Haya Gelisah

1330 Words
Selepas menghabiskan makan malam, Hafsah, Jamil, dan Bayu duduk di ruang keluarga. Bayu sempat masuk ke kamarnya untuk mengambil tumpukan dokumen yang tersimpan di lemari. Sementara Hafsah, menyiapkan minuman hangat untuk menemani bincang-bincang mereka malam ini. Ketiganya lantas kembali mengecek tumpukan map tersebut demi memastikan apa yang akan mereka bahas memang benar-benar sudah tidak ada di tempatnya. Seluruh map telah mereka cek satu persatu. Sesuai dengan perkiraan, map berisi surat tanah dan sertifikat rumah Hafsah, lenyap entah ke mana. “Sekarang, bagaimana menurutmu, Bayu?” Jamil yang baru saja mengecek map terakhir, memulai membuka pertanyaan. “Menurut Mas?” Bukannya menjawab, Bayu justru balik bertanya kepada saudara iparnya. Jamil merasa hal itu bukanlah kiprahnya. Ia hanya seorang menantu dan ipar di rumah tersebut. Urusan hak pewarisan tidak seharusnya ia ikut campur terlalu jauh. “Mohon maaf sebelumnya, Bayu. Mas merasa, sudah terlalu jauh mengurusi masalah ini. Mas pun tidak berhak rasanya membongkar-bongkar berkas penting milik mendiang Bapak dan Ibu kalau tidak atas dasar permintaanmu. Sekarang, sebaiknya kamu yang menentukan bagaimana selanjutnya. Sebab, kamu adalah satu-satunya sanak laki-laki di antara dua saudara perempuanmu,” tegas Jamil bernada serendah mungkin. Bayu dan Hafsah kompak mengangguk. Keduanya pun kembali membereskan dokumen dan mengembalikannya lagi ke tempat semula. “Aku merasa ragu untuk mengakan hal ini, Mas.” Bayu berdecak. Ia merasa posisinya saat ini seperti buah simalakama. “Ragu kenapa Bayu? Apa yang kamu ragukan?” Jamil dengan santai, kembali merespons Bayu dengan pertanyaan. “Ya, Bayu. Apa yang kamu ragukan?” Hafsah pun turut bertanya kepada sang adik. Bayu tampak begitu gelisah dan sungkan. Raut wajahnya mulai tampak mengantuk dan kelelahan. “Kita membahas hal ini hanya bertiga. Sementara Mbak Haya, tidak sama sekali mengetahui akan hal ini. Aku memang merasa curiga dengan Mas Beno. Akan tetapi, kita tidak semestinya mengabaikan Mbak Haya juga,” ucap Bayu seraya mengembuskan napas kasar. Kini giliran Hafsah dan suaminya yang tertegun. Entah kenapa mereka sampai lupa dengan Mbak Haya yang merupakan anak pertama. Mereka terlalu sibuk fokus pada Beno sampai tidak melibatkan Haya dalam persoalan penting ini. “Bagaimana kita coba hubungi Mbak Haya sekarang? Kita bisa menanyakan bagaimana kabarnya agar Mas Beno tidak curiga.” Hafsah mencoba memberikan saran. “Itu ide bagus. Lagi pula, sudah beberapa hari Mbak Haya tidak datang-datang ke rumah ini. Kita juga perlu tahu keadaan Mbak Haya bagaimana,” sahut Bayu mengiakan. Setelah melihat respons baik dari kedua saudaranya, Bayu pun segera mengambil ponsel dan menelepon Haya. Bayu sedikit terkejut ketika panggilannya bisa langsung dijawab oleh sang kakak. Karena biasanya, Haya adalah tipe-tipe orang yang sangat sulit dihubungi. [Halo. Assalamualaikum. Ada apa, Bay?] Sambut Haya setelah panggilan terangkat. [Waalaikumsalam, Mbak. Bagaimana kabarnya?] Bayu berusaha berbasa-basi agar Haya tidak menaruh curiga atas maksud dan tujuannya menelepon. [Alhamdulillah, baik. Tumben kamu telepon. Kamu ada di mana sekarang? Di Jakarta, atau di rumah Hafsah?] Sesuai dugaan Bayu, kakaknya pasti akan menanyakan hal itu. Bayu sadar bahwasanya ia tak biasa tiba-tiba menghubungi sang kakak kalau tidak ada urusan yang sangat penting. [Iya. Udah lama sejak Mbak Hafsah dirawat di rumah sakit, aku gak ketemu-ketemu Mbak Haya lagi. Aku ada di rumah Mbak Hafsah sekarang. Mbak sedang apa? Tumben belum tidur.] Bayu merasa sedikit sungkan. Namun, mau bagaimana lagi? Ia harus tetap melanjutkan pembicaraan meskipun terdengar aneh menelepon kakaknya malam-malam begini. [Loh ... kamu masih bolak-balik Jakarta-Bekasi? Kamu enggak capek, Bay?] [Mbak kerepotan di kios, Bay. Mbak belum sempat main ke rumah Mbak Hafsah karena pulang malam terus.] [Mbak belum tidur. Mbak lagi nunggu Mas Beno belum pulang] Haya menjawab pertanyaan adiknya dengan suara pelan. Didengar dari nada bicaranya, Haya seperti sangat kelelahan. [Mbak Haya kerepotan kenapa? Kan, ada Mas Beno dan Mas Rodih yang bantuin Mbak?] Bayu mengerutkan dahi, heran. [Rodih sudah tidak bekerja sama Mbak lagi. Kalau Mas Beno, gak tahu dia akhir-akhir ini sering ada urusan dan pulang larut malam.] [Mbak kecapekan sendiri, Bay. Urus rumah, urus kios, bolak-balik cari orang yang mau anter ke pasar. Aduh, Mbak pusing banget. Apalagi sekarang Mbak sudah gak punya uang sama sekali. Uang tabungan Mbak hilang. Gak tahu ke mana] Terdengar keluhan berat dari mulut Haya. Wanita itu sepertinya sudah tidak kuat menahan diri sampai lepas bercerita tentang persoalan pribadi. [Hah, uang Mbak hilang? Memangnya, Mbak taruh di mana uang itu?] Bayu sangat terkejut. Dia sampai berdiri dari posisi duduknya. [Mbak taruh uang itu di dalam tas. Tas itu Mbak simpan di lemari pakaian. Semalam masih ada. Tapi pas Mbak pulang, sudah tidak ada.] Suara Haya terdengar gemetar. Wanita itu begitu keras menahan kesedihan meskipun akhirnya tumpah juga. [Mbak, Mbak nangis? Halo, Mbak?] Bayu sedikit gelagapan. Begitu juga Jamil dan Hafsah. Mereka tak kalah terkejut mendengar percakapan antara Bayu dan Haya. “Bayu, sini hape-nya, Bay. Biar Mbak yang ngomong,” pinta Hafsah sedikit memohon. Bayu yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, lantas memberikan ponselnya pada Hafsah agar wanita itu mengambil alih percakapan. Bayu merasa, Hafsah lebih tepat menanggapi hal ini karena mereka sama-sama wanita. [Halo, Mbak Haya. Mbak Haya sedang sendirian, apa ada ira8lain di dekat Mbak?] Hafsah langsung to the point bertanya. [Hafsah? Mbak minta maaf tidak sempat menemani kamu saat sedang di rumah sakit. Mbak malu sebenarnya mau ketemu kamu. Habis, Mbak harus bagaimana lagi?] Suara Haya terdengar semakin tersedu-sedu. [Sudah, Mbak. Tidak apa-apa. Aku tidak sama sekali mempermasalahkan hal itu. Sekarang, Mbak ada di mana? Ada Mas Beno atau tidak di rumah?] Hafsah semakin merasa iba. Ia kembali mengulang pertanyaan demi mendapat jawaban yang ia inginkan. [Mbak ada di rumah, sendirian Mas Beno belum pulang juga dari pagi. Entahlah. Mbak sudah capek nunggu dia berjam-jam tapi gak datang-datang.] Napas Haya terdengar sesenggukan. [Kalau begitu, Mbak ke rumah aku aja, ya! Kita ngobrol-ngobrol di sini. Kita pecahkan masalah bersama-sama. Semoga saja, Mbak bisa lebih tenang setelah datang ke rumah. Bagaimana?] Hafsah berusaha membujuk Haya. Iya berharap, kakaknya itu mau mendengarkan apa katanya. [Mbak ke sana naik apa? Sudah malam begini. Susah cari tukang ojek.] [Gak usah repot-repot cari tukang ojek, Mbak. Di sini ada Mas Jamil dan Bayu. Salah satu dari mereka bisa jemput Mbak sekarang kalau Mbak mau.] Hafsah berusaha menawarkan solusi. Tak ada suara terdengar selama beberapa detik. Sepertinya Haya sedang berpikir untuk membuat keputusan. Haya sejujurnya sangat ingin datang ke rumah adiknya untuk meluapkan segala keluh kesah. Namun, ia sendiri bingung apa yang akan terjadi jika Beno pulang tanpa ada dirinya di rumah. Laki-laki itu pasti marah besar. [Mbak sebenarnya mau sekali datang ke rumah kamu. Tapi, Mbak tut Mas Beno marah kalau dia pulang gak ada Mbak di rumah.] Haya terlihat begitu bimbang dan sulit menentukan pilihan. Hafsah pun sama. Setelah mendengar alasan sang kakak, wanita itu langsung mengalihkan pandangan pada Bayu dan Mas Jamil. “Kenapa, Mbak?” Bayu langsung bertanya menyadari raut kebimbangan wajah kakaknya. “Ini, Mbak Haya mau ke rumah, tapi takut nanti Mas Beno marah kalau pulang gak ada Mbak Haya di rumah.” Haya menerangkan kembali apa yang kakaknya keluhkan. Ia berusaha meminta bantuan solusi pada dua orang di sampingnya. “Gak usaha takut, biar nanti Mas yang kirim pesan ke Mas Beno untuk kasih tahu. Mas bisa bilang kalau Mbak Haya ada di rumah kita karena ingin menjenguk kamu,” terang Mas Beno bernada yakin. Bayu pun mengangguk tanda setuju. Setelah itu, Hafsah kembali menyampaikan pada Haya sebuah solusi yang barusan suaminya katakan. [Aduh. Gimana, ya? Mbak enggak yakin Maks Beno akan mengerti. Tapi, sepertinya Mbak memang lebih baik datang ke rumah kamu sekarang. Mbak udah gak bisa ngapa-ngapain lagi. Mbak bingung sendirian di rumah.] Haya akhirnya mengambil keputusan meskipun rasa takut masih terus merajai diri. [Nah, lebih baik Mbak ke sini, cerita pelan-pelan ke kami, biar nanti kita bersama-sama mencari solusi. Kalau Mbak terus-terusan menghadapi masalah sendiri, Mbak akan kesulitan nanti.] Hafsah merasa senang akhirnya sang kakak mau dibujuk. Setelah memutus panggilan telepon, Bayu pun segera mengambil jaket dan helm di dalam kamarnya. Bayu mengeluarkan kembali motornya yang sudah sempat ia masukkan ke dalam bagasi. Malam ini, dia akan datang ke kontrakan Haya untuk menjemput wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD