Kiriman Bala

1277 Words
“Bayu, bangun, Bay. Mbak mau ngomong sesuatu, penting!” Hafsah mengetuk-ngetuk pintu kamar Bayu terlebih dahulu. Meskipun tidak paham dengan apa yang suaminya katakan, Hafsah tetap menuruti perintahnya. “Ada apa, Mbak? Bayu udah ngantuk banget.” Bayu keluar dengan wajah yang sudah setengah sadar. Pemuda berambut ikal itu sempat terlelap beberapa saat. Namun, dia harus berusaha menahan pusing ketika kakaknya kembali membangunkannya lagi. “Mas Jamil barusan telepon, kita tidak boleh ada yang tidur sampai Mas Jamil pulang. Ada sesuatu yang mengancam keluarga kita, katanya. Mbak juga tidak paham itu apa. Tapi yang jelas, kita tidak boleh ada yang tidur malam ini.” Hafsah berkata pelan sambil mendekatkan mulut ke telinga adiknya. “Aduh, Mbak. Memangnya, Mas Jamil pulang jam berapa? Aku udah ngantuk banget loh ini, serius.” Bayu masih enggan membuka matanya lebar-lebar. Dia terus berdiri sembari menyandarkan tubuhnya pada pintu. “Sebentar lagi kok, Bay. Paling satu jam. Mas Jamil lagi ada di Terminal sekarang dan sedang dalam perjalanan arah pulang.” Hafsah terus menggoyang-goyangkan tubuh Bayu, berharap adiknya itu lekas terbangun dan ikut bersamanya berkumpul di ruang keluarga. “Ayo, Bayu, cepat bangun! Ikut Mbak ke ruang keluarga sekarang. Mbak gak bisa lama-lama. Mbak harus membangunkan Mbak Hafsah dan Lala juga,” titah Hafsah lagi. Wanita itu tidak menyerah dan tetap menggoyangkan tubuh Bayu agar pemuda itu lekas terjaga. “Iya, iya, aku bangun. Tapi, ngapain Mas Jamil malam-malam di terminal?” Bayu pelan-pelan mulai membuka mata. Pemuda itu tidak berhenti menguap dan menggaruk-garuk pipi. “Mas Jamil sedang jemput Abi, saudara ayahnya yang tinggal di Kalimantan. Dia seorang Kyai, memiliki pesantren khusus anak yatim dan piatu di rumahnya. Beliau datang ke sini berniat untuk membantu keluarga kita, Bay,” terang Hafsah yang hanya direspons anggukkan kepala orang di hadapannya. “Baik-baik. Aku mau cuci muka dulu biar gak ngantuk. Mbak duluan aja.” Bayu yang masih mengantuk, berjalan pelan menuju kamar mandi. Hafsah memperhatikan adiknya sesaat, kemudian berbalik menuju pintu kamar Haya. “Mbak Haya, bangun, Mbak. Aku ingin bicara,” seru Hafsah dari balik pintu. Haya yang memang belum tertidur, langsung beranjak membukakan pintu mendengar suara adiknya di luar. “Ya, ada apa, Hafsah?” Seperti halnya Bayu, Haya pun langsung menyambut adiknya dengan pertanyaan yang sama. Hafsah pun kembali menjelaskan apa yang tadi ia katakan pada Bayu. Tidak seperti Bayu, Haya justru mendengarkan alasan adiknya dengan saksama. Kemudian dengan cepat, Haya keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ruang keluarga yang sudah mereka sepakati. Kini, giliran Hafsah untuk membangunkan sang putri. Lala yang sedang tertidur pulas, dibangunkan pelan-pelan. Lala hanya menggeliat mendengar suara ibunya. Gadis kecil itu sangat berat membuka mata membuat Hafsah kesulitan membangunkannya. “Lala sayang. Ayo, bangun, Nak. Kita nonton TV di depan, yuk. Atau, kamu mau main boneka? Kita akan main sama-sama.” Hafsah terus berusaha membujuk putrinya. Namun, Lala tidak juga mau bangun dan malah semakin menarik selimut. Hafsah kebingungan. Jika ia sekuat dulu, mungkin Lala akan langsung ia gendong dan bawa ke depan. Namun sekarang, rasanya mustahil bisa menggendong Lala lagi. Untuk berjalan saja, ia harus dibantu dengan tongkat. Hafsah tidak kehilangan akal. Dengan tergesa-gesa, ia pun berjalan ke depan dan memanggil Bayu untuk meminta bantuan. Bayu sudah duduk saat itu di ruang keluarga bersama Mba Haya, keduanya kompak memperhatikan Hafsah yang baru saja keluar dari kamar putrinya. “Loh. Mbak keluar sendirian. Mana, Lala?” tanya Bayu. “Lala sudah sekali dibangunkan. Mbak minta tolong sama kamu buat gendong Lala dan bawa ke sini, ya!” pinta Hafsah pada adiknya. Tidak butuh waktu lama, Bayu pun bergegas menuju kamar Lala. Beberapa detik kemudian, terdengar suara tangisan Lala dan Bayu pun keluar dengan menggendong bocah enam tahun itu. “Sini, Sayang. Kita main rumah-rumahan sama Om.” Bayu berusaha menenangkan sang keponakan dengan mengajaknya bermain. “Gak mau,.gak mau. Lala masih ngantuk. Lala mau bobo aja.” Bukannya berhenti, Lala justru menangis semakin menjadi-jadi. Hafsah dan Haya mulai kebingungan. Mereka juga sudah menyetel televisi dan mengiming-imingi ponsel agar Lala mau berhenti menangis, tetapi Lala tetap tidak menggubris mereka dan masih tetap memejamkan mata. “Bagaimana ini, Mbak?” Bayu yang sedang memangku Lala, mulai kewalahan karena bocah itu terus meronta-ronta dan berteriak. Hafsah sebelumnya hanya menggeleng. Sejurus kemudian, ia tiba-tiba langsung berdiri dan melongok ke balik gorden di dekat mereka. “La, Lala. Apa kamu tidak mau menyambut Ayah pulang? Ayah sebentar lagi pulang, loh,” kata Hafsah sambil berpura-pura melongok ke arah jendela. Mendengar perkataan ibunya, Lala pun terdiam. Dengan masih dalam keadaan mata terpejam, Lala bersuara lamat-lamat menjawab ucapan ibunya. “Memangnya Ayah ke mana, Bu?” tanya Lala dengan suara sedikit serak. Hak itu ditimbulkan karena bocah itu baru saja berteriak teriak dengan kencang. “Ayah sedang menempuh Kakek Abi, kamu ingat, kan, dengan Kakek Abi? Yang waktu itu kasih Lala buku-buku gambar dan iqra,” terang Hafsah. “Kakek Abi? Kakek Abi mau ke rumah kita, Bu?” Di luar dugaan, Lala yang tadinya begitu maka membuka mata, kini terbangun dan langsung menoleh ke arah sang ibu. Hafsah mengangguk, menatap putrinya dengan senyuman. Suatu kebahagiaan tersendiri baginya melihat Lala mau membuka mata tanpa harus berkata macam-macam untuk membohongi gadis kecil itu. “Kita nanti akan menyambut kedatangan Kakek Abi dan ayah Lala. Makanya Om sama Bini dan ibu, bangun dan kumpul bersama-sama di sini,” sambung Bayu yang masih mendudukkan Lala di atas pangkuannya. Lala pun akhirnya terbangun dan duduk di samping kiri Bayu. Melihat Lala sudah bangun, Haya sigap menuju dapur untuk kembali membuatkan kopi dan s**u untuk semua orang. Malam ini, seluruh penghuni rumah akan terjaga. Entah sesuatu apa yang sedang mengintai mereka. Yang jelas, mereka harus tetap bangun minimal sampai Mas Jamil tiba di rumah. *** Sementara itu di sebuah ruangan gelap yang hanya diberi cahaya dua lampu temaram di pojok kiri dan kanan dinding, Ki Mutar dan Beno mulai kembali melancarkan aksi Tiga jam melakukan berbagai macam ritual, sudah cukup menguatkan kesaktian dalam diri dukun tersebut agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Ayam jantan hitam yang sempat Beno bawa, telah terkapar di lantai dengan leher hampir putus. Ki Mutar sudah menyembelih ayam itu kemudian menaruh darahnya di dalam wadah mangkok kayu. Adap bekas bakaran kemenyan masih membumbung menyentuh langit-langit. Bunga-bunga tujuh rupa pun tampak bertebaran di atas meja dan sesaji yang sudah dipersiapkan di atas nampan besar yang terbuat dari anyaman bambu. Aroma wewangian, bau anyir darah, dan asap kemenyan yang begitu menyengat, bercampur menjadi satu. Di atas sebuah alas kain putih, Ki Mutar mulai membacakan mantra sambil menangkup kedua tangannya khusyuk. “Beno, apa kamu siap menjalankan ini semua?” tanya Ki Mutar pada pria di depannya. “Siap, Ki. Saya siap.” Beno menjawab dengan begitu percaya diri. “Apa kamu sanggup menerima konsekuensi jika pengiriman bala ini gagal menuju tuannya?” tanya Ki Mutar lagi. “Gagal, maksud Aki?” Beno balik bertanya. Ia benar-benar tak paham dengan apa yang dikatakan oleh dukun itu. Ki Mutar yang awalnya tampak khusyuk, kini mulai terganggu dengan Beno yang belum mengerti betul persyaratan-persyaratan yang harus laki-laki itu tanggung. Padahal, ini bukan kali pertama Beno mengirimkan bala. Ini merupakan yang kedua kalinya Beno meminta pertolongan pada Ki Mutar untuk mengirimkan gangguan kepada keluarga istrinya. “Kamu harus dengar ini, Beno. Santet atau pun guna-guna, tidak akan selamanya berhasil kalau orang yang kau tuju sedang tidak dalam keadaan terlelap,” terang Ki Mutar mencoba menjelaskan. Mendengar hal itu, Beno lantas mengangguk dan menaruh tangan pada dagu. “Tidak masalah, Ki. Saya yakin, mereka semua pasti sudah pada tidur jam segini. Apalagi, Hafsah baru saja keluar dari rumah sakit. Pasti dia butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya, begitu juga dengan suaminya,” Beno menyahut dengan sangat yakin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD