Hafsah begitu excited melihat penampakan Wijaya. Lelaki berusia hampir kepala empat itu masih terlihat sangat muda dan berkarisma.
Hafsah tidak banyak mengingat tentang sosok laki-laki itu. Hafsah hanya mengetahui kalau dirinya dulu sering diajak bermain di ladang bersama Wijaya dan kakaknya.
Setelah Hafsah kelas dua SD dan kakaknya lulus SD, mereka tidak bertemu Wijaya lagi. Wijaya pergi merantau bersama orang tuanya.
Betapa terkejutnya Hafsah saat kembali melihat Wijaya. Wijaya sudah dianggap seperti kakak sendiri karena selalu membela setiap kali dia diejek teman-teman lain.
“Masya Allah, Abang. Bagai kabarnya?” tanya Hafsah begitu gembira.
Jamil yang baru saja selesai mempersiapkan sarapan untuk Abi Malik, keluar dari rumah dan langsung kebingungan melihat wajah ceria dua wanita di hadapannya.
“Loh, loh, ada apa, ni?” Lagi pada reunian?” ujar Jamil yang langsung bergabung dengan mereka.
Wijaya turun dari motornya dan menyalami Jamil. Keduanya baru saja bertemu, tetapi Jamil dan Wijaya terlihat akrab satu sama lain.
Haya dan Hafsah begitu antusias menceritakan sosok Wijaya yang merupakan teman masa kecil mereka. Jamil pun menanggapinya dengan santai. Dia sedikit melihat, Wijaya memiliki perangai baik dan sopan terhadapnya.
Tidak seperti Beno yang sudah dikenal Jamil sejak lama. Dengan kakak iparnya itu pun, Jamil tidak pernah merasa sedekat ini. Beno terkesan malas bicara ketika bertemu Jamil. Jamil pun menjadi sungkan untuk bertanya ke kakak iparnya itu terlebih dahulu.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Haya dan Wijaya pun berpamitan berangkat ke pasar. Hari sudah semakin siang. Haya tidak mau para pelanggannya menunggu di depan kios sementara dia sendiri belum datang.
Hafsah dan Jamil masuk kembali ke rumah. Lala yang baru selesai disuapi oleh Bu Nilam, berlari mendekat dan langsung memeluk ayahnya. Lala begitu senang ada ayah dan ibunya di rumah. Sebab selama ini, ia selalu ditinggal bekerja oleh Ayah, dan ditinggal mengajar oleh ibunya setiap hari.
Kebersamaan itu, tidak ingin Jamil dan Hafsah lalui begitu saja. Dua orang tua itu lantas menemani Lala bermain. Mereka turut berlari-lari, bermain boneka dan rumah-rumahan, juga bermain petak umpet . Mereka berusaha keras membayar kebersamaan yang sempat terbuang. Karena setelah mereka kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, momen seperti ini akan sulit terulang kembali
“Dek, Mbak Haya kelihatan cocok dengan Wijaya, ya!” Celetuk Jamil di sela-sela candaan.
“Hush! Mas ini. Mbak Hafsah masih bersuami. Pamali bicara seperti itu.” Hafsah refleks mendorong karena terkejut dengan pernyataan suaminya.
Jamil pun terkekeh. Mereka lantas bertukar cerita tentang pengalaman masa kecil dulu. Hafsah begitu bersemangat mengulang kenangan masa kecilnya pada Jamil. Begitu pula Jamil yang tak kalah gembira mendengarkan semua pengalaman lucu yang diceritakan Hafsah.
Hafsah berulang kali menyebutkan nama Wijaya. Dia selalu bilang, Haya dan Wijaya tidak bisa dipisahkan waktu itu. Mereka sudah seperti adik kakak. Bahkan, Hafsah sampai pernah cemburu pada Wijaya karena Haya lebih senang bermain dengannya.
Hafsah ingat betul betapa sedihnya Jaya ketika ditinggal pergi oleh Wijaya. Haya sampai tidak mau makan berhari-hari dan enggan keluar rumah bermain bersama teman-temannya. Haya yang pada saat itu tidak memiliki teman dekat, memilih putus sekolah dan ikut Bapak dan ibunya berkebun di ladang.
Hari ini, Wijaya seakan-akan menghidupkan keceriaan di wajah Haya kembali. Hafsah bahkan tidak pernah melihat kakaknya sebahagia itu selama menikah dengan Mas Beno. Namun, Hafsah tidak mau berharap banyak. Sebab kakaknya, masih memiliki ikatan dengan Mas Beno meskipun hubungan pernikahan mereka sedang tidak baik-baik saja.
***
Di sisi lain, Haya tampak malu-malu di atas motor. Pertemuan mereka yang kedua ini seperti memiliki getaran yang berbeda. Ada sesuatu yang hendak dituangkan dalam hati Haya. Namun, sebisa mungkin ia jaga karena masih ada ikatan yang harus ia pertahankan.
“Haya. Saya ingin ngomong sesuatu sama kamu.” Tiba-tiba saja Wijaya mengatakan hal itu.
Haya yang merasa dag dig dug sejak tadi, justru semakin serba salah. Haya berusaha menerka-nerka apa yang akan dikatakan oleh sosok di depannya. Karena tidak mungkin orang seperti Wijaya, terang-terangan menyatakan perasaan terhadap orang yang sudah bersuami. Itu sangat keji sekali.
“Aduh, Haya. Jangan berpikir bodoh.” Haya bergumam sambil menepuk-nepuk jidat sendiri.
“Kenapa, Hay?” Wijaya menengok sedikit untuk memastikan apa yang sedang Haya lakukan di belakangnya.
“Eh, enggak-enggak. Tadi kami ngomong apa? Saya gak denger.” Haya berpura-pura tidak mendengar demi menutupi kegugupannya.
Wijaya tampak sedikit ragu ketika Haya bertanya balik. Namun, Wijaya merasa tetap harus mengatakan hal tersebut untuk menolong Jaya l dari sesuatu yang buruk dari diri suaminya.
“Hay, sebenarnya ... saya tahu hubungan terlarang antara suamimu, Beno, dengan Wirna, janda kampung sebelah. Wirna itu bekerja di ladang bersama dengan saya dan yang lainnya. Dan pada sore itu ... saya melihat Beno dan Wirna ... maaf, sedang bersetubuh di gubuk ladang.” Dahi Wijaya mengeluarkan keringat dingin. Sejujurnya ia tidak ingin menyakiti hati Haya. Akan tetapi, jika tidak diberitahu, Haya akan selamanya dibodohi oleh laki-laki biadab itu.
Haya diam saja tanpa merespons apa-apa. Seperti mendengar hal yang biasa, tidak ada raut sedih dan kecewa sama sekali di wajah wanita berkerudung hitam itu.
Kini, giliran Wijaya yang tampak tak enak hati. Dia berpikir, Haya diam karena rasa kecewanya yang terlalu dalam. Wijaya takut, Haya kesal terhadapnya karena berani mengatakan hal yang tidak baik mengenai suaminya.
“Hay. Kamu baik-baik aja, kan? Kamu marah sama saya karena saya mengadukan hal ini?” Wijaya bergetar. Suaranya seketika sumbang karena merasa tak enak dengan sosok di belakangnya.
“Saya marah? Saya tidak marah sama sekali. Saya sudah biasa mendengar hal ini. Tapi, saya selalu diam sampai hati ini sudah benar-benar kebal sekarang.” Haya tersenyum kecut. Binar matanya kini sudah tak lagi mengeluarkan benih-benih air. Haya sudah menuangkan itu semua semalam dengan saudara-saudaranya. Ia merasa lebih tenang dan lega sekarang. Haya justru menjadi wanita lebih kuat dan tidak lagi meratapi seseorang yang tidak pantas untuk diratapi.
“Maaf, Haya. Aku tidak mengira kehidupan perkawinanmu akan seperti itu. Aku pikir ... kamu bahagia.” Wijaya menghela napas. Ia tidak kuat mengatakan kata-kata selanjutnya.
“Saya bahagia, Kok. Saya tetap bahagia untuk diri saya sendiri. Bukan untuk orang lain.” Haya dengan tenang mengatakan itu semua. Pagi ini, Haya seperti menemukan sisinya yang lain.
“Tapi ngomong-ngomong, istrimu mana? Apa kamu sudah punya anak?” Haya menyingkirkan rasa sungkannya demi menghilangkan rasa penasarannya.
“Apa katamu, istri? Saya belum menikah Haya. Saya sibuk mengurus ibu yang sudah renta. Saya takut jika menikah, ibu saya tidak ada yang mengurusi,” sahut Wijaya sambil terbahak-bahak.
“Loh. Di umur setua ini, kamu masih belum menikah? Kan, ibu bisa diurus nanti sama istrimu.” Haya terkejut dan hampir tak percaya dengan jawaban Wijaya.
“Saya pernah beberapa kali gagal menikah. Perempuan-perempuan yang hendak saya nikahi, tidak bersedia menemani dan mengurus Ibu yang sudah tua. Entahlah. Mungkin saya yang salah. Tapi, saya hanya ingin menjadi anak yang berbakti. Jika bukan saya yang menyayangi Ibu, lalu, siapa lagi.” Wijaya memberi penjelasan dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu gak salah, kok. Memang sudah kewajiban anak untuk berbakti kepada orang tua. Saya yang sudah tidak memiliki orang tua, merasa sedih jika ada orang yang berpikiran seperti itu. Selama menikah, saya tidak pernah sungkan mengurus keluarga suami. Sampai ibu Mas Beno meninggal di usia pernikahan kami yang kelima. Saya sangat sedih karena belum bisa memberi kebahagiaan dengan menghadirkan keturunan untuk beliau.”
Wijaya merasa sejuk dengan jawaban yang keluar dari mulut Haya. Laki-laki sampai berkhayal betapa indahnya jika memiliki istri yang baik seperti Haya. Namun, khayalan itu harus pupus ketika menyadari Haya masih memiliki suami.
Obrolan-obrolan intens, membuat mereka tak sadar sudah sampai pasar. Setelah tiba di depan kios, Haya pun segera turun dan memberikan uang lembaran dua puluh ribu yang hanya tinggal satu-satunya.
“Tidak. Saya tidak mau menerimanya lagi.” Wijaya menggeleng, lalu lekas memutar balik kendaraan roda duanya.
“Loh. Wijaya, tunggu! Ini hanya sebagai ucapan terima kasih.” Haya mencoba kembali membujuk temannya itu.
“Tidak. Saya tidak akan terima uang dari kamu. Kalau kamu mau berterima kasih, main ke rumah kalau senggang.” Wijaya berucap dan langsung menarik gas.
Haya tersenyum simpul mendengar jawaban Wijaya. Hari ini, dia seperti merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar bahagia. Haya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.