Kiriman yang Gagal

1025 Words
Seluruh orang memperhatikan dari balik jendela. Sementara Abi Malik, ke luar menuju halaman rumah. Entah apa yang dilakukan oleh Kyai itu, tetapi matanya terus tertuju ke atas rumah. “Abi, apa perlu bantuan? Biar aku temani,” ucap Jamil yang melongok sedikit dari pintu. “Jangan! Kamu jangan keluar. Kamu adalah target mereka saat ini. Lebih baik, Bayu yang ke sini membantuku,” seru Abi Malik, masih terus memutar tasbih di tangannya. Bayu yang mendengar itu, langsung bergegas menuju luar. Sebelum pemuda itu melewati pintu, ia sempat meraih Al-Qur’an kecil yang tersimpan di lemari bufet ruang tamu. Hafsah dan Haya masih tetap berdiri di dekat jendela. Lala terus memeluk ibunya lantaran takut dengan suara ledakan tadi. Suara takbir dan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema memenuhi ruangan. Jamil tidak berhenti membacakan itu semua semi membentengi dirinya dan keluarganya. Hawa panas tiba-tiba muncul, melebarkan rongga pori-pori dan mengucurkan bulir-bulir keringat dengan deras. Bisa terlihat dengan jelas bagaimana Abi Malik dan Bayu susah payah menahan kuda-kuda. Angin kencang tiba-tiba saja datang menerpa sisa-sisa dedaunan yang belum sempat tersapu di halaman. Bunyi suara azan berkumandang dari mulut Abi Malik. Sementara Bayu, terus mengulang bacaan ayat kursi demi menguatkan jiwa dan raganya. Bola api tampak berputar-putar di atas genting. Ukurannya tidak begitu besar, hanya seukuran buah camai yang direndam minyak tanah kemudian dibakar. Bola api tersebut ternyata kiriman Ki Mutar yang baru saja sampai. Beruntung Jamil dan Abi Malik sudah sampai. Kalau tidak, entah apa jadinya Bayu dan keluarganya. Dari kejauhan, tampak Abi Malik dan Bayu berbisik-bisik. Entah apa yang mereka katakan. Orang-orang yang berada di dalam rumah, merasa ketar-ketir takut terjadi sesuatu dengan mereka. Sementara bola api di atas genteng, perlahan-lahan menyelinap masuk ke dalam. Abi Malik dan Bayu pun berlari masuk. Hafsah dan Haya semakin ketakutan dan hanya bisa menunduk di dekat bangku sambil memeluk Lala. “Laa ilaaha illaa anta. Subhaanaka inni kuntu minazzaalimiin.” Abi Malik berzikir sembari mengayunkan tasbih. Ketika bola api itu masuk ke dalam menempuh langit-langit rumah, Abi Malik langsung melemparnya dengan tasbih. Aaargh .... Terdengar suara teriakan tak berwujud. Bola api itu seketika lenyap seiring gerakan tasbih yang langsung kembali kepada tuannya. Seluruh anggota keluarga berseru mengucap syukur. Bayu dan Mas Jamil langsung memapah Abi yang tampak kewalahan, menuju sofa untuk mengistirahatkan badan. “Alhamdulillah. Atas izin Allah, kita semua bisa menyingkirkan kiriman gaib itu. Sungguh, mereka benar-benar jahat dan tidak akan diampuni dosanya oleh Allah SWT.” Abi berkata dengan napas terengah-engah. “Alhamdulillah, Bi. Semua ini berkat Abi. Kalau saja Abi tidak datang, mungkin orang-orang di rumah ini akan kembali ditimpa kemalangan,” ujar Jamil sambil menyodorkan segelas air putih pada Abi. “Tidak, ini bukan karena saya. Ini sudah ketentuan Allah SWT. Kalau Allah tidak menggerakkan hati saya untuk datang ke sini, saya tidak akan tahu ada bala yang akan datang menimpa keluarga kalian.” Abi Malik meneguk air di gelas hingga tandas. “Tapi, Bi. Siapa yang telah mengirimkan bala itu? Mereka sangat jahat sekali. Tega-teganya mereka ingin menghancurkan keluarga kami. Saya jadi curiga dengan kematian kedua orang tua saya dan penyakit yang sempat diderita Hafsah sampai keluar paku dari kepalanya. Kalau memang benar dua kejadian itu adalah karena kiriman bala, semoga Allah membalasnya dengan karma dan kesakitan di dunia.” Bayu berbicara begitu menggebu-gebu. Ini adalah kali pertamanya melihat makhluk gaib berbentuk bola api yang menyala-nyala. Bayu memang sempat tak percaya. Namun, setelah melihatnya secara langsung, pemuda metropolitan itu pun mempercayai bahwa ada ilmu hitam yang bisa mengirimkan bala bahaya kepada orang lain. Abi Malik menatap nanar satu persatu orang yang ada di hadapannya. Ia sangat mengetahui siapa dalang di balik pengiriman bala yang tujuan utamanya adalah diperuntukkan untuk Jamil sebagai sasaran utama. Namun, ada sebuah kode etik yang harus dijaga sampai akhir hayat. Jadi, meskipun Abi Malik sudah mengetahui siapa pelakunya, dia tetap tidak bisa membocorkan karena akan mendahului rahasia alam. Sebagai penghilang rasa penasaran Bayu dan keluarganya, Abi Malik hanya memberitahukan tentang ciri-ciri dua orang itu. Abi Malik mengatakan, bahwa salah satu dari mereka akan terluka. Itu dikarenakan bala yang mereka kirim, justru berbalik ke tubuh mereka sendiri. Bayu dan yang lain hanya mengangguk-angguk. Mereka tampak sangat penasaran sekaligus muak dengan apa yang telah seseorang lakukan terhadap keluarga mereka. Selama ini, Bayu bersama ketiga kakaknya, tidak pernah merasa memiliki masalah dengan orang lain. Mereka terkesan diam, jika ada huru-hara yang menjadi buah bibir di desa mereka demi menjaga orang lain agar tidak sakit hati. Kiriman bala yang bertujuan untuk menghancurkan keluarga, membuat Bayu semakin tersulut emosi dan sangat ingin membalas perbuatan orang tersebut dengan baku hantam agar adil. Mas Jamil dengan sabar terus menasihati Bayu yang sudah mengepalkan tangan. Laki-laki itu terus meyakinkan agar Bayu mengucap istighfar dan jangan sampai berperilaku sama seperti orang yang hendak mencelakai mereka. “Sabar, Bayu, sabar! Dendam tidak akan menyelesaikan permasalahan. Kita akan terus dibudaki amarah jika di dalam hati kita menyimpan dendam. Berdoa saja supaya orang-orang yang telah berniat jahat terhadap keluarga kita, lekas diberi hidayah agar mereka bertaubat.” Jamil berkata dengan nada menekan. “Entahlah, Mas. Aku sudah muak dengan ini semua. Bapak, Ibu, Kak Hafsah, sudah menjadi korban yang entah dari mereka juga atau bukan. Aku merasa sangat kasihan dengan para pecundang itu. Bisa-bisanya mereka main belakang, sangat tidak gentleman.” Bayu mengoles hidung dengan jempolnya. “Sudah, Bayu. Benar kata Mas Jamil. Jika kita melawan mereka dengan amarah, itu tidak membedakan kita dengan mereka. Kita tidak perlu membalas, yang hanya akan memupuk buih-buih dendam. Mbak hanya berharap, kejadian ini adalah yang terakhir kali. Mbak tidak mau berdoa yang macam-macam karena takut akan berbalik ke diri kita sendiri,” sambung Hafsah dengan kalimat yang hampir sama dari yang diucapkan suaminya. “Tapi, Hafsah. Jika kita hanya diam saja, takut nanti mereka malah akan semakin menjadi-jadi. Mereka memang harus diberi pelajaran, agar kapok dan berpikir seribu kali jika mau menjahati orang lain.” Haya berbicara begitu menggebu-gebu. Ia tidak tahu kalau yang mengiringi semua bala itu ternyata adalah suaminya sendiri. “Sudah, sudah, kalian jangan beradu argumen malam-malam begini. Lebih baik, kalian tidur dengan nyenyak. Aku dan Jamil, akan berusaha memagari rumah kalian agar kiriman apa pun tidak bisa menembusnya,” ucap Abi menengahi keempat saudara itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD