Bab 9: Jamuan Makan Malam

1986 Words
Satu meja makan yang mana ukurannya sangat panjang itu dipenuhi oleh berbagai macam sajian makanan. Masih hangat dan mengundang siapa pun berselera untuk menyantapnya. Begitu pula dengan Anastasia yang tidak berhenti memelotot sambil mengikuti langkah kaki sang duke yang membawanya menghampiri kursi. Mulutnya komat-kamit mendambakan makan malam istimewa khas kerajaan tersebut. Hanya mereka bertiga dengan Raja Sargon yang akan duduk di meja makan. Oleh karena itu pasti akan ada banyak makanan yang tersisa. Mereka tidak boleh membuang-buang makanan dan mau tidak mau harus menghabiskan seluruhnya malam itu juga. Sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. "Sebanyak ini apakah kita harus menghabiskannya?" celetuk Anastasia hanya memikirkan bagaimana cara agar semua makanan masuk ke dalam perutnya. Dia berbicara masih dalam keadaan memandangi makanan yang ada di atas meja. Bahkan dia sampai mengurutkan makanan mana yang akan masuk ke dalam perutnya lebih dulu. Anastasia duduk setelah kursi ditarik untuknya. Disusul oleh sang duke yang duduk pula di sebelahnya. Mereka tidak langsung memulai jamuan makan malam karena orang yang mengundang masih belum datang. Mereka harus menunggu Raja Sargon terlebih dahulu. Hanya ada mereka serta para pelayan yang baru saja selesai dengan tugasnya dan meninggalkan ruangan satu persatu. Menyisakan beberapa pelayan saja yang akan berdiri di sudut ruangan. Bersiap-siap jikalau ada tugas lain yang harus mereka lakukan, seperti menyiapkan sesuatu yang dibutuhkan oleh tamu kerajaan. "Kau bisa menghabiskan semuanya jika kau sanggup." Anastasia membusungkan d**a sambil mengusap perutnya. Dia menghirup dan mengembuskan napas panjang berulang kali. Bukan nuansa kegugupan lagi di setiap helaan napasnya. Makanan sudah mengalihkan dunia ketakutannya dari Raja Sargon atau pikiran mengenai pihak kerajaan yang akan menangkapnya. Sang duke yang memperhatikan apa yang dilakukan Anastasia membuatnya sedikit berada dalam kebingungan, "Apa yang kau lakukan?" Anastasia masih menatap lekat pada makanan yang ada di hadapannya, "Aku sedang mengosongkan ruang yang luas agar bisa memakan semuanya," ucapnya tidak tahu malu di hadapan orang yang belum lama dikenalnya. Makanan memang telah mengalihkan dunianya. Pada saat yang bersamaan kedatangan Raja Sargon diumumkan oleh prajurit yang berjaga di luar. Tidak lama setelah itu pintu dibuka lebar menampakkan sosok yang mereka tunggu sejak tadi. Tidak hanya sendiri karena ada seorang lagi yang datang mengikuti. Sang duke mendorong kursinya ke belakang, lalu mengangkat tubuhnya dan memberi hormat. Anastasia yang masih berdiam diri membuatnya harus mengambil tindakan segera. Dengan lembut ditariknya tangan Anastasia agar ikut melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukannya. Mereka tetap berdiri di tempat sampai Raja Sargon duduk di kursi khusus milik sang raja. "Senang melihatmu berada di sini, Duke Lucherne," ujar pria yang datang bersama Raja Sargon. Sang duke menundukkan kepala untuk membalas rasa hormat dari lawan bicaranya, "Lama tidak berjumpa, Pangeran Darius." Pangeran Darius melirik seorang lagi yang juga hadir di dalam perjamuan. Lama dia menatap hingga alisnya mengernyit dalam. Baru menyadari siapa sosok wanita tersebut. Tetapi dia tidak langsung menggumamkan namanya. Dia begitu penasaran kenapa wanita itu bisa ada bersama sang duke. Raja Sargon menyuruh mereka untuk duduk karena jamuan makan malam akan segera dimulai. Tentu saja Pangeran Darius tidak berani menolak perintah Raja Sargon yang mana sekaligus ayahnya. Dia duduk sambil mengurai untaian benang pikiran yang kusut setelah melihat wanita itu. "Putri Haura tidak membiarkan kita larut dalam kesedihan. Dia selalu membawa kebahagiaan di Kerajaan Orchid," lirikan mata yang mengarah pada pasangan berbahagia itu dialihkan kemudian pada Pangeran Darius, "Kau pasti bertanya-tanya kenapa mereka ada bersama kita sekarang." Pangeran Darius menatap lurus ke arah wanita yang ada di samping sang duke sehingga membuat tatapan mereka saling bertemu, "Saya memang bertanya-tanya alasan kehadiran mereka, paduka raja." "Untuk itu aku membawamu datang ke acara jamuan makan malam khusus ini untuk berbagi kebahagiaan yang diberikan Putri Haura," senyum ramah dipamerkan pada kedua pasangan tersebut, "Mereka yang kau lihat di hadapan sekarang adalah sepasang suami istri yang sudah diikat dalam hubungan pernikahan." Semakin melebar kedua mata Pangeran Darius tatkala mendengar pernyataan yang menambah untaian benang kusut pikirannya. Tanpa di sengaja dia memberikan respons terkejut berlebihan sehingga semua mata tertuju padanya kini. Untung saja dia cepat mengambil tindakan menangani situasi yang bisa saja mengundang kecurigaan itu. Dia berusaha bersikap tenang dalam setiap perkataan yang dilontarkan, "Maafkan saya, paduka raja," mengulas senyuman lembut nan tulus di bibir, "Saya hanya terkejut karena seperti yang kita tau kalau Duke Lucherne tidak mudah terpikat dengan pesona wanita mana pun." "Aku juga berpikir demikian," Raja Sargon sedikit mendesis sebelum mengemukakan apa yang ada di dalam pikiran, "Anastasia merupakan wanita yang beruntung karena telah mendapatkan hati seorang pria kebanggaan Kerajaan Orchid." Pangeran Darius memiringkan kepala dan mengernyitkan alisnya kembali. Dia tidak mengenali nama itu dan jauh berbeda dari apa yang diketahuinya, "Anastasia?" "Ya. Nama istri Duke Lucherne adalah Anastasia." *** Jamuan makan malam tidak berjalan sesuai harapan. Anastasia tidak bisa menghabiskan semua makanan lezat yang tampak di hadapannya tadi. Entah mengapa dia yang awalnya tidak ingin berada di kerajaan terlalu lama menjadi tidak suka dengan keputusan sang duke yang menolak tawaran Raja Sargon agar mereka menginap saja dan kembali esok hari. Dia sudah menyusun rencana yang mana diam-diam akan mendatangi meja makan tanpa sepengetahuan orang-orang. Mungkin saja jika menginap, dia bisa menjalankan misinya itu. Seharusnya hal itu bisa tercapai jika mereka tidak pulang malam ini juga. Tidak ada yang mengenalinya dan dia bisa lega. Sehingga fokus perhatiannya pada makanan saja sejak jamuan makan malam berlangsung. Hanya sesekali kepalanya ditegakkan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Dia lebih banyak diam dan tidak bersuara karena sang duke yang menangani semuanya. Menjawab pertanyaan yang jawabannya tidak harus didapatkan darinya, serta mengambilkan makanan untuknya yang mana bisa dibilang porsinya satu banding sepuluh dari jumlah yang tersaji. Padahal sang duke mengatakan padanya bisa menghabiskan semua makanan itu jika dia sanggup. Memang sebelumnya dia sudah diperingatkan untuk tidak melakukan apa-apa karena banyak aturan yang masih belum diketahuinya mengenai formalitas di kerajaan atau lingkungan sejenisnya. Tetapi dia tidak tahu kalau porsi makan juga harus dijadikan aturan. Memangnya orang berstatus harus hidup terikat sampai seperti itu? Keadaan seperti sekarang yang menciptakan aturan berbeda membuatnya teringat akan keluarganya. Di rumahnya makan malam penuh akan tawa meskipun tidak merasakan kemewahan rasa di dalamnya. Terkadang dia juga ikut menjadi anggota yang disuapi oleh ibunya selain kedua adiknya, Hana dan Hani. Sang duke mengamati mata yang berkaca-kaca berpaling menghadap jendela kereta. Wajah berpadu dengan pemandangan gelapnya malam. Pipi disambut oleh tangan yang menjadi bendungan agar air mata tidak terjatuh. Di sudut yang jauh dari jangkauannya itu memercikkan rasa iba dihatinya. Wanita itu adalah seorang pembunuh dan air mata bukan sesuatu yang bisa diperlihatkan. Apalagi diperlihatkan kepada pemangsanya. Apakah itu semacam jurus untuk meluluhkan hatinya? Tetapi dia tidak melakukan ancaman apa pun hari ini. Seharusnya tidak perlu mengeluarkan air mata seperti dia mengancam dengan sebilah pedang. Jadi apa alasan dibalik tangisan itu? Hingga pemikirannya menarik sebuah kesimpulan, "Apa kau sangat lapar sampai harus menangis?" Dia ingat bagaimana ekspresi Anastasia yang sangat tertarik dengan jamuan makan malam tadi. Bahkan sampai bertanya apakah bisa menghabiskan semuanya. Jadi dia berpikir bahwa mungkin saja permasalahannya ada di sana. Anastasia tidak bisa mewujudkan harapan melahap semua sajian makanan. Dia tidak tahu kalau ocehan di meja makan kerajaan tadi mengandung keseriusan di dalamnya. Anastasia tidak langsung menjawab. Dia menghapus air mata yang mengalir dan napasnya dihela kasar sampai menciptakan sebuah suara yang mengalahkan suara langkah kaki kuda. Baru dia menolehkan kepala pada sang duke yang melihatnya dengan tatapan penuh kebingungan. "Ya! Aku memang sangat lapar karena seseorang hanya memberikan aku makan malam seadanya saja ketika di meja makan tersaji banyak makanan yang bisa disentuh." Sang duke mengingat kembali saat jamuan makan malam tadi. Dia memang memberikan makanan sedikit demi sedikit agar porsi makan tidak terlihat kentara dan jika dijumlahkan seluruhnya sudah lebih dari cukup untuk ukuran porsi seorang wanita, bahkan lebih. Seharusnya Anastasia sudah kenyang dengan semua itu. Ada berapa banyak ruang yang dikosongkan? Tubuh Anastasia cukup kurus jika diisi dengan banyak makanan. Bisa-bisa kekenyangan dan tidak sanggup untuk berjalan. Memangnya Anastasia tidak memikirkan hal itu? Kehidupan seperti apa yang dijalani Anastasia sebenarnya di luar sana? Dibandingkan itu kalimat Anastasia tadi telah menyinggung statusnya sebagai seorang duke sekaligus sebagai seorang suami, "Orang-orang bisa salah paham mengenai aku yang tidak bisa menafkahi istriku." Meskipun diucapkan dengan tampang datar, Anastasia harus dibuat merona merah mukanya ketika mendengar kata 'Istri'. Mudah saja bagi sang duke meluncurkan kata yang sangat berat maknanya. Mereka memang sudah menikah, tetapi tanpa cinta dan hanya dengan alasan menyembunyikan identitas saja. Tidak tahukah sang duke kalau mengucapkan kata 'Istri' secara tidak langsung telah mengatakan siapa pemiliknya? Wajar saja mudah untuk diucapkan karena itu hanya sebatas kata-kata, tanpa campur tangan perasaan. Anastasia sempat kehilangan akal sebelum akhirnya tersadar kembali. Seharusnya dia tidak berpikir berlebihan mengenai status ataupun pernikahan yang dirancang hanya untuk kepentingan dan keuntungan masing-masing pihak saja, "Kau bilang kalau aku bisa menghabiskan semua makanan," alihnya langsung menyesal karena sekarang dia seperti kehilangan harga diri. Sejak tadi mempermasalahkan makanan saja seakan dia adalah orang yang sangat kelaparan. "Aku memang berkata kau bisa menghabiskan semuanya, tapi tidak berkata mengizinkanmu untuk menghabiskannya." Semakin merona merah wajah Anastasia merasakan dampak dari perkataannya sendiri. Dia ingin keluar dari kerumitan pembahasan yang semakin menyudutkannya segera, "Terserah kau saja!" Pada akhirnya Anastasia kembali menatap ke arah jendela kereta. Rasanya dia ingin melompat keluar dari ruangan kecil itu karena jengkelnya sudah semakin membesar. Sayangnya hanya menjadi harapan saja karena kereta kuda terus berjalan dan malam semakin larut untuk berada di luar sana seorang diri. *** "Sialan!" Makinya menendang kursi meja rias yang biasa dipakai oleh Putri Haura. Tangannya mengepal kuat dan hampir dilayangkan ke cermin kalau tidak ditahannya agar tidak membuat keributan yang mana hanya akan mendatangkan tanda tanya besar bagi penghuni istana kerajaan. Pangeran Darius tidak boleh emosional dalam keadaan sekarang. Dia harus memperlihatkan kesendiriannya yang menyedihkan atas kematian Putri Haura, istrinya yang selalu disanjung oleh setiap orang. Di samping itu rencananya tidak boleh gagal hanya karena kerikil kecil. Namun, bagaimana bisa kerikil kecil itu berada di hadapannya tadi? Pangeran Darius berteriak meluapkan segala kekacauan. Ditambah nama yang terdengar berbeda dari yang seharusnya semakin membuat pikirannya kacau. Dia tahu betul kalau wanita itu pasti Alicia, tetapi kenapa nama yang didengarnya jelas berbeda? Apakah wanita itu kembar? Tidak mungkin! Dari informasi yang didapatkan, Alicia hanya hidup bersama seorang ibu dan dua orang adik. Dia juga sudah menelusuri secara menyeluruh dan informasi itu benar adanya. Hanya ada Hana dan Hani yang terlahir kembar dalam pernikahan pasangan Liana dan Radbert. "Tuan, apa semua baik-baik saja?" Di luar sana tanpa diketahui Pangeran Darius, para prajurit beserta pelayan kerajaan yang tidak sengaja mendengar teriakan yang kencang berkumpul di depan pintu. Mereka bersimpatik atas kematian Putri Haura yang mana pastinya sangat memilukan bagi Pangeran Darius. Kedua pasangan itu dikenal saling mencintai seperti dua ekor angsa. Romantis sampai membuat mereka yang melihat iri dan mendambakan memiliki pasangan yang sama. "Seharusnya raja tidak membawa pasangan itu ke hadapan Pangeran Darius yang masih sedang berkabung. Entah apa yang ada di dalam pikiran Duke Lucherne sampai membawa wanita yang dinikahi ke dalam kerajaan," gerutu salah seorang pelayan. Pelayan lainnya langsung menghardik, "Hush! Kau sedang mengkritik raja sekarang. Sebaiknya kau berhenti atau bisa-bisa nanti kau akan dikenai hukuman." Perdebatan terhenti ketika pintu kamar terbuka menampakkan sosok yang mereka khawatirkan akan bagaimana kondisinya di dalam sana. Dari apa yang mereka lihat Pangeran Darius tampak lemas. Senyuman itu juga tidak mengandung arti kata "Semangat." "Semuanya baik-baik saja. Bisakah kalian meninggalkan area kamar ini? Aku membutuhkan waktu untuk sendiri," ucap Pangeran Darius memperlihatkan bagaimana raut putus asa sedang menggelimanginya saat ini. Mereka yang berada di luar pintu saling melemparkan pandangan sebelum prajurit yang mengetuk pintu tadi mengambil inisiatif menanggapi permintaan pangeran Darius, "Kami akan pindah ke area lain. Pangeran bisa memanggil kami kapan saja saat dibutuhkan." Pangeran Darius menganggukkan kepala dengan pelan, "Terima kasih," senyum lemahnya mengantarkan semua prajurit dan pelayan yang berkumpul undur diri. Setelah tidak tampak lagi punggung-punggung itu, baru pintu kamar ditutup kembali. Raut wajahnya langsung berubah drastis setelahnya. Otaknya melanjutkan permasalahan apa yang mengacaukannya sedaritadi. Lama merenung sampai senyuman penuh makna terukir jelas di wajah Pangeran Darius. Dia tergelak memikirkan kemungkinan yang ditemukan. Dalam setiap benang pikiran yang ada di benaknya mengalir pada kata pernikahan. Begitu banyak kecurigaan yang mendukung pemikirannya saat ini. Anastasia sangat mirip dengan Alicia, pembunuh Putri Haura yang tidak diketahui keberadaannya kini. ang duke yang tidak pernah menerima wanita dari kalangan mana pun, tiba-tiba membawa seorang wanita yang sudah dinikahi tanpa sepengetahuan Kerajaan Orchid. Bukankan itu sesuatu yang janggal untuk disebut sebagai sebuah kebetulan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD