I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too - falling in love at a coffee shop, Landon pigg
____________________________________________________________________________
Suara serak Landon Pigg menggema memenuhi ruangan Not-so-alone coffee shop, kedai kopi kecil daerah Menteng ini tempat favorite Ken saat weekend. Kedai kopi ini buka lebih pagi dari kedai kopi yang lain, pukul 08.00- 23.00 WIB. Ken dengan blouse biru muda panjang tanpa lengan, rambut panjangnya dikepang, sentuhan pita sederhana dirambutnya membuat Ken terlihat semakin manis. Ken suka bereksperimen dengan penampilan sesuai dengan mood.
Wanita itu duduk tenang di samping jendela, sesekali menghirup kopi hitamnya penuh perasaan, membiarkan aroma ramuan kopinya merasuki hidung lalu menghipnotis semua saraf otak. Damai dan tenang. Suara gerimis hujan mulai terdengar, membaur bersama alunan merdu Landon Pigg, sepertinya angin bertiup cukup kencang karena ranting ranting pepohonan seolah menari-nari kesana kemari, percikan air hujan mulai banyak menempel di permukaan luar jendela. Pagi yang kelabu, pikir Ken. Namun sebenarnya, suasana seperti ini adalah suasana yang paling di gemari Ken. Falling in love at a coffe shop masih mengalun merdu. Jatuh cinta di kedai kopi, Ken tersenyum tipis mendengar lagu ini. Sudah lebih dari puluhan kali-dan-mungkin-ratusan kali Ken datang ke kedai kopi, berharap sesekali ia bertemu dengan seorang pria yang bisa merubah pola pikirnya, merubah kehidupannya, lalu membuat ia jatuh cinta.
"Hmm Cit, kenapa?" ujar Ken seraya menempelkan iphonenya ke telinga segera setelah dering pertama.
"Halo Ken? Handy dah nyamper lo?" tanya Ken dari seberang sana.
"Nyamper gue?" wajah Ken berubah bingung.
"Ih sumpah ya si Handy ampun deh ya sisteur, pagi-pagi nelfon gue cuma nanya lo lagi dimana. Katanya dia lagi di depan rumah lo tapi rumah lo sepi." kata Citya menggebu-gebu, terdengar masih tidak ikhlas tidur sabtu paginya terganggu.
"Dia ngapain kerumah gue pagi-pagi?" tanya Ken lagi.
"Ya menurut nganaaa gue tau?" ujar Citya.
"Ken." Ken beralih dari iphone nya ke arah suara yang tidak asing lagi. Berat, tenang dan menenangkan begitu mendengarnya.
"Ohmaygawd Han? What are you doing here?" Ken sontak melongo, tangannya ia biarkan mengambang, teriakan dan ocehan Citya ia abaikan.
"Saya semalam bilang mau ke rumah, mau ajak pagi makan ketoprak sambil jalan-jalan. Boleh duduk?" Ken mengangguk ragu, bola matanya seperti orang bodoh mengikuti semua gerak perpindahan Handy.
"Seriously serious? Duh gue lupa banget sumpah. Kayaknya bacanya selewat gitu jadi nggak ngeh. Mana semalem dengerin Citya curhat juga." Handy hanya tersenyum menanggapi penuturan Ken.
"Sorry-" imbuh Ken merasa bersalah.
"Saya juga tadi telfon tapi nggak diangkat, makanya saya telfon Citya. Sepertinya dia tau kamu sekali ya. Sampai hafal kalau hari Sabtu pagi kamu pasti kesini." Ken mendadak lunglai. Ia ingat tadi ada telfon masuk ketika ia sedang dalam perjalanan ke cafe dan belum sempat memeriksa siapa yang telfon. Tapi apa perlu menjelaskan semua itu secara detail? Seolah hubungan mereka sudah cukup intens untuk penjelasan yang demikian.
“Bukan Citya yang tahu aku, lebih persisnya kebiasaanku emang selalu begini-begini aja.” jelas Ken sambil tersenyum menunjukan deretan giginya.
"Saya sengaja mau ketemu kamu dulu sebelum berangkat dinas luar Senin besok. Kata Citya kamu suka ketoprak."
Ken tersenyum masam, entah sudah berapa banyak informasi sadapan yang diberikan sahabatnya itu secara sukarela. Ken tertawa sendiri membayangkannya.
"Ada yang lucu?" timpal Handy.
"No. Forget it. Mau pesan minum apa?" Handy melongok ke dalam cangkir kopi Ken, dan mendapati gumpalan cairan hitam pekat di dalamnya.
"Bukan americano yang jelas. Latte saja, hazelnut latte is fine." Ken tersenyum, tangannya melambai lambai ke arah seorang pria yang sedang meramu sesuatu tidak jauh dari meja Ken.
"Hazelnut latte buat mas ini ya Nal." pesan Ken.
"After all this time. Lo bisa juga janjian sama cowok. Udah normal sekarang?" kata Radinal.
"Radinal. Go now so, please." Radinal hendak protes dan ingin mengatakan sesuatu. "No explanation Radinal. Go now kay? " tambah Ken sementara Radinal mengangkat kedua bahunya kemudian pergi setelah berbisik di telinga Ken "You have to tell me more who he is Ken."
"So, sampai kenal baristanya ya kamu. Sering banget kesini?" Ken sedikit merasa aneh ketika mendengar kata "kamu". Namun Ken menyadari bahwa hubungan dia dan Handy sudah naik satu level lagi.
"Namanya Radinal, dia yang punya kedai kopi ini. And yes, as I told you before saking seringnya sampai kami jadi teman akrab." sebenarnya Ken masih belum terbiasa untuk menjelaskan hubungan orang-orang disekitarnya pada Handy. Menurut Ken yang
"Besok mau DL kemana?" tanya Ken berusaha merubah topik pembicaraan agar tidak menjurus ke masalah pribadi lagi. Ken hates small talk, but more comfortable than having deep talk with stranger.
"Deket sih, Bandung. Mau ikut?" ajaknya.
"I wish. Lama gue nggak kesana padahal nggak jauh-jauh amat dari sini. Enak ya lo bisa kerja sambil jalan-jalan, dibayar pula. Sementara gue menua di kantor." Ken meringis, sembari mengangkat cangkir gelasnya dan meminum kopi hitamnya.
"Enak nggak enak." jawab Handy singkat. Ken memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut.
"Eh Ken, " imbuh Handy.
"Ya?" respon Ken sekadarnya.
"Kenapa kamu suka minum kopi?" pertanyaan tak terduga muncul dari bibir Handy
"Kenapa ya—" Ken memutar bola matanya, mencoba mencari kalimat penjelasan tersingkat dari pertanyaa yang tidak terduga.
"Mungkin karena, rasa dari pahitnya kopi bisa mengalihkan rasa pahit hidup gue." kata Ken lalu tertawa. "Becanda gue, jangan serius-serius. Eh emang kamu nggak suka kopi?" Tanya Ken kemudian.
“Lucu sih kalau auditor nggak berkawan dengan kopi. Cuma agak kaget aja ngelihat kamu consume Americano.” Jawab Handy jujur.
“Kaget? Why?” Ken mulai penasaran.
Handy menunggu Radinal berlalu pergi setelah meletakkan Hazelnut Latte pesanannya. “Ekspektasi saya, wanita seperti kamu lebih cocok dengan green tea latte?” kata Handy penuh keraguan.
Ken mengulum senyum sambil sekali menyesap kopinya. “Jangan berekspektasi, you will end up disappointed. Anyway, gue suka kok Green tea latte.
"Saya pulang dari Bandung hari Jumat. Sabtu pagi mau makan ketoprak bareng saya?" ajak Handy. Ken kembali melempar senyum. Ken menyadari Handy tertarik padanya, hanya saja dalam hatinya bertanya-tanya apakah Handy bisa menerima dia apa adanya?