Save the Date

741 Words
Save the date..... ❤ Amy & Adam  ______________________________________________________________________________ Adam. "Dateng ndak Ken?" suara Ibu Ken membuat Ken tersontak kaget, undangan berwarna cream yang ada di tangannya hampir saja terjatuh ke lantai. Ibu Ken, Rita Saradi menanyakan pertanyaan yang Ken pun masih belum tahu jawabannya.  "Should I?" kata Ken setengah bergumam. Adam, mantan pertama dan terakhir Ken. Satu tahun menjalin hubungan tidak membawa mereka berdua ke pelaminan. Hubungan Ken dan Adam berakhir tepat seminggu setelah Adam melamar Ken. Ken yang tidak ingin buru-buru menikah, memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Hubungan mereka berjalan baik pada awalnya. Bahagia, layaknya pasangan muda-mudi pada umumnya. Namun semakin Ken memikirkan pernikahan, semakin Ken mundur perlahan.  "Adam anak yang baik, semoga dia bahagia." kata Bu Rita sambil mengaduk teh panas di gelas kecil bergambar biskuit dan anak kecil yang sedang tertawa, gelas kesukaan Ken.  "Ken juga anak yang baik kok Bu." timpal Ken seraya berdiri menghampiri Ibunya yang hendak mengangkat gelas berisi teh panas untuk putrinya. "Biar Ken aja yang bawa." kata Ken seraya menghirup aroma teh panas buatan Bu Rita. Wangi khas teh melati menyeruak menembus indera penciumannya, Ken tersenyum merasa dua level lebih relaks dari sebelumnya, teh buatan Bu Rita memang paling juara.  "Ibu juga tahu kalau Ken anak yang baik. Ibu cuma masih heran kenapa kamu ndak mau melanjutkan hubungan lebih serius sama Adam." Ken meminum teh nya sedikit demi sedikit sambil memejamkan matanya, merasakan cairan hangat mengalir dari lidah ke tenggorokannya.  "Dulu aku sayang sama Adam Bu, tapi semakin Ken memikirkan tentang pernikahan, tentang perasaan sayang Ken ke Adam yang setiap hari semakin besar, tentang masa depan kami. Semakin Ken takut Bu. Menikah buat Ken bukan hanya tentang yang belum halal menjadi halal. Tapi lebih dari itu. Ken juga takut kalau Ken nggak bisa mendidik anak Ken dengan baik, Ken takut nggak bisa mempertahankan hubungan pernikahan dengan Adam ketika kami sedang bertengkar. Ken takut Bu. Ken takut gagal." tutur Ken memberikan penjelasan yang selama ini Ia simpan sendiri.  "Teh nya enak?" tanya Bu Rita sambil duduk di sofa, bersebelahan dengan putri satu-satunya. Semburat sinar matahari sore menembus jendela dan menerpa wajah Ibu dan anak itu.  "Kenapa jadi teh sih Bu. Ken kan udah ngomong panjang lebar." Bu Rita mengusap rambut Ken yang terurai panjang.  "Jangan lihat kegagalan Ibu membina rumah tangga Ken. Kamu masih muda, jangan melulu diliputi perasaan takut. Ibu memang pernah gagal, tapi ibu tidak pernah menyesalinya. Karena selalu ada hal baik disetiap hal buruk yang terjadi. Kamu contohnya. Kalau Ibu tidak menikah dengan ayahmu, ibu tidak akan pernah memiliki kamu. Dan itu kerugian buat Ibu." mata Ken berkaca-kaca, dua puluh tahun lebih hidup bersama Ibunya, hingga pernah berselisih paham dan kabur dari rumah, sampai akhirnya Ken kembali lagi. Banyak hal sudah dilalui bersama berdua. Ayahnya yang sudah berkeluarga lagi, jarang mengunjungi Ken. Apalagi sekarang Ayahnya tinggal di Kuala Lumpur.  "Duh Bu Rita ini Ibunya siapa sih, kalimatnya sok bijak deh." Kata Ken seraya tertawa.  "Jadi dateng ndak?" "Dateng sepertinya. Tapi kalau dateng sendiri, sedih nggak sih Bu?" "Ha yo kamu sedih apa ndak?" "Biasa aja sih, orang udah nggak ada perasaan apa-apa juga." "Yowes to."  "Tapi nanti dikira orang aku belum bisa move on lagi." "Yaudah ndak usah pikirin omongan orang, lha wong orang lain aja ngomongnya ndak pake mikir kok." Ken tertawa mendengar celetukan Ibunya.  "Eh nduk, kapan itu ada laki laki ketok ketok rumah, tapi berhubung ndak kenal jadi ndak Ibu bukain. Ibu kira agen asuransi atau apa gitu, makanya ndak ibu bukain. Tapi habis dia pergi, Ibu jadi mikir apa temen kamu ya? Tapi Ibu belum pernah lihat." jelas Ibu Ken. "Ohhh, Handy kali ya." Ujar Ken spontan.  "Siapa itu?" tanya Bu Rita menyelidik.  "Temen, dikenalin Citya."  "Temen apa temen?" goda Bu Rita. "Temen beneran bu, eh apa aku ajak Handy aja ya? Ah tapi jangan deh, kita kan belum sampai tahap buat datang ke kondangan bareng." Ken memasang wajah bingung, bibir bagian atas kirinya naik tanpa Ia sadari. Begitulah ekspresi Ken jika sedang bingung.  "Kamu kok tanya sendiri jawab sendiri. Ya kalau mau diajak ya ajak aja, kalau mau datang sendiri ya ndak apa-apa. Toh kamu juga terbiasa sendiri." "Terbiasa sendiri? Kok Ken dengernya sedih ya Bu?" ujar Ken sambil menatap wajah Ibunya, kedua bahu Bu Rita naik turun menahan tawa. Semburat sinar sore yang menerpa wajah Bu Rita semakin memperjelas kerutan kerutan di wajahnya, membuat Ken sadar bahwa Ibunya setiap hari semakin menua. Senja, teh hangat dan Ibunya. Tiga hal itu membuat Sabtu sore Ken sempurna.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD