Bab 27: Bertarung

2001 Words
Baru saja Anastasia pulang dari perjalanan jauh, dia harus menghadapi pelajaran dari Gilda kembali. Baginya belajar adalah sesuatu yang membosankan. Mungkin karena Gilda selalu menyuruhnya mempraktekkan hal yang sama berulang kali sampai dia benar-benar hafal apa yang diajarkan. Dia mengembuskan napas panjang sehingga mengundang perhatian Gilda. Lantas dia yang diperhatikan oleh pengajarnya langsung menegakkan tubuh yang berpangku tangan itu. Duduk dengan elegan kembali agar tidak menciptakan kemarahan Gilda. Senyum polos seakan dipaksakan terukir jelas di wajahnya. Gilda menyipitkan mata mengamati ekspresi Anastasia. "Bisakah nyonya memberitahu saya apa istilah cara berjalan yang diajarkan untuk wanita keluarga kerajaan? Dan bagaimana cara melakukannya?" "The Glide." Ucap Anastasia sangat yakin dengan jawabannya. Dia tau jelas karena sudah mempelajarinya berulang kali. Kemudian dia bangkit dari duduknya dan berdiri tegak di sisi yang kosong. "Kita harus menumpukan beban di kaki belakang dan kedua kaki berjarak sekitar lima belas sentimeter. Saat melangkah lutut disilangkan satu sama lain dan kaki yang bergerak harus menyentuh sekilas tumit kaki yang lain agar bisa memastikan kedua kaki benar-benar sejajar." Berbicara sambil memperagakan apa yang diucapkannya. "Seorang bangsawan harus bergerak secara lamban, tapi tepat untuk menunjukkan kepercayaan diri dan ketenangan. Luwes dan juga tidak tersendat-sendat." Mengakhiri langkahnya tiga meter dari pintu. Niat Gilda tadinya hanya untuk menguji apakah Anastasia fokus atau tidak. Ternyata dia tidak perlu mengkhawatirkannya karena jawaban yang diberikan sangat tepat. "Nyonya sudah bisa menghafalnya di luar kepala. Sungguh pencapaian yang menakjubkan." Dia bangkit pula dari duduknya. "Saya akan mengambil beberapa buku lagi untuk nyonya baca." Kemudian berlalu pergi meninggalkan Anastasia menuju rak buku yang ada di ruang perpustakaan tersebut. Anastasia sekali lagi menghela napas panjang. Tubuhnya yang tegak itu lemas kembali usai Gilda tidak lagi tampak batang hidungnya. Semakin lama pelajaran dari Gilda semakin berat saja. Apakah para bangsawan dilatih sampai seketat itu sampai-sampai tidak memberikannya waktu untuk bernapas? Betapa dia sangat bosan dengan semua itu dan ingin pergi saja dari ruangan yang penuh akan sesak dan kerumitan pelajaran. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Membuka lebar kedua mata yang tadi sayu karena mengantuk. Gilda sedang sibuk mencari buku di ruang perpustakaan yang sangat besar ini. Bukankah sekarang adalah kesempatan besar untuk kabur? Selama ini dia selalu menurut tanpa bantahan. Sesekali berbuat nakal dengan bolos dari pelajaran bukan merupakan masalah besar, bukan? Tanpa pikir panjang dia membalikkan badan. Melangkah cepat untuk kemudian pelan-pelan membuka pintu. Setelah sampai di luar dia menutup pintu tanpa menimbulkan suara yang menarik perhatian dan langsung saja dia mengambil langkah seribu. Terus berlari hingga dia berada di tempat yang jauh dari ruang perpustakaan, baru dia bisa bernapas lega dan berjalan santai tanpa beban. Akhirnya dia bisa bebas dari kebosanan! Suara gesekan besi menyita perhatian dan mengundangnya untuk mencari sumber suara. Ternyata di luar gedung para prajurit sedang berlatih pedang. Tampak di sana juga ada sang duke dan Flint yang mana saling menyerang. Sorak tidak seirama dari pergulatan mereka juga terdengar. Ingin melihat pelatihan itu lebih jelas lagi, perlahan dia mendekati area latihan. Secara saksama dia mengamati bagaimana pedang digunakan. Tidak seperti dia yang baru tadi pagi mengayunkan pedang, para prajurit tampak mahir menggunakannya. Semangatnya jadi terpacu dan dia langsung memposisikan diri menjadi salah satu prajurit di sana. Dia mengayun-ayunkan tangan seperti yang para prajurit lakukan. Padahal tidak ada apa pun yang digenggam sebenarnya. Dia hanya membayangkan kalau sekarang sedang menggenggam pedang. *** Gilda kebingungan ketika dia sampai di meja yang tadi ditempati. Tidak ada Anastasia di mana pun, bahkan tempat terakhir dia melihatnya juga tidak ada. Kemana Anasatasia? Gilda meletakkan tiga buah buku yang dipeluknya di atas meja, lalu mulai memanggil-manggil nama Anastasia namun tidak ada sahutan. Dia mencari ke berbagai sudut, tetapi masih tidak mememukannya. Pada akhirnya Gilda harus mencarinya ke luar ruangan. Dia bertanya-tanya pada prajurit dan pelayan yang mungkin saja melihat keberadaan Anastasia, tetapi tetap saja hasilnya nihil. Tidak menemukannya di mana-mana, kabar hilangnya Anastasia pun diberitahukan pada prajurit. "Aku tidak bisa menemukan nyonya Anastasia di mana pun. Cepat beritahukan berita ini pada duke Lucherne!" Teriak Gilda sangat panik. Mendengar kabar mengejutkan itu, prajurit langsung bergegas menghadap sang duke dan memberitahukan kabar yang sama. Seketika membuat sang duke mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Flint hanya tertawa kecil sambil beralih memimpin latihan para prajurit. Ada apa dengan ekspresi mereka yang tampak santai saja mengetahui hilangnya nyonya di rumah itu? Sebenarnya alasannya adalah karena sebelum prajurit itu datang, Flint lebih dulu menyadari kehadiran Anastasia di area latihan. Tadi dia penasaran tangan siapa yang berayun-ayun di balik pilar. Hingga jawaban ditemukannya saat sosok yang dikenalinya terlihat. Mengetahui Anastasia ada di sana, dia langsung memberitahukannya pada sang duke. "Beritahu pada Gilda kalau Anastasia ada bersamaku sekarang." Menarik pedang yang menggantung di pinggang prajurit itu. Prajurit tersebut kebingungan namun tidak urung menjawab perintah sang duke. "Akan segera saya laksanakan." Kemudian berputar arah menuju gedung Morning Glory kembali. Sang duke menghampiri tempat di mana Anastasia berlatih. Dia yang posisinya berada di belakang Anastasia mengamati betapa seriusnya tangan yang seolah menggenggam pedang itu berayun. Di samping itu dia tidak habis pikir kalau Anastasia yang harusnya belajar bersama Gilda sedang bermain-main di luar sekarang. "Kau harus berlatih menggunakan pedang secara langsung." Anastasia yang ketahuan tindakannya mengintip secara sembunyi-sembunyi, langsung menundukkan kepala merasa malu. Dia tidak menyangka tempat persembunyiannya akan cepat ketahuan. Padahal dia mengambil sudut yang seharusnya tidak mengundang perhatian. "Mengayunkan tangan dengan mengayunkan pedang tidak sama." Memberikan satu bilah pedang di tangannya pada Anastasia. Setelah pedang diterima dia membuat jarak dia antara mereka dan menjadikan pedang sebagai pengukur jarak. "Kau bisa menjadikan aku sebagai lawanmu." Hal itu sangat tidak masuk akal. Anastasia tau sang duke sangat mahir menggunakan pedang bahkan seperti yang dilihatnya tadi pagi bisa meruntuhkan para bandit dengan satu tangan saja. Jika dia menerima tawaran itu sudah pasti akan kalah. Tidak adanya pergerakan membuat sang duke kembali bersuara. "Bukankah kau ingin menggunakan pedang sampai mahir? Kalau begitu kau harus mengalahkan aku." Memiringkan kepala mengerti diamnya Anastasia. "Kenapa? Apa kau takut kalah sebelum memulai?" Diremehkan seperti itu membuat Anastasia harus mengangkat pedangnya pula. Dia menekuk siku dan memposisikan pedang di dekat tubuhnya. Kedua tangannya menggenggam gagang pedang. Berbeda dengan sang duke yang memegang pedang seperti memegang mainan anak kecil. Sangat mudah dan santai saja, membuatnya merasa sangat diremehkan. Tanpa menunggu aba-aba Anastasia menyerang sang duke. Suara tangkisan terdengar di lorong itu. Mereka terus bergerak hingga terseret ke tengah-tengah lorong. Sepertinya Anastasia sangat berniat dalam pertarungan itu karena selalu menyerang sang duke tanpa henti. Bahkan menyerang dengan kobaran api di matanya. "Jaga tubuhmu tetap tegak lurus dengan pedang terhunus ke arah lawan agar organ-organ vitalmu terlindungi dari serangan." Menghindari serangan dari samping itu. "Perhatikan jarakmu untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kontak dengan lawan." Melirik pedangnya yang hampir mengenai tubuh Anastasia karena jarak serangan terlalu dekat. Setelah itu jarak mereka teratur kembali dan serangan selanjutnya terjadi. Sang duke menangkis pedang Anastasia hingga terlepas dari genggaman. Pedang terjatuh ke lantai namun Anastasia tidak gentar dan segera mengambil pedang. Sayang sekali sang duke menghalangi niat itu sehingga membuat Anastasia harus berhenti. "Akurasi lebih penting dibandingkan kekuatan. Kau tidak bisa mengayunkan pedang dengan emosi yang hanya akan menghabiskan banyak tenagamu." Sang duke memperhatikan Anastasia yang kini kesulitan mengatur napas. Menjadikan dinding pilar sebagai sandaran agar tetap seimbang berdiri. Sepertinya keputusannya tepat menghentikan pertarungan. Melihat tenaga Anastasia yang sudah terkuras habis, bisa saja pingsan jika dilanjutkan. "Kau sudah mendapatkan teknik dasarmu." Memungut pedang di lantai. "Teknik.. dasar..?" Ucap Anastasia terengah-engah. "Naluri untuk mengalahkanku adalah teknik dasarmu." Sang duke menawarkan tangannya. "Kemana?" "Makan siang. Bukankah kau harus tetap bersamaku agar bisa kabur dari Gilda?" *** Pangeran Darius mengernyitkan dahi berusaha menelaah maksud dari ucapan raja Sargon. Situasi sekarang sungguh berbeda dari tujuannya. Dia memang sudah mencapai keinginannya namun kenapa di penghujung jalan ada yang mengacaukan apa yang sudah dia susun secara matang? "Kau tidak bisa menolaknya." "Tetapi, paduka raja." Melihat tatapan itu sepertinya titah dari raja Sargon tidak bisa dibantah. "Baiklah. Saya akan menuruti titah paduka raja." Mengundurkan diri dari singgasana raja. Sepanjang perjalanan menuju istana Primrose, Darius mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia tidak menghiraukan prajurit atau pelayan yang menyapanya. Titah raja Sargon telah membuat pikirannya kacau balau. Gemuruh di dadanya menciptakan luapan emosi dan membuatnya membanting pintu ketika masuk ke dalam kamar. Suara bantingan itu mengejutkan wanita yang ada di dalam kamar. Melihat kemarahan tampak jelas di wajah Darius, dia langsung meletakkan perhiasan yang sejak tadi dipandangi dan beranjak menghampiri Darius. "Apa terjadi sesuatu?" Darius memandangi wanita yang sudah menjadi penghuni istana Primrose itu. "Carol, aku harus mengatakan berita buruk padamu. Posisi putri yang kosong harus segera diisi." "Lalu?" Nada Caroline bersemangat tidak sabar mendengar kelanjutannya. "Apakah posisiku akan segera diubah?" Darius menggelengkan kepala. "Maafkan aku, Carol. Raja Sargon memintaku untuk menikahi seorang putri dari kerajaan Wisteria." Caroline tergelak tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Menikah? Bukankah itu sangat keterlaluan? Dia melangkah mundur menjauhi Darius namun tubuhnya berhasil ditangkap. Membuatnya tidak bisa bergerak ke mana-mana sehingga yang bisa dilakukannya kini adalah menatap langsung ke arah Darius. "Aku hanya mencintaimu. Kau yang lebih tau mengenai hal itu. Percayalah, Carol." "Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Tidakkah kau ingat apa saja yang kita lakukan hingga sampai sejauh ini?" Melepaskan tangan yang melingkari pinggangnya, kemudian menjauhi tempat Darius berdiri. "Seharusnya kau membawaku ke sini dan menjadikan aku sebagai istri sahmu!" Membalikkan badan dengan kasar dan menatap Darius sangat marah. "Tetapi apa yang aku dapatkan?! Kamar ini akan segera diisi oleh wanita lain dan aku tersingkirkan!" "Carol," menangkup kedua pipi Caroline berusaha menenangkan kemarahan. "Aku tidak akan mencintai wanita lain selain dirimu." Mata yang berkaca-kaca itu akhirnya mengalirkan buliran air mata. "Aku tidak ingin hanya menjadi selirmu." Ucap Caroline dengan suara yang bergetar. Darius memeluk Caroline erat sembari mengusap-usap kepala itu. "Aku hanya akan mencintaimu seumur hidupku." Caroline mengepalkan tangan. Dia tidak menyukai situasi di mana ada pihak yang mencoba memisahkan mereka. Semua itu menyatu dan menenggelamkannya dalam kemarahan. "Aku akan membuat mereka yang memisahkan kita menyesal." *** Anastasia meletakkan alat makannya, melipat serbet, dan meletakkannya pula di atas meja. Baru setelah itu dia beranjak dari kursi dan berdiri tegak sembari mengurai senyuman. Semuanya dilakukan dengan elegan dan tanpa memunculkan satu kesalahan sedikit pun. Sikap itu membuat semua mata yang melihat bertepuk tangan. Tidak habis pikir seorang wanita serampangan akhirnya bisa dilunakkan juga oleh sang duke. Lebih tepatnya oleh Gilda yang dipekerjakan oleh sang duke. Sang duke yang lebih tau sikap Anastasia sebenarnya karena dia yang banyak menghabiskan waktu bersama Anastasia. Dia tau kalau apa yang ditunjukkan sekarang jauh berbeda di belakang. Anastasia adalah wanita yang suka mencerca dan bertindak sembarangan. Tidak tau siasat apa lagi yang dimainkan karena sejak tadi Anastasia seperti mengambil hati seluruh penghuni Morning Glory dengan bersikap sopan dan ramah. Sudah menyelesaikan makan siang, sang duke beranjak keluar ruang makan dan membuat semua orang ikut meninggalkan ruang makan. Termasuk Anastasia yang menyusul sang duke. "T-tuan Lucherne." Berulang kali memanggil nama itu namun dia masih tidak digubris dan menarik kekesalannya untuk menghadang. Merentangkan tangan agar sang duke tidak melangkah lebih jauh lagi karena dia ingin mengatakan sesuatu. "Ada apa?" "Aku ingin berbicara padamu." "Bisakah kita berbicara nanti?" Sang duke menyingkirkan tangan Anastasia dan sambil lalu mengatakan, "Aku harus pergi ke suatu tempat." Anastasia pantang menyerah dan dia terus mengikuti sang duke hingga mereka memasuki kamar. "Tetapi aku perlu membicarakan hal penting padamu sekarang." "Hal penting apa itu sampai membuatmu harus menunda kepentinganku?" Anastasia tau jika kata-kata sang duke diperuntukkan menyinggungnya namun dia menebalkan muka. Dia memang harus membicarakan hal penting pada sang duke. "Aku memiliki satu permintaan." Sang duke yang sejak tadi menanggalkan kancing baju akhirnya selesai dengan urusannya. "Kalau begitu mari kita dengarkan permintaan apa itu?" Meletakkan sebelah tangan di pinggang sembari menatap Anastasia yang masih bergeming berdiri di depannya. "Pinjamkan aku beberapa keping emas. A-aku memerlukannya untuk sesuatu yang tidak perlu kau ketahui alasannya." Ucap Anastasia menyelipkan sedikit keengganan untuk meminta. Beberapa keping emas jumlah yang sedikit bagi sang duke dan dia bisa memberikan lebih dari itu jika dia mau namun untuk apa Anastasia memerlukannya? Dia sudah memberikan fasilitas yang cukup tanpa kekurangan. Bahkan beberapa fasilitas sampai ditolak Anastasia seperti dimandikan para pelayan dan hampir menolak fasilitas pembelajaran dari Gilda, seorang pengajar berpengalaman yang telah mendisiplinkan para bangsawan dan putri kerajaan. Perancang pakaian terbaik yang tokonya digandrungi oleh orang terpandang juga didatangkan khusus untuk Anastasia secara langsung. "Apa aku melewatkan sesuatu yang kau butuhkan?" "Tidak. Kebutuhanku sangat cukup, tetapi untuk sebuah alasan aku membutuhkannya. Aku akan menggantinya nanti." "Menggantinya? Dengan apa?" "Kau bisa mempekerjakan aku dan melunasi hutangku dengan itu." "Aku sudah memiliki banyak pelayan yang akan mengerjakan seluruh pekerjaan di Morning Glory." "Lalu, kau ingin aku membayarnya bagaimana?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD