Boneka Berbungkus Kain Putih

1084 Words
Setelah mendengar keyakinan dari Beno, Ki Mutar segera mengambil sebuah boneka yang dibalut kain putih dan diikat tali bekas mengikat mayat yang dia ambil dari salah satu kuburan perawan yang meninggal di hari selasa legi. Kabarnya, anak gadis yang masih perawan yang meninggal di hari itu, sobekan kain kafannya bisa dijadikan alat untuk kegiatan magic seperti mengirimkan santet atau pelet kepada orang lain. Tak hanya itu. Kain kafan perawan juga bisa digunakan oleh mereka yang hendak melakukan ritual pesugihan. Orang-orang yang ingin sekali kaya raya dengan jalan instan, pasti akan mendatangi tempat pesugihan dengan membawa potongan kain kafan itu. Sebuah keris diambil oleh Ki Mutar dari dalam laci. Keris tersebut segera ia lepaskan dari sarungnya, kemudian dipanaskan di atas bara api. “Aku ingin bertanya kepadamu sekali lagi, Beno. Apa kamu sudah siap apa pun resikonya nanti?” Tatapan Ki Mutar mengarah lurus, tepat ke wajah Beno yang menunduk. Beno diam sejenak. Tatapannya kini justru mengarah pada seekor ayam yang sudah tergeletak tidak bernyawa di hadapannya. “Aku ingatkan sekali lagi. Ritual kali ini tidaklah main-main. Jika sebelumnya kamu sempat memintaku untuk mengirimkan gangguan, itu efeknya hanya hal kecil saja jika gagal. Akan tetapi, untuk ritual pengiriman bala yang bertujuan untuk melenyapkan nyawa seseorang, efeknya nanti akan berbalik ke dirimu sendiri. Dan nyawamu bisa menjadi taruhannya jika kiriman bala itu gagal,” jelas Ki Mutar. Tubuh Beno menegang. Dua matanya kini memandang lurus ke arah Ki Mutar dengan bibir birunya yang bergetar. Beno kembali terdiam tanpa bisa berkata, apa-apa. Ia benar-benar sangat ingin melenyapkan Jamil dari keluarganya. Laki-laki itu selalu menjadi penghalang ia bertemu dengan Hafsah. Kalau Jamil tiada, Beno bisa sangat leluasa memuluskan rencananya. “Bagaimana, Hem?” Suara Ki Mutar sediki menekan sekarang. Semua yang ada di depannya telah ia persiapkan sedemikian rupa. Jika sampai Beno tidak jadi atau mengurungkan niat, biasa rugi berkali-kali lipat dia. “Tapi, Ki. Kalau memang pengiriman bala ini gagal, apa Aki mau membantuku agar tidak sampai mati?” Beno menatap wajah Ki Mutar nanar. “Hemm ... aku tidak berjanji untuk hal itu. Akan tetapi, aku bisa mengusahakan memberikan dirimu tameng dan aku jug akan memakainya aga kita sama-sama aman,” ucap Ki Mutar yang langsung mengambil sesuatu di dalam lemari tua di belakangnya Dua buah baju berwarna hitam, Ki Mutar ambil dan langsung menyodorkan salah satunya kepada Beno. Beno yang melihat itu pun, segera mengambilnya dan langsung memakainya, sama seperti yang Ki Mutar lakukan. “Kita perlu memakai baju ini, yang benangnya berasal dari kapas di pohon salah satu hutan di Jawa Timur. Jujur saja aku belum pernah mencobanya. Ini pemberian dari seorang dukun sakti di sana. Konon, baju-baju ini akan bisa melindungimu dari kiriman bala, atau santet yang kesasar.” Ki Mutar memakai pakaian itu kemudian duduk kembali menghadap Beno. “Jadi, apa kamu sudah siap?” Ki Mutar bertanya lagi. Beno pun mengangguk. “ Iya, Ki. Saya sudah siap. Apa pun itu risikonya, saya ingin tetap membuat Jamil lenyap dari muka bumi ini,” ucap Beno begitu menggebu-gebu. Ki Mutar tersenyum puas. Ia sudah membayangkan sebuah motor dan uang lima juta akan segera mendarat di tangannya. Dua hal itu sudah menjadi kesepakatan antara dirinya dengan Beno. Untuk menghilangkan nyawa seseorang, memang ditekankan pembayaran yang cukup banyak. Sebab, risiko yang diterima pun, akan lebih besar dari pada sekadar menyakitinya. “Baik kalau begitu, sekarang, kita mulai ritual ini karena sebentar lagi, waktu akan menunjukkan pukul dua belas malam. Waktu setelah itu akan sangat membantu. Mengingat roh-roh dan jin-jin menjadi lebih kuat di waktu tengah malam.” Ki Mutar kembali mengambil keris di atas meja, dan mengangkat boneka berbalut kain putih itu tinggi-tinggi. Napas Beno terasa sedikit berat. Aroma kemenyan yang bercampur bau amis darah, semakin menyengat dan membuatnya ingin muntah. Bayu menahan gejolak di dalam perutnya susah payah. Sementara itu, bangkai ayam di hadapannya pun mulai mengeluarkan bau busuk. “Ikuti aku membaca mantra. Kau tidak boleh diam saja kalau tidak ingin celaka!” perintah Ki Mutar pada Beno. “Baik, Ki.” Beno yang sudah tidak nyama di tempat itu pun, terpaksa menuruti apa yang diperintahkan oleh Ki Mutar demi melancarkan semuanya. Beno dengan sigap duduk bersila dengan dua tangan mengangkup tepat di depan d**a. Bunyi bacaan mantra terdengar menggema di seluruh sudut ruangan. Aroma-aroma bunga melati dan pandan, mulai masuk dan menusuk indera penciuman. Suara-suara tawa dari para makhluk gaib yang diundang oleh Ki Mutar pun mulai berdatangan. Bulu kuduk Beno merinding. Laki-laki itu tidak berani membuka mata walau sedikit. “Kuatkan bacaan mantramu. Jangan sampai lengah,” tuntun Ki Mutar lagi. Beno yang sempat terganggu dengan suara-suara bising tak kasat mata itu pun, kembali memfokuskan diri dan membaca mantra lebih kencang lagi. Sementara Ki Mutar mengambil darah ayam, lalu melumurinya di atas boneka, penampakan-penampakan makhluk gaib pun muncul satu persatu. Ada banyak makhluk dengan berbagai bentuk di ruangan itu. Ada yang memiliki kulit hijau dan bersisik, ada pula yang berbulu lebat dan tingginya melebih tinggi rumah Ki Mutar. Ada juga makhluk menyerupai wanita berambut panjang dan berbau busuk. Dan ada pula makhluk kerdil yang dikelilingi banyak api di tubuhnya. Seluruh makhluk itu mendekat dan berdiri tepat di belakang Beno. Beno yang tidak bisa melihat kehadiran makhluk tersebut, hanya bisa bergidik ngeri dan terus menerus mengusap tengkuk. Benda-benda di atas meja di hadapan Ki Mutar turut bergerak-gerak, menandakan ada energi besar yang datang yang memenuhi ruangan tersebut. Ki Mutar sudah membawa selembar foto Jamil yang dibawa Beno. Foto itu kemudian di pasangkan pada wajah boneka di tangannya. Bunyi suara tawa para makhluk astral, kembali menggema. Ki Mutar dengan sigap, mengangkat kerisnya lalu menancapkan pada bagian perut boneka itu. Darah segar seketika menyembur keluar. Setelah itu, boneka dibungkus oleh kain hitam dan dibawa si makhluk kecil berapi yang akan mengirimnya ke rumah Jamil malam itu juga. Makhluk kecil berapi telah memanggil bungkusan hitam di bahunya. Dia beterbangan mengelilingi Ki Mutar sebelum lenyap menembus genteng rumah. Makhluk-makhluk yang lain pun lenyap satu persatu, menyisakan hawa yang begitu panas di dalam ruangan itu. Hening kembali menyeruak. Ki Mutar berangsur-angsur menyelesaikan mantra pada ritualnya. “Ini, makanlah!” Ki Mutar menyodorkan semangkuk bunga tujuh rupa pada Beno. Melihat hal itu, Beno membeliak karena tidak bisa menolak. “Makan saja. Beruntung kau hanya memakan bunga. Sementara aku, akan langsung meminum darah ayam ini sampai habis.” Mendengar kata-kata Ki Mutar, Beno langsung menutup mulutnya menahan muntah. Beno dengan sigap mengambil mangkok itu dan memakan isinya sedikit demi sedikit. Bunga melati terasa sangat pahit dan getir di lidah. Sayang, Beno harus tetap menghabiskannya tanpa boleh meminum air putih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD