Bab 12: Prasangka

2081 Words
Gesekan kuat sendok dan piring menciptakan suara ngilu di ruang makan. Ditambah dengan suara cepak saat mengunyah makanan membuat semua orang yang terlibat dalam satu meja makan itu menjadi tidak nyaman. Mereka berusaha untuk bertahan dalam situasi yang menyulitkan. Fokus menyuap makanan meski terasa ngilu untuk dikunyah dan ditelan. Rasanya bersama makanan lezat yang disantap, ada puluhan pisau juga ikut masuk ke dalam tenggorokan menemani waktu sarapan yang seolah berdurasi sangat panjang dari biasanya. Pelaku yang membuat suasana tidak nyaman itu adalah Anastasia, wanita yang makan serampangan di hadapan semua orang. Dagu itu terangkat ke atas menunjukkan keangkuhan sambil menatap lurus ke depan seolah menantang pria yang sudah tersulut kemarahan di ujung sana akibat perilaku tidak sopan tersebut. Setelah kalimat terakhir di ruang teh tadi, sang duke hanya berlalu saja. Tidak menjelaskan sikap kasar yang membuatnya malu di depan semua penghuni Morning Glory. Panggilannya juga tidak digubris oleh sang duke sampai mereka berhenti di ruang makan. Untuk itu Anastasia sengaja membiarkan mulutnya berbunyi saat makan karena sang duke sudah membuatnya malu. Sekarang di hadapan semua mata yang melihat bagaimana dia diperlakukan kasar tadinya, dia juga ingin membuat sang duke malu. Di samping itu dia juga tidak habis pikir bahwa pria yang menikahinya adalah pemimpin tanpa belas kasihan. Menghukum mati seseorang hanya karena mencicipi makanan. Meskipun dia tahu kalau diam-diam mencicipi makanan sama artinya dengan mencuri, akan tetapi hukuman yang didapatkan tidak harus adalah kematian. Sebagai seorang pemimpin sang duke cukup menyalahi kekuasaan. "Pemimpin yang sewenang-wenang," sebelah ujung bibir terangkat ke atas, masih menatap lurus ke depan. Semua mata kini tertuju pada Anastasia. Ucapan itu sangat jelas ditujukan pada siapa karena hanya ada satu orang pemimpin di dalam ruangan tersebut. Mereka melongo kaget bagaimana bisa ada seseorang merendahkan pemimpin Distrik Edelweiss secara gamblang dan tanpa rasa takut. Sang duke menelan suapan terakhirnya dengan didorong segelas air minum. Matanya sudah merah menahan kemarahan sejak tadi. Harga dirinya sudah turun di mata penghuni Morning Glory karena sikap Anastasia yang tidak sopan. Bahkan kini mencercanya dengan lantang di depan semua orang. Gelas diletakkannya kembali dan dengan sikap tenang dia bangkit. Menyelesaikan sarapan yang baru habis setengahnya saja. Lalu, tanpa melirik lagi pada Anastasia dan semua orang, dia meninggalkan ruang makan. Flint mengelap mulutnya setelah menyelesaikan sarapan. Dia menunduk hormat pada Anastasia sebelum menyusul sang duke. Perginya Flint dan sang duke menjadi pemicu penghuni lain untuk ikut bergerak, kemudian dengan sikap yang sama mereka pergi meninggalkan ruangan. Kini tinggal Anastasia seorang diri di meja makan. Dia meletakkan alat makan yang tadinya masih dipegang erat dan menghentikan kunyahan sebelum perlahan beringsut ke sandaran kursi. Napasnya dihela lambat-lambat di saat yang bersamaan. Posisi mereka sudah terbalik dari yang seharusnya. Anastasia berganti menjadi pelaku, sedangkan sang duke berganti menjadi korban. Padahal dia hanya ingin memberi pelajaran pada pemimpin yang sewenang-wenang. Para prajurit seharusnya berpihak padanya, bukan pada sang duke. Mungkin mereka semua sudah dibuat buta matanya sampai tidak bisa mengenali sifat asli sang duke. Dia kembali mengunyah, lalu menelan makanan yang masih mendiami mulut. Napasnya dihela lambat-lambat sekali lagi, "Kenapa aku harus berada di tempat ini?" Kalau saja dia tidak memilih Distrik Edelweiss sebagai tempat pelarian mungkin dia tidak perlu terikat dengan sang duke yang menjengkelkan itu. Dia bisa bebas di luar sana melakukan apa pun yang disukai. Bersembunyi ketika para prajurit datang dan berlari sejauh mungkin sampai tidak ada orang yang dapat menemukannya. Atau ... Sepertinya semua itu hanya imajinasi semata. Tidak ada kata bebas bagi seorang pembunuh yang diincar di luar sana. Jangankan untuk melakukan hal yang disukai, setiap detik saja adalah penjara yang harus dihindari. Bukan tidak mungkin Anastasia tidak akan bertemu dengan prajurit setiap distrik. Kalau tidak bertemu dengan sang duke, mungkin sekarang dia sudah menjalankan hukuman mati. Tidak akan ada harapan untuk bertemu keluarganya kembali. Dia juga akan mati dicap sebagai seorang pembunuh, dosa yang tidak pernah dilakukannya. Setidaknya sang duke telah membawa sedikit harapan padanya meski harus dilalui dengan jalan pernikahan dan hidup dengan identitas lain. Tiba-tiba beberapa orang pelayan muncul dari belakang. Anastasia hanya melirik saja sampai pelayan-pelayan itu berdiri di dekat meja, lalu memindahkan semua makanan ke atas troli. Sepertinya mereka tidak menyadari kalau ada dia di sana. Saat makan bersama tadi, dia sengaja memilih kursi yang letaknya jauh dari sang duke. Berseberangan dengan jarak yang sangat jauh, dari ujung ke ujung. Membelakangi pintu masuk yang mana menjadi alasan kenapa para pelayan tidak menyadari kehadirannya. Apalagi sekarang dia masih beringsut setengah menunduk sehingga membuat tubuh kurusnya tertutup sempurna oleh kursi makan. "Banyak makanan sisa hari ini. Padahal kita sudah menyiapkannya susah payah," ucap salah seorang pelayan. Anastasia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kesibukan koki dan para pelayan menghidangkan makanan. Mereka pasti sangat sedih mengetahui kerja keras yang tidak membuahkan hasil memuaskan. Ada banyak makanan yang tersisa, bahkan juga berlaku pada piring sang duke. "Apa aku sudah keterlaluan?" ucapnya sambil melamunkan kejadian tadi. Suara itu berhasil sampai ke telinga para pelayan dan mengagetkan mereka. Saat itu juga mereka meminta maaf atas apa yang diucapkan. Tugas mereka melayani kebutuhan penghuni Morning Glory dan tidak seharusnya mengeluh hanya karena sisa makanan yang mana bukan kekuasaan mereka. Anastasia yang sudah disadari keberadaannya langsung bangkit, "Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf pada kalian karena sudah mengacaukan suasana di meja makan. Maafkan aku." Para pelayan terpaku sebelum saling melemparkan pandangan. Saat menyadari dengan siapa sebenarnya mereka berbicara, sikap hormat langsung ditunjukkan lebih dalam. Mereka tahu kalau sang duke akhirnya menikah, tetapi tidak tahu bagaimana rupa wanita yang dinikahi. Sebagian dari pelayan Morning Glory libur di waktu tertentu, termasuk mereka. Oleh karena itu masih ada penghuni yang belum tahu seperti apa rupa istri sang duke. Melihat keberadaan, penampilan yang berbeda dari mereka, dan juga sikap rendah hati itu memancarkan aura yang berbeda. Hal itu membuat mereka bisa menarik kesimpulan kalau wanita berparas cantik yang ada di hadapan mereka adalah istri sang duke. Selain itu tutur kata yang sopan mencerminkan wanita sesungguhnya. Pada pandangan pertama, mereka langsung mengidolakan sosok Anastasia. "Nyonya Anastasia," panggil Myla baru saja muncul dan datang menghampiri, "Saya mendengar kabar kalau Nyonya bermain di dapur," menurunkan pandangan ke bawah dan menaikkannya perlahan sampai bertemu mata Anastasia kembali, "Nyonya datang ke dapur dengan pakaian seperti ini dan tanpa memakai alas kaki?" Anastasia mengangguk sebelum akhirnya menyadari kalau dia sudah masuk ke dalam dapur tanpa persiapan. Di Réserve dia akan memakai apron agar pakaian tidak kotor. Pakaian yang dikenakan juga harus tertutup untuk membantu melindungi kulit. Dia juga diharuskan memakai alas untuk mengurangi kemungkinan jemari terkilir. Jika diingat lagi saat dia ditarik dari dapur oleh sang duke dan di ruang teh tubuhnya diputar tanpa alasan yang jelas, ternyata untuk memastikan tidak ada luka apa pun. Tetapi apa yang sudah dia lakukan? Dia mencerca sang duke sebagai pemimpin yang sewenang-wenang. Sungguh bodoh. "Apa yang harus aku lakukan, Myla?!" teriaknya sangat frustrasi. *** Caroline memindahkan pesanan makanan satu persatu ke atas meja. Sebelum mangkuk pesanan terakhir dihidangkan, dia menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa mengundang kecurigaan. Setelah situasi dirasa aman, wadah kecil itu langsung dihidangkan bersamaan dengan memberikan apa yang ada di bawah mangkuk. Seperti biasa setelah mengantarkan pesanan makanan, Caroline tersenyum pada pelanggan. Fia yang hendak meninggalkan pelanggan yang dilayani, tiba-tiba terhenti karena dicegah. Pelanggan yang dilayani menarik tangannya hingga mau tidak mau dia harus terduduk di sana. Sungguh menggelikan baginya harus duduk bersama pria yang sudah tua. Dia tidak bisa membantah karena pria yang berkedok sebagai pelanggan adalah tamu utama yang harus dilayani. Kalau tidak, dia akan mati dan hal itu berlaku bagi setiap pelanggan utama yang berkunjung ke Réserve, baik tua maupun muda. Jika ada yang menginginkannya, maka dia harus menuruti. Beruntung selama ini dia bisa menangani mereka semua. Membohongi semua pelanggannya supaya bisa kabur. Terkadang menunggu mereka mabuk terlebih dahulu agar pelanggannya tidak sadar apa yang terjadi saat bersamanya. Setelah itu dia bisa saja mengarang cerita tentang kebersamaan mereka. Betapa dia ingin segera keluar dari siklus yang menyesakkan itu. Sayangnya dia tidak punya kekuatan untuk menjalankan siasat yang biasa dimainkan saat ini. Seluruh tubuhnya gemetar dan dia berputus asa. Pikirannya kacau dan hampir kehilangan fokus kalau tidak mengumpulkan seluruh kesadarannya agar tetap bertahan. Dia gelisah dan mungkin sebentar lagi akan berlutut dan meraung seperti hewan yang meminta untuk segera diberi makan. Dia tahu kalau kesakitannya akan dipermainkan oleh orang-orang tidak berperasaan seperti mereka. Hal itu sudah terjadi berulang kali ketika dia berada dalam situasi sulit seperti saat sekarang. Kalimat yang tidak ingin dikatakannya dan ditahannya sejak tadi akhirnya pecah, "T-tolong," tetapi tidak berlanjut karena seseorang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. "Saya memiliki sedikit urusan dengan wanita ini. Perkenankan saya untuk membawanya sebentar." Pria tua itu menatap lekat pada wajah yang mana hanya terlihat dagunya saja. Selebihnya wajah itu ditutupi oleh kelamnya tudung yang dipakai, "Kau tidak bisa membawanya karena aku menginginkannya," bergeming untuk tetap merangkul Caroline dengan erat. Satu detik kemudian wajah pria tua itu berubah kaku dan perlahan melepaskan rangkulan. Dia diam tidak bisa bergerak dan tidak berani menolak ketika wanita yang ingin dimilikinya dibawa pergi. Napasnya diembuskan pendek-pendek menahan ketakutan akan benda tajam yang sudah membuat area kulit menjadi dingin seolah dibasahi air. Sepertinya bukan air, melainkan darah. Sebelumnya seseorang yang bekerja sebagai bawahan pria yang memakai tudung tadi mengambil kesempatan duduk di belakang pria tua itu. Sampai ketika ada perlawanan mengenai penolakan terhadap keinginan orang yang membayarnya, baru dia turun tangan. Dari balik jubahnya yang panjang, dia menggeser belati hingga menembus kain dan melanjutkannya sampai menyentuh pria tua itu dalam-dalam. Belati ditarik kembali dan kemudian dia pergi begitu saja tanpa ingin membereskan raga yang kini berusaha meminta pertolongan dengan suara pelan itu. *** Caroline dibawa ke gudang penyimpanan, tempat biasanya mereka bertemu. Sebuah kertas disodorkan pada Caroline yang sudah sekarat. Langsung saja kertas itu dibuka dan ditelan habis isinya semua. Sementara itu pria yang sudah dikenali oleh Caroline siapa, membuka tudung kepala. Pria itu sudah menyelamatkannya berulang kali dan sekarang pun begitu. "Kau bisa saja mati kalau aku tidak datang melihatmu hari ini." Napas Caroline tersengal dan sekali lagi harus dibuat tersengal. Dia menciumi pria yang telah menyelamatkannya berulang kali itu. Mengucapkan rasa terima kasih dengan segenap jiwa melalui pertautan bibir dan hangatnya napas menyentuh setiap inci bibir mereka. Hingga akhirnya ciuman panas itu harus berakhir karena kalimat nyata yang ingin diucapkan, "Terima kasih, Darwin. Aku mencintaimu." Darwin tersenyum merasakan kehangatan di balik pernyataan cinta Caroline. Dia ingin sekali melanjutkan ciuman yang menggantung, akan tetapi selain datang untuk melihat keadaan wanita yang dicintainya, dia juga memiliki informasi penting yang harus disampaikan secepatnya. "Aku menemukan Alicia." Gejolak membara yang menaungi seluruh tubuh seakan lenyap. Caroline berusaha mencerna informasi apa yang barusan dia dengar. Alicia menghilang dan dia sangat gelisah, tetapi sekarang dia semakin gelisah setelah akhirnya Alicia ketemu. "Dia sudah ketemu? L-lalu bagaimana dengan kita?" Darwin menyapu bibir Caroline dengan bibirnya. Merasa senang bahwa peringatannya didengarkan, menyingkirkan rasa iba terhadap Alicia. Ternyata kebersamaan mereka masih menjadi tujuan utama bagi Caroline. "Kau tidak usah khawatir. Aku sedang menyelidikinya dan bisa aku pastikan kalau wanita itu tidak akan bisa mengacaukan rencana kita," mengusapkan tangannya di pipi Caroline. Bukan hanya Alicia saja yang harus disibukkan dalam pikirannya. Caroline juga harus memikirkan bagaimana nasibnya sendiri, "Kapan kau akan membawaku? Aku tidak tahan harus berada di sini terus-menerus," menyingkirkan tangan yang mengusap pipinya, lalu melangkah maju membelakangi Darwin, "Kau tidak lihat pria tadi? Dia memintaku untuk melayaninya. Tidakkah kau merasa khawatir akan hal itu? Bagaimana kalau aku tidak bisa bertahan?" Darwin memegangi kedua pundak yang membelakangi itu dan membuat Caroline menghadap padanya, "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi." Tampaknya Caroline tidak puas dengan jawaban itu. Dia tetap cemberut kesal dan pikirannya tetap berkecamuk. Dia sudah tidak tahan berada di dalam neraka yang selalu datang menghampirinya. Sudah cukup baginya melalui semua kemelut itu seorang diri. Dia butuh seseorang di sampingnya dan orang itu adalah Darwin. "Aku akan menyuruh seseorang untuk memantaumu dari jauh. Mereka akan melindungimu jika sesuatu terjadi padamu." "Kau tidak perlu melakukannya," Caroline melepaskan tangan yang memegangi kedua bahunya," Aku akan memberikan apa yang mereka mau. Memberikan tubuhku untuk melayani mereka sampai puas." Langkah Caroline yang akan pergi meninggalkan ruang penyimpanan dicegah, "Menjual dirimu untuk mereka? Apa yang kau katakan, Carol?" Caroline meringis kesakitan akibat cengkeraman tangan yang menggayuti lengannya semakin kuat. Dia berusaha lepas dari kesakitan itu, tetapi tubuhnya dibawa mendekat tanpa mengurangi kuatnya cengkeraman tersebut. Dia bisa melihat ekspresi Darwin yang kini tampak sangat marah. Dia tentu tidak lupa siapa Darwin sebenarnya. Orang yang memiliki kekuasaan untuk memenjarakan seseorang. Lebih gilanya lagi pria di depannya sekarang bisa memutarbalikkan fakta. Seharusnya dia tidak membuat orang seperti itu marah atau dia akan mendapatkan ganjaran yang sama seperti Alicia. "Aku membutuhkanmu, Darwin. Bukan orang lain." Darwin melepaskan cengkeramannya dan memindahkan tangannya menangkup kedua sisi wajah Caroline, "Aku akan membawamu pergi bersamaku secepatnya." Darwin mendekatkan wajah mereka sebelum bisa menjajaki bibir yang masih lembap dan merah akibat ciuman panas yang mereka lakukan tadi. Tidak berlama-lama untuk mengembuskan kehangatan di leher Caroline sampai sebuah rintihan diterimanya dan semakin membuatnya kian membara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD