Bab 25: Melawan Goddard

2006 Words
Dari jauh tampak Anastasia dan sang duke sedang mengamati gerbang. Menanti mata-mata yang diutus sang duke untuk melancarkan aksi agar mereka bisa melalui gerbang berpenjaga tersebut. Seperti apa mereka memasuki distrik Syringa, seperti itu pula mereka akan keluar. "Aku selalu penasaran apa yang dilakukan mata-matamu sampai para prajurit yang berjaga bisa lengah." "Hanya sesuatu yang disukai oleh para pria." Anastasia mengernyitkan alis tidak mengerti maksud sang duke. Memangnya apa yang disukai para prajurit sampai harus bubar dari pekerjaannya? Jika kelalaian mereka sampai diketahui, sudah pasti duke Charles akan marah. Apalagi mereka telah membiarkan seorang pembunuh keluar masuk distrik Syringa dengan bebas. Tidak lama kemudian mata-mata yang ditunggu muncul. Mendorong gerobak menuju gerbang setelah mendapatkan isyarat dari sang duke. Para prajurit tidak serta merta datang agar terhindar dari kecurigaan tampaknya. Satu persatu mereka menggeser langkah sembari mengamati sekeliling dan berkumpul di satu titik yang mana berada di dinding luar gerbang, tempat mata-mata itu menanti. Aksi yang sudah dilancarkan itu membuat Anastasia membangun pertahanan diri. Dia menyilangkan tangan di d**a untuk menolak keras kejadian kemarin terulang kembali. Cukup sekali saja dia dipermalukan dengan menjadikannya seperti karung beras. "Pastikan kau tidak membuat suara sekecil apa pun." Ucap sang duke membiarkan Anastasia melakukan apa yang diinginkan. Penuh kehati-hatian mereka berjalan mendekati gerbang. Tidak langsung menuju pintu gerbang karena sang duke ingin memastikan apakah Anastasia baik-baik saja dengan langkahnya yang terbilang sigap. Bisa saja Anastasia kewalahan mengejar langkahnya atau tertinggal jauh. Apa yang dilihatnya setelah itu berbeda karena Anastasia sanggup mengikutinya. Hanya saja Anastasia tampak terengah setelah berjalan begitu cepat dengan langkah tanpa jeda. Wajar saja karena langkah besarnya tidak sebanding dengan langkah kecil Anastasia. Sementara mereka memang harus benar-benar bergerak cepat untuk mempersempit kegagalan jikalau ada prajurit yang menyadari. "Apa kau yakin tidak ingin aku membantumu?" Anastasia menggeleng dan berusaha mengatur napas hingga kakinya bisa diayunkan kembali mengikuti sang duke. Setelah itu mereka mengendap-endap melewati gerbang distrik Syringa kembali. Mereka pun berhasil keluar tanpa ketahuan oleh prajurit yang mana masih sibuk dengan dunia masing-masing. Mengetahui sang duke telah berhasil lolos, mata-mata itu meminta izin pada para prajurit sebentar. Dengan alasan ingin buang air kecil akhirnya dia diizinkan pergi tanpa menimbulkan kecurigaan. Bergegas mata-mata berjalan ke arah semak-semak, tempat di mana sang duke berada sekarang. "Saya meninggalkan Borneo di tempat yang berbeda agar tidak ditemukan oleh prajurit. Tuan hanya perlu berjalan sedikit lagi ke arah barat untuk menemukan Borneo." Sang duke mengangguk paham ke mana arah yang di maksud. "Terima kasih atas kerja kerasmu, Geoff." Mengeluarkan kepingan dari dalam sakunya dan memberikannya pada Geoff. "T-tuan, dua keping emas ini terlalu banyak untuk misi seperti ini." "Bukankah kau membutuhkan biaya untuk persalinan istrimu?" Menipiskan bibir. "Semoga istri dan anak pertamamu lahir dengan selamat." Geoff mengatupkan bibirnya menahan tangis dan kepalanya ditundukkan dalam. "Terima kasih banyak, tuan. Saya akan selalu mengingat kemurahan hati tuan." Sang duke menepuk pelan bahu Geoff, lalu menggenggam tangan Anastasia dan membawanya untuk pergi bersamanya. Setelah itu mereka langsung menuju ke arah barat di mana Borneo ditinggalkan oleh Geoff. Geoff mengangkat kepalanya ketika sang duke melangkah pergi. Dia melihat tudung yang tidak sengaja terlepas menampakkan sosok wanita di baliknya. Matanya terbuka lebar mengetahui siapa wanita yang ada bersama sang duke. Wanita yang paling diincar oleh pihak kerajaan. Bagaimana wanita itu bisa ada bersama sang duke? Apa rencana sang duke bersama wanita itu sebenarnya? Apakah semuanya berhubungan dengan kematian putri Haura? Terlebih dari itu orang yang Geoff berikan pengabdiannya bukanlah orang yang melakukan tindakan ceroboh. Apa yang baru saja dilihatnya mungkin adalah sebuah keputusan yang benar dari sang duke yang dikaguminya. Tidak ingin berlama-lama yang hanya akan membuat prajurit curiga dengan kepergiannya, Geoff pun memasukkan bayaran yang diterimanya ke dalam saku dan kembali ke gerbang distrik. Setibanya di dekat gerbang, dia mengambil semua buku dari tangan prajurit dan diletakkannya ke dalam gerobak. Kemudian gerobak ditutup dengan kain agar tidak terlihat bebas yang mana hanya akan membuatnya berada dalam masalah jika ketahuan menyewakan buku dewasa secara ilegal. "Kami belum selesai membacanya, Geoff." Protes salah seorang prajurit. "Waktunya sudah habis. Aku tidak ingin ada yang curiga padaku dan membuatku tidak bisa membawa buku-buku ini lagi untuk kalian." "Kenapa waktunya semakin lama semakin singkat? Ayolah! Beri kami waktu sedikit lagi untuk membacanya." Bujuk salah seorang prajurit lainnya. "Lain kali aku akan membawa yang terbaru." Janjinya agar prajurit berhenti merengek padanya, kemudian dia mendorong gerobaknya kembali memasuki distrik Syringa. Sebenarnya bukan sepenuhnya takut ketahuan alasan Geoff mengambil semua buku itu. Alasan utamanya adalah dia yang telah menyelesaikan misi dari sang duke rasanya tidak ada gunanya lagi meladeni para prajurit. Lebih baik dia pulang dan memberikan kabar gembira untuk biaya persalinan yang sudah didapatkan pada istrinya dibandingkan membuang-buang waktu menemani para prajurit yang menurutnya sangat bodoh. *** Anastasia tersentuh oleh kemurahan hati sang duke kepada Geoff tadi. Selama ini dia mencerca sang duke dengan menilai permukaannya saja. Hati nurani sang duke membuatnya merasakan kehangatan dari sisi lain seorang pemimpin distrik Edelweiss. Borneo terus berpacu hingga akhirnya harus berhenti karena dicegat oleh sekelompok bandit. Langkah Borneo semakin lambat ketika jarak sudah hampir dekat. Mereka adalah sekelompok bandit dengan senjata lengkap di tangan masing-masing. Sang duke tidak terkejut dengan kehadiran mereka karena memang sedaritadi dia merasa ada orang yang mengawasi sejak keluar dari L'auberge. Dia sengaja menunggu tempat yang tepat untuk melawan karena tidak ingin menciptakan keributan di distrik Syringa yang hanya akan mengundang perhatian nantinya. Ketika mengetahui siapa yang menguntiti, dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan orang yang sama ketika dia berada di Réserve kemarin. Pria kekar yang terbirit-b***t itu masih memiliki nyali rupanya setelah apa yang terjadi kemarin. "S-siapa mereka?" Tanya Anastasia bergidik melihat persenjataan sekelompok bandit itu. Sang duke tidak menjawab dan langsung saja dia turun dari kudanya dengan gerakan cepat dan sudah terlatih, kemudian tanpa permisi dia menurunkan Anastasia juga dari tempat yang sama. "Bukankah kau berkata ingin belajar menggunakan pedang?" "Y-ya, benar. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu di waktu yang tidak tepat? Tidakkah kau melihat siapa yang ada di depan kita sekarang?" Membalasnya dengan berbisik tanpa menghilangkan ekspresi ketakutan. "Aku akan mengajarimu sekarang. Kau harus memperhatikannya secara saksama." "A-apa?" Majunya sang duke membuat pemimpin sekelompok bandit itu maju pula. Siapa lagi pemimpin mereka kalau bukan Goddard si pemberani. Goddard menggenggam erat senjata yang mengantung di bahunya. Bertemunya mereka berdua menandakan bahwa peperangan akan segera dimulai. "Heh," meludah ke sisi lain tanpa melepaskan tatapan dari musuh. "Apa kau yakin akan melawan kami seorang diri?" Sang duke menoleh ke belakang sembari memperlihatkan Anastasia pada Goddard. "Aku akan melawan kalian dengan wanita itu." Apakah sang duke benar-benar hilang kewarasannya? Anastasia belum pernah mengayunkan pedang pada lawan. Memegang pedang saja dia masih takut. Apalagi harus melukai musuh yang jumlahnya tidak sedikit itu. Apa jangan-jangan dia akan dikorbankan dan pada saat itu sang duke akan lari meninggalkannya? Pasti tidak begitu, bukan? "Kau sangat pengecut menggunakan seorang wanita untuk dikorbankan. Tapi," Goddard tergelak dan dia kembali mengamati wanita yang membuatnya penasaran bagaimana rupanya di balik tudung kepala itu. "Aku ingin kau memberikan wanita itu padaku ketika kau kalah nanti." "Dengan senang hati." Ucap sang duke dengan sikap tenang. Mendengar jawaban tanpa pikir panjang itu membuat Anastasia naik darah. Betapa dia ingin mencabik-cabik sang duke dan membuangnya ke sungai untuk dijadikan makanan buaya buas saat itu juga namun tidak bisa dilakukannya karena di antara mereka yang berkumpul sekarang, dia adalah pihak yang paling lemah. Goddard melangkah mundur dan membiarkan anak buahnya maju lebih dulu. Dia merasa tidak perlu mengotori tangannya dengan melawan pria biasa yang pasti akan kalah. Sesuai perintah salah seorang anak buahnya langsung maju sambil memainkan senjatanya. Raut wajahnya remeh memandangi pria biasa dengan satu pedang berukuran pendek itu. Tidak ingin berlama-lama dia langsung menyerang dengan pedangnya namun berhasil dihindari. Sekali lagi dia menyerang namun lagi-lagi berhasil dihindari. Hal itu terus-menerus terjadi dan memicu kemarahannya. Dia melayangkan pedang ke arah wajah musuh dengan segenap kekuatan. Sayangnya pedang yang digunakannya untuk melawan harus jatuh ke tanah. "Apakah kau memperhatikannya?" Bagaimana Anastasia bisa memperhatikannya saksama? Dia saja tercengang hampir kehabisan napas karena sejak peperangan terjadi, dia ikut terombang-ambing dalam cengkeraman tangan sang duke yang mengharuskannya untuk tetap tinggal. Memaksanya untuk melihat bagaimana pedang mengayun di depan matanya sampai mengeluarkan bunyi yang bisa didengarnya jelas. Anastasia menggelengkan kepala. "Tidak." Tidak lagi merasa takut akan para bandit karena fokusnya berada pada sang duke yang dengan santainya menghadapi situasi itu. Secara tidak langsung sikap itu juga menyebar padanya. "Kalau begitu kau harus melihatnya sekali lagi." Sang duke membiarkan bandit itu mengambil pedang yang jatuh, lalu seperti mengulang adegan yang sama seperti tadi sekali lagi pedang dijatuhkan. Bandit itu begitu bodoh dikalahkan dengan teknik yang sama untuk yang kedua kalinya. Hal itu mengundang kemarahan Goddard dan selanjutnya dia memerintahkan tiga orang anak buahnya turun tangan. "Keluarkan pedangmu, Anastasia. Sudah waktunya kau mempraktekkan pelajaran yang aku berikan." Melihat Anastasia yang masih ketakutan seperti ingin menolak, sang duke kembali bersuara. "Anggap mereka seperti daging restoran yang harus kau cacah dan hidangkan pada para pelanggan." Semakin dekat para bandit membuat Anastasia semakin berada dalam posisi terdesak. Dia akhirnya menarik pedang dari sarung pinggangnya. Pedang yang sangat mirip dengan pedang yang sang duke pakai saat ini. Pedang itu sebenarnya harus dipakai secara bersamaan oleh satu orang namun sang duke memberikannya satu padanya. 'Mereka adalah daging restoran yang harus dicacah untuk kemudian dihidangkan pada para pelanggan' Kalimat itu dilontarkan berulang kali di dalam otaknya agar ketakutan tidak lagi singgah. Mengingat teknik sang duke yang dilihatnya tadi, Anastasia mengayunkan pedang pula. Sayangnya pedangnya berhasil dijatuhkan musuh dan membuatnya langsung ditarik oleh sang duke agar tidak terkena serangan. Sang duke menggunakan kakinya setelah menangkis serangan untuk menjauhkan musuh dari mereka. Dia menyentuhkan pedangnya pada pedang Anastasia yang tergeletak di tanah, lalu melemparkannya ke atas untuk kemudian diraihnya dan diberikan pada Anastasia kembali. "Kau harus bergerak dengan penuh keyakinan untuk menjatuhkan musuhmu." Sang duke meninggalkan Anastasia seorang diri dan beranjak menghampiri musuh. Mungkin Anastasia butuh kesiapan dan dia akan mengulur waktu untuk itu. Menjatuhkan musuh sekelas bandit sebuah distrik adalah hal mudah baginya. Bukan apa-apa dibandingkan saat dia terjun langsung dalam peperangan yang sesungguhnya. Dia tidak serta merta menggunakan kekuatan penuh karena dia tidak ingin ada yang terbunuh dalam pertikaian itu. Apalagi alasan pertikaian adalah karena seorang pelayan wanita. Bukan sesuatu yang fatal namun entah mengapa pria bertubuh kekar itu sangat ingin melawannya. Dari jarak beberapa meter Anastasia memperhatikan bagaimana gerakan sang duke menjatuhkan musuh. Memang sangat yakin dan tegas seperti panglima yang diketahuinya. Sedangkan dia hanya menjadi penonton yang dipandang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bukan wanita yang bisa dikorbankan begitu saja. Dia juga bisa kuat dan mengalahkan musuh. Pada akhirnya keyakinan muncul dalam dirinya. Dia mengeratkan jemarinya pada gagang pedang, kemudian menghampiri tempat di mana sang duke berdiri sekarang. Dia juga akan menghadapi mereka bersama sang duke. "Sudah menemukan keyakinanmu?" Anastasia mengangguk tidak peduli apakah sang duke melihat anggukannya atau tidak. "Ajari aku dengan baik." Suara tangkisan pedang membumbung tinggi di langit. Menciptakan sebuah tontonan yang menarik saat itu namun hanya bisa dilihat oleh mereka yang bertikai saja. Di tempat yang jauh dari gerbang distrik Syringa, yang mana dipenuhi oleh rumput rendah dan tanah kering mereka saling menyerang. Anastasia tampak berusaha keras menghadapi musuh. Sedangkan sang duke masih santai menggunakan satu tangannya. Sesekali Anastasia yang kesulitan dibantu oleh sang duke dengan mengajarkan teknik menggunakan pedang. Goddard yang melihat bagaimana anak buahnya kalah semuanya tampak sangat marah. Apalagi yang ditontonnya tadi lebih seperti pertunjukan dibandingkan penyerangan. Tujuannya untuk menghancurkan pria biasa itu jadi tidak tercapai. Sudah cukup. Goddard tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk melihat kekalahan musuhnya. Tangannya sudah gatal untuk mengayunkan pedang. Mungkin kekalahannya di Réserve adalah keberuntungan pria itu saja, tetapi kali ini tidak ada kata ampun yang akan diberikannya. Goddard melangkahi anak buahnya yang berbaring kesakitan di tanah. Dia tidak peduli dan terus melangkah hingga sampai di depan musuh utama. Langsung saja pedangnya diayunkan, tetapi untuk yang kedua kalinya dia dikalahkan dengan mudah. Bahkan lebih mudah dibandingkan anak buahnya yang menyerang. Sangat singkat dan membuat semua anak buah Goddard tercengang bengang. Ternyata kekalahannya di Réserve bukan keberuntungan pria biasa itu, melainkan keberuntungannya. Dia menelan ludahnya kasar merasakan sesuatu mengalir di kulit lehernya. Saat dia menyapukan jemarinya di sana, ternyata sesuai perkiraan itu adalah darah. Pada akhirnya dia turun menekuk kedua lutut dan memohon ampun pada musuhnya. "Melihatmu mengetahui di mana tempat kami menginap, sepertinya Ruth memberitahukannya padamu? Aku tidak yakin kalau kau tidak berbuat sesuatu untuk mengancamnya." Mendengar nama yang tidak asing itu menarik perhatian Anastasia. Dia memiliki teman kerja yang bernama Ruth. Apakah Ruth yang dibicarakan adalah orang yang sama?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD