Bab 29: Membayar Hutang

2016 Words
Pada akhirnya usai berlari sangat kencang dan sudah hampir kehabisan napas Anastasia akhirnya rebah di lantai. Sudah tidak bisa bergerak seperti itu dia segera diangkat oleh para pelayan wanita secara bersama-sama. Tidak ada penolakan atas perlakuan itu karena memang dia sudah kehabisan banyak tenaga untuk menolak meskipun sebenarnya dia sangat ingin meronta dan kabur dari Gilda. Usahanya berlari ternyata sia-sia dan kini dia dibawa menuju ruang perpustakaan. Bukan hanya Anastasia saja yang terengah-engah, Gilda pun juga sama kondisinya. Meskipun begitu dia bisa terpuaskan karena berhasil menangkap murid yang nakal. Setelah napas sedikit stabil dia langsung bangkit dan menyusul ke tempat Anastasia dibawa. Tidak ingin ada yang kabur lagi kalau dia meninggalkan Anastasia jauh dari pengawasan. "Anak itu.. larinya sungguh.. sangat cepat.." Ucapnya terputus-putus karena harus mengatur napas. Setibanya di perpustakaan hal pertama yang dilihatnya adalah Anastasia duduk sambil merebahkan kepala di atas meja. Masih sibuk mengatur napas yang berantakan sepertinya. Pelayan yang sudah melaksanakan perintah pun pergi meninggalkan mereka berdua. Langsung saja dia menghampiri tempat duduknya di meja yang sama. Setelah napas mereka sama-sama stabil baru mereka saling melayangkan tatapan permusuhan. Anastasia yang sudah kalah tampaknya tidak bisa menghindar lagi. Dia sudah kabur secara sembunyi-sembunyi dan tidak mungkin kabur secara terang-terangan jika mengulangi niatnya kembali. Untuk itu yang bisa dilakukan adalah mematuhi Gilda. "Apakah kau benar-benar akan melanjutkan pelajaran? Sekarang sudah hampir beranjak malam. Harusnya pelajaran sudah usai sejak lama." Ujarnya mencari celah lain untuk menghentikan niat Gilda. Gilda mengusapkan kedua telapak tangan ke sisi samping rambutnya yang butuh untuk dirapikan. "Ada banyak materi yang harus diselesaikan dan semuanya jadi terhambat karena nyonya kabur. Lagi pula nyonya tentu tidak lupa apa yang namanya hukuman jika melanggar aturan, bukan? Kali ini saya tidak akan menghukum nyonya untuk melakukan pekerjaan di Morning Glory. Sebagai gantinya nyonya harus tetap di tempat sampai semua pelajaran selesai." "Lalu melewatkan makan malam?" Gilda mengerutkan dahi tidak menduga jika itu adalah jawaban yang dia dengar. Ternyata memang benar desas-desus yang dikatakan para pelayan. Anastasia sangat menyukai makanan, bahkan tidak rela melewatkan waktu makan satu detik pun. "Tadinya saya ingin memberi pelajaran yang sangat penting pada nyonya. Tapi tampaknya pelajaran mengenai porsi makan nyonya adalah sesuatu yang terpenting saat ini." *** Semenjak mengundurkan diri, Ruth bekerja di pabrik pembuatan roti. Pekerjaan di sana sangat berat namun setidaknya bayaran yang diterima sebanding dengan pekerjaannya. Walaupun begitu bekerja di pabrik roti bayarannya lebih kecil dibandingkan bekerja sebagai pelayan di Réserve. Jika di Réserve dia mendapatkan lima puluh perak setiap minggunya, di pabrik roti dia hanya mendapatkan setengah dari itu. Usai menyelesaikan pekerjaan, Ruth akhirnya bisa pulang. Dia sudah tidak sabar merebahkan diri karena seluruh tubuhnya seakan remuk. Sambil berjalan dia memijat pundak yang terasa berat itu. Pekerjaan di pabrik roti tidak menentu tergantung pesanan. Hari ini dia dan pekerja lainnya harus pulang malam karena harus menyiapkan tiga ratus potong roti yang dipesan oleh salah satu keluarga bangsawan. Di tengah perjalanan tiba-tiba dia dicegat oleh beberapa orang pria dan salah satunya adalah Goddard. Ruth bingung bercampur was-was mengetahui orang yang akan mencelakainya berada tepat di depan mata. Apa lagi yang diinginkan Goddard darinya? Bukankah semuanya sudah selesai karena dia telah memberitahukan keberadaan tuan penolongnya? Atau.. apakah Goddard akan melakukan hal gila lagi kepadanya? Ruth langsung membalikkan badan dan berjalan secepat mungkin. Dia sungguh tidak ingin kejadian di Réserve terulang kembali. Sudah cukup dia berurusan dengan pria gila bernama Goddard itu. Untung saja sekarang masih belum terlalu malam sehingga masih banyak orang berada di luar rumah. Walaupun begitu Goddard tetap saja mengejar Ruth tidak peduli sepi atau tidak. Baginya mencapai tujuannya adalah yang paling utama. Dia terus mengejar hingga sampai di sebuah toko pakaian. Dia tidak bisa masuk ke sana karena tempat itu salah satu toko besar di distrik Syringa. Kedatangannya hanya akan menciptakan keributan dan duke Charles hanya akan menghukumnya. Di dalam sana Ruth yang baru saja lolos dari kejaran Goddard, mendapatkan masalah lain. Dia tidak bisa membiarkan Goddard mengetahui di mana tempat tinggalnya kalau dia pulang dan hasilnya kini dia berada di sebuah toko besar sekarang dan yang lebih penting dari itu adalah dia tidak memiliki kepingan untuk foya-foya. Apalagi pakaiannya sekarang bukan mencerminkan orang berada. Mungkin saja orang-orang yang memperhatikannya sekarang mengira kalau dia adalah pengemis. Ruth akhirnya memutuskan untuk keluar saja dari toko pakaian itu. Alhasil dia harus berhadapan dengan Goddard. Dia mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tidak ingin diperlakukan buruk lagi oleh Goddard. Setidaknya jika memang ujungnya dia akan kalah kekuatan, setidaknya dia telah berjuang melindungi diri sebaik mungkin. "Mau apa kau mengikutiku? Kita seharusnya tidak ada sangkut paut lagi setelah kejadian kemarin." "Aku hanya ingin mengatakan kalau kau sudah bisa kembali bekerja di Réserve." "Apa maksudmu kembali bekerja?" "Pria yang menolongmu itu mengancam nyawaku kalau aku tidak memperbaiki kerusakan yang aku perbuat." Meludah ke sembarang arah memperlihatkan kalau dia sebenarnya tidak suka melakukan apa yang diperintahkan padanya. "Lain kali kau tidak perlu lari jika bertemu denganku karena aku tidak akan pernah mengganggumu lagi." Jadi tuan penolong yang menyuruh Goddard untuk membawanya kembali ke Réserve? Padahal Ruth sudah membocorkan keberadaan yang tampaknya dirahasiakan, tetapi dia masih diperlakukan dengan baik. Sungguh pria yang sangat baik hati. Bagaimana dia akan membalas kebaikan itu? Di sisi lain hal itu sungguh merupakan berita baik namun Goddard bukan satu-satunya alasan kenapa Ruth mengundurkan diri. Dia memang memerlukan pekerjaan yang bayarannya besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi jika harus bekerja dengan cara yang tidak layak, untuk apa dia mempertahankan pekerjaan itu? "Sayang sekali karena aku tidak ingin bekerja di sana lagi." Tolaknya kemudian pergi meninggalkan sekelompok pria tersebut. Goddard yang ditinggalkan sebelum mencapai tujuannya segera mengikuti langkah Ruth. Dia sampai memohon agar Ruth kembali bekerja di Réserve namun tetap saja dia ditolak berapa kalipun memohon. Sampai dia harus berhenti ketika Ruth sudah memasuki sebuah rumah. Tidak mengizinkannya untuk masuk. Bahkan dia bisa mendengar pintu itu dikunci. "Sial! Kalau tidak karena nyawaku dalam bahaya, aku Goddard si pemberani tidak akan sudi memohon pada wanita jelek sepertinya." Lagi-lagi dia yang kesal meludah ke sembarang arah. Tindakan Goddard tidak sengaja mengenai tangan anak buahnya. Dia yang takut pada Goddard tidak bisa protes. Hanya mengelapnya saja ke baju temannya yang lain. Sehingga mereka semua saling menghindar tidak ingin sesuatu yang menjijikkan itu mengenai tubuh mereka. *** Sang duke dan Flint baru saja sampai di Morning Glory usai memeriksa bagaimana kondisi distrik Edelweiss secara langsung. Langkah tegap mereka dibawa memasuki kediaman resmi yang sudah mereka tinggalkan sejak siang tadi. "Entah mengapa saya sangat merindukan Morning Glory setiap kali pergi." "Aku berpikir kau hanya merindukan Myla." Flint tersenyum malu karena memang benar Myla adalah sesuatu yang paling dirindukannya saat ini. Wanita yang tidak pernah absen singgah di pikirannya dan wanita yang selalu membuat rindu untu bertemu. "Bagaimana dengan tuan? Apa tuan merindukan nyonya Anastasia?" Sang duke mengerutkan dahi mencerna pertanyaan itu. Dia merindukan Anastasia? Apakah mungkin? Pada akhirnya dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Flint. Padahal dia bisa saja mengatakan 'Tidak' atas dasar ketidakmungkinan merindukan orang yang membunuh putri Haura. Terlebih tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka. Tetapi mulutnya seakan berat untuk mengatakan satu kata itu. Kalau begitu apakah jawabannya dia merindukan Anastasia? Sang duke dan Flint berpisah ketika arah mereka tidak lagi sama. Flint pergi menuju kamarnya atau mungkin saja tidak. Bisa saja dia memutar arah tujuannya di penghujung jalan nanti. Sedangkan sang duke tentu saja akan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sesampainya di kamar sang duke langsung berlalu ke kamar mandi. Tanpa menunggu air hangat dia membasuh diri. Menyegarkan kembali tubuhnya yang lelah seharian bekerja. Malam ini waktunya untuk menyingkirkan seluruh pikiran yang memberatkan kepalanya dan beristirahat. Setelah selesai sang duke keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Ke mana Anastasia? Seharusnya di jam seperti ini Anastasia sudah beristirahat. Di samping itu malam ini Anastasia harus membayar hutang padanya karena telah memberikan apa yang dibutuhkan. Handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambut disampirkan di sandaran kursi. Lalu dia keluar kamar dan menghampiri prajurit yang berada paling dekat dari kamarnya. Menanyakan keberadaan Anastasia yang tidak diketahuinya ada di mana. "Nyonya Anastasia masih berada di perpustakaan, duke Lucherne." "Perpustakaan?" "Ah," sedikit berdeham sebelum menjelaskan situasi yang terjadi selama sang duke pergi. "Tadi Gilda mengejar nyonya Anastasia karena kabur dari jam pembelajaran. Hukuman yang dijalani adalah nyonya Anastasia harus menyelesaikan materi pelajaran untuk hari ini semuanya." Sang duke beranjak ke perpustakaan untuk melihat keadaan di sana sekarang. Dia tidak bisa membantah Gilda yang dipekerjakannya untuk mendisiplinkan Anastasia. Cara mengajar Gilda bukan dia yang memutuskan. Satu hal yang dia tau kalau Gilda adalah pengajar terbaik yang tidak mungkin menyiksa seseorang. Mungkin saja Anastasia yang terlalu nakal karena sepengetahuannya mengenai orang-orang yang Gilda ajar, tidak ada yang berani kabur atau membantah ketegasan Gilda sebagai seorang pengajar. Ketika membuka pintu dan melihat ke dalam, yang dilihatnya adalah ruang kosong tanpa ada orang di dalamnya. Hanya ada beberapa buku yang terbuka di atas meja. Ditambah beberapa makanan ringan yang tergeletak pula di sana. Ada di mana mereka? Dia menyusuri lorong yang mana sisi kanan dan kirinya adalah rak buku. Lama dia berjalan hingga berhenti di satu titik. "Duke Lucherne." Gilda melepaskan genggamannya dari tangga dan beranjak menghormati sang duke. Sang duke melihat ke atas tangga dan di sana satu orang lagi ditemukan. Apa yang dilakukan Anastasia di atas sana? Tidakkah mereka melihat kalau tangga itu sangat tinggi? Salah langkah sedikit saja bisa-bisa Anastasia jatuh. Sang duke mengarahkan tatapannya pada Gilda kembali. Tidak seperti tadi yang mana ekspresinya santai, sekarang tampak alis itu mengernyit dalam. Bahkan bersama kertak gigi yang kuat dan juga kepalan tangan yang siap dilayangkan pada musuhnya kapan saja. "Apa kau ingin mencelakai istriku?" Sayangnya hal itu terpaksa ditahan karena Gilda adalah seorang wanita paruh baya yang tidak pantas menerima perlakuan buruk. Menahan kemarahan yang semakin memuncak saja membayangkan bagaimana Anastasia jauh di atas sana. Gilda langsung gemetar mendapatkan tatapan kemarahan sang duke. "Ti-tidak, tuan." Dia menunduk dalam tidak sanggup menatap sang duke lebih lama lagi. Anastasia tidak bisa mendengar mereka berbicara apa namun dia bisa melihat kalau situasi di bawah sana tidaklah bagus. Lantas dia memeluk sebuah buku yang diambil dari salah satu baris rak dan membawanya bersama ke bawah. Satu persatu tangga dituruni dengan hati-hati hingga dia bisa menapaki lantai kembali. Ketika sampai di bawah dia kebingungan melihat Gilda menangis. Pandangannya diarahkan pada sang duke yang mana sekarang terlihat sangat marah. Memangnya kesalahan apa yang Gilda lakukan sampai harus menangis? "A-ada apa ini?" Memberanikan diri masuk di tengah-tengah ketegangan. "Maafkan saya, duke Lucherne. Saya tidak bermaksud untuk mencelakai nyonya Anastasia." Ucap Gilda sambil menangis. Menyadari maksud dari kata 'Mencelakai' itu, membuat Anastasia langsung bersuara. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Gilda tidak berniat untuk mencelakaiku." "Bagaimana kau bisa mengetahui niat seseorang?" "Karena aku hanya membantu Gilda untuk mengambil buku." Memperlihatkan buku yang ada dipelukannya pada sang duke. "Tentu saja aku yang masih muda ini tidak bisa membiarkan Gilda yang sudah tua menaiki tangga yang begitu tinggi. Bisa saja nanti dia terjatuh." "Dan kau tidak memikirkan kemungkinan kau akan terjatuh juga?" "Tidak. Bukan begitu." Kehabisan kata-kata bagaimana harus menjelaskannya pada sang duke. "Tunggu!" Teriakannya tidak digubris oleh sang duke yang semakin lama semakin menjauh dari mereka. Gilda yang masih menangis ditenangkan. "Jangan pikirkan mengenai duke Lucherne. Biar aku yang menanganinya." Menyerahkan buku yang dipegang pada Gilda. "Sebaiknya kau beristirahat dan buku ini kita pelajari besok saja." Menunjuk buku yang sudah berada di pelukan Gilda, lalu berlari menyusul sang duke. Dia terus berlari mengejar ketertinggalan. Sang duke sangat jauh jaraknya beberapa meter. Sesekali dia berhenti karena tenaganya yang semakin terkuras. Tadi dia hanya makan malam dengan porsi kecil saja sehingga tidak banyak tenaga tersisa untuk berlari. Mereka memasuki kamar dan baru di sana bisa saling bertemu kembali. Anastasia yang sudah mendapatkam kesempatan untuk berbicara langsung mengeluarkan suara. "Aku memikirkan kemungkinan kalau aku akan terjatuh, tetapi aku juga tidak bisa membiarkan Gilda menaiki tangga yang begitu tinggi." Dia masih tidak dihiraukan dan semakim membuatnya bingung harus berkata apa. "Baiklah. Aku tau perbuatanku itu bisa membahayakan nyawaku. Meskipun begitu kau juga tidak bisa membuat seorang wanita yang umurnya jauh lebih tua darimu menangis." "Aku tidak membuatnya menangis." "Maksudmu Gilda menangis tanpa alasan?" "Aku," sang duke mengembuskan napas kasar. Kenapa jadi Anastasia yang kesal padanya? Tidak ingin berdebat lebih panjang dia pun menyerah dan beranjak duduk di ranjang. "Lupakan masalah itu dan cepat bayar hutangmu padaku. Selain pembunuh kau tidak ingin menyandang predikat sebagai seorang pencuri juga, bukan?" Hampir saja Anastasia melupakan hutang yang harus segera dibayarnya kalau tidak sang duke yang mengingatkan. "Ah, benar! Aku harus membayar hutangku." Menghampiri sang duke dan duduk di sampingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD