bc

Di Balik Cinta yang Palsu

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
forbidden
BE
family
time-travel
friends to lovers
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
serious
campus
city
office/work place
cheating
secrets
war
like
intro-logo
Blurb

Genre : Romansa, Drama, Thriller, Misteri

Adrian Vale adalah seorang diplomat muda yang ditugaskan ke sebuah negara asing untuk menjalankan tugas pemerintahan. Hidupnya yang penuh aturan berubah ketika ia bertemu dengan Elena Laurent, seorang perempuan cantik dan cerdas yang bekerja sebagai penerjemah di lingkungan diplomatik.

Pertemuan sederhana itu perlahan berubah menjadi hubungan yang lebih dalam. Elena menjadi orang yang selalu berada di sisi Adrian, hingga tanpa disadari keduanya jatuh cinta.

Namun, Elena menyimpan rahasia besar.

Pertemuan mereka ternyata bukan sebuah kebetulan. Di balik sikap lembut dan perhatian yang selama ini Adrian kenal, Elena menjalankan sebuah misi yang berhubungan dengan dunia politik dan rahasia negara.

Awalnya, Adrian hanyalah bagian dari rencana.

Tetapi semakin lama mereka bersama, perasaan Elena berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan. Ia mulai benar-benar mencintai pria yang seharusnya hanya ia dekati demi sebuah tujuan.

Bertahun-tahun kemudian, sebuah rahasia terbongkar dan menghancurkan kehidupan yang mereka bangun bersama.

Adrian harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang paling ia cintai telah membohonginya selama bertahun-tahun.

Namun pertanyaan terbesar bukanlah mengapa Elena mengkhianatinya.

Melainkan...

Apakah cinta yang mereka jalani selama ini juga hanyalah sebuah kebohongan?

chap-preview
Free preview
Episode 1 — Pertemuan yang Seharusnya Tidak Terjadi
Hujan turun sejak sore di Kota Valeria. Gedung-gedung pemerintahan yang berdiri megah di pusat kota mulai terlihat samar di balik tirai air. Lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang basah. Adrian Vale berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memandangi kota. Hari itu seharusnya menjadi hari terakhirnya di Valeria. Sebagai seorang diplomat muda dari Republik Arvandia, Adrian telah menghabiskan hampir tiga tahun menjalankan tugas di negara tersebut. Ia seharusnya kembali ke negaranya dua hari lagi setelah masa penugasannya berakhir. Namun sebuah ketegangan politik yang tiba-tiba membuat kepulangannya ditunda. Adrian menghela napas. Di atas mejanya terdapat tumpukan dokumen yang harus diterjemahkan dan diperiksa sebelum rapat penting keesokan paginya. Ia meraih salah satu berkas. Bahasa asing memenuhi hampir seluruh halaman. "Kalau terus begini, aku benar-benar tidak akan pulang," gumamnya. Pintu ruangan diketuk. Tok. Tok. "Masuk." Seorang perempuan muncul dari balik pintu. "Maaf mengganggu." Adrian mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, ia melihat perempuan itu. Rambut hitamnya diikat sederhana. Ia mengenakan pakaian formal berwarna gelap dengan kartu identitas tergantung di leher. Wajahnya terlihat tenang meskipun beberapa helai rambutnya sedikit basah akibat hujan. "Anda Adrian Vale?" "Ya." "Saya Elena Laurent. Saya ditugaskan membantu menerjemahkan dokumen untuk rapat besok." Adrian berdiri. "Sepertinya kita belum pernah bertemu." "Belum." Elena tersenyum tipis. "Saya baru dipindahkan ke departemen ini minggu lalu." Adrian mengangguk. "Silakan duduk." Elena meletakkan beberapa dokumen di atas meja. Mereka bekerja dalam diam selama hampir satu jam. Adrian beberapa kali mencuri pandang. Elena bekerja dengan sangat cepat. Ia tidak hanya menerjemahkan kalimat demi kalimat, tetapi juga memahami konteks politik yang terkandung di dalam dokumen. "Kamu yakin baru seminggu di sini?" tanya Adrian akhirnya. Elena menatapnya. "Kenapa?" "Kemampuanmu terlalu bagus untuk seseorang yang baru dipindahkan." Elena tertawa kecil. "Anggap saja saya banyak belajar." "Di mana?" "Di banyak tempat." Jawaban itu sederhana. Terlalu sederhana. Adrian tidak melanjutkan pertanyaan. Malam semakin larut. Ketika pekerjaan selesai, Elena berdiri dan merapikan dokumen. "Saya pergi dulu." Adrian melihat ke luar jendela. "Hujan masih deras." "Saya membawa payung." Elena hendak membuka pintu ketika Adrian berkata, "Elena." Perempuan itu menoleh. "Ya?" "Terima kasih." Elena tersenyum. "Sama-sama." Kemudian ia pergi. Adrian kembali menatap jendela. Entah mengapa, pertemuan singkat itu terus terbayang di pikirannya. Ia tidak tahu bahwa sejak malam itu, hidupnya akan berubah. Keesokan harinya, rapat berlangsung lebih tegang daripada yang diperkirakan. Beberapa pejabat dari Arvandia dan Valeria terlibat perdebatan mengenai perjanjian perdagangan dan keamanan perbatasan. Adrian duduk di sisi ruangan. Elena berada beberapa kursi darinya. Sepanjang rapat, perempuan itu menerjemahkan pembicaraan dengan tenang. Namun pada satu titik, seorang pejabat Valeria menyebut sebuah nama yang membuat ekspresi Elena berubah. Hanya sesaat. Tetapi Adrian melihatnya. "Siapa nama yang tadi disebut?" bisiknya setelah rapat. Elena tampak terkejut. "Nama siapa?" "Yang disebut pejabat tadi." "Ah... saya tidak terlalu ingat." Adrian mengernyit. "Kamu menerjemahkan seluruh pembicaraan." Elena tersenyum. "Mungkin saya hanya lelah." Jawaban itu membuat Adrian semakin penasaran. Namun ia memilih diam. Malamnya, Adrian menemukan sebuah amplop tanpa nama di bawah pintu apartemennya. Ia membukanya. Di dalamnya hanya ada selembar kertas. Jangan terlalu percaya kepada orang-orang di sekitarmu. Adrian membaca kalimat itu berulang kali. Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Ia memeriksa lorong apartemen, tetapi tidak menemukan siapa pun. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun menjalankan tugas diplomatik, Adrian merasa benar-benar diawasi. Beberapa hari berlalu. Hubungannya dengan Elena semakin dekat. Mereka sering bekerja bersama hingga malam. Kadang mereka makan malam setelah menyelesaikan pekerjaan. Awalnya hanya pembicaraan tentang pekerjaan. Kemudian berubah menjadi pembicaraan tentang keluarga. Tentang masa kecil. Tentang mimpi. Tentang kehidupan setelah tugas mereka selesai. "Kalau suatu hari kamu bisa pergi ke mana saja, kamu ingin pergi ke mana?" tanya Adrian suatu malam. Elena terdiam. "Entahlah." "Kenapa?" "Karena saya tidak yakin saya punya tempat untuk pulang." Adrian menatapnya. "Semua orang punya rumah." Elena tersenyum samar. "Belum tentu semua orang merasa memiliki rumah." Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Ia mulai melihat Elena bukan hanya sebagai rekan kerja. Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang membuatnya ingin mengenal lebih jauh. Sementara itu, di tempat lain, Elena berdiri sendirian di dalam sebuah ruangan gelap. Di atas meja terdapat foto Adrian. Di samping foto itu ada sebuah berkas dengan cap rahasia. Seorang pria duduk di hadapannya. "Bagaimana perkembangannya?" Elena tidak menjawab. "Elena." "Saya sedang mengusahakannya." "Jangan terlalu dekat dengannya." Elena menatap foto Adrian. "Kenapa?" "Karena tugasmu bukan jatuh cinta." Elena mengalihkan pandangan. "Saya tahu." Pria itu mendorong sebuah dokumen ke arahnya. "Adrian Vale memiliki akses terhadap informasi yang kita butuhkan. Dekati dia. Dapatkan kepercayaannya. Setelah itu, ambil apa yang diperlukan." Elena menatap dokumen tersebut. Tangannya mengepal. "Dan setelah itu?" "Kamu pergi." Elena tidak menjawab. Ia mengambil dokumen itu lalu berdiri. Namun sebelum keluar, ia kembali melihat foto Adrian. Wajahnya yang sedang tersenyum dalam foto itu membuat hati Elena terasa berat. Karena untuk pertama kalinya sejak menerima tugas tersebut, ia mulai menyadari satu hal yang tidak pernah diperhitungkan dalam rencananya. Ia mulai menyukai pria itu. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang seharusnya tidak pernah terjadi. Keesokan paginya, Adrian menerima pesan dari Elena. Aku ingin bertemu setelah jam kerja. Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Adrian tersenyum membaca pesan tersebut. Ia tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari hubungan yang mengubah hidup mereka berdua. Dan ia juga tidak tahu bahwa perempuan yang akan ia cintai kelak...adalah perempuan yang sejak awal datang kepadanya dengan sebuah kebohongan. Namun, sebelum Adrian sempat membalas pesan itu, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Batalkan pertemuan malam ini. Adrian menatap layar dengan kening berkerut. Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk. Jika kau tetap pergi, Elena akan berada dalam bahaya. Jantung Adrian berdetak lebih cepat. Ia segera mengetik balasan. Siapa kamu? Tidak ada jawaban. Adrian mencoba menelepon nomor tersebut, tetapi nomor itu sudah tidak dapat dihubungi. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam di tengah ruangannya. Di satu sisi, ada pesan Elena yang ingin bertemu dengannya. Di sisi lain, ada peringatan misterius yang menyebut nama perempuan itu secara langsung. Adrian memasukkan ponselnya ke dalam saku. Apa pun yang terjadi malam nanti, ia harus mencari tahu kebenarannya. Tanpa Adrian sadari, dari seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir dalam diam. Seseorang sedang mengawasi gedung tempatnya bekerja. Dan di dalam mobil itu, sebuah foto Adrian dan Elena tergeletak di atas dashboard. Pertemuan mereka ternyata bukan kebetulan. Seseorang telah merencanakannya sejak awal.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Orang Ketiga

read
36.5K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
1.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
113.9K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
11.9K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.1K
bc

Babysitter Canduku

read
19.8K
bc

Benih Mantan Kekasih

read
11.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook