Terpaksa Goddard menceritakan seluruh kejadian di Réserve kemarin. Termasuk mengakui kalau dia telah mengganggu Ruth, tidak seperti janji yang mana sebaliknya. Dia yang terbakar api kemarahan akhirnya sampai di lahan kosong, tempat yang dipijaki sekarang untuk membalaskan dendam. Siapa sangka jika dia yang membawa banyak anak buah ternyata dikalahkan.
Mendengar Ruth diperlakukan kurang ajar menimbulkan gejolak kemarahan tersendiri bagi Anastasia. "Kalian semua pria yang sangat tidak tahu malu!" Menunjuk ke satu arah saja yaitu Goddard meskipun sebenarnya kalimat itu ditujukan pada seluruh bandit yang bersimpuh membentuk barisan di hadapannya.
Sekelompok bandit itu bukan hanya sekali menerima cercaan selama membuat ulah di distrik Syringa, akan tetapi cercaan yang keluar dari mulut wanita sebentar ini sungguh membuat mereka merasakan malu teramat sangat seolah sedang dipermalukan tanpa ampun di depan umum. Ditambah situasi membuat mereka bagaikan seorang anak yang dimarahi ibunya karena bermain terlalu lama di luar.
"Berani-beraninya kalian memperlakukan wanita dengan buruk! Tidakkah kalian memiliki ibu di rumah?! Bagaimana jika hal itu terjadi pada ibu kalian?!" Meletakkan kedua belah tangan di pinggang. Dia benar-benar sangat marah mengetahui kalau Ruth dilecehkan.
"Ma-maafkan kesalahan kami." Ucap mereka semua serempak diselimuti ketakutan.
Anastasia melirik sang duke yang sejak tadi hanya berdiam diri di sampingnya. Bukankah seharusnya sang duke memberi hukuman pada sekelompok bandit itu karena telah berbuat kerusakan? Ke mana jiwa kepemimpinan sang duke di saat seperti ini?
Sang duke yang menyadari arti lirikan itu langsung berdeham. Dia mengambil alih untuk memimpin situasi kembali setelah puas memandangi Anastasia meluapkan kekesalan. "Kalian semua boleh pergi." Melihat gurat kelegaan di wajah para bandit. Mereka bergegas bangkit dan undur diri, sedangkan Anastasia tampak ingin protes terhadap keputusannya. "Sebelum pergi ada satu hal penting yang harus kalian ingat. Jika kalian berbuat hal tercela seperti di Réserve lagi, tidak peduli waktu dan tempat aku akan melenyapkan kalian."
Siapa yang berani mendebat keputusan itu? Tidak ada yang berani setelah mereka dikalahkan dengan mudah. Mereka yang tadinya berhenti, melanjutkan langkah kembali. Di otak mereka sudah tertanam tidak akan melakukan perbuatan tercela lagi sampai untuk berjalan pun mereka penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesalahan fatal yang hanya akan menghilangkan nyawa mereka.
"Kenapa kau membiarkan orang seperti mereka pergi tanpa menghukumnya? Mereka hampir membuat temanku berada dalam kesengsaraan." Menghela napas panjang. "Apa kalian para pria hanya memikirkan kepuasan kalian saja? Tidakkah kalian malu memperlakukan seorang wanita semena-mena dengan kekuatan kalian?"
Sang duke membuka tudung kepalanya yang mana tidak diperlukan lagi. Mereka sudah akan kembali ke distrik Edelweiss dan sesuatu yang menyangkut penyamaran sepertinya sudah cukup sampai di titik itu saja. "Aku akan meminta Geoff untuk memantau mereka. Jika mereka melanggar janji aku akan menyusun rencana menghukum mereka tanpa melibatkan pemimpin yang ranah kekuasaannya ada di distrik Edelweiss."
Anastasia mengepalkan tangan sangat kesal karena tidak bisa menghukum para bandit tersebut. Dia sangat khawatir jika nanti Ruth diperlakukan buruk lagi. Sebagai sesama wanita dia dapat merasakan kegelisahan yang dirasakan Ruth. Tidak bisa dibayangkan bagaimana dia harus ditemani kenyataan buruk seperti dilecehkan seumur hidup.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, sang duke menaikkan Anastasia ke punggung Borneo. Kemudian tanpa melepaskan pegangan tangan mereka, dia mendongak ke arah Anastasia yang masih khawatir itu. "Ruth akan baik-baik saja. Kau bisa memegang janjiku."
***
"Berhenti bermalas-malasan! Hari ini duke Lucherne akan kembali." Flint membangunkan prajurit yang masih larut dalam mimpi indah mereka. Saat melihat beberapa botol kosong di atas meja, dia langsung berdecak. "Sudah aku katakan tidak boleh berpesta dengan minuman keras. Sekarang kalian harus membereskan semuanya." Mencengkeram kerah salah seorang prajurit yang sudah berdiri tegak masih menyipitkan mata. Dia mengendus bau alkohol yang bisa tercium jelas dari prajurit tersebut. "Jangan lupa hilangkan bau alkohol di tubuhmu sebelum duke Lucherne menyadarinya." Melepaskan cengkeraman itu dan melangkah keluar ruangan.
Selama sang duke tidak berada di tempat, para penghuni Morning Glory baik pria maupun wanita menikmati pesta kebebasan. Selama satu hari itu mereka bebas dari pekerjaan dan patut dirayakan. Mengingat libur yang mereka terima hanya ketika kembali ke kampung halaman secara bergantian sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selebihnya mereka harus bekerja dari pagi hingga pukul sepuluh malam.
Mereka bisa nyaman bekerja di Morning Glory karena selain bekerja dengan pemimpin yang bijaksana, juga tidak ada eksploitasi pekerja di sana karena seperti yang mereka tau di distrik-distrik lain masih banyak terjadi eksploitasi pekerja yang mana bayaran tidak sesuai dengan jerih payah dan menjadikan pekerja sebagai mesin pencetak uang, bekerja tanpa henti meskipun sudah kelelahan.
Oleh karena itu mendengar Morning Glory membutuhkan pekerja, mereka langsung berbondong-bondong melamar. Berharap diterima karena yang mereka dengar dari kerabat yang bekerja di sana, tidak ada pekerjaan yang lebih baik ketimbang bekerja di Morning Glory. Sayangnya pekerja yang dibutuhkan sangat jauh perbandingannya dengan pelamar kerja sehingga banyak dari mereka yang harus gugur.
Keuntungan lain bagi yang lolos menjadi penghuni Morning Glory adalah mereka akan dilatih bagaimana dasar menggunakan pedang dan juga dilatih pikirannya agar nanti ketika ada musuh tidak gentar karena memiliki kemampuan dan keberanian menghadapinya. Keuntungan itu tidak termasuk prajurit yang mana sudah jauh tahap pertahanannya dibandingkan para pekerja seperti pelayan dan koki di Morning Glory.
"Kesatria Flint!"
Di ujung lorong tampak Myla berlari menghampirinya. Entah ada berita apa sehingga membuat Myla harus buru-buru sampai mengangkat pakaian setinggi betis itu. Flint langsung menahan tubuh Myla yang hampir hilang keseimbangan saat Myla sudah berada di hadapannya. Dia tidak langsung bertanya karena Myla mengatur napas terlebih dahulu agar apa yang akan disampaikan bisa terdengar jelas sepertinya.
Setelah selesai dengan urusan mengatur napas, Myla akhirnya bisa mengatakan kabar penting yang dibawa. "Gilda sudah sampai di Morning Glory."
Perginya Anastasia membuat jadwal mengajar Gilda kosong dan hari ini karena Anastasia akan kembali, Gilda pun juga kembali. Pengajar kedisiplinan seperti Gilda sudah pasti tidak menyukai hal-hal berbau pesta secara sembunyi-sembunyi seperti tadi malam. Terlebih Gilda adalah orang yang bisa berbicara dengan sang duke secara langsung tanpa perantara. Jika sang duke tau apa yang mereka kerjakan, maka tamatlah riwayat mereka.
"Bagaimana dengan para pelayan dan.."
Myla yang menangkap maksud raut kecemasan di wajah Flint langsung bersuara tanpa menunggu kalimat sampai selesai. Waktu mereka sangat terdesak untuk lama-lama berbicara. "Para pelayan sudah bangun lebih dulu dan kini sedang membereskan kekacauan di ruang makan."
"Aku akan mengulur waktu selama ruang makan dibereskan."
"Ah, satu hal yang harus kau tau mengenai Gilda." Melangkah maju dan membisikkan sesuatu di telinga Flint. Setelah itu Myla berdiri di tempat semula kembali. "Mungkin kau bisa mengulur waktunya dengan itu."
Flint tampak terkejut namun tidak terlalu karena baginya apa yang dibisikkan oleh Myla bukan sesuatu yang terlalu mengundang perhatian. "Baiklah. Aku akan mencobanya."
Flint bergegas menuju pintu masuk Morning Glory yang mana diperjalanan dia bertemu dengan orang yang ingin ditemuinya. Pakaian dirapikan dan pikiran dibawanya untuk tenang. Menghadapi sosok Gilda yang disiplin sama seperti peperangan. Dia harus mempersiapkan diri agar tidak terjadi kesalahan fatal yang akan mengorbankan banyak nyawa penghuni Morning Glory.
"Oh," menyadari keberadaan Flint, membuat langkah Gilda mendekatinya. "Kesatria Flint, kemana prajurit Morning Glory lainnya? Kenapa jumlah prajurit yang berjaga berbeda dari biasanya?"
Apa yang dikhawatirkan oleh Flint ternyata terjadi. Gilda terlalu cermat sebagai seorang pengajar yang umurnya tidak lagi muda. Padahal perbandingan prajurit yang berjaga sekarang dengan yang berjaga biasanya tidak terlalu kentara. Apakah Gilda menghitung jumlah mereka semua setiap harinya?
"Sebagian prajurit sedang berlatih di aula latihan sekarang."
"Berlatih?" Mengambil jam sakunya, lalu berpikir bahwa sekarang masih belum saatnya untuk berlatih keras. "Bukankah sebentar lagi jam sarapan bersama?"
"Benar! Saya hampir melupakannya. Duke Lucherne meminta saya untuk mendapatkan perkembangan pelajaran nyonya Anastasia." Alihnya agar Gilda tidak lagi membahas perihal prajurit yang seharusnya berjaga.
Gilda mengangkat sebelah alis berusaha menelaah ucapan yang tidak masuk akal itu. "Perkembangan pelajaran nyonya Anastasia akan dijelaskan pada duke Lucherne secara langsung. Kenapa sekarang berbeda?"
"Karena duke Lucherne belum kembali, maka dari itu nyonya Gilda bisa menjelaskannya pada saya."
"Apa maksudmu? Aku bisa mengatakannya nanti ketika duke Lucherne sudah datang." Pembicaraan tidak masuk akal yang membuang-buang waktunya lebih baik dihentikan. Gilda pun melangkahkan kakinya kembali.
Tetapi Flint pantang menyerah demi keberlangsungan hidup penghuni Morning Glory. Mungkin dia akan melakukan cara yang dibisikkan Myla tadi. "Tunggu sebentar." Menghadang secepatnya hingga membuat Gilda terkejut karenanya. "Nyonya Gilda yang terhormat, bolehkah saya menikmati waktu bersama anda sebentar? Saya memiliki sebuah buku yang cocok dengan tampilan menawan anda sekarang."
Gilda berdeham dan dengan enggan dia memperhatikan bagaimana penampilannya. Dia memang sengaja memilih pakaian yang sangat bagus hari ini. Ditambah dengan tas tangan yang cantik pula yang mana sengaja didesain secara khusus oleh Pirsa. Benarkah dia menawan dengan penampilannya yang sekarang?
"Baiklah. Sepertinya kita masih memiliki waktu sebelum jam sarapan bersama."
Pada akhirnya mereka tidak jadi menuju ruang makan dan beralih menuju perpustakaan. Di sana seperti yang dikatakan, Flint memberikan sebuah buku pada Gilda. Dari kulit luarnya buku itu memang senada warnanya dengan pakaian yang dikenakan oleh Gilda, biru laut.
Untung saja buku yang memuat tentang sejarah kerajaan Orchid itu disukai oleh Gilda. Padahal Flint hanya memilih buku tersebut secara acak saja asalkan satu warna dengan pakaian Gilda. Tidak disangka keputusan yang sempat diliputi keraguan itu berhasil.
"Aku akan membacanya nanti setelah sarapan bersama." Bangkit dari duduknya dan mengapit tasnya kembali.
Gilda yang hendak pergi itu dicegah kembali untuk yang ke dua kalinya. "Cuaca hari ini sangat cerah. Bagaimana sebelum itu kita jalan-jalan di taman dan memperlihatkan bagaimana menawannya penampilan anda hari ini?"
Apa penampilannya hari ini begitu menawan? Sampai-sampai kesatria Morning Glory saja meminta untuk berjalan-jalan dengannya secara langsung. Haruskah dia menolak tawaran itu atau menerimanya saja?
"Ide yang sangat bagus karena sebelum bekerja keras, sebaiknya kita merilekskan pikiran terlebih dahulu."
Sekali lagi Gilda masuk dalam perangkap dengan mudahnya. Hanya bermodalkan pujian saja Flint sudah berhasil mengulur waktu. Memang benar apa yang dibisikkan Myla padanya kalau Gilda suka dipuji apalagi soal penampilan.
Mereka pun menuju taman belakang Morning Glory. Pagi itu memang sangat cerah dan sejuk untuk memandangi dunia luar. Tidak lama mereka menghabiskan waktu di taman karena setelah itu Gilda seperti tersadar dari hipnotis, mengeluhkan kelalaiannya karena jadwal yang sudah diatur jadi melenceng jauh. Alhasil mereka harus kembali ke bagian depan gedung. Setidaknya Flint sudah mengulur waktu selama setengah jam. Selanjutnya dia hanya bisa berharap pada Myla.
Sesampainya di depan ruang makan, Flint harus dibuat gugup akan kondisi ruang makan yang mana tadi malam selama pesta sangat berantakan. Setelah pesta tidak ada yang membereskannya karena sudah terlalu lelah dan mengantuk. Akibatnya pagi ini mereka jadi kewalahan.
Baru saja akan membuka pintu ruang makan, tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu. Myla tampak seperti penyelamat di mata Flint kala itu karena dia sudah tidak tau harus mengulur waktu bagaimana lagi. Dia bukan merupakan pria yang hebat dalam memuji.
Myla tersenyum lebar menyambut kedatangan dua orang tersebut. Dia tetap mempertahankan pintu ruang makan dalam keadaan tertutup. "Selamat pagi, nyonya Gilda. Bagaimana kabar nyonya?" Belum dijawab Myla bersuara kembali. "Ah, keriput di area mata nyonya!" Menunjuk area tersebut sambil memasang tampang terkejut.
Mendengar kata 'Keriput' membuat Gilda malu bercampur tidak suka. Bagaimana bisa Myla mengatakannya dengan lantang di depan orang lain? Apakah Myla tidak tau artinya sopan santun? Mengucapkan sesuatu yang sensitif seperti itu jelas dilarang.
"Kemana? Saya tidak melihatnya lagi. Bisakah nyonya beritahukan rahasianya pada saya?" Menghela napas panjang dan raut wajah Myla berubah sedih. "Di umur yang masih tergolong muda, saya memiliki keriput. Saya butuh saran dari nyonya. Bagaimana kalau kita membicarakannya sambil meminum teh?"
Tampaknya Gilda sangat setuju dengan saran itu karena dia langsung mengiringi langkah Myla. "Kita masih belum sarapan dan meminum teh dengan perut kosong tidak baik."
"Tenang saja, nyonya. Teh yang akan kita nikmati adalah teh herbal."
Sepeninggal dua orang wanita itu, Flint mengernyitkan alis tidak paham perbincangan mereka. Keriput? Sejak kapan Myla memilikinya? Seperti apa pun dia mengingat, tidak didapatkannya ingatan mengenai keriput di wajah Myla. Sepengetahuannya Myla memiliki kulit yang bersih dan lembut. Di samping itu juga bersinar seperti mutiara.
"Duke Lucherne dan nyonya Anastasia sudah kembali!"
Teriakan pemberitahuan prajurit di depan sana menarik kesadaran Flint sepenuhnya. Meninggalkan urusan ruang makan dia bergegas menuju pintu utama untuk menyambut kepulangan pemimpin distrik Edelweiss, orang yang sudah dinanti-nanti kedatangannya.
Borneo baru saja melambat sampai akhirnya berhenti di depan Morning Glory. Tampak sang duke turun, lalu membantu Anastasia menyusul kemudian. Semua yang menanti kepulangan sang duke kebingungan dengan penampilan tidak biasa itu namun sepertinya orang yang dipandang tidak peduli.
Flint langsung melangkah maju mendekati sang duke. "Selamat datang, tuan. Bagaimana perjalanan tuan?"
"Sedikit menemui kendala karena harus menghadapi beberapa orang." Menggandeng tangan Anastasia sembari memasuki Morning Glory.
Bukannya terkejut akan kendala itu, Flint yang sudah mengetahui bagaimana sang duke sebaliknya mengkhawatirkan hal lain. "Saya penasaran bagaimana kondisi beberapa orang itu."