Masa Kritis

1377 Words
"Mas Beno?" Hafsah sedikit terkejut melihat Beno datang hampir tengah malam. Kondisi mata Beno yang merah dengan aroma alkohol yang menyengat hidung, membuat Hafsah sedikit sungkan mempersilakan masuk. Tanpa menunggu persetujuan, Beno sudah lebih dulu melangkah melewati Hafsah. Tidak ada orang di rumah, membuat Hafsah sedikit ketar-ketir. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan meskipun yang berkunjung itu adalah kakak iparnya sendiri. Hafsah selalu ingat dengan pesan Jamil, suaminya, agar tidak sekali pun menerima tamu laki-laki saat ia sedang tidak ada di rumah. Namun, lain yang ada di pikiran Hafsah. Mas Beno adalah suami dari kakaknya sendiri. Tidak sopan rasanya jika wanita itu melarang saudara iparnya datang berkunjung ke rumah. Dengan perasaan waswas, Hafsah kembali menutup pintu tanpa menguncinya. Ia berpikir, mungkin saja kakak iparnya itu hanya datang sebentar untuk menanyakan kondisi Ibu. Atau mungkin, Beno sengaja mampir untuk mengambil pakaian Ibu yang belum sempat terbawa. Demi mengurangi rasa canggung, Hafsah lantas menawarkan teh hangat pada Beno. Namun, laki-laki yang tengah bersandar di sofa dengan kaki yang terangkat ke atas meja itu hanya diam, tak menjawab, pun memberi isyarat tawaran adik iparnya. Beno menyalakan televisi dan berpura-pura tidak mengindahkan Hafsah sama sekali. Padahal sebetulnya, lelaki itu diam-diam memperhatikan pantulan lekukan tubuh Hafsah dari pintu bufet TV yang terbuat dari kaca. "Indah sekali. Ah, andainya kamu jadi istriku. Kamu pasti tidak akan kesepian seperti ini, Hafsah. Sungguh bodoh Jamil. Tega meninggalkan istri secantik ini hanya demi pekerjaan," gumam Beno di dalam hati. Hafsah menghela napas panjang lantaran malas dengan sikap saudara iparnya itu. Ia lantas pergi ke kamar ibunya demi menghindar, juga untuk menyiapkan baju ganti agar dibawa oleh Beno nanti. Tak banyak yang Hafsah masukkan ke dalam tas ransel besar milik suaminya itu. Ia hanya memasukkan tiga potong baju, selimut, kerudung, serta minyak angin aroma terapi yang biasa ibunya pakai sebelum tidur. "Mas, aku titip ini, ya, buat salinan Ibu," ucap Hafsah ketika keluar kamar. Beno yang tampak kuyu, hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat gelagat tidak mengenakkan itu, Hafsah hanya menggeleng seraya meletakkan titipannya ke atas meja. Sebenarnya, Hafsah ingin mengobrol sejenak dengan kakak iparnya perihal kondisi sang ibu. Namun, rengekan manja Lala berhasil membuat Hafsah lekas menuju kamar untuk mendiamkan putrinya. "Aku temenin Lala dulu, ya. Mas kalau mau ke rumah sakit, Jangan lupa dibawa tasnya!" seru Hafsah seraya membalikkan badan. Beno hanya berdehem menanggapi permintaan Hafsah, sambil matanya terus saja menatap wanita itu dari atas hingga ke kaki. "Mulus sekali!" gumamnya lagi. Hafsah yang hanya mengenak daster tipis berbahan satin, tampak sangat menggoda dengan menampilkan lekukan tubuhnya yang terlihat samar. Hafsah yang biasa berpakaian tertutup dan memakai penutup rambut, tampak sedikit berbeda saat mengenakan baju tidur dengan rambut yang terurai panjang. Pemandangan tak biasa tersebut, justru membuat Beno semakin betah berlama-lama menatapnya. Aura kecantikan yang terpancar pada wajah wanita usia kepala tega itu, lantas membangkitkan gairah bagi siapa pun laki-laki yang memandangnya. "Aku udah kirim pesan ke Mbak Haya tadi, dan kasih tahu kalau Mas ada di sini. Mas disuruh cepat-cepat ke sana kata Mbak." Ucapan Hafsah sontak membuat Beno yang sedang sangat bersemangat, melongo sesaat. "Sial!" ucapnya pelan. Beno meremas kantong jaket kuat-kuat demi menyembunyikan kekesalannya terhadap Hafsah. Tanpa memedulikan gelagat kakak iparnya, Hafsah lantas menuju kamar untuk segera meniduri Lala. Baru saja wanita itu hendak menjangkau pintu, ia tiba-tiba berbalik kembali karena baru ingat akan sesuatu. "Oia, Mas. Ibu dirawat di rumah sakit Setyo Budi. Mas sudah tahu, kan!" terangnya. Mas Beno kembali mengangguk dengan memasang ekspresi wajah malas. Setelah Hafsah masuk ke kamar dan menutup pintu, barulah laki-laki berjaket hitam itu berdiri seraya menendang tas di hadapannya dengan kaki kiri. "Sial! Aku ingin menghabiskan malam dengannya, malah disuruh bawa ginian ke rumah sakit," keluhnya. Tapi, kalau aku tidak ke sana, Bayu dan Haya pasti akan curiga, apalagi kalau sampai adik iparku ini bicara yang macam-macam," dengkus Beno kesal. Tanpa berpikir lama, Beno yang masih menggebu-gebu itu pun beranjak menenteng tas yang sempat terguling di lantai. Dengan wajah penuh dendam, Beno keluar rumah meninggalkan Hafsah dan Lala tanpa berpamitan. *** Keesokan harinya. Ketika azan subuh berkumandang, Hafsah terbangun sedikit terkejut. "Astagfirullah! Aku ketiduran!" Wanita itu pun segera melepas putrinya yang masih sangat pulas dalam dekapan. Hafsah bangkit dan gegas ke luar kamar untuk memastikan Mas Beno sudah pergi atau masih berada di sofa. Hafsah semakin terkejut ketika ia membuka pintu. Kondisi ruang tengah yang kosong, membuatnya lari cepat-cepat untuk mengecek sesuatu. Benar saja, pintu utama di ruang tamu tampak memiliki sedikit celah saat Hafsah. Itu berarti, semalaman Hafsah tidur dengan kondisi pintu yang tidak dikunci, bahkan terbuka sedikit. "Ya ampun. Untung gak ada maling masuk. Alhamdulillah. Aku sama Lala masih diberi selamat," ujarnya sambil mengunci pintu kembali. "Mas Beno ceroboh banget. Kenapa sih, gak bilang-bilang kalau mau pergi?" Hafsah menggerutu karena sikap tidak peduli Beno yang sudah kelewatan. Hafsah yang masih sangat kesal, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudu. Namun, sebelum ke kamar mandi, ia memilih untuk membereskan terlebih kondisi meja dan bangku di ruang TV yang sedikit bergeser setelah sempat diduduki oleh Mas Beno tadi malam. "Hmm ... udah dateng ke sini malam-malam, bikin berantakan pula," dengkus Hafsah kesal. Hafsah adalah wanita yang apik dan tidak nyaman melihat sesuatu yang tidak rapi di hadapannya. Sifat itu ia dapatkan dari almarhum ayahnya yang juga sangat posesif dengan kebersihan dan kerapian di dalam rumah mau pun toko tempatnya berdagang. Saat sedang menggeser sofa, tiba-tiba Hafsah menemukan sebuah benda di kolongnya. Benda berbungkus plastik kecil berwarna silver itu, ia ambil kemudian ia baca labelnya dengan saksama. "Astagfirullah! Kondom?" Hafsah langsung melempar benda itu jauh-jauh dan berlari menuju kamar mandi. Hafsah tak habis pikir kenapa ada benda itu di dalam rumahnya. Padahal, ia dengan suaminya tidak pernah sama sekali memakai alat kontrasepsi itu. “Apa jangan-jangan, Mas Beno yang bawa itu ke sini tadi malam. Tapi, buat apa?” Hafsah sedikit menaruh curiga pada sang kakak ipar yang baru saja menemuinya tadi malam. Tanpa mau berpikir macam-macam, Hafsah pun segera mandi sebelum Lala kembali bangun dan merengek lagi. Namun, sepanjang perjalanan menuju kamar mandi, pikirannya terus berkecamuk. Hafsah begitu tak nyaman dengan kedatangan Beno tadi malam. Terlebih lagi adanya alat kontrasepsi di lantai yang ia yakini adalah milik sang kakak ipar. Jika benar adanya, untuk apa laki-laki itu datang malam-malam dengan membawa alat kontrasepsi? *** Pukul 07.30. Dokter Onkologi dan beberapa perawat telah melakukan pemeriksaan terhadap ibunda Bayu yang masih saja merintih kesakitan meskipun dokter sudah memberinya obat. Kondisi perutnya pun tampak semakin membesar seperti terdapat benda hidup yang tumbuh di dalamnya. Dokter masih belum bisa memastikan penyakit apa yang diderita wanita paruh baya itu. Sebab, ia harus melewati berbagai prosedur pemeriksaan laboratorium dan rontgen terlebih dahulu agar dokter dapat mendeteksi penyakitnya. Tak ada yang bisa Bayu dan Haya lakukan selain berusaha membuat ibu mereka tenang. Sementara Beno, yang baru saja tiba tadi malam, kembali menghilang entah ke mana setelah sempat mengantarkan titipan Hafsah. Laki-laki itu memang tidak bisa sama sekali diandalkan. Padahal harusnya, ia menjaga ibu bergantian dengan istrinya yang sudah sebentar lagi akan pulang, agar Bayu bisa mengurus administrasi rumah sakit tanpa mengkhawatirkan sang ibu jika tiba-tiba terbangun dan meminta bantuan. “Sudah. Mungkin Mas Beno sudah pulang lebih dulu untuk mengurus keperluan ladang. Biar Mbak di sini yang temenin kamu. Mbak gak akan pulang.” Haya berusaha memberi pengertian kepada adik bungsunya yang terus menyebut nama Beno. Tak ada yang bisa Bayu lakukan selain mengiyakan perkataan sang kakak meskipun di dalam pikirannya tak berhenti menggerutu. Bayu merasa Beno seperti tak ada rasa khawatirnya sama sekali terhadap sang ibu mertua. Bayu yang masih harus bekerja saja, memilih untuk izin menemani ibunya yang sedang dalam keadaan kritis. Sementara Beno yang pekerjaan sebagai mandor di ladang, tak juga kelihatan batang hidungnya, padahal ladang pasti sedang tidak banyak pekerja yang datang mengingat waktu panen masih terlampau lama. Sudah sekitar tiga puluh menit setelah Dokter Onkologi melakukan pemeriksaan terhadap ibu Bayu. Hasil pun akan segera terlihat dalam waktu 24 jam untuk dokter mempelajarinya lebih lanjut. Namun, melihat kondisi pasien yang sudah sangat lemah, akhirnya Dokter Onkologi kembali membawa pasiennya ke pemeriksaan USG untuk mengetahui lebih cepat jenis penyakit yang ada di dalam perut pasien. “Kita akan lakukan tindakan operasi secepatnya. Tolong agar pasien tidak diberi makan sampai jam 5 sore nanti!" seru dokter setelah selesai mengisi laporan hasil diagnosis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD