Bab 28: Menawarkan Pekerjaan

2016 Words
Anastasia mengintip dapur yang mana dalam tahap pembersihan. Dia memperhatikan koki dan juga para pelayan mengambil andil dalam tahap itu. Lama dia berdiri di sana, tetapi masih tidak menemukan apa yang dicari. Padahal dia sudah mencari ke tempat-tempat yang kemungkinan besar bisa menemukannya. "Maafkan saya, nyonya." Salah seorang pelayan menghalangi Anastasia yang beranjak memasuki dapur. "Tapi sebaiknya nyonya tidak berada di sini. Kami tidak ingin membuat duke Lucherne marah." "Marah?" Anastasia dituntun keluar dari dapur dalam keadaan masih kebingungan. Sepengetahuannya waktu kejadian di mana dia bermain di dapur, sang duke bersikap biasa saja. Apakah para pekerja dimarahi karena dia memasuki dapur? Apa salahnya dengan itu? "Duke Lucherne memarahi kami karena membiarkan nyonya masuk ke dalam dapur tanpa persiapan." Menjelaskan ketidaksopanannya karena telah berani mengusir istri dari seorang duke. Setelah menuntaskan kebingungan Anastasia, pelayan itu kembali pada pekerjaan. Tentunya kepala yang menunduk hormat adalah tata cara yang tidak boleh ditinggalkan sebelum pergi. Oh, karena itu? Anastasia hampir melupakan bagaimana kejadian itu seluruhnya. Waktu itu dia sudah salah paham pada sang duke. Jika dipikir-pikir lagi banyak kebaikan sang duke yang belum sempat diucapkannya kata 'Terima kasih'. Meskipun kebaikan sang duke hanya karena alasan status istri yang disandangnya namun tetap saja dia harus berterima kasih. Anastasia berbalik arah dan di saat itu pula dia terkejut mendapati orang yang dicari berada di belakangnya. "Pelham! Aku sudah mencarimu ke mana-mana." Pelham memperhatikan sekeliling yang mana pelayan-pelayan yang berjalan melewati mereka seperti kebingungan. Sama seperti dia yang juga kebingungan kenapa nyonya di Morning Glory datang mencarinya. Apa dia sudah melakukan sebuah kesalahan sampai harus dicari? Pelham langsung bersimpuh di lantai dan menggenggam kedua tangannya untuk kemudian diperlihatkan bagaimana kesungguhannya dalam meminta maaf. "Waktu itu saya benar-benar tidak tau siapa nyonya. Mohon maafkan saya, nyonya. Saya juga tidak berniat mengintip nyonya dan duke Lucherne. Hari itu saya benar-benar hanya memergoki para pelayan dan memperingati mereka." Kebingungan Anastasia akan sikap Pelham jadi berubah setelah mendengar perkataan yang menjurus kepada apa yang dicari. "Aku ingin bertemu dengan pelayan yang mengabadikan kebersamaanku dengan duke Lucherne. Ada di mana dia sekarang?" "Tadi saya melihat Nollie diam-diam mencuri waktu ke perpustakaan." "Baiklah. Terima kasih, Pelham." Anastasia bergegas menuju tempat yang diucapkan tanpa mengusir kegelisahan yang terurai jelas di wajah Pelham. Pelham yang sudah lolos dari kekhawatiran karena bukan dia yang dicari bisa bangkit dari simpuhnya namun bahunya ditekan oleh dua orang pelayan sehingga membuatnya harus berada di posisi semula. Bersimpuh di hadapan orang yang kini berganti orangnya. Terakhir kali dia bertemu dengan dua orang pelayan itu adalah ketika berada di depan kamar sang duke. "Kami tidak sengaja melihat adegan menarik dan rupanya ada pengkhianat di dalamnya. Pengkhianat itu mengadukan perbuatan kami pada duke Lucherne dan sekarang membocorkan keberadaan Nollie pada nyonya Anastasia." Ujar seorang dari mereka sembari melipatkan tangan di d**a. Pelham menyingkirkan kedua tangan yang menekan bahunya. Walaupun dihadang oleh dua orang wanita, sebagai pria dia tidak gentar dengan mudahnya. Seperti mereka dia juga memberikan tatapan tidak suka. "Kalian hanya iri padaku karena duke Lucherne lebih memilih untuk memihak padaku dibandingkan kalian." Melempar muka dan berlalu pergi meninggalkan mereka. Menurutnya tidak perlu membuang waktu dengan manusia pengintip seperti dua pelayan wanita itu. "Awas saja! Suatu saat kami pasti akan membalasmu berkali-kali lipat dan kau akan menyesal karena telah meremehkan kami!" Teriak kedua pelayan itu serempak sambil memamerkan tangan yang mengepal. *** Sebelum masuk ke ruang perpustakaan, Anastasia mengintip situasi dari luar terlebih dahulu. Memastikan kalau tempat itu tidak dipakai lagi oleh Gilda. Dia tidak ingin terjebak dalam kebosanan setelah berhasil kabur dari sana. Setelah dirasa aman baru dia memasuki ruangan. Masih tetap was-was memastikan kalau Gilda benar-benar tidak berada di tempat yang sama dengannya. Dia terus menyusuri area perpustakaan hingga bertemu dengan orang yang ingin ditemuinya. Orang itu berada di sudut ruang yang paling jarang dilewati dan duduk di kursi yang sepertinya juga jarang ditempati. Dia berjinjit hingga bisa mencapai belakang kursi dan dari sana bisa melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Nollie. Entah apa yang sedang dibuat oleh Nollie, tetapi pena bulu yang kini dipegang tidak berhenti bergerak menggariskan tintanya. Dia bergeser sedikit agar bisa melihat tulisan yang digariskan oleh tinta. Sepertinya Nollie sedang membuat surat cinta untuk seseorang. Seketika dia mundur ke belakang karena sesuatu yang menyangkut hal pribadi tidak boleh diketahui orang lain seharusnya. Apalagi secara sembunyi-sembunyi dia mengintip dan melihatnya tanpa izin pemilik. Hingga detik ini pun keberadaannya masih tidak disadari meski langkah sudah mengeluarkan bunyi. Nollie terlalu fokus dengan apa yang dikerjakan sampai-sampai tidak mengetahui keberadaannya. "Nollie," panggilnya kemudian menarik kursi kosong di samping Nollie. "Bolehkah aku duduk di sini?" Ucapnya ramah diselingi oleh senyuman. Butuh beberapa detik agar Nollie bisa keluar dari dunianya sendiri. Saat dia sudah sadar matanya dibuka lebar-lebar setelah tau siapa yang ada di hadapannya kini. Lantas dia langsung bangkit dan menunduk dalam menghormati nyonya di Morning Glory itu. "Apakah aku mengganggumu?" "Ti-tidak, nyonya. Maafkan saya." Memangnya kesalahan apa yang Nollie perbuat? Apa karena Nollie diam-diam mencuri waktu ketika semua pelayan sibuk bekerja? Tetapi kenapa harus meminta maaf karena hal itu? Bahkan dia juga kabur dari Gilda untuk mengerjakan apa yang disukainya. Dalam kondisi sekarang sebenarnya mereka tidak jauh berbeda. Dibandingkan itu melihat sikap hormat yang diterima sepertinya mereka tidak akan duduk jika bukan dia yang duduk lebih dulu. "Duduklah, Nollie. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Nollie menuruti perintah setelah Anastasia duduk lebih dulu. Dia masih menunduk namun matanya melirik ke arah surat yang ditulis. Jangan sampai surat yang telah dibuatnya susah payah diketahui oleh orang lain. Bisa-bisa yang memintanya membuat surat itu nanti marah jika ketahuan. "Nollie, saat di depan kamar.." Ya. Nollie sudah melakukan kesalahan di depan kamar sang duke. Dia hampir melupakannya kalau tidak diingatkan. "S-sungguh maafkan saya, nyonya. Saya tidak bermaksud buruk waktu itu." Masih menunduk sembari memegangi bagian pakaian yang bisa digenggam erat-erat. Dia sangat gemetar dan tangannya dibasahi oleh keringat dingin. "Aku tidak menyalahkanmu atas kejadian itu. Justru aku datang menemuimu untuk meminta tolong sesuatu. Ah, lebih tepatnya menawarkan pekerjaan rahasia padamu." Genggaman erat yang mengusutkan pakaian perlahan mengendur. Nollie mengangkat kepalanya dan bertanya-tanya pekerjaan apa yang akan diberikan padanya. Dia tidak bisa menebaknya sama sekali. Tidak membiarkan Nollie kebingungan terlalu lama, Anastasia menjelaskan maksud kedatangannya lebih jelas lagi. "Aku membutuhkan keahlianmu untuk membuat surat." Surat? Jarak Anastasia dengan sang duke sangat dekat dan apakah pernyataan cinta sepasang kekasih itu harus dinyatakan melalui surat juga? Dia memang sering diminta untuk membuat surat cinta oleh penghuni Morning Glory yang sedang kasmaran, lalu nantinya dia akan dibayar. Semacam pekerjaan rahasia juga. "Pekerjaan ini sangat rahasia dan kau harus menyimpannya baik-baik. Bisakah kau menolongku? Aku juga akan memberikan bayaran untukmu." "Jika itu permintaan nyonya, maka saya akan menerimanya." Ucap Nollie yang sudah menganggap Morning Glory sebagai rumah keduanya dan pengabdiannya sangat besar untuk membantu para penghuninya. "Saya akan berusaha yang terbaik untuk pekerjaan yang nyonya berikan." "Aku harap bisa mempercayaimu, Nollie." Cukup puas dengan hasil yang didapat. Ternyata menjadikan Nollie sebagai salah satu orang setianya bukan sesuatu yang rumit. Anastasia keluar dari ruangan setelah menyelesaikan urusannya dengan Nollie. Dia tidak sabar menunggu hari esok. Dibandingkan itu semua dia harus membayar hutangnya pada sang duke nanti malam. Seterusnya akan dibayar setiap kali dia menerima kepingan dari sang duke. Baginya tidak masalah karena tidak ada kerugian yang harus ditanggung. Tiba-tiba Anastasia yang baru saja keluar dari perpustakaan membeliak. Dia tercengang melihat Gilda sedang menuju ke arahnya. Perlahan arahnya diputar dan dia berjalan cepat menjauh dari tempatnya tadi. Dalam langkahnya dia berharap Gilda tidak menyadari pertemuan mereka. "Nyonya Anastasia!" Panggil Gilda menyadari keberadaan Anastasia, orang yang ditunggu-tunggu. Dia tidak bisa menarik Anastasia untuk pergi bersamanya karena dari yang dilihatnya di ruang makan tadi, Anastasia sangat lengket berada di dekat sang duke. Tidak ada yang lebih berhak atas Anastasia kecuali sang duke sendiri. Oleh karena itu dia tidak bisa berbuat apa-apa dan menunggu adalah tindakan yang tepat. Sayangnya walau sudah menunggu lama tetap saja Anastasia tidak kembali untuk melanjutkan pelajaran. Dia juga sudah mencari keberadaan Anastasia ke mana-mana. Tetapi kali ini setelah menemukannya, ditambah dengan keberadaan Anastasia seorang diri tanpa ada sang duke yang menemani, dia tidak akan menyerah untuk membawa Anastasia kembali pada pelajaran. Apalagi sang duke tidak berada di Morning Glory sekarang. Masih banyak pelajaran yang harus diberikan hari ini dan karena Anastasia kabur jadwal pertemuan mereka jadi tidak sesuai dengan rencana. Padahal ada pelajaran penting yang harus diberikan secepatnya mengenai istri seorang duke. Tidak ingin tertinggal lebih jauh dia pun menyusul langkah kaki Anastasia yang semakin lama semakin cepat. Dia memang tidak lagi muda namun olahraga tetap dijalani dan daya tahan tubuhnya terbilang kuat. Terlebih untuk mengejar murid nakal seperti Anastasia. Anastasia yang merasa kalau dia sudah berlari jauh memutar kepala ke belakang dan apa yang dilihat adalah Gilda masih tetap mengejarnya. Seketika langkah cepatnya diubah menjadi berlari. Dia terus berlari sambil berteriak. "Berhenti mengejarku, Gilda!" Para prajurit dan pelayan yang melihat aksi mengejutkan itu hanya tercengang. Bingung kenapa dua orang itu berkejaran dan di sisi lain takjub melihat Gilda bisa lari secepat itu di usia yang tidak lagi muda. Bukan menghentikan perselisihan, sebaliknya mereka menjadikan pemandangan itu sebagai sebuah tontonan yang menarik. Tidak jarang mereka juga tertawa menyaksikan bagaimana Gilda meneriaki Anastasia. Sangat berbeda dengan sikap disiplin dan elegan seorang Gilda. *** Flint bergegas menghampiri tempat di mana sang duke berada kini. Dahinya mengerut dalam jika mengingat kabar mengejutkan yang dia dengar. Secepatnya sang duke harus mengetahui kabar itu. Setibanya di tujuan, dia tidak langsung mengatakannya karena sang duke sedang berbicara dengan prajurit yang menjaga gerbang distrik. Membicarakan perihal keamanan area itu beberapa minggu terakhir. Biasanya secara berkala mereka akan memeriksa status keamanan. Memastikan secara langsung kalau keadaan distrik Edelweiss baik-baik saja. "Sejauh ini tidak ada masalah yang terjadi. Area pertama yaitu gerbang distrik aman terkendali, tuan." Ucap prajurit itu dengan sikap tegas tanpa dibuat-buat. Seperti perkataannya situasi gerbang distrik masih aman terkendali. Tidak ada ancaman apa pun dari luar selama dia berjaga beberapa minggu terakhir ini. Total area di distrik Edelweiss ada sembilan titik area. Semua area telah selesai diperiksa dan tidak ada kendala. Sama seperti yang sudah-sudah namun untuk mempertahankan hal itu sang duke harus tetap memeriksanya. Salah sedikit akan ada kesalahan fatal yang akan terjadi. Keamanan penghuni distrik Edelweiss adalah yang paling utama. Baik dari segi ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam. Dia tidak boleh lengah hanya karena distrik yang dipimpinnya baik-baik saja. "Kerja bagus. Kalau begitu kau boleh kembali ke tempatmu." "Siap, tuan. Kembali ke tempat." Kemudian dengan langkah pastinya prajurit itu berdiri ke posisi semula. Di depan gerbang yang mana terbuka lebar. Setelah sang duke selesai berbicara, baru Flint memiliki kesempatan membicarakan masalah kabar besar itu. "Tuan, saya memiliki kabar mengejutkan untuk didengar. Ini mengenai pangeran Darius." Sang duke berhenti melangkah dan dia membalikkan badan menghadap Flint. Pangeran Darius memang tidak pernah berhenti membuat kabar mengejutkan. Dari kisah romantisnya dengan putri Haura saja sudah bisa menggemparkan seluruh kerajaan Orchid. Membuat para wanita mengagumi sosok pria yang sangat romantis itu. Kali ini ada berita apa lagi mengenai pangeran Darius? Flint memastikan sekelilingnya tidak akan ada yang mendengar terlebih dahulu, lalu memelankan suara. "Saya mendengar berita kalau pangeran Darius akan menikah kembali." Sang duke melebarkan kedua matanya. Berita itu memang sangat mengejutkan. Bagaimana bisa pangeran Darius menikah dalam waktu begitu cepat? Hal itu mengundang kecurigaan baginya. Apalagi jika mengaitkan pangeran Darius yang akan menikah dengan kematian Putri Haura. Mungkinkah pangeran Darius ada kaitannya dengan pembunuhan putri Haura? Membunuh agar bisa menikahi wanita lain, bukankah itu bisa saja dilakukan? "Saya juga mendengar kalau pernikahan pangeran Darius dirancang oleh raja Sargon." Pendapatnya ternyata salah karena bukan pangeran Darius yang menginginkan pernikahan, melainkan raja Sargon. Dia hampir saja menuduh pangeran Darius melakukan hal keji. Lagi pula tidak mungkin pangeran Darius yang sangat mencintai putri Haura membunuhnya. Kursi putri kerajaan sekarang kosong, sedangkan istana membutuhkannya. Mungkin alasan itu yang membuat raja Sargon merencanakan pernikahan pangeran Darius. Terlebih dari itu bagaimana dengan tanggapan raja Arthur? Ketika dia bersama Flint menghadap raja Arthur di kerajaan Magnolia, dia mendapat tugas untuk menenangkan kemarahan raja Arthur atas belum ditemukannya pembunuh putri Haura. Saat itu raja Arthur sangat marah dan nyaris mengibarkan bendera perang kalau mereka tidak datang. Apalagi jika mendengar pernikahan pangeran Darius? "Kau sudah memastikan kalau kabar itu benar adanya?" "Sudah, tuan. Saya langsung mengkonfirmasinya ke pihak istana kerajaan secara langsung." "Apakah berita itu sudah disebar?" Melihat bagaimana gerak-gerik prajurit yang mengatakan berita tersebut, sepertinya labar pernikahan pangeran Darius masih dirahasiakan. Terlebih kerajaan Orchid damai-damai saja. Bukan seperti biasanya yang mendengar berita menggemparkan pasti akan ribut. Apalagi yang menciptakan berita itu adalah pangeran Darius. "Sepertinya masih belum, tuan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD