Sang duke yang sudah sampai di depan kamar inapnya, menarik gagang pintu perlahan. Saat pintu terbuka tampak Anastasia sedang duduk melamun di tepi jendela. Sesuai perkataan ternyata Anastasia tidak melarikan diri seperti biasanya.
Menyadari sang duke datang, Anastasia menurunkan kedua kaki yang menekuk di atas kursi. Dia memperhatikan sang duke yang melangkah masuk, menutup pintu, dan duduk di atas ranjang sembari membuka tudung kepala. Disusul oleh jubah yang turut dilepaskan setelahnya. Ke mana sang duke selama dia pulang ke rumah? Bahkan dia lebih dulu kembali ke penginapan.
"Kau sudah menyelesaikan semua urusanmu?"
"Sudah." Membuang muka setelah menjawab karena berpikir ke mana perginya sang duke bukanlah urusannya.
Sang duke menyisir rambutnya dengan jemari, lalu menopang tubuhnya yang sedikit condong ke belakang dengan kedua tangan. Dia mengangkat dagunya sambil melamun memikirkan bagaimana rencana selanjutnya untuk menguak kasus kematian putri Haura. Kini dia sudah mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan Anastasia meskipun masih belum seluruhnya. Sebenarnya bisa saja dia menambah informasi itu dengan bertanya kepada Anastasia secara langsung, akan tetapi seorang pembunuh apakah patut dipercaya?
Kepalanya diputar menghadap Anastasia kembali. Dalam rentang dua bulan mereka bersama, tidak ada tanda-tanda Anastasia akan kabur. Bahkan tadi secara terang-terangan dia melepaskan namun Anastasia tetap kembali dengan sendirinya. Bukankah itu berarti kemajuan pesat bagi seorang pembunuh yang seharusnya lebih memilih untuk kabur dibandingkan kembali ke sisi pemangsanya?
Jika memang informasi resmi sudah dimanipulasi, keduanya tidak ada yang bisa dipercaya, bukan? Tetapi setidaknya tadi Anastasia tidak berbohong mengenai melarikan diri. Menandakan kalau Anastasia masih bisa dipercaya terlepas dari status pembunuh yang disandang. Untuk lebih meyakinkan dirinya lagi, haruskah dia menguji Anastasia?
Sang duke menghampiri di mana Anastasia duduk dan seketika mata mereka saling bertemu. Menelisik dengan pikiran masing-masing, yang satu ingin menguji dan yang satunya lagi merasa bahaya sedang mengancamnya. Sang duke memerangkap dengan meletakkan tangannya di kedua sisi kursi yang Anastasia sandari.
"Siapa orang yang kau temui?"
"A-apa urusanmu dengan itu?" Menggeser-geser tubuhnya mencari jalan keluar agar lolos dari perangkap yang seakan mendorongnya untuk tetap tinggal. Satu-satunya jalan adalah di bawah kursi. Dia kemudian merosotkan tubuhnya namun dengan cepat ditutup oleh kaki sang duke. Seketika dia menekuk kaki ke atas supaya tidak menyentuh kaki sang duke. "Apa maumu?!" Nadanya meninggi dan langsung membuang muka ke sisi lain. Jarak mereka terlalu dekat untuk berbicara.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mengatakan padaku dengan jelas siapa orang yang kau temui." Masih tidak ada jawaban dari Anastasia membuat sang duke harus mendesaknya lebih. Dia mengecup leher yang ditunjukkan dengan bebas itu sehingga membuat mata mereka bertemu kembali. "Jawab aku sebelum semuanya terlambat."
Apa maksudnya dengan 'Sebelum semuanya terlambat'? Apakah sang duke akan melakukan lebih dari sekedar kecupan di leher? Tidak! Segera Anastasia menarik seluruh kesadarannya dan menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya jauh-jauh. Di saat ancaman berada di depan mata bagaimana bisa dia memikirkan hal yang seperti itu? Sudah pasti maksud sang duke adalah ingin membunuhnya.
Terlebih dari itu apa yang harus dilakukannya sekarang? Haruskah dia mengaku agar tidak dibunuh? Tetapi bagaimana nasib keluarganya nanti kalau sang duke tau bahwa dia memiliki keluarga? Apalagi mereka ada di distrik Syringa yang mana sewaktu-waktu sang duke bisa menyakiti keluarganya.
"A-aku bertemu kekasihku." Jawabnya lantang berusaha meyakinkan sembari mengamati perubahan ekspresi sang duke dan berharap kebohongannya tidak ketahuan.
Alih-alih kecewa dengan jawaban yang didapatkannya, sang duke tersenyum remeh tidak habis pikir jika Anastasia mencari jawaban yang mana bisa ditebak jelas kebohongannya. Apalagi ditambah dengan keyakinan yang seakan dibuat-buat itu. Dari sudut pandangnya Anastasia memang wanita yang tidak pandai berbohong. Bisakah itu mencukupi jumlah persentase kepercayaannya pada Anastasia?
Sang duke menjauhkan tangannya dari kursi dan tidak lagi memerangkap Anastasia. Persentase itu masih belum cukup baginya dan dia membutuhkan lebih. Seketika raut wajahnya berubah marah dan di hadapan Anastasia pedang ditariknya tanpa ragu sedikit pun. Dia memperlihatkan bagaimana eratnya gagang pedang dipegangnya.
"Kalau begitu aku akan menghukum pria yang berani mendekati istri seorang duke. Menebas kepalanya dan menghancurkannya berkeping-keping. Menjadikannya sebagai makanan buaya di sungai hingga buaya-buaya buas itu tidak lagi lapar." Mengertakkan gigi kuat-kuat sehingga bisa dilihat bagaimana marahnya dia kini.
Anastasia yang melihat aura kengerian sang duke langsung gemetar. Bayangan yang dipaparkan mengenai bagaimana cara sang duke menghukum orang yang tidak bersalah membuatnya ketakutan. Dia tidak bisa membiarkan hukuman brutal itu menimpa ibunya dan juga kedua adiknya.
Melihat sang duke sudah melangkah pergi, Anastasia segera bergerak. Dia langsung berlari menghampiri dan merosot jatuh memeluk kaki sang duke agar tidak lagi melangkah lebih jauh. "Aku mohon jangan sakiti keluargaku." Ucapnya mulai menitikkan air mata. "Ibu dan kedua adikku tidak bersalah. Hukum saja aku jika kau mau, tapi aku mohon jangan sakiti mereka." Dia melepaskan pelukan di kaki itu dan beralih mengusap air mata yang mengalir di wajah.
Sang duke membalikkan tubuhnya dan di bawah sana dia bisa melihat bagaimana Anastasia duduk sambil terisak. Dia turun menekuk satu lutunya dan meletakkan pedangnya di lantai. Meskipun awalnya Anastasia berbohong padanya namun tidak bertahan lama. Apakah dia harus mempercayai Anastasia mulai dari sekarang?
"Jadi kau benar-benar tidak memiliki kekasih?"
Anastasia berhenti menangis, tetapi masih terisak. Ya, benar. Mereka seharusnya membahas tentang kekasih bohongannya, bukan keluarganya. Seharusnya tidak apa-apa jika sang duke marah karena orang yang akan dihukum juga tidak ada. Dia terlalu sibuk membayangkan betapa ngerinya hukuman sang duke jika menimpa keluarganya hingga tanpa sadar mengakui kebohongannya.
Anastasia langsung bangkit dan berdiri menatap sang duke penuh dengan tatapan tidak suka. "Kau sangat keterlaluan! Bagaimana bisa pemimpin sepertimu menjadikan pedang sebagai sebuah ancaman? Tidakkah kau memiliki hati nurani?!"
Sang duke mengambil pedang di lantai dan bangkit pula, lalu meletakkan pedangnya kembali ke dalam sarung. "Setidaknya kau membenarkan kalau kau memang memiliki keluarga." Melepaskan ikatan yang menggantung di pinggangnya untuk kemudian diletakkan di atas meja.
Anastasia mengernyitkan alis dalam-dalam dan berbagai pertanyaan muncul di dalam benaknya. "Membenarkan? Apa maksudmu dengan itu?" Matanya dibuka lebar-lebar ketika menyadari arti dari ucapan sang duke. "Kau mengikutiku?!" Melihat sang duke yang hanya menaikkan kedua bahu, dia semakin marah. "Bukankah kita sudah sepakat kalau kau tidak akan mengikutiku?!"
"Aku hanya memastikan kalau kau bertemu keluargamu dengan selamat."
Selamat apanya? Justru kehadiran sang duke yang paling dihindari. Orang yang tidak segan menghukum pihak lemah seperti mereka. Kini bukan hanya dia saja yang berada dalam bahaya, keluarganya juga. Haruskah dia meminta tambahan waktu di distrik Syringa agar bisa menyembunyikan keluarganya? Sungguh dia tidak bisa memikirkan caranya. Percuma saja. Sang duke mungkin akan mengikutinya kembali tanpa sepengetahuan.
Membaca kegelisahan di raut wajah Anastasia, sang duke jadi menebak-nebak penyebabnya. Kenapa dia tidak boleh bertemu dengan keluarga Anastasia? Apakah Anastasia takut kalau dia menyakiti mereka? Seburuk itukah dia menjadi seorang pemimpin? Menghukum pihak lemah tanpa dasar yang belum jelas kebenarannya.
"Anastasia," meletakkan kedua belah tangannya di pinggang. "Aku bukan pria buruk yang hobinya menghukum ketidakbersalahan seseorang. Jika ada orang yang harus aku hukum bukan keluargamu karena mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kasus kematian putri Haura, tapi kau yang paling memiliki kemungkinan besar mendapatkan predikat seorang pembunuh."
Apakah Anastasia harus merasa senang atau sedih dengan ucapan sang duke? Dia tentu senang karena sang duke tidak akan membunuh keluarganya namun di sisi lain dia harus menyambut kematiannya secara bersamaan. Sungguh ironi meski pernikahan ditujukan untuk kerja sama, dia harus menerima kematian itu dari tangan suaminya sendiri.
***
Suara pecahan kaca membumbung tinggi di Réserve. Meja dan kursi dilempar dengan kuat ke lantai. Tampak Réserve sangat berantakan isinya semua. Orang yang membuat kekacauan itu adalah Goddard.
Para pekerja yang tidak berani menghalangi keinginan Goddard, dipaksa oleh pemilik restoran untuk melawan sehingga hanya ada kekalahan akibat perlawanan mereka. Kini semua pekerja yang tersisa harus bersimpuh di lantai dan berharap keajaiban datang.
"Apakah kalian tetap tidak akan memberitahuku di mana tempat tinggal pria tadi?!" Goddard memperhatikan wajah-wajah yang semuanya menunduk pasrah itu hingga berhenti di salah satu pelayan wanita yang masih dengan berani menatapnya.
"Kami sudah katakan kalau pria itu hanya sekali datang kemari dan tidak ada yang mengenali.." Ruth berhenti bicara ketika Goddard meludahi lantai yang ada di depannya.
Goddard memerintahkan anak buahnya untuk membawa Ruth ke hadapannya dan mereka kini saling berhadapan. Di kedua sisi Ruth dipegangi erat agar tidak bisa melawan. Tatapan Ruth masih saja tidak suka dengan kehadiran Goddard di tengah-tengah Réserve.
Goddard mencengkeram dagu Ruth dengan kuat. "Bukankah kau pelayan wanita yang tidak tahu malu tadi?"
Siapa yang dikatakannya tidak tahu malu? Bukankah predikat itu lebih pantas ditujukan pada orang yang bebicara padanya sekarang? Seorang pria datang ke Réserve bukan untuk menuntaskan dahaga, melainkan untuk menuntaskan hasratnya pada seorang wanita. Tidak tahu malukah dia sampai harus memperlakukan wanita sangat buruk di depan semua orang?
Ruth meludahi wajah Goddard tanpa peduli konsekuensi yang akan diterimanya. Lantas Goddard yang diludahi seketika murka telah direndahkan. Dia menampar Ruth dengan keras hingga jatuh tersungkur. Setelah itu dia menghampiri dan menjambak rambut Ruth tanpa menunggu yang kesakitan meredakan rasa sakit akibat terjatuh atau bangkit terlebih dahulu.
"Wanita kurang ajar sepertimu harus diberi pelajaran." Goddard melirik anak buahnya tanpa melepaskan cengkeraman di rambut Ruth. "Keluarkan mereka semua dan sisakan wanita ini."
Apa yang Goddard rencanakan kali ini? Ruth membeliak dan berusaha melepaskan tangan Goddard dari rambutnya namun hasilnya nihil karena bagaimanapun dia berusaha, rambutnya ditarik semakin kuat dan membuatnya kesakitan. Permintaan tolongnya juga tidak digubris oleh siapa pun.
Kini hanya tinggal Goddard dan anak buahnya beserta wanita yang akan diberinya pelajaran. Cengkeraman di rambut itu lepas seiring digantikan dengan pria yang memegangi Ruth. Ruth dibaringkan di lantai dengan kedua tangan dan kedua kaki dipegang erat.
"Salahmu karena telah membuat Goddard marah." Tertawa lebar sembari membuka bajunya perlahan dan membuangnya ke lantai. "Kalian bisa menikmatinya bergiliran setelah aku."
"Tidak! Aku mohon jangan lakukan itu padaku." Ucapnya bergetar oleh tangisan yang semakin membesar. Dia tidak digubris dan pakaiannya ditarik kasar hingga robek. "Aku akan mengatakannya!" Ucapnya tidak tahan lagi diperlakukan dengan buruk. Sepertinya dia berhasil membuat Goddard menghentikan niatnya. "Pria itu ada di L'auberge."
Tadi sebenarnya Ruth ingin menanyakan sesuatu pada penolongnya. Apakah tuan penolongnya itu mengenal Alicia atau tidak karena sekian banyak orang yang mencari tau keberadaan Alicia, tidak ada yang bertanya mengenai kekasih temannya itu. Sangat aneh baginya. Saat dia berbalik arah tidak sengaja melihat penolongnya memasuki sebuah penginapan bernama L'auberge.
Dia yang sudah terlambat, jika menyusul tuan penolongnya hanya untuk menanyakan hal itu rasanya akan membuang waktu. Oleh karena itu Ruth memutuskan untuk mengabaikannya saja. Tetapi sayang sekali dia harus memberitahukannya pada Goddard agar perlakuan buruk itu berhenti diterimanya.
Goddard menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Ruth. Dia memungut pakaiannya dan menggantungkannya di bahu. Kemudian dia berjongkok di samping Ruth yang kini berusaha menutupi bagian bahu yang kainnya sudah koyak.
Dengan jemarinya dia menghadapkan wajah Ruth untuk melihat ke arahnya. "Kali ini kau lolos lagi, tapi lain kali ketika kita bertemu aku tidak akan mengampunimu dan kau harus ingat kalau urusan kau yang meludahiku belum selesai." Melempar dagu Ruth ke sisi lain, kemudian dia bangkit dan pergi bersama anak buahnya keluar dari Réserve.
Setelah Goddard pergi baru para pelayan berhamburan masuk ke dalam Réserve. Melihat pemandangan Ruth yang berantakan dan pakaian yang telah koyak, membuat mereka langsung terdiam. Mereka memandang iba pada Ruth dan mengundang para pelayan wanita datang menghampiri. Membantu Ruth untuk menutupi bagian tubuh yang kelihatan itu.
Ruth tau kalau mereka semua di bawah kekuatan Goddard namun tetap saja dia kecewa dengan semua penghuni Réserve. Apalagi pemilik restoran yang kini bisa bernapas lega dan tidak menghiraukannya. Lebih mirisnya lagi pemilik restoran menangisi Réserve yang telah hancur, bukan pelayan wanita yang nyaris dinodai.
Ruth menolak uluran tangan yang berusaha menutupi tubuhnya dan dia menghampiri pemilik restoran yang bernama Boby itu. Dia melayangkan tamparan keras ke wajah yang sudah lama ingin diberinya pelajaran. Mengeksploitasi para pekerja dan kini tidak bertanggung jawab dengan kejadian yang menimpa pekerjanya.
"Apa yang kau lakukan?!" Boby memandang Ruth kebingungan sembari menyentuhkan tangannya ke pipi. Menenangkan rasa sakit melalui usapan. Dia bahkan tidak berhenti meringis kesakitan untuk sebuah tamparan keras seorang wanita.
Ruth melipat kedua tangannya di d**a. "Aku mengundurkan diri karena tempat ini tidak layak untuk mendapatkan pekerja sepertiku."
Boby memelotot dan dia sangat geram kini. "Pergi saja! Aku juga tidak membutuhkan pelayan rendahan sepertimu!"
Ruth mengepalkan tangannya dan dia sama geramnya dengan Boby namun dia memilih untuk tidak meladeni pria yang mana hukuman seperti apa pun tidak akan mampu membalas keburukan Boby. Dia akhirnya melangkah pergi meninggalkan Réserve dan segala kerumitan yang dia tanggung selama bekerja di sana.
Sayangnya bukan hanya dari Ruth sama tamparan didapatkan Boby. Setelah itu masih ada tamparan yang diterimanya dan mereka yang menampar semua adalah pelayan yang juga ikut mengundurkan diri. Pada akhirnya Réserve harus kehilangan banyak pekerja.