Kelicikan Beno

1056 Words
Hari sudah mulai gelap saat Beno tiba di rumah Ki Mutar. Wajahnya tampak begitu kelelahan setelah berjam-jam berkeliling kampung mencari ayam jantan hitam yang mau dijual. Beberapa rumah warga yang sempat ia datangi, sebagian dari mereka tidak memiliki hewan tersebut dan sebagian lagi enggan menjual karena sayang. Ayam jantan hitam memang sudah langka di pasaran mengingat manfaatnya yang sering digunakan untuk ritual-ritual adat dan persyaratan sesembahan. Setelah sekian lama berkeliling mencari apa yang telah diperintahkan oleh Ki Mutar, akhirnya Beno menemukan sebuah rumah reyot yang tak jauh dari rumahnya. Rumah reyot tersebut ternyata dihuni oleh seorang lansia. Dari caranya berbicara, sepertinya pemilik rumah itu sudah tidak bisa mendengar dengan jelas dan mulai pikun. Beno sempat kesulitan berkomunikasi dengan wanita tua yang tinggal di tengah-tengah lahan kosong. Ia sempat menyerah dan hendak berbalik arah mencari rumah yang lain yang bisa ia jadikan sasaran pencarian. Akan tetapi, melihat gelagat pemilik rumah yang seperti mudah sekali dibodohi, akhirnya Beno mulai memberanikan diri melancarkan aksinya. Ketika wanita tua itu sudah masuk kembali ke dalam rumahnya, Beno diam-diam kembali dan meninggalkan motor tuanya di tepi jalan setapak. Beno terus mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia berusaha mengawasi takut-takut ada orang lain yang kebetulan melintas di tempat itu. Setelah dirasa aman, Beno pun berjalan perlahan-lahan menuju pekarangan belakang rumah wanita tua. Ia mendengar suara Koko ayam dari arah sana. Ia yakin, wanita tua itu memiliki banyak ayam peliharaan. Benar saja. Sesampainya di sebuah kandang, Beno melihat ada banyak ayam yang berkeliaran di halaman belakang rumah tersebut. Beno mulai memperhatikan satu persatu jenis ayam dan warna bulunya. Sampai ia menemukan ayam yang dicari, Beno pun mulai melancarkan aksi. Tepat di atas kandang, Beno melihat satu kantong plastik putih berisi Pur atau pakan ayam. Laki-laki itu pun meraihnya dan mengambil segenggam pur untuk kemudian di sebar ke dekat ayam hitam di sisi sudut pagar. Setelah pakan ayam disebar, beberapa ayam pun langsung menyerbu, termasuk ayam hitam yang menjadi incaran Beno pada saat itu. Dari luar pagar, Beno bisa dengan mudah menyangkal ayam hitam tersebut kemudian memasukkannya ke dalam karung yang telah ia persiapkan terlebih dahulu. Ayam-ayam yang lainnya mulai berkokok melihat salah satu teman mereka tertangkap. Kokok puluhan ayam mengandung suara gaduh yang membuat Beno lari kalang kabut karena takut ketahuan. Jika ketahuan sudah mencuri ayam, Beno bisa langsung dibakar hidup-hidup oleh warga setempat. Begitulah peraturan di sana. Beruntung, wanita tua pemilik rumah itu tidak begitu mendengar bunyi Kokok ayam-ayamnya. Ia hanya bangun dari tidurnya sejenak, kemudian kembali merebahkan kepala karena ia pikir itu hanyalah suara televisi yang dibiarkan menyala seharian. Beno dengan bebas melenggang menuju kendaraannya. Ia lekas melajukan sepeda motor sebelum ada yang datang memergoki kelakuannya. Sesampainya di rumah Ki Mutar, Beno langsung mengeluarkan ayam tangkapannya dari dalam karung bekas beras. Ia lalu masuk ke dalam, dan menangkap Ki Mutar sedang duduk sambil melahap sepiring makanan di hadapan. "Ki, ini pesanannya," ucap Beno sambil menelan ludah. Sudah hampir seharian tidak makan, perut Beno pun mulai keroncongan. "Bawa ke dapur. Ikat dengan tali kuat-kuat agar tidak lepas!" seru Ki Mutar sambil masih sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya. Dengan tergesa-gesa, Beno melangkah ke dapur untuk menunaikan perintah dari sang dukun. Setelah berhasil mengikat kaki ayam dengan tali rafia, Beno pun menelisik ke arah tudung saji anyaman bambu yang terdapat di atas meja makan dapur Ki Mutar. Beno dengan sigap menyingkap tudung saji tersebut. Sebakul nasi dengan sepiring tahu goreng dan sambal, tampak begitu menggoda di matanya. Beno merasa sungkan dan ingin meminta izin terlebih dahulu untuk memakan makanan tersebut. Namun, rasa lapar yang sudah teramat sangat, membuat air liurnya menetes dan Beno pun tidak bisa lagi menahannya. Sepotong tahu kini sudah terlumat sempurna di dalam mulutnya. Kini, giliran Nasi dan sambal yang sejak tadi melambai-lambai seperti ingin segera dicicipi olehnya. Tanpa memperoleh izin, Beno dengan sigap mengambil piring dari dalam rak lalu menyendok nasi dan sambal. Ia mengambil kembali dua potong tahu yang masih tersisa, kemudian membawanya ke ruang tamu untuk menghabiskannya bersama sang tuan rumah. Beno pun keluar dari dapur dan langsung mengambil tempat di samping Ki Mutar. Betapa terkejutnya Dukut itu ketika melihat Beno sudah menyangga piring sambil duduk bersila di sampingnya. "Kurang ajar kamu! Tidak ada sopan santunnya sama sekali main ambil makanan saja tanpa permisi lagi," pekik Ki Mutar dengan nada kurang jelas lantaran mulut yang masih penuh dengan makanan. "Maaf, Ki. Perut saya sudah tidak kuat menahan lapar sejak tadi. Saya terpaksa mengambil ini tanpa seizin Aki. Nanti kapan-kapan tak ganti traktir Aki di warung makan yang enak." Beno cengengesan sambil melahap makanannya dengan semangat. Sementara Ki Mutar, seperti hilang selera makan mendengar janji manis Beno yang entah sudah beberapa kali ia ucapkan, tetapi tak kunjung terealisasikan. "Cih! mau traktir saya? utangmu saja sudah berapa tumpuk, Beno?" seloroh Ki Mutar dengan nada mengejek. keduanya pun sama-sama larut dalam santapan makan malam meskipun sempat saling melirik sinis satu sama lain. Mereka lalu kembali mempersiapkan segala hal di sebuah ruangan pribadi, yang biasa Ki Mutar pergunakan untuk mengobati pasien atau mengirimkan telu dan guna-guna. Ayam jantan hitam yang sempat diikat, dilepaskan kembali dan dibawa ke ruangan pribadi itu. Sebilah pisau dengan mata yang menyala, siap untuk mengiris leher ayam yang darahnya nanti akan dipergunakan untuk proses persembahan. Ki Mutar dan Beno mulai duduk berhadapan. keduanya bersiap-siap melakukan semedi persiapan sebelum eksekusi tengah malam dilaksanakan. Ya, tengah malam nanti, Ki Mutar akan mengirimkan suatu benda gaib ke rumah kediaman Hafsah. Pengiriman bala tersebut memang biasa dilakukan oleh para dukun di tengah malam sebagai waktu yang tepat. Pada tengah malam, orang-orang biasanya sudah tertidur lelap dan tubuh mereka pun dalam keadaan lemah. Hal itu dimanfaatkan oleh para pengirim bala untuk mempermudah masuknya suatu penyakit atau telu ke dalam tubuh manusia yang sedang dalam keadaan tertidur atau lemah secara fisik. Biasanya, para dukun akan memakai jasa makhluk bernama Banaspati. Banaspati merupakan makhluk menyerupai bola api yang biasa dijadikan jasa pengiriman bala atau penyakit oleh sang dukun ke seseorang yang sudah menjadi sasaran. Makhluk tersebut akan berterbangan mencari rumah tinggal orang yang dituju. Ia akan langsung menjatuhkan kiriman berupa penyakit dari atas genting rumah dan langsung menyesap masuk ke tubuh korbannya. Jika saat itu korban dalam keadaan tertidur, sangat bisa dipastikan penyakit itu akan dengan mudah masuk ke tubuhnya. Namun, jika orang yang dituju sedang terjaga apalagi sedang melakukan kegiatan ibadah di sepertiga malam, penyakit kiriman itu bisa hancur dan berbalik ke orang yang mengirim.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD