Sementara itu di dalam rumahnya, Hafsah dan suaminya tampak tak sabar menunggu Bayu pulang. Pemuda itu sudah mengabari akan pulang ke rumah mereka selepas bekerja. Sepertinya Bayu tidak bisa menunggu sampai akhir pekan untuk membahas masalah baru yang baru saja diinformasikan padanya.
Hafsah berulang kali melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tidak biasanya Bayu pulang sampai selarut itu. Karena biasanya, pemuda itu selalu sudah tiba di rumah sebelum masuk waktu magrib.
Jamil yang menangkap gelagat khawatir sang istri, berusaha meyakinkan dengan memberi pernyataan kalau kemungkinan Bayu bekerja lembur tanpa sempat mengabarkan lagi.
Hafsah tidak bisa percaya begitu saja. Karena tidak biasanya Bayu pulang terlambat tanpa memberinya kabar. Terlebih, ponsel pemuda itu tidak aktif sejak dua jam lalu. Hal itu membuat pikiran Hafsah semakin menerka-nerka hal buruk tentang keadaan sang adik yang entah sedang berada di mana sekarang.
“Apa jangan-jangan, telah terjadi sesuatu pada Bayu, Mas.” Hafsah mulai berani bersuara meskipun pikirannya melayang ke mana-mana.
“Hush! Jangan bicara seperti itu. Kita tunggu saja sambil berdoa agar Bayu dalam keadaan baik-baik saja,” ucap Jamil yang masih terus berusaha menghubungi Bayu via ponsel.
Hafsah mengangguk sambil terus mengusap pelan dadanya. Wanita itu berusaha tenang dengan tak henti-hentinya berdoa di dalam hati. Hafsah ingin sekali meyakinkan diri meskipun perasaannya tidak bisa dibohongi.
“Seharusnya kita tidak membicarakan soal surat tanah itu pada Bayu. Baik kita tunggu saja dia pulang ke sini baru kita bicarakan itu semua,” ucap Hafsah penuh penyesalan.
Jamil kini tidak lagi menjawab perkataan istrinya. Ia tetap fokus mencari keberadaan Bayu lewat orang-orang yang kebetulan dekat dengan pemuda itu.
Jamil baru saja hendak menghubungi salah satu rekan kerja Bayu yang pernah bertemu dengannya di sebuah acara keluarga beberapa bulan lalu. Namun, suara derung sepeda motor di depan rumah, membuatnya segera beranjak untuk memastikan siapa yang datang.
“Apa itu Bayu, Mas?” tanya Hafsah dengan wajah antusias.
Jamil yang baru saja melongok ke luar pintu, sontak berteriak melihat orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga.
“Bayu. Masya Allah!” ucapnya sambil melenggang keluar menyambut sang adik ipar.
Hafsah pun tak kalah histeris. Setelah mendengar nama Bayu terucap dari mulut suaminya, wanita itu langsung bergegas mencari tongkat untuk membantunya berdiri. Pelan-pelan Hafsah berjalan menuju pintu. Raut wajah lelah Bayu menjadi peredam ketakutan yang hampir saja meleburkan hatinya.
“Mbak ngapain ke luar? Masuk saja, ini sudah malam.” Bayu menyambut sang kakak degan uluran tangan. Setelah menyalami Hafsah, pemuda itu sigap memapahnya berjalan ke dalam.
“Astagfirulloh, Bayu. Kenapa kamu pulang lama sekali? Apa terjadi sesuatu di perjalanan tadi?” Hafsah langsung menodong Bayu dengan pertanyaan. Wanita itu begitu cemas menunggu sang adik yang tidak memberinya kabar.
“Aku lembur tadi, Mbak. Aku enggak sempat mengirimkan pesan karena banyaknya pekerjaan. Aku minta maaf,” terang Bayu seraya menangkupkan tangan di atas kepala.
“Sudah, sudah. Menurut Mas, lebih baik kamu mandi dan salat isya terlebih dahulu. Sehabis itu, kita makan malam bersama. Kebetulan, Mas sama mbakmu ini belum makan.” Jamil berupaya melonggarkan ketegangan.
Biar bagaimanapun, adik iparnya pasti sedang sangat kelelahan. Bayu sangat butuh istirahat dan tidak sebaiknya langsung dicecar banyak pertanyaan.
“Nah, ini baru kakak ipar yang pengertian. Enggak kaya Mbak Hafsah. Adiknya baru pulang, langsung diserbu sama omelan,” ledek Bayu pada kakaknya.
“Kamu ini ....” Tangan Hafsah refleks mencubit lengan Bayu. “Kamu enggak tahu dari tadi Mbak khawatir banget sama kamu? Mbak takut kamu kenapa-kenapa Bayu. Seharusnya kamu kabari Mbak dulu,” ucap Hafsah dengan wajah begitu gemas melihat tingkah laku adiknya.
“Sudah. Lala sudah tidur. Kalian jangan berisik takut Lala menangis.” Jamil kembali menengahi.
Setelah puas meledek sang kakak, Bayu pun lekas masuk ke kamar.
Hafsah dan Jamil dengan sabar menunggu Bayu di meja makan. Malam ini, mereka akan membahas persoalan dokumen-dokumen surat tanah yang hilang.
***
Sementara itu di teras kontrakannya, Haya tampak berjalan mondar-mandir sendirian. Suasana di sekitarnya sudah tampak sepi. Tidak ada lagi orang-orang yang menongkrong di warung kopi seperti yang ia lihat beberapa menit tadi.
Tatapan mata Haya begitu tajam menuju ke ujung jalan. Setiap motor yang lewat, selalu ia amati berharap itu adalah motor sang suami.
Jantungnya berdegup tidak menentu. Dia begitu menunggu kepulangan Beno yang sejak pagi pergi entah ke mana, ia sendiri pun tak tahu.
Haya tidak pernah merasa waswas seperti itu. Lagi pula, pulang tengah malam sudah menjadi kebiasaan Beno sejak mereka awal-awal menikah.
Namun, ada yang lain yang Haya tunggu dari suaminya malam ini. Wanita itu ingin menanyakan keberadaan uang hasil berjualan yang lenyap entah ke mana.
Kemarin malam, Haya masih melihat uang itu berada dalam tas di dalam lemari pakaian saat hendak menambahkan uang hasil penjualan seharian kemarin. Namun malam ini, saat Haya ingin menambahkannya lagi, uang itu justru sudah tidak lagi di tempatnya.
Haya sempat mencari-cari uang itu ke kolong lemari dan bawah tempat tidur, berharap uang itu masih ada dan hanya terjatuh di sekitar rumah. Namun, usaha Haya nihil. Uang tabungannya itu tidak juga ketemu-ketemu.
Hati Haya begitu sesak. Mengingat uang tersebut akan ia pergunakan untuk menabung bahan-bahan bangunan untuk membangun rumah kelak. Sudah selama sepuluh tahun mengontrak, membuat Haya ingin bisa merasakan memiliki rumah sendiri seperti pasangan lainnya.
Haya rencananya akan menabung bahan bangunan di toko material. Uang tabungan yang hampir mencapai tiga juta itu ia niatkan untuk membeli beberapa sak semen untuk membangun rumahnya kelak.
Sungguh lemas tubuh Haya saat menyadari uang itu telah hilang. Ia tidak sama sekali merasa kontrakannya itu kemalingan karena saat ia pulang, kondisi kontrakan masih sangat kondusif dan tidak ada tanda-tanda dimasuki oleh orang lain.
Engsel pintu dan jendela tidak ada yang rusak. Itu berarti, kontrakan Haya tidak sama sekali kemalingan atau disatroni oleh orang asing untuk tujuan suatu hal.
Salah satu kecurigaannya justru mengarah pada Beno, suaminya sendiri. Ia sangat yakin suaminya itu pergi dengan membawa seluruh tabungannya untuk suatu keperluan.
Entah itu keperluan apa. Yang jelas, Haya harus cepat-cepat bertemu dengan suaminya untuk menegaskan masalah uang tersebut. Haya tidak mau uang hasil jerih payahnya itu habis untuk hal yang bukan-bukan. Haya berharap, jika memang uang tersebut ada pada suaminya, Haya berharap jumlahnya masih sama dan tidak berkurang. Haya sangat membutuhkan uang itu.