Di belakang ada Myla yang ikut menanti bersamanya dalam kebimbangan. Anastasia mengumpulkan seluruh keberanian sebelum akhirnya buku jari diketuk pada pintu. Tidak ada sahutan dari dalam ruang kerja. Masih tidak menyerah dia mengetuknya sekali lagi dengan tenaga yang kuat hingga menciptakan suara yang kencang. Baru setelah itu pintu terbuka memunculkan sosok Flint yang terlihat kebingungan.
"Bisakah aku bertemu dengan Duke Lucherne?"
"Mohon maaf, Nyonya. Tapi," menggeser pintu agar celah semakin lebar dan memperlihatkan seluruh isi ruangan, "Tuan tidak di tempat sekarang," memperlihatkan berkas yang tadi diambilnya dari meja sang duke, "Saya datang mengambil berkas ini untuk diberikan pada tuan."
Kursi di ruang kerja itu kosong, begitu pun dengan ruangannya. Tidak ada orang di sana. Hanya mereka yang berbicara di ambang pintu saja. Kedatangan Anastasia sebenarnya ingin meminta maaf karena telah mencerca pemimpin Distrik Edelweiss. Merendahkan sang duke di hadapan penghuni Morning Glory. Dia ingin meminta maaf secara langsung agar ketulusannya bisa tersampaikan. Sayangnya dia terlambat selangkah sehingga pertemuan mereka tidak terjadi.
"Kapan dia kembali?"
Flint mengalihkan tatapannya yang sejak tadi mengarah pada Myla, "Mungkin tuan akan pergi untuk beberapa lama. Saya tidak tahu persisnya sampai kapan. Apa tuan tidak memberitahukannya pada Nyonya?"
Sang duke sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada Anastasia. Bagaimana bisa dia ditinggalkan begitu saja? Kalau ada orang yang mengetahui siapa dia sebenarnya, apa yang harus dilakukannya? Ini sama saja dengan meninggalkan seonggok daging di tengah-tengah sekumpulan buaya yang sedang kelaparan.
Myla atau siapa pun itu mengenalnya sebagai istri sang duke dengan nama Anastasia. Tidak ada orang yang bisa dipercaya selain sang duke yang sudah mengetahui identitasnya. Reaksi sang duke saat mengetahui dia seorang pembunuh saja sudah sampai mengacungkan pedang dan berniat membunuhnya. Bagaimana jadinya jika orang biasa mengetahuinya? Mereka akan gempar saat mengetahui kenyataan ada seorang pembunuh di sekitar mereka. Bisa-bisa nanti dia diserang secara bersama-sama dan sudah pasti dia tidak akan sanggup melawan balik karena dikalahkan oleh jumlah.
Lalu siapa yang akan menolongnya dalam situasi seperti itu? Keberadaannya di Morning Glory bagaikan sebuah rantai pengikat baginya. Dia tidak bisa ke mana-mana. Jika dia yang bebas dulunya bisa berlari saat ada orang yang mengejar namun sekarang tidak bisa dilakukan. Wajah Anastasia sudah hampir dikenal oleh kebanyakan penduduk kerajaan Orchid karena berita pernikahan yang sengaja dibiarkan meluas.
"Apa ada sesuatu yang ingin Nyonya sampaikan pada tuan?"
Pertanyaan Flint seketika menarik kembali kesadaran yang sempat larut dalam pemikiran sendiri, "Aku akan mengatakannya langsung padanya saat bertemu nanti."
Anastasia membalikkan badan dan melangkahkan kaki menjauh dari sana. Dia sangat kesal dengan sang duke yang pergi tanpa pemberitahuan, tetapi di sisi lain dia juga merasa bersalah karena sikapnya yang sudah keterlaluan. Wajar saja sang duke marah sampai tidak ingin berbicara padanya. Untung saja kali ini bukan ancaman nyawa yang menjadi kemarahan sang duke.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan, Myla?" napasnya dihela panjang, "Dia pasti sangat marah padaku. Aku ingin meminta maaf karena sudah berpikiran buruk padanya," telapak tangan ditepukkan pada dahi lambat-lambat, "Aku sungguh bodoh."
Tidak adanya respons dari Myla membuatnya perlahan menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak ada. Dia mencari lagi dengan menolehkan kepala ke belakang dan apa yang didapatkan ternyata orang yang seharusnya mengikuti masih berada di depan ruang kerja sang duke. Myla tengah berdiri bersama Flint, masih di posisi yang sama saat dia berdiri juga di sana tadinya. Entah apa yang mereka bicarakan sampai dia melihat Flint mengusapkan tangan ke kepala Myla.
"Myla!"
Teriakan itu membuat mereka yang ada di sana sangat terkejut. Flint langsung menarik tangannya menjauh dari kepala yang diusapnya sejak tadi, sedangkan Myla seperti berpamitan sebelum pergi dari sana. Anastasia berhasil menarik pelayan yang ditugaskan menyiapkan kebutuhannya selama di Morning Glory itu datang menyusul. Setelah itu Flint juga beranjak dari posisi, berjalan ke arah yang berlawanan.
Ada apa dengan mereka? Anastasia hanya bermaksud memanggil Myla saja sebenarnya. Tidak ada alasan baginya dan Myla untuk tinggal karena tujuan mereka yaitu sang duke yang mana tidak ada di tempat. Dia tidak ingin memaksa Myla pergi bersamanya kalau memang masih ada urusan yang harus diselesaikan. Tetapi keadaan canggung itu membuat dia seolah menjadi penganggu suasana. Merusak jalannya suatu momen bahagia yang tadinya sempat terukir jelas. Mungkinkah Flint dan Myla memiliki sebuah hubungan?
Anastasia menyipitkan mata dan tersenyum lebar memperhatikan bagaimana kini wajah Myla yang merona merah. Melihat reaksi kedua orang itu tampaknya memang ada sesuatu. Sebuah hubungan yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
"A-ada apa, Nyonya?" tidak nyaman karena dipandangi terus-menerus sepanjang jalan. Myla berbicara sambil sedikit menunduk, menyembunyikan malu yang masih tersebar luas.
Anastasia hanya diam saja, lalu dia sengaja mendahului langkah Myla sembari memikirkan apakah semua orang yang saling menyukai akan salah tingkah seperti apa yang dilihatnya barusan? Wajah merona merah dan membuat senyuman tanpa sadar tampil di wajah. Mereka seolah berputar pada kenikmatan rasa yang menjalar di hati masing-masing dan menyatukannya melalui sebuah tatapan penuh kasih sayang. Itu adalah apa yang dapat dilihatnya dari interaksi Flint dan Myla.
Sama seperti Caroline ketika menceritakan bagaimana sosok pangeran tampan yang didambakan. Teriakan bahagia yang hanya didengarnya ketika Caroline menyatakan perasaan saat berhadapan langsung dengan pangeran tampan itu. Mata Caroline berbinar dan bersemangat jika membahasnya.
Dia sangat senang mendengar kisah cinta orangtuanya, Caroline, dan bahkan kini ada cerita Myla dan Flint. Sedikit banyaknya dia mengerti bagaimana definisi kata 'Suka' atau 'Cinta' itu. Sayangnya hanya melalui kata-kata saja, bukan melalui perasaan.
Dia belum pernah mengalami apa yang dirasakan oleh mereka. Bagaimana dia akan mencari perasaan itu ketika dia saja sedang berada dalam situasi sulit? Sekarang pun dia harus terikat dengan pria yang tidak pernah terpikirkan akan menikah dengannya. Sepertinya harapan untuk tinggal bersama orang yang disukai hanya angan semata.
Bagaimana dengan sang duke? Pria pertama yang dekat dengan Anastasia dan bahkan pria pertama yang menyentuhnya. Tidakkah ada seberkas perasaan? Tidakkah dia merasa bahagia berhadapan dengan pria sempurna yang didambakan oleh kaum wanita itu?
Tidak masuk akal. Pernikahannya dengan sang duke jelas hanya bertujuan kerja sama saja. Tidak ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Mereka tidak akan pernah saling menyukai karena dunia mereka berbeda.
Lalu kenapa dengan bodohnya dia setuju begitu saja melakukan malam pernikahan yang menyakitkan itu dengan sang duke? Padahal mereka tidak saling menyukai satu sama lain. Apakah itu semata hanya kewajiban yang harus dijalani atas status pernikahan mereka?
Anastasia berhenti melangkah dan matanya dibuka lebar-lebar, "Kenapa aku memikirkannya?!" sadar akan kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya, dia segera mempercepat langkah kaki. Membuang jauh-jauh semua pikiran mengenai sang duke yang bergelut di benaknya.
Myla terbengong memandangi tingkah Anastasia. Hanya diam saat ditanya 'Ada apa?' dan tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak diketahui maksudnya. Memangnya Anastasia memikirkan apa? Memikirkan siapa?
***
Flint menghampiri sang duke yang sudah menunggu kedatangannya. Berkas yang diminta untuk dibawakan pun diserahkan. Itu adalah berkas penting yang menunda keberangkatan. Di dalam berkas itu tertulis bagaimana kehidupan Alicia. Belum banyak informasi yang didapatkan, tetapi satu kata dari dalam berkas itu tidak boleh bocor dan harus disimpan dengan aman.
Sang duke mengambil berkas tersebut, lalu menyimpannya ke dalam saku yang ada di dalam seragamnya. Satu-satunya tempat yang aman adalah bersamanya. Dia bisa memastikan berkas itu aman dalam pantauannya secara langsung.
Nanti setelah pulang dari Kerajaan Magnolia, sang duke akan singgah ke Distrik Syringa untuk mencari informasi lebih mengenai Alicia. Saat ini lawannya adalah Alicia dan dia harus mengetahui seperti apa lawan yang dihadapinya. Mungkin dia bisa memulai penyelidikan diam-diam dengan mencari tahu identitas Anastasia yang sebenarnya.
"Nyonya Anastasia tadi mencari Tuan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan pada Tuan secara langsung."
Sang duke yang akan menaiki kudanya berhenti. Hanya sebentar saja karena setelah itu dia menginjak sanggurdi dan mengangkat tubuh untuk kemudian duduk di pelana kudanya. Dia memilih untuk bersiap-siap memulai perjalanan jauh mereka dibandingkan merespons ucapan Flint yang menurutnya tidak perlu dijawab.
Flint sudah menyampaikan apa yang harus dikatakannya. Untuk itu lebih baik baginya menyusul sang duke. Dia naik ke atas kuda dan bersiap-siap pula. Perjalanan mereka akan sangat panjang menuju Kerajaan Magnolia.
Sang duke mengamati bagaimana Distrik Edelweiss dari pantauan matanya. Sebenarnya ada seberkas keraguan meninggalkan Anastasia seorang diri di dalam sana. Tetapi dia harus menepikan keraguan itu dan fokus terhadap tujuan awalnya, mengungkap kasus kematian Putri Haura.
Di Morning Glory melalui bawahannya yang setia, Anastasia akan aman tanpa kehadirannya untuk beberapa hari. Dia juga sudah memberi peringatan pada prajurit agar tidak membiarkan tamu masuk selama dia pergi. Hanya tamu yang diizinkannya saja yang mana sudah dikonfirmasi kedatangannya.
Di samping itu dia berharap dengan tamu yang akan datang nanti bisa mengubah sikap Anastasia yang serampangan menjadi lebih sopan. Dia ingin ketika kembali tidak ada cercaan menjengkelkan yang didengarnya. Biar bagaimanapun dia adalah pemimpin Distrik Edelweiss yang akan menjadi cermin bagi penduduk. Anastasia yang sudah berstatus sebagai istrinya sekarang juga akan menjadi cermin tersebut.
Sang duke mencambuk kuda, mengartikan kalau perjalanan sudah dimulai. Tanpa pengawalan prajurit dan hanya bersama kesatria, sang duke akan mencapai Kerajaan Magnolia, tanah kelahiran Putri Haura.
***
"Saya datang menghadap paduka raja," dari sisi punggung itu tampak seseorang sedang berlutut di hadapan Raja Sargon.
"Katakan apa yang membuatmu datang menghadapku."
Dia bangkit dari tekukan lutut dan berdiri tegak tanpa mengurangi rasa hormat, "Kali ini saya datang ke singgasana raja bukan sebagai pangeran, tapi sebagai seorang anak."
Raja Sargon menyipitkan mata sambil mengamati Pangeran Darius dari atas sampai bawah, terutama pada bagian wajah yang tampak sedih itu. Kematian Putri Haura memang sebuah musibah yang menyakitkan. Apalagi sampai sekarang pembunuh Putri Haura masih belum ditemukan. Bukan hanya dia yang merasakan kesedihan itu. Pasti anaknya juga merasakan sebagai seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Putri Haura.
"Aku mendengar kabar kalau kau membuat keributan di Istana Primrose. Bertepatan saat aku mengundang Duke Lucherne dan Anastasia."
Primrose adalah nama salah satu istana yang ada di Kerajaan Orchid. Di tempat itu Pangeran Darius tinggal bersama Putri Haura sebagai sepasang suami istri. Namun, sekarang karena Putri Haura telah tiada, hanya Pangeran Darius seorang diri yang menempatinya.
"Maafkan atas kelalaianku, Ayah. Mengenai keributan waktu itu," menurunkan pandangan ke bawah, menciptakan raut wajah sendu yang ditahan sebisa mungkin, "Melihat kebersamaan Duke Lucherne dan Anastasia mengingatkan aku pada mendiang istriku," perlahan matanya dibawa kembali menatap Raja Sargon dengan ketegaran diri, "Untuk itu aku datang kemari dengan tujuan meringankan kesedihan kita semua."
Kalimat terakhir yang diucapkan Pangeran Darius terdengar seperti akan ada sebuah solusi, "Mungkinkan kau sudah menemukan pembunuh Putri Haura?"
Sayangnya tebakan Raja Sargon salah. Pangeran Darius memang sudah menemukan Alicia namun bukan hal itu yang akan dikatakannya. Dia sendiri masih perlu banyak bukti untuk menguatkan kalau Anastasia adalah Alicia. Jika dia mengatakan kebenaran itu sekarang, bukan kabar bahagia yang akan didapatkan. Melihat bagaimana ayahnya sangat membanggakan ikon Kerajaan Orchid itu, menuduh istri sang duke sebagai pembunuh hanya akan berdampak buruk untuknya. Tidak akan ada yang mempercayainya dan tanggapan orang-orang akan sangat buruk nanti. Mungkin saja dia akan dianggap iri atas kebahagiaan sang duke.
"Izinkan aku membawa seorang wanita ke Istana Primrose," ucap Pangeran Darius penuh keyakinan.
Raja Sargon mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Bukan meringankan kesedihan, melainkan permintaan itu bagaikan sebuah gelombang emosi besar yang siap dihempaskan, "Aku tidak membesarkanmu sebagai pria yang haus akan wanita!"
Membawa seorang wanita sama artinya dengan ingin menikah. Putri Haura baru saja pergi menyisakan duka yang mendalam dan sekarang apa yang didengar adalah Pangeran Darius ingin menikah lagi. Bagaimana Raja Sargon tidak marah akan keputusan buruk itu?
Bukan hanya perasaan anaknya yang sedih saja harus dipikirkan. Putri Haura adalah kebanggaan Kerajaan Magnolia, anak dari sahabatnya yaitu Raja Arthur. Jika berita pernikahan sampai ke telinga Raja Arthur, akan ditaruh di mana mukanya? Membiarkan pernikahan terjadi di atas duka yang masih menyelimuti, bahkan pembunuh Putri Haura masih belum bisa ditangani. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Raja Arthur jika mendengar berita ini?
"Aku sangat kehilangan dan selama itu aku berupaya agar bisa tetap berdiri tegak. Aku tidak sanggup jika harus merasakan kehilangan yang sangat besar. Setiap detik yang aku lalui bersama Putri Haura di Istana Primrose bukan sesuatu yang membahagiakan lagi. Tidak ada air mata yang tidak jatuh saat memikirkan kebersamaan yang selalu kami ukir di sana," ucapnya merasa frustrasi.
Raja Sargon mengerti akan kesedihan yang dirasakan anaknya, tetapi sekarang bukan saat yang tepat untuk menikah. Tidak hanya internal Kerajaan Orchid saja yang akan terguncang jika pernikahan itu terjadi. Kerajaan Magnolia juga tidak akan tinggal diam akan pernikahan itu.
"Aku tetap tidak menyetujuinya."
Pangeran Darius sudah tahu kalau permintaannya tidak akan mudah. Dia sudah bersiap dan membulatkan tekad akan keputusannya untuk menikah. Kini bukan hanya satu, tetapi kedua lututnya ditekuk ke lantai, "Aku bertekuk lutut atas statusku sebagai anakmu. Izinkan aku untuk menikah kembali, Ayah."