I am not going that way

658 Words
  The truth is, unless you let go, unless you forgive yourself, unless you forgive the situation, unless you realize that the situation is over, you cannot move forward.   "Kalau mau nangis, nangis aja." suara seorang wanita membuat Lenan menoleh, Ia mendapati Shenan sedang menggendong Cila yang tertidur pulas. Lenan kemudian mengambil alih Cila dari rengkuhan Shenan. "Cila mau di bawa ke kamar Mama atau kamar lo?" tanya Lenan seraya membenarkan gendongannya supaya Cila merasa nyaman.  "Gendong aja terus sampai Cila bangun." canda Shenan.  "Kak, " Lenan kehabisan kata sementara Shenan tertawa. Shenan Jahja, kakak satu-satunya Lenan Jahja gemar sekali meledek adiknya yang selalu memasang wajah serius dan sulit diajak becanda. "Cylamen." Shenan menggumam. "Lumayan lah untuk mengakhiri hubungan. Bunganya juga bagus. Lo nggak mau nangis dipelukan kakak lo ini?" "Apasih kak." Lenan mulai risih dengan perlakuan Shenan yang masih saja menganggapnya  anak kecil. "Gue dapet informasi dari Raline. Dia telfon gue nanyain bunga Cyclamen. Lo bisa nggak ngerepotin sekertaris lo. Lo yang patah hati, sekertaris lo yang pusing." ujar Shenan sambil membuntuti Lenan yang mulai berjalan ke kamar Shenan. Sudah pasti Raline menceritakan semuanya kepada Shenan, karena mereka berdua memang sedekat itu. "Walaupun pengalaman cinta gue nggak bisa dibilang bagus. Gue setuju sama keputusan lo. Jangan pernah mempertahankan orang yang nggak mau dipertahankan. Gue bukannya nggak mendukung hubungan lo sama Mahya, cuma berpikir logis juga perlu. Walaupun harus mengorbankan perasaan sendiri. Tapi cinta bukan hal yang bisa dipaksa, right?" Shenan masih sibuk memberikan pidato sementara Lenan merebahkan Cila di tempat tidur. Gadis kecil itu terlihat pulas karena kelelahan setelah berenang. Lenan duduk disamping Cila, memandangi wajah gadis kecil itu. "Gue selalu berusaha memberikan yang terbaik buat Mahya, gue selalu berusaha buat nggak menyakiti Mahya. Lo tau kenapa?" tanya Lenan pada Shenan yang sedang berdiri dihadapannya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.  "Karena lo cinta." jawab Shenan singkat.  "Kind of. Tapi yang paling membuat gue semakin ingin melindungi Mahya adalah, ketika gue melihat lo nangis-nangis di depan Mama dan bilang ke Mama kalau lo mau pisah dari laki-laki b*****t itu. Gue nggak terima liat lo nangis dan disakiti. Dari situ gue bertekad buat selalu melindungi wanita yang ada di kehidupan gue. Lo, Mama, Mahya." Shenan hanya meringis mendengar penuturan Lenan. Ia teringat saat ia memergoki suaminya yang berkewarganegaraan Singapura itu, sedang berdua di kamar hotel dengan sekertarisnya. Saat itu Shenan sedang hamil delapan bulan, ia menangis di pangkuan Ibunya seperti orang gila. Lenan yang geram menemui suami Shenan pagi harinya, menghajar habis-habisan suami Shenan di kantor.  "Lo tetep akan melindungi wanita yang udah selingkuh di belakang lo?" Lenan terdiam, tatapannya kembali ke wajah Cila, kemudian melihat ke langit-langit mengamati tiap sudut detail kamar kakaknya.  "Itu salah gue. Salah gue, karena gue nggak bisa jadi apa yang Mahya mau. Gue juga jarang ada waktu buat Mahya. Gue yang salah Kak." ada jeda sebelum Lenan melanjutkan kalimatnya. "Ironis kan? Lo nangis karena disakiti pria b*****t itu aja gue marah tapi gue malah menyakiti wanita gue." Shenan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Frustasi mendengan pernyataan adiknya sendiri. "Stop being stupid. Jangan menyamakan kondisi yang berbeda dong Lenan Jahja. Apapun alasannya, selingkuh ya selingkuh. Astaga Lenan, wake up c'mon. Lo nggak menyakiti siapapun, kay? Kalau Mahya ngeluarin air mata waktu minta putus sama lo, itu bukan air mata kesedihan. Itu air mata karena dia merasa bersalah. Got it? Don't look back Lenan. Forget Mahya please. You're not going that way." Semua kalimat Shenan menggema di gendang telinga Lenan, pikirannya jauh menerawang ke dimensi yang hanya Ia dan Tuhan yang tau. "Lo harus berdamai dengan masa lalu, sama kaya gue berdamai dengan masa lalu gue. Dan lo harus belajar membuka hati lo buat orang lain Lenan." tangan kecil Shenan mengusap jemari adiknya yang dua kali lipat lebih besar. "Lo juga." kata Lenan yang membuat Shenan tertawa pelan. "Hati gue udah full buat anak gue." ujar Shenan sambil mengusap rambut Cila.    Mahyavani. Satu nama itu, mampu membuat hidup pewaris J group Lenan Jahja porak-poranda. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD