Mobil berdecit dan bergerak menyamping ke sisi kiri badan jalan secara perlahan. Jalur lurus tanpa tikungan dengan situasi jalan yang sepi, sedikit membantu Bayu mengembalikan kembali posisi mobilnya ke keadaan semula.
Pemuda bertubuh tegap itu menginjak rem seraya menurunkan perseneling setelah dirasa laju kendaraan sudah benar-benar normal. Mobil pun berhenti, dengan penumpang yang tampak panik dan ketakutan di dalamnya.
"Hati-hati bawa mobilnya, Bay. Jangan ngebut-ngebut!" pekik Haya dengan napas terengah-engah. Wanita itu mendekap erat tubuh ibunya yang juga tak kalah panik dengan wajah yang makin tampak pucat.
Bayu yang masih gugup, segera menoleh ke belakang. Di matanya, Bayu tidak menangkap ada sesuatu apa pun yang janggal. Deretan bangku baris ketiga tampak kosong dan gelap. Sementara di barisan kedua, hanya ada Haya beserta ibunya yang tengah duduk saling merengkuh satu sama lain.
'Aneh, perasaan tadi ....' Bayu bergumam di dalam hati. Pemuda itu sangat yakin dengan apa yang barusan dilihatnya. Sepasang tangan pucat itu terlihat sangat jelas, seolah-olah ada orang lain lagi yang ikut bersama mereka dan duduk di bangku belakang.
Suara rintihan sang ibu membuat pemuda itu lekas meraih setir. Mobil pun kembali melaju. Bayu berusaha menampik penampakan aneh yang baru saja dilihatnya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di Rumah Sakit Setyo Budi dan langsung menepikan mobil tepat di depan pintu masuk IGD. Bayu dengan cepat melapor ke tenaga kesehatan yang bertugas. Tak lama kemudian, dua orang pria berseragam hijau muda pun keluar membawa brangkar.
Ibu mereka akhirnya dibawa ke dalam dan langsung diberi penanganan. Para petugas medis berjibaku memasang alat pernapasan dan selang infus ke tubuh wanita paruh baya itu. Bayu dan Haya hanya bisa bergeming tak jauh dari brangkar. Tatapan nanar kakak beradik itu begitu menyiratkan harapan besar akan kesembuhan orang tua mereka yang tinggal satu-satunya.
"Bagaimana, Pak?" tanya Bayu ke salah satu petugas yang baru saja mengecek menggunakan stetoskop.
"Detak jantung dan tekanan darah pasien normal. Untuk saat ini, kita sedang menghubungi dokter spesialis onkologi untuk penanganan lebih lanjut. Karena kalau dilihat dari kondisi ibu Anda, beliau kemungkinan besar memiliki tumor di perutnya," ucap pria berseragam putih yang merupakan seorang dokter umum.
"Apa, tumor?" Bayu terkejut.
"Ya, tapi ini baru kemungkinan. Kita perlu melakukan tes radiografi atau rontgen terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi dalam perut pasien. Tapi ngomong-ngomong, apa kalian sudah pernah membawa pasien ke rumah sakit sebelum keadaannya sudah separah ini?" tanya dokter tersebut.
"Belum, Dok. Ibu saya perutnya membesar secara tiba-tiba." Haya menyahut sebelum Bayu sempat buka mulut.
"Secara tiba-tiba? Maksudnya? Tapi pasti ada gejala-gejala sebelumnya, kan. Seperti pendarahan selama berhari-hari, atau sakit di bagian perut. Apa kalian tidak memperhatikan?" Wajah dokter itu tampak sulit percaya.
Bayu melirik Haya seraya mengangkat dagu. Ia ingin kakaknya menceritakan kronologi mengapa ibu mereka sampai sakit seperti itu. Sebab, pemuda itu tidak tahu sama sekali asal mulanya. Terakhir kali ia bertemu dengan ibunya, adalah ketika sang ayah meninggal dunia sebulan yang lalu.
Namun, belum juga Haya mulai bercerita, dokter tersebut sudah kembali sibuk menangani pasien lain yang baru saja datang. Sementara di tempat tidurnya, ibu mereka sudah tak lagi meronta-ronta. Rupanya obat pereda rasa sakit yang disuntikkan ke selang infus, sudah mulai bekerja perlahan-lahan.
Dua kakak beradik itu pun dipersilahkan menunggu di ruang tunggu, sampai dokter spesialis datang untuk memeriksa keadaan ibu mereka lebih lanjut.
***
Sementara di rumahnya, Hafsah tampak begitu gelisah dan terus berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Bayu memang sudah mengabarinya kalau sudah tiba di rumah sakit. Akan tetapi, wanita itu masih belum bisa tenang kalau belum mendengar kabar baik tentang perkembangan kondisi ibunya.
Wajah Hafsah tampak begitu gelisah. Terlebih lagi, di rumahnya hanya ada dirinya dan putrinya yang masih suka mengigau kejadian tadi sore. Sungguh, perkataan Lala yang terus saja menyebut-nyebut sosok wanita berbaju putih itu semakin menambah ketakutan di dalam pikiran wanita itu. Hafsah sampai tak berhenti-henti menatap ke sekeliling, demi memastikan tidak ada penampakan sosok yang selalu putrinya bicarakan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hafsah sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum ketika Lala tiba-tiba menjerit dari dalam kamarnya.
"Lala?" teriak Hafsah sampai tidak sengaja menjatuhkan teko karena begitu terkejutnya.
Wanita itu tidak mengindahkan lagi air yang berserakan di lantai dapur. Hafsah langsung berlari menuju kamar karena khawatir putrinya kembali mengigau hal yang bukan-bukan.
Setelah membuka pintu kamar, ia melihat Lala sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan tangan yang terangkat, menunjuk-nunjuk sesuatu.
"Kenapa? Ada apa, Sayang?" Hafsah segera menarik putrinya ke dalam dekapan.
"Nenek, Bu. Nenek!" Lala menjerit, kemudian menangis.
"Nenek? Nenek lagi dibawa Om sama Bude ke rumah sakit. Lala jangan nangis, ya? Doain Nenek supaya cepat sembuh, terus kumpul lagi sama kita di rumah." Hafsah ikut menitikkan air mata ketika mengatakan hal itu. Saat itu, ia benar-benar sangat takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap ibunya.
"Enggak, Bu. Tadi aku lihat Nenek. Aku lihat Nenek dibawa sama dua orang tinggi besar. Kasihan Nenek, Bu. Nenek nangis-nangis gak mau ikut mereka. Tapi mereka terus bawa Nenek." Tangis Lala semakin pecah. Bocah enam tahun itu bercerita dengan sangat yakin, seolah-olah ia benar-benar melihat sosok neneknya yang kini sedang berada di rumah sakit.
Deg!
Seperti ada yang menghantam d**a Hafsah saat mendengar ucapan putrinya. Wanita itu sudah sangat khawatir dengan keadaan ibunya di rumah sakit, ditambah dengan kondisi aneh Lala yang terus saja mengigau sejak sore tadi. Hafsah tidak ingin berpikiran yang macam-macam, tetapi putrinya seolah-olah ingin menunjukkan sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat dengan mata telanjang.
"Sudah, jangan takut. Itu cuma mimpi. Kamu tidur lagi, ya! Biar Ibu temenin." Hafsah mengusap-usap rambut putrinya berusaha menenangkan.
Sambil membaringkan Lala ke tempat tidur, Hafsah tidak berhenti melantunkan doa agar putrinya lekas tertidur dan tidak lagi berbicara yang macam-macam. Sejurus kemudian, Lala berhasil kembali pulas. Namun, pikiran wanita itu terus melayang jauh tak menentu. Hafsah sungguh sangat takut. Ia tidak mau apa yang pernah terjadi dengan ayahnya, kembali dialami oleh sang ibu.
Tok tok tok
Baru saja Hafsah ingin memejamkan mata, tiba-tiba ada suara ketukan pintu terdengar dari luar. Wanita itu segera beranjak, untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Tok tok tok
Suara itu kembali terdengar, bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Hafsah akhirnya terburu-buru menuju ruang tamu, berniat untuk membukakan pintu.
Namun, belum sempat sampai ke pintu, rasa curiga kembali memenuhi pikirannya. Hafsah melirik sekejap ke arah jam dinding. Jarum pendeknya bahkan hampir menyentuh angka dua belas.
"Sudah hampir tengah malam. Siapa yang nekat datang ke sini?"