Chapter 92

1029 Words

Ajeng duduk di atas tikar. Matanya meneliti isi kamar Ale yang cukup rapi. Sepertinya, cowok itu sudah memikirkan masak-masak tentang tempat yang bisa digunakan mengobrol dengan santai. “Aku beliin minum dulu, ya.” Ale bergegas keluar tanpa menunggu persetujuannya. Cewek itu bersyukur, karena Ale memberinya ruang untuk berpikir sekaligus menenangkan pikiran. Di rumahnya tadi, dia tidak memiliki waktu untuk menenangkan diri setelah mendengar ucapan Ale. Ucapan yang mengindikasikan bahwa cowok itu mengetahui permasalahannya. Tangannya masih bergetar. Susah payah dia menyembunyikan kondisinya itu dari Ale. Sungguh. Dia ingin sekali bergelung dalam pelukan cowok itu. meminta perlindungan dan memohon kepercaan darinya. Akan tetapi, dalam waktu bersamaan, dirinya juga tidak mau terlihat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD