Ledakan di Atas Genteng

1078 Words
Sementara itu di rumah Hafsah, semua orang tampak duduk termangu di depan TV. Benda persegi panjang empat puluh dua inci itu dibiarkan menyala meskipun orang-orang tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Beno tampak sibuk dengan ponselnya. Sementara Haya, membantu adiknya, Hafsah membereskan pakaian-pakaian Lala yang belum disetrika. Lala pun tampak serius memainkan boneka Barbie dan rumah-rumahan kuda poni. Meskipun sesekali menguap, bocah enam tahun itu tetap tidak tidur seperti yang ibunya pinta. Hafsah sesekali mengecek ponselnya, barangkali ada kabar baru dari sang suami. Sementara jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.30. Jamil dan Abi belum juga tib di rumah. “Mbak sudah dapat kabar lagi dari Mas Jamil?” tanya Bayu di sela gerakan jemari yang berselancar di atas layar benda pipihnya. Hafsah menggeleng. Wanita itu pun sedang menunggu kabar itu. Berulang kali ia mengirimkan pesan, tetapi tak juga mendapatkan balasan dari seberang. Haya mengusap bahu adiknya pelan. Anak sulung dari kedua saudaranya itu berharap semua yang ada di rumah bisa tenang. Semua orang tidak ada yang mengetahui maksud dan tujuan Jamil menyuruh seluruh keluarga berkumpul. Namun, demi keselamatan, mereka melakukan itu dan tetap terjaga sampai Jamil pulang ke rumah dan mengatakan semuanya. Deru mobil terdengar berhenti di luar pagar. Hafsah dan Bayu kompak berdiri dan berjalan menuju pintu. Jamil turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu meminta semua orang tidak ada yang keluar melewati pintu sedikit pun. Setelah memberi informasi kepada keluarganya, Jamil kembali keluar untuk memarkirkan kendaraan. Lelaki paruh baya memakai kopiah putih pun keluar dari pintu penumpang, menampakkan wajah teduh dan damai, juga penuh kekhusyukan. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,” ucap Abi ketika melangkah melewati pintu. “Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.” Bayu dan yang lainnya kompak menyambut. Mereka satu persatu datang menyalami Abi. Begitu juga dengan Lala yang langsung digendong oleh lelaki paruh baya itu. “Masyaallah. Kamu sudah besar sekali. Abi terakhir ketemu kamu, kamu masih berusia tiga setengah tahun kalau tidak salah.” Abi begitu bahagia melihat wajah ceria Lala. Begitu juga dengan Lala, yang langsung akrab dan nyaman dalam gendongan. Biasanya anak perempuan berambut panjang itu, sulit sekali beradaptasi dengan orang baru atau dengan orang-orang yang tidak memiliki kedekatan intens karena jarang bertemu. “Abi silakan duduk dulu, biar saya buatkan teh.” Haya meminta Abi duduk dan mengambil Lala dalam gendongannya. Abi menyerahkan Lala pada Haya dan segera duduk mengistirahatkan otot-ototnya. Perjalanan jauh dari Kalimantan menuju Jakarta, memang sangat melelahkan dan memakan banyak waktu. Untuk orang seukuran Abi, melewati perjalanan sejauh itu, membuat tenaganya hampir habis. Ditambah ia melakukan perjalanan sendirian. Tidak ada orang lain yang bisa membantu membawakan barang bawaannya yang lumayan berat. Satu koper penuh. Haya menaruh Lala di depan mainannya. Lala diminta untuk membereskan kembali mainannya setelah itu, baru boleh mengobrol dengan Abi. Haya bergerak menuju dapur untuk membuatnya teh tawar hangat, sesuai pesanan Abi. Ditambah beberapa potong bolu gulung yang masih tersisa di rak dapur, untuk camilan ringan. Tak sampai lima menit, Hay punya kembali dengan nampan kecil di tangan. Haya segera menyajikan minuman dan camilan di atas meja di dekat Abi. “Abi, diminum dulu tehnya,” ucap Haya seraya undur diri. Abi menatap wajah Haya dengan penuh arti. Orang tua itu merasa sangat iba. Rasa kasihan muncul begitu saja ketika ia menatap mata wanita seusia anak pertamanya itu. Ada aura abu-abu pada binar matanya. Haya, seperti telah kehilangan asa dan yang tersisa hanya tinggal luka. Seluruh keluarga kini berkumpul di ruang tengah. Begitu pula dengan Mas Jamil. Setelah memasukkan mobil ke dalam bagasi, laki-laki itu segera bergabung bersama saudara-saudaranya. “Bagaimana perjalanan dari Kalimantan, Abi. Lancar?” Bayu memulai percakapan terlebih dahulu. Abi Malik tersenyum kepada Bayu. Dia ingat betul terakhir kali bertemu dengan pemuda itu, penampilan Bayu masih sangat kacau. Bayu yang dulu suka memanjangkan rambut dan memakai anting-anting, kini berubah menjadi Bayu yang lebih maskulin dan sopan. Abi Malik pun menepuk-nepuk bahu Bayu dengan perasaan bangga. Anak muda yang kini telah beranjak dewasa itu, tampak mengeluarkan energi positif yang dapat dirasakan oleh Abi Malik. “Alhamdulillah. Berkat pertolongan dari Allah, saya bisa berkunjung kembali ke rumah ini tanpa ada halangan selama perjalanan. Akan tetapi, saat hendak naid kapal tadi, gelombang laut sedang cukup tinggi, sehingga kapal menunda keberangkatan sampai dua jam,” ucap Abi Malik seraya mengangguk-angguk. “Abi tidak ajak Umi sama anak-anak?” Hafsah mengambil giliran bertanya. Istri Jamil itu memang sudah memiliki kedekatan dengan istri Abi Malik sendiri. Umi sering menjadi tempat curhat Hafsah ketika bertemu. Sosok Umi yang begitu penyayang dan lembut, membuat Hafsah mendapatkan kembali sosok ibu y telah tiada. “Tidak. Umi sedang kurang sehat dan anak-anak pun, masih sibuk sekolah dan mengaji di langgar. Kalau Abi ajak mereka ke sini, bisa-bisa gak mau pulang lagi karena betah.” Abi tergelak dan disusul pecah tawa lainnya. Bayu dan kakak-kakaknya pun terlibat obrolan ringan yang lebih mengarah pada pertanyaan tentang kegiatan dan kondisi kesehatan Abi. Mengingat usia Abi yang sudah tua, tetapi masih tetap kuat dan bersemangat dalam bekerja, mereka pun mengambil resep dan nasihat dari laki-laki paruh baya itu agar tetap menjaga kesehatan dan stamina di masa muda. Tak lupa pula Bayu dan kakak-kakaknya diminta untuk rutin melakukan puasa senin kamis. Sebab, puasa sendiri bisa menetralisir saluran pencernaan dari zat-zat yang tidak baik yang tidak sengaja masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Hafsah juga diminta untuk mengonsumsi obat-obatan herbal yang bersumber dari tanaman palawija dan umbi-umbian, untuk mempercepat proses penyembuhan luka pada rahimnya. Suasana tengah malam itu terasa begitu hangat. Hawa kantuk pun semakin lama semakin terkikis oleh canda tawa serta wejangan-wejangan ringan yang disampaikan oleh Abi. Tidak ada pembahasan tentang hal buruk apa yang sempat Mas Jamil beritahukan sampai seluruh keluarga dilarang tidur malam ini. Mereka semua hanyut dalam siraman rohani yang terselip dalam gurau canda antara satu sama lain. Wajah Abi Malik pun tampak berseri-seri seperti tidak ada rasa lelah di dalamnya. Padahal, laki-laki berusia hampir 70 tahun itu baru saja melalui perjalanan yang cukup jauh. Minuman-minuman hangat di atas meja sudah hampir tandas. Lala pun mulai merengek karena sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Jamil dan Hafsah pun terpaksa meninggalkan obrolan terlebih dahulu demi menemani Lala tidur di kamarnya. Akan tetapi, baru saja Jamil hendak menggendong sang putri, suara ledakan keras tiba-tiba terdengar dari atas genteng rumah mereka. Seluruh penghuni rumah terkejut,. Termasuk Abi Malik yang langsung mengambil tasbih dan bergegas ke luar rumah. “Jangan ada yang keluar! Ada seseorang yang sedang mencoba mengirimkan santet ke salah satu penghuni rumah ini,” seru Abi Malik sambil tangannya terus memutar tasbih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD