Bab 30: Salah Tingkah

2011 Words
Anastasia naik ke atas ranjang dan menopang tubuhnya dengan lutut di belakang punggung sang duke. Tangannya disentuhkan ke bahu yang lebar itu dan dia mulai meremasnya dengan lembut. Perlahan bergeser dari pangkal bahu hingga ujung, begitu hingga seterusnya. "Tanyakan apa saja. Aku tidak tau harus memulainya dari mana." "Ceritakan bagaimana kau sampai di istana Primrose." "Putri Haura yang memberikan pekerjaan di istana Primrose padaku. Aku bekerja sebagai seorang koki di sana." Sang duke menyipitkan mata diselingi kerutan dalam di dahinya. Apa sebenarnya maksud putri Haura mempekerjakan seorang koki dari restoran biasa di istana Primrose? Memasuki istana bagi orang luar seharusnya tidak mudah. Ada klasifikasi yang harus dipenuhi agar bisa bekerja di istana. Tidak mungkin putri Haura merencanakan kematiannya sendiri dengan mempekerjakan Anastasia. Sepengetahuannya putri Haura tidak seburuk itu sampai harus mengkambinghitamkan seseorang. Tetapi jika perkiraannya salah, apakah kasus kematian putri Haura murni rencana pembunuhan? "Kau berkata putri Haura yang memberikan pekerjaan di istana padamu. Kalau begitu apa kau bertemu dengannya?" "Ya. Aku bertemu dengannya. Waktu itu putri Haura dan pangeran Darius mendatangi distrik Syringa. Aku tidak tau apa tujuannya, tapi yang pasti aku ditawari bekerja sebagai seorang koki di istana Primrose." Menurut informasi yang didapatkan, Anastasia dituduh membunuh atas dasar keberadaannya yang mana baru di istana Primrose. Tanpa saksi dan tanpa bukti. Padahal Anastasia pernah berkata bahwa sebelumnya diberhentikan. Seakan pekerjaan yang didapatkan adalah untuk mengkambinghitamkan Anastasia. Bukankah hal itu berarti semuanya telah direncanakan? "Ada berapa banyak pihak yang terlibat dalam kasus ini sebenarnya?" Bergumam sembari mengaitkan informasi demi informasi yang mana sangat rumit untuk dipecahkan. "Apa?" Tanya Anastasia diliputi kebingungan akan ucapan sang duke yang tidak terdengar jelas olehnya. "Tidak. Kau bisa melanjutkannya." Menepuk bahunya pelan, lalu menopang tangannya kembali ke paha. Anastasia tidak mendengar perintah itu. Dia memutuskan untuk berhenti memijat sang duke. "Aku telah membayar hutangku dengan memijatmu sambil memberikan informasi. Jika kau menginginkan informasi lebih, kau bisa membelinya dengan kepingan baru." Sang duke tergelak tidak percaya akan apa yang didengar. Padahal dia sudah mengeluarkan banyak kepingan, tetapi apa yang didapatkannya? Hanya informasi mengenai bagaimana Anastasia bisa bekerja di istana Primrose saja. Apa yang diberikannya dengan apa yang diberikan Anastasia jelas tidak seimbang. "Kau meletakkan tarif terlalu tinggi dengan hanya memberikan secuil informasi." Anastasia mencibir di belakang namun langsung berhenti karena setelah itu sang duke menoleh padanya. Dengan sikap angkuh dia melipatkan tangan ke d**a dan melirik tajam pada sang duke. "Kau tidak boleh melupakan pijatan berharga yang aku berikan." Sang duke membaringkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangan di belakang kepala, menjadikannya sebagai bantal. Dia memejamkan mata kemudian. "Kau harus ingat kalau kau sedang memeras pemimpin distrik Edelweiss sekarang." Sindiran itu tidak mengenai Anastasia tampaknya karena sekali lagi dia mengambil kesempatan mencibir sang duke. Setelah itu dia ikut berbaring di samping sang duke menyisakan jarak satu meter di antara mereka. Membelakangi sang duke yang berbaring santai tanpa menggunakan selimut. *** "Apa yang sedang kau kerjakan, Carol?" Darius merebut benda tajam yang dipegang oleh Caroline namun tidak mudah karena orang yang memiliki benda itu sendiri tidak memberikannya begitu saja. "Berikan pisau itu padaku. Jangan membuatku marah padamu." Mendorong Caroline ke atas ranjang agar dia bisa menguasai tubuh itu dan bisa merebut pisau yang masih digenggam erat. Setelah berhasil mendapatkannya Darius pun menjatuhkan pisau itu ke lantai. "Kau tidak berpikir untuk melukai dirimu sendiri, bukan?!" "Aku tidak segila itu untuk mengakhiri hidupku!" "Lalu untuk apa kau memiliki benda itu?" Darius menyipitkan mata mencoba menebak jalan pikiran Caroline. "Jangan-jangan kau berencana untuk membunuh putri Kayana?" Caroline hanya diam membuat Darius semakin terlihat benar. Dia menyingkir dari atas tubuh itu, lalu berdiri sambil menatap marah ke arah Carol yang memalingkan muka. "Apa kau berpikir setelah membunuh putri Kayana, ayahku akan berhenti sampai di situ saja? Dia akan mengirimkan lebih banyak wanita lagi untuk aku nikahi dan kau pikir bisa membunuh mereka semua? Tidak, Carol! Kau hanya akan membuat semua orang mencurigai kita!" Caroline bangkit dan menghampiri Darius tanpa menyetujui peringatan itu. "Kita juga bisa merencanakan pembunuhan pada putri Kayana tanpa diketahui orang, Darius. Ayo, kita lakukan bersama. Setelah itu aku berjanji akan mengambil hati ayahmu agar aku bisa menjadi istrimu satu-satunya." "Kau tidak akan bisa menjadi putri kerajaan Orchid, Carol. Tidak akan pernah bisa. Hanya kaum bangsawan yang bisa menduduki status itu dan syarat itu mutlak adanya." Caroline mengerti kalau dia bukan dari kaum bangsawan. Bahkan dia saja tidak memiliki keluarga dan hidup sebatang kara. Dia memang berasal dari k***********n yang tidak memiliki apa pun selama hidupnya namun tetap saja dia tidak bisa terima. Darius hanya miliknya seorang dan tidak ada satu pun wanita yang boleh mengambilnya. "Kalau begitu untuk apa kau membawaku ke tempat ini kalau kau sudah tau semua itu?" Darius menangkup kedua pipi Caroline dan menatap mata itu dalam-dalam. "Karena aku ingin mencintaimu dan ingin memilikimu." Perasaan itu sungguh sama dengan apa yang dirasakan oleh Caroline. Dia juga sangat ingin mencintai Darius dan juga ingin memiliki Darius seutuhnya. Sayangnya kerajaan Orchid tidak berpihak padanya. "Kenapa kita tidak tinggal di luar saja? Hidup seperti orang biasa dan saling mencintai? Kita akan hidup bersama anak-anak kita dengan bahagia." Darius menggelengkan kepala dan melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Caroline. "Aku tidak bisa menyerahkan statusku sebagai pangeran mahkota dan memberikannya pada orang lain." Jika status adalah apa yang lebih dicintai dibandingkan dirinya, untuk apa Caroline tetap bertahan dengan melihat pria yang dicintainya bersama wanita lain? Saling berdampingan dengan status yang tidak bisa terbantahkan dengan kata sah sebagai pengikat, sedangkan dia hanya menjadi istri pajangan saja yang mana akan dilihat ketika dibutuhkan dan kembali disimpan ketika tidak lagi dibutuhkan. "Kalau begitu biarkan aku pergi." "Apa yang kau katakan? Kau menyuruhku untuk merelakanmu?" "Lebih baik aku pergi dari sini dibandingkan melihatmu bersama wanita lain di depan mataku." "Kau tidak akan bisa melakukannya karena kau adalah milikku, Carol." Memegang kedua bahu itu dengan kuat. "Bersabarlah, Carol. Sampai aku mewarisi tahta, aku akan menjadikanmu istriku satu-satunya." *** Lama berbaring namun Anastasia hanya memejamkan mata saja tanpa bisa terlelap. Dia memegang perutnya yang kini seperti ruangan kosong. Bahkan cacing di perutnya saja tidak sanggup untuk bersuara. Anastasia perlahan menolehkan kepala ke belakang melihat sang duke yang mana sudah tertidur pulas. Dengan hati-hati tanpa ingin membangunkan sang duke, dia menyingkirkan selimut. Dia bermaksud untuk menuju dapur dan mendapatkan makanan. "Kau akan kemana?" Anastasia yang sudah berhati-hati harus disia-siakan usahanya karena sang duke menyadari tindakannya. Dia menoleh pada sang duke yang masih tidur dengan posisi yang sama namun dengan mata terbuka sepenuhnya. Apakah sang duke sedaritadi berpura-pura tidur atau memang terbangunkan olehnya? Terlebih dari itu Anastasia masih merasakan lapar. Dia mengusap perutnya yang terasa kosong dengan tampang memelas. "Tadi aku diajari bagaimana porsi makan yang baik dan malam ini aku mendapatkan porsi yang sedikit. Jadi aku ingin keluar mencari sesuatu untuk mengisi perutku ini." Suara gemuruh terdengar membuatnya harus menahan malu di hadapan sang duke yang kini datang menghampiri. "Pembagian porsi makan sehari sekitar dua puluh sampai tiga puluh persen untuk sarapan, empat puluh sampai lima puluh persen untuk makan siang, dan dua puluh hingga tiga puluh dari total kebutuhan kalori harian untuk makan malam." Anastasia menganggukkan kepala mengerti meski angka-angka itu masih belum jelas tertanam di benaknya. "Gilda sudah mengatakannya padaku saat belajar tadi." "Apa Gilda mengatakan kalau setiap orang memiliki usia, berat badan, tinggi badan, dan tingkat aktivitas fisik yang berbeda-beda?" "Sepertinya Gilda melupakannya." Jawab Anastasia asal menebak. "Semua komponen itu mempengaruhi jumlah kalori seseorang." Sang duke mengusap rambut Anastasia sembari tersenyum. "Kalau begitu kita memang harus mengisi ruang kosong di perutmu." Anastasia mengikuti kemana sang duke pergi hingga akhirnya mereka berhenti di dapur, tempat para koki memasak biasanya. Dapur itu sangat luas dengan tambahan area duduk yang mana dijadikan sebagai tempat para pekerja beristirahat di kala bekerja di dapur. Selain itu semua peralatan memasak tertata rapi menggantung di dinding. Berbeda dengan para koki di Réserve, ternyata kehidupan para koki di Morning Glory mendapatkan fasilitas lengkap. Dia tetap mengikuti arah yang membawanya ke tempat penyimpanan. Memeriksa dan mengambil apa saja yang dibutuhkan. Seperti yang dilihat tidak ada makanan untuk dikonsumsi langsung. Hanya ada bahan makanan yang belum diolah di sana. "Kau tidak bisa mengharapkan makanan jadi pada pukul dua malam ini. Semua koki sedang beristirahat sekarang." Anastasia hampir tidak sadar kalau sekarang sudah sangat malam dan betapa malunya dia ketika isi pikirannya ditebak oleh sang duke. Sekarang tidakkah dia terlihat seperti seorang wanita yang sangat kelaparan harus muncul lewat tengah malam di dapur? Kalau tidak bersama sang duke mungkin dia akan terlihat lebih buruk dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri makanan di Morning Glory sendirian. Sang duke memperhatikan Anastasia dari atas sampai bawah dan tampaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan seperti kejadian tempo lalu. "Aku sudah menyiapkan bahan makanannya. Sekarang silahkan gunakan semua bahan dengan baik." Menipiskan bibir. "Jangan lupa gunakan apron untuk menghindari cipratan minyak mengenai pakaianmu." Anastasia hanya bisa terbengong melihat sang duke berlalu dan duduk di kursi sembari menopang dagu dan menatap ke arahnya. Menyuruhnya untuk memasak dan bahkan sekarang memberikan isyarat dengan mengacungkan dua jari yang menandakan agar dia membuatkan dua porsi makanan. Sangat menjengkelkan. Padahal tadinya dia berpikir kalau sang duke akan membuatkan makanan untuknya. Ternyata dia salah. Meskipun begitu memasak bukan sebuah kendala bagi Anastasia yang berprofesi sebagai koki di Réserve. Dia pun mengenakan apronnya, lalu mencuci bahan-bahan makanan sampai bersih. Setelah memotong-motong bahan makanan, dia meraih salah satu wajan yang menggantung untuk kemudian dipanaskan. Baru setelah itu satu persatu bumbu masakan di masukkan dan ditumis sampai harum. Pertahanan Anastasia hampir goyah menghirup aroma yang melonjak-lonjakkan cacing di perutnya. Namun, dia harus bertahan sampai masakannya selesai nanti. Dari jauh sang duke mengamati bagaimana cara Anastasia memasak. Pada dasarnya tidak ada yang salah namun jika ditelisik lebih dalam, Anastasia bukan seorang koki yang mahir rupanya. Terlihat dari cara Anastasia menggunakan pisau. Padahal ketika berada di dapur, pisau adalah hal yang paling utama untuk dipelajari. Sebagai seorang koki seharusnya Anastasia dapat menggunakan pisau dengan baik. Setidaknya untuk memotong bahan makanan saja. "Sudah berapa lama kau bekerja di Réserve?" "Sudah enam tahun semenjak ayahku tiada. Dulu aku bekerja sebagai pelayan dan setelah itu pemilik Réserve memindahkan aku ke bagian dapur." Beberapa saat kemudian makanan yang dinantikan pun selesai. Tidak ingin mendebat kecerdikan sang duke yang memanfaatkan situasi akan kelemahannya, Anastasia duduk juga di kursi kosong lain. Satu piring di tangannya disodorkan pada sang duke. Sang duke yang tidak sabar mencicipi makanan itu langsung meraupnya dengan sendok. Sebelum melahapnya dia melihat ke arah Anastasia yang sudah fokus seperti tidak bisa diganggu. Satu suap makanan dikunyah hingga intensitas gerakan kunyahannya melambat. Belum menelan apa yang dikunyahnya, sang duke menghela napas kasar melalui hidung. Anastasia terdiam sebentar membayangkan bagaimana ekspresi sang duke saat ini. Dia berusaha mengunyah dan menelan makanan dengan hati-hati sebelum tawanya meledak. Alat makannya diletakkan begitu saja hingga terdengar suara dentingan. Dia yang mana perutnya sudah terisi nyaris sempurna akhirnya memiliki tenaga lebih untuk tertawa. Masih dalam keadaan mulut dipenuhi makanan, sang duke berbicara. "Kau mengerjaiku?" "Tidak. Aku tidak berniat mengerjaimu. Aku hanya tidak sengaja menambahkan garam terlalu banyak di masakanku." Sang duke bangkit mengambil segelas air, lalu meneguk isi gelas perlahan. Menenangkan rasa asin yang teramat sangat hingga membuat mulutnya kaku itu. Setelah itu dia langsung menghampiri Anastasia yang masih tertawa di tempat duduk. Dia meraih makanan yang hanya tersisa beberapa sendok saja, lalu mencobanya satu suapan. "Kau memang mengerjaiku." Ucapnya setelah mengetahui perbedaan makanan mereka berdua, yang satu dengan rasa asin dan satu lagi dengan rasa yang pas. Anastasia menenangkan tawanya dan menunduk hormat dalam tegaknya kaki. "Maafkan saya, tuan Lucherne yang terhormat. Saya tidak akan mengulangi perbuatan buruk itu lagi." "Luce." Memandangi Anastasia yang kini menegakkan kepala. "Panggil aku begitu saja." "Oh, y-ya. Aku akan memanggilmu begitu." "Di mana pun." "Baiklah," berhenti sejenak. "Luce." Ada apa dengan dirinya? Kenapa jantungnya berdebar-debar hanya karena permintaan itu? Sang duke memijat tengkuk belakang lehernya sembari memalingkan wajah. Sedangkan Anastasia berdeham berulang kali dan langsung saja gelas yang ada di meja diteguk isinya. Wajah mereka tampak merah dan nuansa di ruangan itu seakan panas. Padahal di ruangan yang pintunya terbuka menyentuh udara luar, seharusnya dapur itu memiliki hawa yang dingin. Ingin mengajak Anastasia kembali ke kamar namun niatnya terhenti karena gelas yang ada di dalam genggaman itu. Padahal hanya sebuah gelas namun kenapa dia jadi memikirkannya? Bukankah dia seperti anak kecil sekarang? Apakah ini yang dirasakan Flint saat bersama Myla? Anastasia melihat kemana arah sang duke menatap. Dia baru paham kalau gelas yang dia gunakan adalah gelas yang dipakai oleh sang duke tadi. Lantas dia langsung meletakkannya di atas meja. Kenapa dia harus terjebak dalam situasi aneh itu? "S-sebaiknya kita kembali ke kamar!" Ucap Anastasia lebih dulu meninggalkan dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD