Akhir dari Penyesalan

1092 Words
Wajah Haya terlihat merona sepanjang hari. Para pembelinya sampai heran melihat Haya senyum-senyum sendiri. Dia begitu terpesona pada sosok Wijaya dua hari terakhir ini. Haya hampir saja lupa bahwa dirinya masih memiliki hubungan dengan suaminya. Suasana hati yang begitu baik, membuat Haya tidak terasa berdagang sampai petang. Ruko-ruko di kiri dan kanannya sudah tutup semua. Tinggal Haya yang masih standby meskipun sudah tidak ada lagi pelanggan yang datang. Haya bersiap-siap pulang dan mengunci rukonya. Sore ini, wanita itu pulang dengan ojek yang lebih mudah ia temukan di pasar. Suara azan magrib menyambut kedatangan Haya di kontrakannya. Setelah turun dari motor dan membuka pintu, Haya terperanjat melihat suaminya sudah terkapar di lantai dan bersimbah darah. Haya begitu syok dan langsung menelepon saudara-saudaranya. Tak lama kemudian, Mas Jamil dan Bayu pun datang membawa mobil untuk membawa Beno ke rumah sakit. Beno mengalami pendarahan hebat di bagian perutnya. Beno seperti habis dicabik-cabik oleh benda tajam hingga menimbulkan sayatan pada perutnya itu. Haya sangat kebingungan. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya itu. Beno masih belum sadarkan diri. Haya tidak tahu harus bertanya ke siapa perihal keadaan suaminya. Sesampainya di rumah sakit, Beno langsung menuju IGD untuk ditindaklanjuti. Para dokter berusaha membersihkan luka dan memberikan cairan antiseptik pada perut Beno. Kantong darah pun segera disiapkan. Beno sudah kehilangan banyak darah akibat lukanya. Setelah ditangani beberapa saat, dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Keluarga Haya pun menyetujui. Karena walau bagaimanapun, Beno masih bagian dari mereka. Operasi pun berjalan dengan baik. Setelah beberapa jam melewati masa kritis, Beno pun akhirnya mulai sadarkan diri. “Di mana saya?” tanya Beno. Beno masih tampak linglung, tetapi dia tahu betul siapa-siapa saja orang di sekelilingnya. Haya tidak berhenti menangisi suaminya. Ia merasa bersalah telah pergi dari kontrakan tanpa tahu keadaan Beno saat pulang. Melihat seluruh keluarga berkumpul, Beno pun tidak bisa membendung air matanya. Laki-laki itu merasa sangat menyesal telah berbuat jahat terhadap keluarga istrinya. Sementara mereka yang dijahati, justru dengan berbaik hati menolong nyawanya. Beno menangis menahan sesak. Seluruh keluarga pun bingung kenapa laki-laki yang dikenal garang itu menangis sampai tersedu-sedu Haya pun berusaha menenangkan suaminya. Namun, Beno dengan sigap menepis tangan Haya dan meminta maaf kepada semua orang yang ada di depannya. Beno merasa bahwa umurnya sudah tidak lagi panjang. Dia pun memutuskan untuk meminta maaf dan memberitahukan semua kejahatan yang pernah ia lakukan selama ini. Beno dengan kesadaran penuh, mengaku telah membunuh dua mertuanya dengan cara mengirimkan guna-guna. Dia pun mengaku telah menyuruh Ki Mutar untuk membuat Hafsah dan anaknya sering berhalusinasi. Beno jujur pada Jamil, bahwa dirinya memiliki ketertarikan terhadap Hafsah. Oleh sebab itu, dia berniat membunuh Jamil dengan mengirimkan bala semalam. Kiriman bala yang gagal itu ternyata berbalik menyerang Beno dan Ki Mutar. Ki Mutar berhasil melarikan diri dari serangan makhluk suruhannya. Sementara Beno, terjebak dan benda-benda seperti beking dan paku, berbalik menyayat perutnya. Beno sempat berlari meminta pertolongan. Akan tetapi, tidak ada satu pun orang yang keluar untuk menolongnya. Beno kini menyesali semua perbuatannya. Surat wasiat dan surat tanah yang sempat ia curi pun, ia kembalikan lagi pada Bayu. Beno memiliki hutang judi ratusan juta kala itu. Dia bingung harus membayar hutang-hutangnya dengan apa sementara dia sendiri tidak punya uang. Beno juga sangat menyesal telah berkhianat pada istrinya. Beno akhirnya mengaku bahwa dirinya sudah beberapa kali bermain api bersama wanita lain. Meskipun kesal, Haya tetap berusaha berbesar hati. Dia menganggap, semua yang telah dilakukan Beno tidak lain adalah karena dia tidak bisa memberikan keturunan. Dengan sisa tenaga, Beno mengulurkan tangannya. Dia ingin menjabati satu persatu tangan saudara-saudaranya sebagai permintaan maaf. Sambil berderai air mata, Beno menyalami semua orang yang ada di ruang rawat inap itu. Sampai ketika ia menyalami istrinya, suara monitor pun berbunyi, menandakan Beno sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Beno meninggal dunia tepat sepuluh hari semenjak kematian ibunya Haya. Seluruh keluarga turut berdukacita. Meskipun telah tenang karena masalah terselesaikan, Bayu dan keluarganya tetap merasakan duka yang teramat dalam. Setelah empat puluh hari kematian Beno, Hafsah memutuskan untuk ikut merantau bersama suaminya. Perihal rumah dan tanah yang orang tuanya wariskan, telah ia jual pada bos suami Bu Ningrum. Hafsah merasa, ini adalah keputusan terbaik. Dia bisa berkumpul bersama suami dan anaknya di tempat baru, tanpa dihantui bayang-bayang masa lalu. Bayu yang sudah memiliki rumah di Jakarta, memilih untuk menetap di sana. Sementara lahan kebun yang orang tuanya wariskan, telah ia jual pada pemborong untuk nantinya dijadikan perumahan. Haya di seratus hari kepergian suaminya, langsung dilamar oleh Wijaya. Mereka berdua akan menikah dan mengembangkan kios beras bersama-sama. Pada bulan keempat, Haya resmi dipersunting oleh Wijaya. Hari-hari Haya terasa sangat bahagia setelah itu. Sampai saat Haya menemukan sebuah bukti tentang kejahatan Wijaya di masa lalu, hubungan mereka pun rusak dan Haya hampir dibunuh oleh suami barunya. “Saya tidak menyangka kalau kamu itu ternyata pembohong besar,” ucap Jaya l dengan napas menggebu-gebu. Dia baru saja ditampar oleh suaminya setelah menemukan berkas-berkas milik orang lain yang suaminya ambil. “Kamu tidak perlu mengetahui masa lalu saya. Tapi sekarang, kamu harus merasakan akibatnya karena telah berani mengulik rahasia yang susah payah saya sembunyikan.” Wijaya mengamuk. Tangannya tidak lepas dan terus mencengkeram rambut Haya. “Kamu jahat, Wijaya. Kamu sungguh jahat.” Haya berusaha melepaskan diri. Tapi sayang, kekuatan Wijaya lebih berkali-kali lipat darinya. “Mati, Kau!” Braaak! Sebongkah kayu menghantam kepala Haya. Darah mengucur deras dari pelipis dan membasahi bagian belakang rambutnya. Baya sempat kejang-kejang beberapa saat, sampai tubuhnya kaku, dan Haya pun kehilangan nyawa di tangan suaminya. Wijaya segera mengambil map dari tangan Haya. Di dalam map itu, terdapat surat perjanjian dengan perusahaan konstruksi. Ternyata Wijaya masih bekerja sebagai mandor pembangunan. Dia datang kembali ke desanya hanya untuk mencari tumbal untuk pembangunan jembatan. Wijaya tidak begitu dikenal di tempat tinggalnya. Dia sengaja hidup mengasingkan diri dari khalayak ramai demi mengelabui polisi. Wijaya sudah terkena kasus atas kematian beberapa orang di tempat kerjanya. Namun, pihak perusahaan masih mau membayar asal dia tetap bersedia mencarikan tumbal untuk memuluskan pembangunan. Wijaya melarikan diri beberapa bulan lalu setelah membunuh teman lamanya. Dia pura-pura hidup susah bersama ibunya yang sudah pikun, demi tidak dicurigai oleh orang-orang di kampungnya. Setelah menghabisi nyawa istrinya, Wijaya pun membungkus tubuh itu dengan tikar. Wijaya menggali lubang di pekarangan belakang, kemudian mengubur jenazah Haya di sana. Wijaya mandi setelah lelah mengubur jasad sang istri. Setelah merasa segar, ia pun pergi ke kamar dan mulai mengingat-ingat kejadian di mana dia pernah mengubur seorang sinden bernama Lasmi. Wijaya sangat merindukan sinden itu. Tapi apalah daya, pekerjaan membuatnya menjadi raja tega hingga nekat mengubur hidup-hidup orang yang dicintainya. Semua bermula pada malam itu ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD