Who said there is good in goodbye? Let me talk to whoever the person is.
"Pak, jam dua ada meeting dengan Mr. Tatsuya di ruang Exilir." kata Raline, memberi informasi atasannya.
Lenan mengangguk pelan hampir tidak kentara mata . Tatapannya masih sibuk membaca dokumen yang harus ia tanda tangani. Kebanyakan berisi dokumen pengajuan dana dengan jumlah besar, Lenan harus benar-benar membaca dengan detail setiap isinya. Walaupun dokumen itu sebenarnya sudah melalui filtrasi beberapa level di bawahnya.
"Maaf Pak Lenan, hari ini tanggal 18. " suara sekertaris pribadi Lenan terdengar ragu. Ralin mengamati reaksi atasannya yang minim ekspresi itu, menimbang nimbang akan melanjutkan kalimatnya atau tidak.
"Lalu?" tidak ada lanjutan kata yang keluar dari bibir sekertarisnya membuat Lenan bersuara.
"Itu Pak, bapak mau saya pesankan bunga ke apartemen Ibu Mahya seperti biasa tidak ya Pak? Biasanya bapak sudah kasih saya post it di meja untuk pesan bunga jenis apa bulan ini. Tapi sepertinya bapak belum menaruh post it di meja saya." Lenan melepas kacamatanya, kemudian memijit pelipisnya perlahan. Raline sudah tahu kebiasaan atasannya, kalau sudah melepas kacamata dan memijit pelipis berarti atasannya itu membutuhkan waktu untuk sendiri.
"Cyclamen dengan pot. Pesan di Boston Some Florist-line saja, nanti mereka tahu itu bunga apa." Ralin menunjukan ekspresi-apasih-cylamen—ketidak tahuannya tentang jenis bunga membuat ia sedikit kerepotan bila Lenan menginginkan bunga yang Raline bahkan tidak tahu bahwa bunga itu ada. Sudah dua tahun berlalu semenjak kepergian Mahya, mantan kekasih Lenan. Wanita itu melanjutkan studi ke Boston, Mahya memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Lenan di tahun pertama Mahya di Boston.
"Our relationship will not go well. I will never go back, Lenan. I will never go back." kalimat itu selalu menghantui Lenan, bibir mungil Mahya, suaranya yang pelan, rambut panjangnya yang tertiup angin menutupi separuh pipi kiri wanita itu, sosok Mahya masih sangat jelas diingatannya. Bagian d**a Lenan berkedut ngilu mengingat kebersamaannya dengan Mahya selama ini. Ada rindu yang menyusup setiap nama itu tersebut bersamaan dengan keputus-asaan. Sudah berbagai cara Lenan tempuh supaya Mahya merubah keputusan itu.
"I am not asking you to go back for good. I am not asking you to stay in Indonesia. If you want to stay in Boston, just stay there. Aku yang akan sering ke Boston." kata Lenan saat itu.
"Aku tau kesibukanmu Lenan. Jangan berjanji sesuatu yang akan sulit kamu penuhi. Hubungan jarak jauh tidak akan berhasil. Kesetiaanmu. Siapa yang bisa menjamin itu?" bantah Mahya.
"Kesetiaanku?" Lenan tersenyum tipis, jantungnya seperti teriris setiap mengingat kejadian itu. "Bahkan aku mempercayai semua kebohonganmu setahun ini, dan kamu mempertanyakan kesetiaanku?"
Dua tahun berlalu sejak peristiwa hari itu. Lenan masih dengan kebiasaan mengirimkan bunga walau hubungannya sudah berakhir, dengan harapan Mahya akan berubah pikiran.
But today—
Mahya should know the meaning of Cyclamen flower.