Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai ke Distrik Edelweiss. Anastasia sudah berusaha melawan kantuk sekaligus melawan hawa dingin yang menerpa pada malam hari. Sejak tadi seluruh jemari kakinya dingin dan minta diselimuti oleh kehangatan. Batas pertahanannya sudah lewat untuk melawan dingin yang semakin menusuk sampai ke tulang.
Dia melirik sang duke yang mana sudah memejamkan mata. Dalam posisi duduk itu sang duke tidur sambil melipatkan tangan ke d**a, bersandar dengan nyaman di kursi kereta yang empuk, dan kepala itu sedikit menengadah ke atas.
Selagi sang duke tidur, sampai jemarinya hangat, dia harus bersikap tidak sopan sebentar saja. Kakinya dinaikkan ke kursi dan dilipat ke atas sampai bisa masuk ke dalam gaun. Ujung-ujung gaunnya diselipkan ke sela-sela yang terbuka agar tidak ada udara yang melewati. Sementara itu jemari tangannya dijepitkan kembali ke bawah ketiak.
Akhirnya dia bisa menghangatkan semua jemarinya.
Mereka memang berada di dalam kereta kuda sekarang namun kehangatan ruang kecil itu dikalahkan oleh udara yang masuk dari celah ventilasi kereta. Meniupkan hawa dingin sampai ke kulit yang hanya dibalut pakaian tanpa adanya fungsi lebih untuk menghangatkan.
Pagi tadi sangat cerah dan pakaian yang mereka kenakan sengaja tidak tebal. Sayang sekali rencana mereka berubah haluan sehingga tidak ada persiapan untuk pulang di malam hari. Untuk itu mereka harus merasakan hawa dingin hingga tiba di Distrik Edelweiss nanti.
Anastasia memosisikan tubuhnya di kedua sisi yang ada di sudut kereta. Mencondongkan kepalanya ke kiri sampai menempel ke satu sisi. Seperti itu dia berharap tidak akan jatuh jika sewaktu-waktu terlelap nanti.
Usahanya telah melampaui batas sebelum dia akhirnya memejamkan mata. Tanpa sadar Anastasia telah melupakan perihal jemari yang tadi hanya ingin dihangatkan sebentar. Tidak bisa berpikir jernih lagi ketika kantuk sudah mendominasi sehingga yang dilakukannya adalah membiarkan lelap datang menghampiri.
Sang duke tidak benar-benar tidur sebenarnya. Hanya menutup mata agar bisa beristirahat. Dia bukan tipe orang yang bisa tidur di sembarangan tempat. Baginya yang bisa beristirahat dalam lingkup kata nyaman dan tenang, sangat mengganggu ketika dalam kondisi ingin beristirahat harus mendengar suara langkah kaki kuda yang mana menggema selama perjalanan pulang. Apalagi jalan yang dilalui tidak selalu rata. Ada banyak berbatuan yang membuat kereta kuda tidak berjalan dengan stabil.
Anastasia di seberang sana dilirik dan apa yang dilihat adalah wanita itu tidur terangguk-angguk. Hampir terjatuh ke sisi kanan yang tidak memiliki topangan apa pun. Di samping itu Anastasia seperti sedang mencari kehangatan di balik tubuh sendiri.
Kesalahannya yang telah menerima tawaran Raja Sargon sampai membuat mereka harus pulang larut malam. Biar bagaimanapun Anastasia adalah seorang wanita yang lemah akan pertahanan. Berbanding terbalik dengannya yang tidak gentar pada hawa dingin.
Sang duke berpindah duduk ke sisi samping Anastasia, lalu mengangkat tubuh itu masuk ke dalam pelukan. Dia menjadikan dadanya sebagai sandaran agar Anastasia bisa tidur dengan nyaman. Posisi mereka sudah seperti seorang ayah yang menggendong putrinya dalam pangkuan.
Anastasia tidak merasakan perpindahan itu tampaknya dan semakin menempelkan diri pada dinding sandaran. Tidurnya semakin lelap saja setelah mendapatkan kehangatan dari sana. Berusaha mengambil seluruh kehangatan yang bisa diserapnya.
***
"Ibu, di mana Eli? Kenapa masih tidak pulang?" Hana yang berbicara, sedangkan Hani ikut menghampiri dengan ekspresi wajah yang sama dengan kakaknya itu. Memelas seperti meminta mainan baru pada sang ibu.
Liana terdiam memikirkan jawaban apa lagi yang harus dia berikan. Beberapa hari ini ketika anak-anaknya bertanya mengenai Alicia, dia terpaksa berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Alicia masuk penjara atau kini keberadaannya tidak diketahui. Berita itu pasti akan mengundang kesedihan jika mengetahui Alicia tidak tahu kapan akan pulang, bahkan mungkin tidak akan pulang.
"Aku merindukan Eli," akhirnya Hani angkat suara dan berbicara dengan suara bergetar. Mengucek mata seperti akan menangis. Bukan hanya Hani saja karena kini Hana matanya juga berkaca-kaca.
Mereka kembar identik dan sulit untuk dibedakan. Bagaimana perasaan saudara kembarnya, mereka mengetahui akan hal itu. Bila salah satu menangis, yang lain cenderung akan menangis pula seakan mereka selalu berbagi rasa di momen yang sama.
"Bagaimana kalau ibu bacakan dongeng untuk kalian?" alihnya menenangkan tangisan kedua anaknya yang sebentar lagi akan pecah.
Liana menuntun kedua anaknya naik ke tempat tidur. Kepolosan anak kecil yang mana bisa dialihkan begitu mudahnya ketika disuguhkan apa yang disukai membuat rencananya berhasil. Hana dan Hani memang menyukai dongeng sebagai pengantar tidur.
Sebelum membacakan dongeng, dia menyelimuti Hana dan Hani. Disusul dengan mengambil sebuah buku yang ada di dalam lemari kayu. Buku yang tidak lagi bagus tampilannya itu dibuka dan mulai dibaca.
"Kami sudah mendengar cerita itu berulang kali," cegah Hana baru beberapa kalimat keluar dari mulut ibunya. Dia duduk dan menggapai buku tersebut, "Eli sudah tidak lagi membacakan cerita ini untuk kami," buku ditutup perlahan.
"Eli akan menceritakan sesuatu yang baru tanpa buku," tambah Hani ikut bangkit menyusul Hana.
Liana semakin bingung bagaimana harus bersikap. Selama ini dia bekerja di lahan milik majikannya, sebagai wanita petani. Usai bekerja biasanya dia akan menemani kedua anak kembarnya. Hingga nanti malam hari saat Alicia pulang baru dia bisa beristirahat.
Dia digantikan anak sulungnya yang akan menemani Hana dan Hani pada malam hari, termasuk menceritakan dongeng sebelum tidur. Liana tidak tahu jika dongeng yang sangat disukai sudah membuat kedua anaknya bosan. Padahal mereka sering meminta untuk dibacakan berulang kali.
"Baiklah. Ibu akan menceritakan sebuah dongeng yang belum pernah kalian dengar dari Eli," bangkit, lalu meletakkan buku yang dipegang ke atas kursi yang diduduki sejak tadi.
"Benarkah?!" serempak mereka bersuara penuh semangat.
Liana menyusup dan memosisikan tubuhnya di tengah keberadaan Hana dan Hani. Kemudian menuntun putri-putri kecilnya agar segera rebah bersamanya, "Asalkan kalian berjanji untuk terlelap karena ini sudah malam dan kita perlu beristirahat."
"Baiklah!!" kembali mereka menyuarakan perkataan dengan nada penuh semangat secara serempak.
***
Prajurit yang mendapatkan tugas jaga malam akhirnya bisa beristirahat sesudah lepas dari semakin benderangnya langit. Mereka digantikan dengan prajurit yang bertugas pagi hari. Anehnya para prajurit sedikit kaku dari biasanya saat harus bertemu pandang dengan kereta kuda yang masih terparkir di depan Morning Glory.
Kereta kuda itu adalah kendaraan yang membawa sang duke beserta istri ke istana Kerajaan Orchid. Tadi malam setelah mengetahui kedatangan sang duke, prajurit langsung menyambut. Sayangnya tidak ada pergerakan dari dalam sana. Kereta kuda begitu senyap seperti tidak berpenghuni.
Mereka yang memanggil sang duke tidak mendapatkan respons apa pun. Takut terjadi apa-apa, salah satu dari mereka harus mengintip ke dalam kereta dan apa yang didapatkan adalah orang yang mereka hormati tengah tertidur sambil memangku sang istri.
Hal itu tentu adalah sesuatu yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Prajurit tersebut segera membalikkan badan, lalu melarang siapa saja untuk mendekati kereta kuda sampai sang duke bangun. Peringatan itu merupakan peringatan keras bagi mereka dan wajib dijalankan tanpa bantahan.
Sampai sekarang pun tidak ada yang berani mengusik kereta kuda tersebut. Memandangi saja adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Mereka lebih memilih beranggapan bahwa kereta kuda tersebut hanya sebuah pajangan saja.
Beberapa saat kemudian Flint datang setelah menyelesaikan tugasnya yang mana diberikan oleh sang duke. Dia diminta untuk pergi ke Distrik Syringa untuk mencari tahu informasi lebih mengenai Anastasia. Pencarian bermula dari restoran yang bernama Réserve. Sayangnya tidak ada informasi penting apa pun yang didapatkannya dari sana.
Flint menghentikan langkahnya saat menyadari kalau sebuah kereta kuda tengah terparkir. Ada ruangan khusus untuk meletakkan kereta kuda. Seharusnya kereta kuda ditempatkan di sana, bukan di depan Morning Glory.
Prajurit yang berjaga paham akan raut wajah kebingungan itu. Salah seorang dari mereka segera menghampiri dengan langkah lambat karena Flint berada di sebelah kereta kuda sekarang. Tidak ingin sang duke terbangun nantinya hanya karena pergerakannya yang sembarangan.
Langsung saja alasan kenapa kereta kuda sengaja diparkir di depan Morning Glory dibisikkan. Flint yang mendengar hanya bisa menepuk jidat karena menurutnya tidak ada salahnya membangunkan sang duke. Dia memang takut pada sang duke yang mana bisa saja marah diganggu waktu istirahatnya namun apa yang terjadi sekarang jelas berbeda karena sang duke baru kembali dan membangunkan untuk mengatakan telah sampai bukan sesuatu yang bisa membuat sang duke marah.
Dibandingkan itu ada hal lain yang membuatnya terpana sejak tadi sebenarnya, "Apa kau sudah memastikan kalau tuan benar-benar tertidur?"
Prajurit itu mengangguk yakin, kemudian suaranya dipelankan setengah berbisik, "Ya. Saya melihat Duke Lucherne tidur dengan memangku Nyonya Anastasia."
Sang duke yang dikenal Flint tidak pernah bisa terlelap di dalam kereta kuda. Apa yang terjadi sekarang membalikkan anggapan itu. Berbagai suara bukan sesuatu yang nyaman untuk didengar ketika beristirahat. Bahkan sang duke sengaja mendekorasi ulang ruangan paling belakang menjadi kamar, yang mana dulu ruangan itu merupakan bar di Morning Glory. Prajurit yang seharusnya berjaga di luar kamar sang duke pun dibuat menjauh jaraknya dari kamar. Begitu pula tempat itu adalah tempat yang paling sepi di antara ruangan lain sebelum didekorasi menjadi kamar.
Sebaliknya para prajurit yang tidak berani membangunkan sang duke, justru Flint tanpa diliputi kekhawatiran mengetuk pintu jendela kereta. Dia memanggil sang duke sambil mengatakan kalau sekarang sudah pagi dan sudah waktunya sang duke kembali ke kursi sebagai pemimpin Distrik Edelweiss.
Tidak lama kemudian pintu kereta terbuka menampakkan sosok Anastasia yang keluar lebih dulu. Berjalan cepat layaknya seseorang yang memerlukan kamar mandi sesegera mungkin. Disusul oleh sang duke yang keluar dari dalam kereta setelahnya. Sang duke tersenyum simpul sebelum akhirnya sedikit berdeham mengalihkan perhatian semua mata dari apa yang dilihat barusan.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu, Flint?" ucap sang duke sambil berjalan memasuki kediaman.
Langkah itu diiringi oleh Flint, "Saya tidak mendapatkan informasi penting apa pun mengenai nyonya Anastasia, Tuan. Tapi," menyipitkan mata sembari memikirkan kembali hal lain yang didapatkannya dari penyamaran kemarin, "Saya menemukan satu orang pelanggan Réserve sedang bertransaksi tanaman Hull Gill."
Tanaman Hull Gill adalah obat menggembirakan yang mana menjadi benda terlarang untuk diedarkan. Lebih dikenal dengan nama Hull Gill, tanaman terlarang tersebut berasal dari serbuk sari bunga Opium. Fungsinya sebagai obat tidur atau obat penghilang rasa sakit saat dihirup.
"Kriminalitas di Distrik Syringa bukan sesuatu yang bisa kita campuri, Flint. Duke Charles yang akan menanganinya. Kita hanya perlu semua hal yang berkaitan tentang Alicia saja."
"Baik, Tuan. Akan selalu saya ingat," ikut berhenti melangkah saat sang duke telah sampai di depan kamar, "Ngomong-ngomong," sangat senang sampai tidak bisa menahan senyum lebarnya, "Tuan akhirnya bisa tidur di dalam kereta kuda."
Sebelah bibir sang duke sedikit berkedut, "Perlu ditekankan kalau hal itu bukan sesuatu yang bisa kau campuri juga," menganggap bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan, sang duke membalikkan badan sebelum akhirnya memasuki ruangan.
Pintu kamar segera ditutup oleh Flint karena tempat itu sudah menjadi privasi pemimpin Distrik Edelweiss. Tidak ada yang boleh masuk kecuali seseorang yang berkepentingan. Flint yang telah selesai dengan pembicaraannya, maka dari itu tidak lagi mengikuti sang duke.
Sang duke melepaskan seragam yang dikenakan satu persatu. Tubuhnya baru terasa ringan setelah seragam yang membalut lepas sepenuhnya. Menyisakan pakaian tipis berwarna putih saja melekat di tubuhnya.
Ucapan Flint yang mengatakan kalau dia bisa tidur di kereta kuda mengingatkannya pada sosok ibunya. Semenjak ibunya tiada, dia kesulitan untuk tidur. Dia hanya bisa memejamkan mata di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian.
Saat perjalanan pulang entah dari kapan dia sudah memejamkan mata. Tanpa sadar terlelap di tempat yang membuat dia sulit tidur seharusnya. Sampai waktu bangun baru tersadar kalau selama perjalanan dia terlelap. Benar-benar terlelap. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mungkinkah penyebabnya adalah Anastasia?
"Ba-balikkan badanmu dan jangan lihat kemari!" seru Anastasia.
Sang duke hendak menolehkan kepala ke asal suara namun perintah yang sama diucapkan kembali. Melarangnya untuk tidak menoleh ke asal suara. Dia membalikkan badan tanpa mendebat. Posisi berdirinya sekarang menampakkan sisi kanan wajahnya, jadi dia membalikkan badan dengan menampakkan sisi kiri wajahnya.
"Balikkan badanmu!" ucapnya lagi sambil memegang erat pakaian yang dijadikan sebagai penutup tubuh yang basah.
Tadi usai mandi, Anastasia mencari handuk namun tidak ada. Sebagai gantinya pakaian yang dikenakan saat pergi ke istana Kerajaan Orchid digunakan untuk menutupi tubuh bagian depan. Setelah itu dia berencana mencari pakaian di dalam lemari dan tidak disangka sang duke juga ada di dalam kamar.
"Aku sudah membalikkan badan dan sekarang kau memintaku untuk membalikkan badan lagi. Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
Nada itu seperti sebuah ancaman yang mendorong Anastasia cepat meluruskan maksudnya yang mana tidak untuk mempermainkan sang duke, "Punggungi aku!"
Sekali lagi sang duke memilih untuk mendengarkan. Dia memunggungi asal suara yang tidak diketahui apa tujuannya sampai dengan lantang memerintahkan sesuatu yang tidak masuk akal padanya. Lebih bodohnya lagi dia dengan patuh menuruti perintah tersebut.
Anastasia perlahan mempersingkat jarak di antara mereka. Dia menghampiri ranjang dengan maksud mengambil sesuatu yang lebih lebar agar bisa menutupi seluruh tubuhnya yaitu selimut. Setidaknya dia bisa bebas berjalan ke arah lemari yang mana berada di hadapan sang duke dengan selimut itu nantinya tanpa memperlihatkan sedikit pun bagian tubuhnya yang kini terbuka sepenuhnya pada bagian belakang.
Sayangnya ketika sedikit lagi hampir menggapai selimut, sang duke tiba-tiba membalikkan badan. Anastasia yang sangat terkejut secepat mungkin berjongkok dan mendesak diri ke sisi ranjang. Dia memeluk erat pakaian yang masih menjadi penutup tubuh satu-satunya.