Chapter 75

294 Words

Setelah pesan suara itu terkirim, Ale melempar ponsel ke atas kasur, lalu merebahkan tubuhnya di sana. Kegiatannya saat ini hanya diisi dengan tidur, lalu menelepon dan mengirim pesan kepada Ajeng. Siklus tersebut berulang. Mengabaikan kehidupan sesungguhnya yang merupakan kewajiban untuk dijalani. Jika bukan karena paksaan Galih, Aldi, atau bahkan Fatir, dia yakin tidak akan mau menyentuh nasi atau makanan lain sama sekali. Rasa khawatir dan perasaan tidak dibutuhkan sang pacar telah mengeruk seluruh energi dan perhatiannya. Seandainya saja Ajeng mau menelepon atau membalas salah satu pesan yang dia kirimkan, Ale yakin, dirinya tidak akan merana seperti ini. Setidaknya, dia tahu, Ajeng masih menganggap keberadaannya. Masih memikirkan Ale yang sangat mencintainya. *** Ajeng menangis

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD