau emosi Adrian meledak. Ia menundukkan kepala.
Adrian menasihati Queen dengan sabar. “Mau sampai kapan kamu kayak gini Queen? Kamu nggak bisa simpan semuanya sendiri. Kita kan udah janji nggak ada yang ditutup-tutupin dalam persahabatan. Kamu boleh curhat, ngadu, marah-marah, atau apapun sama aku. Jangan dipendem, Q! Adrian nggak suka!”
Queen mulai terisak membuat Adrian sedikit frustrasi. Boleh saja Queen dikenal oleh banyak orang karena sikapnya yang cuek dan tidak pedulian, tapi jika ia sudah bersama orang-orang terdekatnya, ia akan menjadi seseorang yang rapuh.
“Kenapa diem?” tanya Adrian. Tangan yang tadinya mengelus-elus puncak kepala Queen, kini memegang kedua bahu gadis itu.
“Hey,” panggilnya membuat gadis yang menundukkan kepalanya semakin terisak. Tanpa aba-aba lagi Adrian menarik Queen ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan penuh kasih sayang.
“Maaf,” gumamnya. Kata maaf terus digumamkan Adrian selama mereka berpelukan.
Bagi Queen, Adrian adalah seorang sahabat sekaligus kakak. Karena Queen anak pertama, ia tidak pernah mengerti bagaimana kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Sedangkan bagi Adrian, Queen adalah sahabat yang paling ia sayangi. Sampai saat ini, ia tak pernah menganggap Queen lebih dari sahabatnya.
***
Abyan membanting tas yang digendong ke atas ranjang. Wajahnya ditekuk, pikirannya kusut, dan sedang tak ingin diganggu. Namun, Alfarizi Orland, ayah kandung Abyan sekaligus pemilik dan penyumbang dana terbesar untuk sekolah yang ditempati oleh Queen dan teman-temannya juga pemilik perusahaan tekstil yang cukup terkenal di kota ini, masuk ke kamar Abyan tanpa permisi hingga membuat Abyan berdeham cukup keras. “Perasaan tulisan udah digedein.”
Papanya tidak mengindahkan sindiran Abyan. “Papa mau ngomong sama kamu.”
Tidak ada balasan dari Abyan. Ia asik tiduran di ranjang sambil memandangi langit-langit kamar dan bermain dengan kancing baju seragamnya.
“Papa diundang makan malam. Kamu harus ikut,” ucap Alfarizi sambil melihat kelakuan anaknya itu.
“Papa aja, Abyan nggak ikut,” tolaknya. Sepengalamannya, acara makan malam hanya sebagai formalitas belaka. Sedangkan acara sesungguhnya adalah pembicaraan mengenai bisnis yang jelas-jelas Abyan tidak suka.
“Papa tidak menerima penolakan apapun, Abyan! Besok pukul tujuh malam, pakai jas.” Setelah mengatakan hal itu, Alfarizi meninggalkan kamar Abyan.
Abyan mengubah posisinya menjadi duduk. “Harus ikut. Papa tidak menerima penolakan. Blablabla,” ucap Abyan menirukan gaya bicara papanya itu. “Terus aja maksa,” cibirnya.
Abyan merebahkan kembali badannya sambil merentangkan tangannya. “HUAH! Capek gue,” keluhnya.
Dia mengambil ponsel dari kantong celananya dan mengetikkan beberapa kalimat untuk si penerima pesan. Setelah mengirim pesan itu, Abyan mengganti seragam sekolahnya menjadi kaos oblong warna hitam dan celana sedengkul bercorak army. Dia mengambil kunci motornya begitu saja dari atas meja belajar dan menjalankan motornya ke suatu tempat.