Sepeda motor yang dikendarai Bayu melaju membelah malam. Deru knalpot terdengar lebih kencang dari biasa lantaran hanya dirinya saja yang masih berkendara di jam itu.
Hawa sejuk yang berasal dari pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan, menemani perjalanan sunyi pemuda itu yang sedikit mengantuk. Bayu sampai berkali-kali mengucek mata demi bisa memperjelas penglihatan dan bisa terus terjaga selama perjalanan.
Rumah Haya memang tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima belas menit dari rumah Hafsah untuk bisa sampai ke sana. Tak henti-hentinya mata Bayu menelisik ke sekitar. Tetap tidak ada seorang pun yang masih terjaga di depan-depan rumah mereka.
Jalan aspal yang meliuk-liuk, memaksa Bayu untuk menambah konsentrasi agar tak sampai salah belok. Bayu mulia menambah kecepatan berkendaranya. Ia ingin segera menyelesaikan tugas, lalu beristirahat.
Tidak sampai sepuluh menit, Bayu pun sampai di depan kontrakan Haya. Kondisi jalan yang sepi juga kecepatan yang memadai, memudahkan Bayu tiba lebih cepat dari perkiraan awal.
“Assalamualaikum, Mbak,” ucap Bayu seraya mengetuk pintu.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu. Suara jawaban dari dalam langsung terdengar seiring gerak pintu yang terbuka.
Haya keluar sudah memakai jaket dan menyangkil tas. Wanita itu gegas mengunci pintu lalu membonceng di belakang Bayu.
“Bawa motornya jangan kencang-kencang, ya, awas!” Haya mengingatkan Bayu terlebih dahulu sebelum pemuda itu menyalakan motor.
Haya paham betul sifat adiknya yang suka membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi. Bahkan, dia sering kali melayangkan jeweran tiap kali berboncengan dengan adiknya itu.
“Tenang aja, Mbak. Mbak tinggal duduk, terus baca doa biar kita semua selamat,” ujar Bayu sedikit meledek sang kakak.
“Iya. Tapi bawanya juga jangan kencang-kencang.” Haya kembali memperingatkan. Haya benar-benar takut jika diboncengi oleh orang yang suka balap-balapan di jalan.
Motor pun menyala, kedua kakak beradik itu melaju membelah sunyi yang tampak semakin kental seiring waktu malam yang semakin larut.
“Mbak. Mbak sudah memberi kabar ke Mas Beno tentang uang itu?” Sambil mengendalikan setang, Bayu mencoba membuka percakapan.
Kondisi jalan sudah terlampau sepi. Bayu tidak ingin terhanyut dalam kantuk jika hanya diam saja.
“Mbak sudah mengirim pesan dan berusaha telepon Mas Beno. Tapi, tidak dijawab-jawab.” Haya menyahut dengan suara lantang. Ia tahu Bayu tidak mungkin mendengar jika suaranya kecil karena pemuda itu mengenakan helm.
Bayu kembali diam. Dia bingung apa lagi yang harus diutarakan sebagai bahan obrolan. Sementara matanya semakin sayup. Bayu sampai mengucap istigfar berulang-ulang agar tidak sampai bablas tertidur saat sedang berkendara.
“Bayu. Kamu ngantuk, ya? Mbak perhatiin, kepala kamu mengangguk terus.” Haya mulai curiga. Sebab selama perjalanan, Bayu sedikit tidak konsentrasi mengendarai motornya.
“Iya, sih, Mbak. Aku ngantuk banget.” Bayu kembali mengucek mata dengan tangan kirinya.
“Hati-hati, loh. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya. Nanti bahaya.” Haya berucap dengan nada sedikit berteriak.
Bayu hanya mengangguk malas. Badannya kini terasa remuk dan lemas secara bersamaan. Padahal sebelumnya, ia merasa baik-baik saja sebelum keluar rumah. Mungkin hal itu akibat Bayu kelelahan setelah pulang lembur, langsung disuruh kembali menjemput kakaknya.
Haya yang tidak ingin terjadi apa-apa selama perjalanan, bergerak cepat memijat leher dan pundak Bayu. Wanita itu terus mengingatkan Bayu untuk membaca istigfar agar bisa terus sadar sampai ke tujuan.
Setelah bahu dan tengkuknya dipijat, Bayu merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Suara sendawa berulang kali lolos dari mulutnya. d**a Bayu merasa lebih lega setelah uap karbon dioksida itu keluar dari dalam rongga paru-parunya.
Setelah melalui perjalanan yang cukup membuat ketar-ketir, Bayu dan Haya pun tiba di rumah Hafsah dengan selamat. Hafsah langsung sigap menyambut kedatangan Haya. Keduanya saling berpelukan lama untuk bisa saling menguatkan satu sama lain.
“Maafin Mbak, ya, tidak bisa menjagamu di rumah sakit.” Haya terisak dan menepuk pelan bahu adiknya.
“Tidak apa-apa, Mbak. Aku juga minta maaf karena sudah banyak merepotkan Mba.” Hafsah tak kalah sedihnya.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan kembali melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda.
Sebelum menjurus ke persoalan surat tanah dan surat wasiat yang hilang, Bayu dan Hafsah terlebih dahulu menanyakan kabar Haya yang juga sedang tertimpa musibah kehilangan uangnya.
Dalam perbincangan itu, Jamil tidak lagi hadir. Laki-laki itu izin keluar sebentar karena suatu urusan. Entah apa, Hafsah pun belum mengetahui urusan suaminya itu.
Bayu yang sudah sangat kelelahan, menyempatkan diri membuatkan minuman hangat untuk kakaknya. Meskipun Haya sempat menolak, Bayu tetap berjalan ke dapur.
Bayu dengan sigap menyiapkan cangkir dan mengisinya dengan serbuk teh dan sedikit gula. Termos berisi air panas, ia tuang perlahan-lahan. Setelah itu, terdengar bunyi sendok dan cangkir yang beradu saat Bayu mengaduk minuman itu.
Teh hangat telah selesai dibuat. Namun. Bayu tetap bergeming di depan meja dapur sambil memperhatikan ke arah pintu. Bayu diam-diam merogoh saku celana dan mengambil obat dari dalamnya.
Bayu membuka bungkus obat itu perlahan-lahan, lalu meminumnya dan menyimpan bungkus itu kembali ke tempat semula.
Bayu sangat membutuhkan obat itu. Jika tidak, ia tidak akan bisa terjaga sampai larut. Banyaknya persoalan yang belum terselesaikan, memaksanya untuk tetap kuat dan berstamina. Dengan obat itu, Bayu bisa tetap kuat menjalani aktivitas kerja esok hari meskipun waktu istirahatnya tidak cukup.
“Ini tehnya, Mbak. Diminum dulu, biar lebih tenang,” ucap Bayu seraya menyodorkan secangkir teh ke hadapan Haya.
“Bayu. Kamu lebih baik tidur dulu. Kami kelihatan capek banget. Di motor tadi, hampir aja kamu ketiduran, kan!” Haya memandangi wajah adiknya lekat-lekat.
“Tidak, Mbak. Bayu sudah gak ngantuk lagi. Badan juga sudah enakkan sehabis dipijat tadi,” sahut Bayu lalu duduk di sisi kiri Hafsah.
Ketiganya pun kembali terlibat dalam obrolan. Haya begitu menggebu-gebu menceritakan permasalahannya kepada kedua saudaranya. Rasa lelah dan kecewa, terpampang jelas dari raut mukanya yang kuning langsat.
Ini adalah kali pertama Haya membuka suara. Setelah sekian lama memendam rasa sakit sendiri tanpa ingin ada siapa-siapa yang mengetahuinya.
Bayu dan Hafsah mencoba menjadi pendengar yang bijak. Keduanya menerima dengan baik keluh kesah Haya sambil berusaha menenangkannya.
Hafsah dan Bayu tidak banyak memberikan saran ini itu terhadap permasalahan yang sedang di alami oleh Haya dan suaminya. Karena walau bagaimanapun, hal itu adalah sesuatu yang krusial dan tidak baik bagi pihak luar terlalu mencampuri urusan internal rumah tangga seseorang.
Haya. terus menyeka air matanya yang tidak mau berhenti mengalir di pipi. Haya meluapkan seg5la kesesakan yang ia tahan selama beberapa tahun terakhir. Hafsah dan Bayu sedikit tercengang, mengingat selama ini mereka mengira, biduk rumah tangga Haya dalam keadaan baik-baik saja.
Ternyata mereka salah. Rupanya Haya sudah mati-matian berjuang bertahan hidup sendirian selama ini. Bayu terlihat sedikit emosi. Dia merasa tidak terima sang kakak diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri.
“Kenapa Mbak diam saja? Orang tua kita masih mampu, Mbak. Dan setahuku, Mas Beno itu diberi upah oleh Bapak lumayan besar. Kalau saja saat itu Mbak Haya bilang semuanya, Bapak pasti tidak akan langsung memberikan uang ke Mbak, bukan ke Mas Beno.” Bayu memotong ucapan sang kakak. Bahunya tampak bergerak turun naik seiring embusan napas yang terdengar kasar.
Haya hanya diam saja mendengarkan ucapan adiknya. Ia memang merasa menyesal karena tidak menceritakan ini dari awal. Jalan pikiran Haya sudah dibutakan cinta. Hingga membuatnya tak berani bersuara dan terkesan menutupi perilaku buruk sang suami dari keluarganya sendiri.
“Aku yakin, uang Mbak yang hilang itu, pasti Mas Beno yang ngambil. Siapa lagi yang bisa keluar masuk kamar dengan leluasa?” Emosi Bayu semakin tersulut. Dia tidak bisa lagi menahan ucapan yang keluar dari pikirannya.
“Hush! Kamu tidak boleh suudzon seperti itu, Bayu. Kalau dugaanmu salah, malah akan jadi fitnah.” Hafsah berusaha menenangkan, meskipun di lubuk hatinya yakin, tidak ada orang yang patut dicurigai selain suami kakaknya sendiri.
“Tidak apa-apa, Hafsah. Mbak juga sempat mengira seperti itu. Apalagi sejak pagi, Mas Beno tidak memberi kabar sama sekali. Entah dia ada di mana dan sedang apa. Aku khawatir, dia ikut berjudi lagi seperti dulu. Dan uang itu, habis ia pakai untuk berjudi.” Haya kembali menangis. Dia sudah tidak bisa menahan sakit hati yang telah ia terima bertubi-tubi selama menjalani kehidupan bersama sang suami.
“Baiknya kita bersabar dulu, jangan tergesa-gesa menuduh seseorang. Apalagi menuduh Mas Beno. Karena bagaimanapun, Mas Beno itu masih keluarga kita juga, kan!” Hafsah lagi-lagi menengahi. Wanita yang berprofesi sebagai guru itu memang memiliki sifat yang lebih bijak dibandingkan dua saudaranya.
“Ah. Aku sudah tidak sabar lagi mendengar ini semua. Baiknya aku langsung memberitahukan saja masalah yang terjadi dalam keluarga kita. Masalah aku, masalah Mbak Hafsah, juga Mbak Haya yang sepertinya saling berkaitan. Malam ini, aku dan Mbak Hafsah memang sengaja meminta Mbak Jaya datang untuk membahas sesuatu.” Tanpa ragu, akhirnya Bayu mengatakan hal itu tanpa persetujuan dari Hafsah dan tanpa menunggu Jamil pulang ke rumah.
“Bayu!” Hafsah melayangkan cubitan pada lengan Bayu.
“Ada apa sebenarnya? Kalian mau membahas apa? Mbak enggak ngerti.” Haya memasang wajah heran. Dia sama sekali tidak mengetahui hal apa yang ingin dibahas oleh kedua saudaranya.
“Mbak Hafsah sekarang diam dulu. Biar aku yang menjelaskan semua pada Mbak Haya.” Bayu menatap kedua kakaknya secara bergantian.
Hafsah menelan ludah. Ia masih ingin menjaga perasaan Haya yang masih meledak-ledak. Hafsah tidak mau setelah mendengar ini semua, rasa sakit Haya malah akan menjadi bertambah.
Bayu tampak tegang dan menelan ludah. Sejurus kemudian, kalimat pertama pun lolos dari bibirnya yang sedikit berkeringat di bagian atas.
“Mbak. Syarat wasiat dan sertifikat rumah ini, hilang,” ucap Bayu dengan nada sedikit berbisik pada Haya.
“Apa? Yang benar kamu, Bay?” Mata Haya membeliak tak percaya.
“Serius, Mbak. Aku gak bohong. Dan gak Cuma itu, kunci-kunci cadangan di rumah ini pun, tidak ada di lemari Mbak Hafsah. Dan sebelum Mbak Hafsah aku temukan tak sadarkan diri di kamar, Mbak Hafsah sempat didatangi oleh dua orang laki-laki. Mbak tahu laki-laki itu siapa?” Bayu mengangkat kedua alis kepada sang kakak.
“Si-siapa, Bay?” Haya menjawab seraya mencondongkan wajah.
“Dua laki-laki itu adalah, Mas Beno dan sepupunya.”