Alicia berbaring bersama kertas yang berserakan di lantai. Dia tidak membiarkan satu pun mata melihat apa yang ditutupi dengan tubuhnya. Entah ide gila apa lagi yang dia lakukan untuk menghalangi mereka yang tadinya hendak melihat siapa wanita yang ada di dalam gambar.
Sebelumnya kertas yang menyumbat mulut dikeluarkan dan dilempar sejauh mungkin. Saat perhatian teralihkan, tumpukan kertas di atas meja langsung dipeluknya semua. Dia sempat berebut-rebutan dengan sang duke sampai akhirnya semua kertas jatuh berserakan.
Sementara Flint tampaknya ingin menutup mata atas kejadian langka itu. Sejenak dia menatap iba pada wanita yang berbaring tersebut, lalu perlahan langkahnya dibawa mundur mendekati pintu. Setelah berhasil mencapai luar pintu ruangan pun ditutup rapat-rapat. Dia pergi menjauh tidak ingin mendengar teriakan minta tolong apa pun dari dalam ruangan.
Saat itu sang duke sudah cukup marah waktunya banyak tersita hanya karena meladeni sikap aneh wanita itu, "Berdirilah atau aku akan menebas kepalamu."
Apa pun pilihannya Alicia memang akan dihukum mati juga, tetapi kalau mendadak seperti sekarang sudah pasti dia belum siap. Situasi membuatnya harus melaksanakan perintah dari sang duke. Dia menegakkan tubuhnya lambat-lambat untuk mengulur waktu sambil memikirkan cara apa lagi yang bisa dilakukan.
Sayangnya sampai sang duke berjongkok mengambil salah satu kertas, Alicia masih belum menemukan caranya. Tidak mungkin sang duke yang sedang menunduk ditendang atau dipukul kepalanya. Dia tidak bisa melakukan hal itu untuk meloloskan diri. Bisa-bisa saat sang duke siuman nanti dia akan lebih dicari dan pelariannya hanya akan semakin sulit nantinya.
Baru saja sang duke berdiri tegak, dia langsung menggenggam tangan yang sudah memegang kertas. Membuat kertas gambar itu tidak bisa dilihat karena sudah remuk oleh genggaman tangan yang begitu erat. Dia mengerahkan seluruh kekuatan yang berkumpul di kedua tangannya agar kertas itu benar-benar remuk.
Hal itu tentu saja menambah kobar kemarahan sang duke. Kali ini ide gila apa lagi yang akan dilakukannya?
Pada akhirnya Alicia terpaksa mengakui identitasnya sebelum gambar tersebut dilihat karena tidak tahu apakah nanti dia masih diizinkan berbicara atau tidak ketika sang duke mengetahui siapa dia sebenarnya. Setidaknya sebelum itu terjadi dia masih bisa meyakinkan sang duke.
"Kau harus mempercayaiku. Tidak ada yang percaya padaku sampai saat ini. Aku bukan seorang pembunuh. Aku tidak membunuh Putri Haura."
Sang duke mengernyitkan alis mendengar ucapan tidak masuk akal yang keluar dari mulut seorang gelandangan. Kecurigaan mulai muncul saat mengaitkan sikap aneh yang seolah tidak membiarkannya melihat kertas yang dibawa oleh Flint. Ternyata sikap aneh itu bukan tanpa alasan.
Lantas genggaman dilepas dengan mudahnya. Sang duke segera membuka kertas yang remuk dan melihat wanita yang ada di dalam gambar. Membandingkan dengan wajah wanita yang ada di hadapannya sekarang. Untuk lebih memastikannya kertas yang masih rapi di lantai diambil dan dibandingkan lagi.
Bisa dikenali dengan jelas bahwa kedua wanita itu sama. Selaras dengan berita yang didapatkannya tadi pagi kalau pembunuh Putri Haura kabur dari penjara. Tidak pernah dikira kalau orang yang sedang diburu ada di dalam wilayahnya. Bahkan berada tepat di hadapannya saat ini.
Sang duke menarik pedang dari sarung yang tersemat di pinggangnya. Pedang diacungkan tepat ke leher wanita tersebut. Sampai saat pergerakan yang mencurigakan terjadi, dia tidak akan segan-segan menebas saat itu juga.
Alicia berdiri kaku tidak mampu bergerak karena kalau sedikit saja beranjak, kulitnya akan tersayat lebih dari itu. Tidak pernah terpikirkan kalau rencana memohon akan berakhir menjadi sebuah kematian.
Air mata jatuh sebelum akhirnya mengalir deras, "A-aku tidak membunuh Putri Haura," menggenggam kedua tangan yang menggigil di dadanya. Mencari kekuatan untuk berbicara dari sana, "Aku mendapatkan pekerjaan di istana," bibirnya digigit berulang kali menahan gemetar, "Hanya beberapa hari saja sampai aku diberhentikan dan dalam perjalanan pulang ..," dia mengambil napas singkat, " mereka menuduhku membunuhnya. Aku berani bersumpah kalau aku tidak membunuh Putri Haura."
Sejenak sang duke terpikirkan kasus kematian yang janggal. Selama ini Putri Haura dikenal sebagai seseorang yang baik dan tidak memiliki musuh. Kebaikan Putri Haura juga bukan rahasia umum lagi di beberapa kerajaan dan juga masyarakat luas. Mungkinkah kebaikan membawa kematian?
Sangat bertolak belakang dengan pemahamannya jika begitu. Kebaikan akan menumbuhkan kebaikan lain. Selain wanita di hadapannya saat ini mengaku pernah menjadi pelayan di istana kerajaan. Hanya beberapa hari saja dan kemudian diberhentikan dari pekerjaannya. Bukankah itu seperti pelaku mencari kambing hitam?
Menurut cerita yang didengarnya barusan, tidak ada motif pembunuhan di dalamnya. Seakan wanita di depannya sekarang sedang terjebak dalam kejahatan yang dilakukan oleh orang lain.
"Siapa namamu?"
"Alicia," tidak lagi ragu karena menuruti perintah sang duke adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Setidaknya untuk saat ini.
"Untuk sementara waktu kau akan tinggal di sini. Kau harus ingat kalau aku tidak hanya punya satu pedang yang akan menebasmu kalau kau mencoba kabur."
Alicia menganggukkan kepala lambat-lambat. Dia sangat mengerti apa yang diucapkan sang duke. Tidak hanya satu prajurit saja yang dia lihat ada di rumah besar itu. Mereka semua bersenjata dan sewaktu-waktu bisa membunuhnya di tempat dan kapan saja.
Pedang diturunkan tanpa melepaskan tatapan pada wanita yang mengusap pipi yang basah. Sepertinya tidak ada kebohongan di balik tangisan. Apalagi mata itu seakan berharap untuk diberi kehidupan. Namun, sang duke tidak boleh lengah hanya karena tangisan seorang wanita.
***
Di depan cermin Alicia memperhatikan lehernya yang mana masih mengeluarkan darah. Bekas sayatan itu dangkal, akan tetapi terasa sangat nyeri. Sang duke memang benar-benar berniat untuk membunuhnya tadi.
Perhatiannya teralihkan ketika suara pintu terdengar. Dia langsung berdiri memojok mencari perlindungan. Takut jikalau yang datang adalah sang duke. Setelah kejadian tadi dia tidak ingin lagi berurusan dengan yang namanya "Duke," meskipun mustahil.
Bukan duke yang datang, melainkan seorang wanita mengenakan seragam pelayan. Kali ini tidak ada troli yang muncul dari balik pintu. Hanya ada sebuah nampan besi dan yang menarik perhatian adalah pelayan itu berjalan riang sambil bersenandung.
"Selamat sore, Nona Alicia," menundukkan kepalanya sedikit, "Saya Myla, pelayan yang akan bertanggung jawab terhadap segala kebutuhan Nona selama tinggal di Morning Glory," mengangkat pandangan lurus ke depan.
Dia meletakkan nampan di atas meja nakas klasik dua laci itu. Kemudian menarik tangan Alicia dan membawanya duduk di atas ranjang bersama. Sejenak dia memeriksa luka sayatan yang ada di leher Alicia agar bisa mengetahui bagaimana kondisinya.
Kapas yang sudah dicelupkan ke dalam air diusap lembut pada luka tersebut. Lalu luka ditekan-tekan menggunakan kain kasa. Gel lidah buaya dibalurkan kemudian. Salah satu bentuk pengobatan yang biasa mereka lakukan ketika ada luka sayatan yang mengenai lapisan kulit.
Alicia bisa merasakan dingin dan sedikit perih di area lehernya, tetapi masih bisa ditahan. Dibandingkan itu hanya dia dan sang duke yang tahu apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Apa mungkin sang duke yang mengirimkan Myla untuk mengobati lukanya?
Bayangan buruk tentang sang duke yang berniat membunuhnya hilang sekejap mata. Ternyata sang duke yang tidak segan-segan mengacungkan pedang pada orang biasa sepertinya memiliki hati yang hangat. Padahal statusnya masih dikategorikan sebagai pelaku kejahatan.
Hal itu memunculkan secercah harapan baru bagi Alicia. Mungkin saja sang duke memiliki penilaian yang berbeda dari orang-orang yang menganggapnya sebagai seorang pembunuh.
***
"Alicia tinggal seorang diri di Distrik Syringa dan bekerja sebagai juru masak di Réserve sebelum bekerja di Istana Primrose. Tidak ditemukan data mengenai kedua orangtuanya. Dia juga pernah beberapa kali terlibat kasus pencurian."
Sang duke tergelak tidak habis pikir jika wanita yang menangis seperti nyata tidak bersalah itu berperan dengan sangat baik. Hampir saja mengelabuinya di balik identitas sebagai seorang pencuri. Sungguh siasat yang sangat bagus untuk melemahkan pertahanannya yang sempat berpikir kalau Alicia adalah wanita polos yang menjalani kehidupan biasa saja.
Beruntung dia mencari informasi mengenai Alicia kalau tidak, dia sudah masuk perangkap yang telah dipasang rapi untuknya karena sejak Alicia meninggalkan ruangan tadi, bayangan wanita yang sedang menangis itu selalu muncul di dalam benaknya. Terus membuat otak kanannya berpikir kalau Alicia merupakan korban kejahatan seseorang.
Flint heran kenapa sang duke tergelak dan mengepalkan tangan di saat yang bersamaan. Tidak seperti biasanya ketika dia memberitahukan informasi, pasti raut wajah itu tidak pernah lepas dari kata serius dan tenang.
Menyampingkan reaksi sang duke, ada sesuatu yang lebih mengusiknya dan ingin ditanyakan sejak tadi, "Tuan, saya bertanya-tanya kenapa gelandangan itu tidak dipulangkan saja?"
Sang duke bergeming akan tatapan lurusnya, "Dia adalah Alicia, wanita yang kau cari identitasnya."
Flint mencerna kalimat itu sebelum membelalakkan mata. Belum terbuka mulutnya sudah ada isyarat yang menyuruhnya untuk tidak membocorkan informasi penting itu. Kepalanya dianggukkan mengerti akan isyarat telunjuk yang diacungkan ke arah mulutnya. Seakan-akan telunjuk itu adalah sebuah pedang tajam yang akan menebasnya jika berteriak.
Suara yang akan keluar keras lantaran terkejut tadinya dipelankan sampai hanya terdengar oleh mereka saja, "Kenapa Tuan menyembunyikan seorang pembunuh? Prajurit kerajaan sedang mencari keberadaan Alicia saat ini. Kalau mereka tahu, bisa-bisa Tuan akan terkena hukuman karena telah menyembunyikan pembunuh."
"Jika kita menyerahkan Alicia, dia akan terkena hukuman mati dan kasus kematian Putri Haura selesai sampai di situ."
"Tentu saja seorang pembunuh harus dihukum mati, Tuan," tambah tidak mengerti dengan jalan pikiran sang duke.
Sang duke mencondongkan tubuhnya ke depan dan menumpu kedua siku di atas meja sebelum mempertemukan ujung jemarinya satu sama lain, "Kasus pembunuhan Putri Haura tidak semudah yang dibayangkan. Kita masih membutuhkan Alicia untuk mencari tahu siapa pelaku sebenarnya."
Flint membuka mata lebar-lebar, "Gelandangan itu ... Ah, tidak," gelandangan yang disebut sudah diketahui namanya sekarang. Flint harus menghargai anugerah tersebut, "Maksudnya Alicia bukan pelaku sebenarnya?"
Meskipun masih diselimuti oleh keraguan namun untuk sekarang menyembunyikan Alicia adalah satu-satunya pilihan. Entah pelakunya atau bukan, sang duke tetap membutuhkan Alicia sebagai petunjuk. Paling tidak pedangnya bisa diayunkan kapan saja jika terbukti kalau Alicia adalah pembunuh yang sebenarnya.
"Untuk sekarang tidak boleh ada yang tahu keberadaan seorang pembunuh di Morning Glory."
***
Alicia meregangkan kedua tangan ke atas sembari menguap lebar. Dia sudah berdiam diri di kamar dari sore hari hingga malam hari. Beberapa kali dia mengeluhkan tubuhnya yang sakit karena terlalu lama duduk tanpa melakukan apa-apa. Berbeda dengan Myla yang masih tetap betah duduk sambil membaca buku. Tidak memedulikannya yang tengah dilanda kebosanan.
"Akan lebih baik kalau kita bisa berjalan-jalan malam ini," napasnya dihela kasar dan singkat.
Ide itu menarik perhatian Myla tampaknya karena buku yang dibaca sejak tadi ditutup cepat hingga mengeluarkan bunyi. Alicia saja sampai terkejut dibuatnya.
"Ayo! Saya akan mengajak Nona mengitari Morning Glory!"
Mereka langsung bangkit dan keluar dari kamar. Hati riang kaki melangkah melihat-lihat bagian bangunan Morning Glory. Kediaman resmi itu terlalu luas untuk dikitari dalam waktu singkat. Mungkin membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyisiri setiap sudutnya.
Dari penjelasan Myla, di kediaman resmi ini ada dua puluh kamar yang dilengkapi dengan ruang ganti dan kamar mandi, lalu ada lima ruang pertemuan resmi yang dipakai untuk menyambut tamu atau melakukan kegiatan formal lainnya.
Selain itu ada sepuluh kamar para pekerja, enam kamar mandi, perpustakaan besar, ruang musik, ruang teh, ruang makan keluarga, dan ruang makan tamu. Ditambah dapur bersih dan dapur kotor yang sangat besar. Tidak hanya itu, kediaman ini juga memiliki taman yang luasnya tujuh hektar, serta kandang mewah yang cukup menampung sepuluh ekor kuda.
Tatanan interior di dalam Morning Glory terlihat sangat megah dipenuhi furnitur ukir berwarna cerah. Mulai dari bingkai foto, meja, kursi, semuanya diukir dengan nilai estetika yang sangat indah. Paduan warna dari pantulan lampu gantung kristal menimbulkan saturasi warna yang dikemas apik sehingga terlihat elegan.
Alicia tidak berhenti tercengang memandangi bagaimana luas dan mewahnya Morning Glory. Tempat tinggalnya saja tidak sampai sebesar kamar yang ditempatinya tadi. Bahkan rumahnya dibuat bertingkat agar bisa mendapatkan lebih banyak ruang.
"Bisakah Nona menunggu saya sebentar di sini?" mengapitkan kedua pahanya seperti sedang menahan pipis, "Saya harus pergi ke kamar mandi, Nona," tidak bisa menahannya lebih lama, akhirnya Myla terbirit-b***t tanpa menunggu jawaban.
Kini Alicia tinggal sendirian saja di lorong panjang yang menghubungkan bangunan dengan area taman belakang. Biarpun sudah malam taman masih terang disinari cahaya rembulan ditambah remangnya pencahayaan obor di beberapa sudut taman. Dia pun bersandar di sebuah pilar sambil menunggu Myla kembali.
Sebentar saja dia bersandar sebelum menjauhkan punggung dari pilar. Bagaimana dia bisa begitu patuh ketika kesempatan sudah ada di depan mata? Dia seorang diri sekarang tanpa ada orang yang mengawasi.
Sedikit banyaknya dia juga tahu rute kediaman resmi itu dari penjelasan Myla. Apalagi dia sudah berhasil sampai di bagian luar kediaman tanpa mengundang kecurigaan. Bukankah dia bisa mengambil kesempatan untuk melarikan diri?
Alicia menengok lorong yang dilewati Myla tadi, memastikan kalau Myla belum kembali. Setelah itu perlahan namun pasti tanpa ingin mengeluarkan suara dan kecurigaan, dia mengendap-endap menelusuri lorong yang jaraknya sekitar dua puluh meter lagi hingga sampai ke ujung bangunan. Dari sana dia hanya perlu berbelok ke kiri dan berjalan lurus hingga nantinya menemukan bagian depan bangunan.
Dia membungkukkan badan agar tidak kelihatan ketika melewati jendela-jendela yang ukurannya besar. Tidak membiarkan tubuhnya sedikit pun terlihat. Untuk bernapas pun dia juga berhati-hati. Saking tidak inginnya ketahuan karena pelariannya yang mana hanya memiliki satu kesempatan saja harus berjalan mulus. Dia tidak boleh gagal, karena kalau ketahuan akan membuat hidupnya semakin rumit.
Dia menegakkan tubuhnya setelah berhasil melewati jendela terakhir. Napasnya bisa dihela lega sekarang karena semua rintangan di bangunan belakang telah diatasi secara halus. Kemudian langkahnya yang ringan dibawa ke sudut bangunan sambil tersenyum menanti kebebasannya yang akan segera datang.
Setelah lolos dia akan pergi dari Distrik Edelweiss untuk menghindari sang duke. Apalagi saat ini kekuatannya sudah pulih. Jadi tidak perlu rasanya untuk bekerja di distrik yang kemungkinan besar akan mempertemukannya kembali dengan sang duke. Maka dari itu lebih baik dia mencari pekerjaan di distrik lain.
Sayangnya hanya sebentar saja senyuman itu bertahan karena sebilah pedang menghalangi jalannya. Satu jengkal lagi sebelum mencapai lehernya. Tidak bisa dilihatnya siapa yang mengacungkan pedang itu karena posisi mereka berbeda. Alicia berdiri di sisi belakang bangunan, sedangkan orang yang mengacungkan pedang berdiri di sisi samping bangunan. Mereka saling bertemu di sudut bangunan.
Siapa orang yang menghalangi jalannya itu?