Mata Haya membeliak. Wanita itu seperti kehilangan kesadaran sesaat setelah mendengarkan penuturan dari adik bungsunya itu.
"Tidak, itu tidak mungkin." Haya bergumam lirih.
Salah satu tangan ia taruh di depan mulut. Haya seakan-akan tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengeluarkan ribuan prasangka yang ada dalam benaknya.
Sesuatu yang Bayu ungkap, seperti sebuah belati yang menusuk-nusuk urat nadi. Haya ingin sekali mengelak, tetapi batinnya malah berbalik mengiakan kata-kata yang telah Bayu ucapkan.
Haya merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Rasa lemas tiba-tiba menyerang kala pikirannya mulai berkelana ke masa beberapa hari lalu.
Di hari itu, saat sebelum Hafsah ditemukan tak sadarkan diri di kamar, Haya memang sempat mendapati suaminya memiliki gelagat lain.
Ketika mereka sama-sama menjaga kios, Mas Beno tertangkap sering berbisik-bisik dengan Rodih seperti sedang merahasiakan sesuatu.
Haya enggan bertanya waktu itu. Dia berpikir, mereka berdua hanya sedang membicarakan urusan bisnis tanah yang sebelumnya dijalankan oleh Rodih. Namun, ada satu hal yang menjadi kecurigaan Haya dan baru dia sadari sekarang, selembar obat di saku jaket Beno yang Haya sendiri tidak tahu itu obat apa.
"Jangan-jangan, yang membuat kamu celaka itu, suamiku." Haya refleks mengeluarkan kata-kata itu.
Akan tetapi, wanita itu segera tersadar dan langsung meminta maaf.
"Apa Mbak tahu sesuatu? Mbak bisa bicarakan ke kami. Mbak jangan takut. Kami tidak akan berbuat macam-macam apalagi melaporkan permasalahan ini ke kantor polisi. Ini adalah masalah internal keluarga kita. Dan kita juga harus menyelesaikannya secara kekeluargaan." Bayu kembali menegaskan. Dia berusaha membujuk kakaknya agar mau menceritakan hal apa saja yang bisa menguatkan tuduhan.
"Sudah, Bayu, sudah. Lebih baik kita selesaikan satu persatu dulu. Masalah Mbak, biar nanti kita bahas kan waktu saja. Malam ini, baiknya kita selesaikan masalah yang menimpa bahaya agar kita bisa mendapatkan jalan keluar." Hafsah memotong pembicaraan di antara dua saudaranya.
Sejujurnya, Hafsah sendiri tidak mau lagi mengungkit masa-masa tersulit yang membuatnya tidak lagi menjadi perempuan normal saat ini. Hafsah sudah sudah payah mengubur luka itu. Pembahasan mengenai dirinya m, membuat Hafsah kembali mengorek luka yang masih belum sembuh benar.
Mendengar respons dari Hafsah, Bayu hanya bisa terdiam. Wajahnya yang awalnya menggebu-gebu, kini redup seiring rasa bersalah yang tiba-tiba merajam di dirinya.
Bayu menatap wajah kakak pertamanya penuh nestapa. Haya tampak semakin terpuruk dan tidak bisa mengakhiri tangisannya. Kepalan tangan Bayu mendadak lemah. Ia merasa seperti orang bodoh yang tega merusak momen yang sudah sudah tidak lagi kondusif ini.
"Tidak apa-apa, Hafsah. Mbak tidak marah pada kalian. Mbak justru senang Bayu mengatakan hal ini. Jika saja bukan dari mulut Bayu, mungkin Mbak enggak akan pernah mengetahui semuanya." Haya bangkit dan menyeka mata. Wanita itu berusaha tegar meskipun di dalam dirinya sudah hancur berantakan.
"Bayu minta maaf, Mbak. Aku tidak maksud mengkait-kaitkan masalah yang menimpa keluarga kita dengan Mas Beno. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu." Bayu menunduk sembari menangkup kedua tangan.
Ketiga saudara itu sempat terdiam beberapa saat. Mereka tampak hanyut dalam pikiran masing-masing. Hening malam yang semakin merajam, seakan-akan menjadi satu-satunya energi yang menenggelamkan ketiganya.
"Mbak butuh waktu untuk menenangkan diri. Jujur saja, Mbak sangat syok dengan semua yang terjadi hari ini. Mbak bingung harus bagaimana lagi menghadapi suami mbak. Jika kalian merasa curiga, Mbak mendukung kalian untuk mencari bukti dan Mbak juga akan bantu sebisa Mbak." Dengan suara parau, Haya berusaha memecah keheningan di antara kedua saudaranya.
Bayu mengangguk tanda setuju. Sementara Hafsah, hanya diam dan terus menatap sang kakak dengan wajah iba.
"Mbak boleh menginap di sini, kan!" seru Haya membuat kedua adiknya tersenyum.
"Tentu, Mbak. Ini, kan, rumah orang tua kita. Rumah Mbak juga. Mbak bisa kapanpun menginap di sini," sahut Hafsah diiringi tawa kecil.
Suasana tegang pun seketika mencair. Ketiga kakak beradik itu kembali melanjutkan obrolan dengan tema lain yang lebih hangat dan tidak menuai ketegangan.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.33 malam. Tiga orang yang masih terjaga itu mulai merasakan kantuk yang teramat sangat. Tidak terkecuali Bayu. Pemuda itu sampai meras heran karena rasa kantuknya masih belum juga hilang meskipun ia sudah meminum obat.
"Lebih baik kita istirahat dulu. Besok, kita lanjutkan lagi pembahasan ini," ujar Hafsah. Wanita itu sudah lebih tiga kali menguap.
"Iya. Lagi pula, besok kamu juga masuk kerja kan, Bay. Jangan tidur terlalu malam, takut besok kamu kesiangan berangkat kerja," sambung Jaya yang sudah terlihat kantong-kantong tebal di matanya.
Bayu mengangguk. Dia sudah tidak bisa lagi menolak karena memang ada pekerjaan yang sudah menunggunya besok.
Ketiga orang itu pun langsung beranjak menuju kamar. Kecuali Haya yang harus membereskan sisa-sisa minuman dan camilan terlebih dahulu.
Haya berjalan membawa nampan besar berisi gelas kosong ke dapur. Sementara Hafsah, melangkah pelan menuju kamarnya. Hafsah sempat mengecek kamar Lala terlebih dahulu untuk memastikan putrinya sudah benar-benar terlelap. Setelah itu, ia beranjak menuju kamar dan langsung meletakkan b****g di atas tempat tidur.
"Ya Allah ... lelahnya hari ini." Hafsah bergumam seraya membuka kerudung.
Hafsah hendak menaikkan kakinya ke atas kasur ketika ponsel yang sedang ia isi daya di atas nakas, berdering kencang.
Hafsah dengan sigap mengambil ponsel untuk mengecek nomor yang melakukan panggilan di depan layar. Hafsah langsung mengangkat panggilan tersebut setelah mengetahui bahwa suaminya lah yang melakukan panggilan.
"Assalamualaikum." Terdengar suara dari seberang
"Waalaikumsalam warohmatulloh. Iya, Mas. ada apa?" Wajah Hafsah berbinar-binar mendengar suara seseorang yang selalu ia rindukan.
"Kamu sudah tidur?" tanya Mas Jamil lagi.
"Belum. Aku baru aja naik ke atas kasur. Tadi aku, Bayu, sama Mbak Haya, habis ngobrol banyak. Sampai-sampai, gak ada yang sadar udah jam segini," terang Hafsah pada suaminya.
"Jangan ada yang tidur malam ini. Tolong, bangunkan kembali semuanya, termasuk Lala." Tiba-tiba saja nada bicara Mas Jamil meninggi. Laki-laki itu seperti sedang ketakutan akan sesuatu hal.
"Loh, loh, memangnya kenapa, Mas? Kasihan kalau semua disuruh tidak tidur sampai pagi. Apalagi Bayu, dia kan, harus berangkat kerja pagi-pagi." Hafsah merasa bingung dengan perintah suaminya. Tidak biasanya juga Mas Jamil menelepon dengan suara sekeras itu.
"Tidak sampai pagi. Setidaknya, sampai Mas sama Abi tiba di rumah."
"Abi? Mas lagi sama Abi? di mana?" Hafsah mengangkat kedua alisnya. ia tidak tahu kepergian suaminya itu karena alasan menjemput Abi yang datang dari Kalimantan.
"Mas masih di terminal, habis makan sama Abi. Abi punya firasat buruk tentang keluarga kita. Mas mau buru-buru pulang ke rumah supaya bisa menjelaskan pada kalian semua." Jamil terdengar semakin serius.
"Ba-baik kalau begitu. Aku akan keluar memanggil Mbak Haya dan Bayu." Haya pun kembali memakai kerudungnya terburu-buru.
"Jangan lupa bangunkan Lala juga. Ajak Lala bermain atau setel YouTube, atau TV, atau apa saja agar dia tidak ngantuk. Pokoknya sebelum Mas pulang, jangan sampai ada yang tidak di rumah!" seru Mas Jamil lagi.
"I-iya, Mas. Aku akan lakukan apa yang Mas perintahkan. Mas hati-hati di jalan, ya! Salam untuk Abi," pungkas Hafsah mengakhiri panggilan.
Setelah telepon terputus, Hafsah dengan cepat bergerak mengambil tongkat. Ia kemudian mendatangi satu persatu kamar lalu mengetuk-ngetuk pintu.