Bab 14: Mendisiplinkan Anastasia

2045 Words
Selimut yang menghangatkannya ditarik tiba-tiba, membuat tubuhnya meringkuk kedinginan dalam posisi tidur. Menahan dingin menerpa kulit yang sejak tadi malam hangat di bawah lindungan selimut. Anastasia masih belum ingin membuka mata. Dia masih ingin menikmati mimpi indahnya. Selimut ditarik kembali menutupi tubuh, akan tetapi tidak semudah yang dibayangkan karena sekali lagi dari atas tubuhnya selimut itu bergeser. Dia meraba-raba sisi kirinya dengan harapan bisa menggapai selimut kembali. Jangkauan tangan dan juga tubuhnya digeser ke sisi kiri sampai dia tiba di tepi ranjang tanpa sadar. Hilang keseimbangan akhirnya Anastasia terjatuh ke lantai. Menciptakan suara benturan yang membawa Myla segera datang menghampiri, lalu membantu Anastasia bangkit. Hal tersebut membuat kedua mata yang menutup itu terbuka sepenuhnya. Anastasia meringis sembari memegangi pinggul yang sakit. "Kenapa membangunkan aku, Myla? Ini masih sangat pagi," ucapnya kesal. Sebenarnya bukan Myla yang membangunkan tidur lelap istri sang duke. Dia melirik seorang lainnya di antara mereka dan seketika pandangannya dialihkan dengan kengerian yang dilihat. Sebelumnya dia sudah mendapatkan peringatan yang mana tidak diizinkan untuk berbicara sedikit pun. Oleh karena itu yang bisa dilakukannya hanya diam saja tanpa membantah keputusan orang yang diutus sang duke tersebut. "Sekarang sudah pukul sebelas hampir menuju siang, Nyonya Anastasia," nadanya penuh ketegasan. Mendengar suara yang tidak dikenali menggema di dalam kamarnya, menarik seluruh kesadaran yang masih terbuai oleh rasa kantuk. Anastasia mengarahkan tatapan kepada seorang wanita paruh baya yang berdiri sambil memegangi selimut. Ternyata bukan Myla yang menyingkirkan selimut darinya. Selain itu tatapan wanita yang berdiri dengan tegap di sana seperti ingin melahapnya bulat-bulat saat ini juga. "S-siapa?" melirik Myla sebentar untuk mencari jawaban, tetapi sepertinya pelayannya itu tidak berniat untuk menjawab. "Perkenalkan. Saya adalah Gilda," menundukkan sedikit kepalanya untuk memberi hormat pada Anastasia, "Saya diutus Duke Lucherne untuk mengajarkan Nyonya banyak hal, khususnya mengenai formalitas. Ke depannya Nyonya akan bertemu dengan saya sampai benar-benar bisa didisiplinkan," kacamatanya yang turun dinaikkan dengan sikap elegan, "Karena hari ini adalah hari pertama kita bertatap muka, maka kelalaian seperti bangun terlambat akan saya jadikan pengecualian. Selanjutnya setiap hari Nyonya harus bangun pukul," mengangkat jam sakunya dan mengamati benda dalam genggaman sebentar, "Lima pagi atau Nyonya akan menerima hukuman dari saya." Hukuman? Siapa yang berani-beraninya menghukum istri sang duke? Selain itu sejak kapan jam tidur istri seorang duke harus diatur? Lagi pula dilihat dari sikap Gilda tadi aturan itu seperti dibuat sesuai keinginan yang memutuskan aturan itu sendiri. Selama di Réserve, Anastasia selalu mendapatkan jam kerja pukul sepuluh pagi. Dia memang bangun lebih awal untuk mengurus kedua adiknya, tetapi tidak terlalu pagi seperti keinginan Gilda. Pekerjaannya yang sibuk mengharuskannya beristirahat lebih lama pada pagi hari. Untuk itu dia tidak memiliki pengalaman bangun sangat pagi. "Tidak bisa! Aku ...." "Saya tidak mengatakan akan menerima bantahan, Nyonya Anastasia," ucapnya tegas, mampu mengendalikan situasi, "Hari ini kita melewatkan satu pelajaran penting dan harus diundur karena Nyonya bangun terlambat. Saya tidak menyukai aktivitas yang terhambat karena akan merusak tatanan yang sudah saya persiapkan dengan matang. Untuk itu saya berikan Nyonya waktu selama lima belas menit untuk bersiap-siap," tidak adanya pergerakan membuatnya harus mempertegas kalimatnya kembali, "Sekarang." Myla segera menuntun Anastasia untuk masuk ke dalam kamar mandi. Meminta agar Anastasia segera membersihkan diri supaya pelajaran dari Gilda bisa segera dimulai, sedangkan dia akan mempersiapkan pakaian ganti untuk dikenakan oleh Anastasia nantinya. Sementara itu Gilda meninggalkan kamar dan pergi menuju ruangan lainnya, tempat di mana Anastasia akan diberi pelajaran mendisiplinkan diri. Dengan sikap elegan tanpa batas dia berjalan melewati lorong demi lorong. Dituntun seorang pelayan yang akan menunjukkan jalan menuju tujuannya. *** "Mendisiplinkan aku?! Memangnya siapa dia?" meletakkan satu tangannya di pinggang, "Kami memang sudah menikah, tapi dia tidak punya hak mengaturku. Apa dia tidak ingat untuk apa pernikahan dilakukan?! Kenapa seenaknya mengaturku?!" "Apa Nyonya sudah siap?" Suara Myla dari luar kamar menghentikan kalimat gerutu. Dia pun mengenakan pakaian yang sudah disediakan untuknya. Pakaian itu adalah pakaian yang pernah dikenakannya beberapa hari yang lewat. Sudah dicuci, sudah kering, dan siap untuk dikenakan. Tampaknya para pelayan berusaha keras agar dia memiliki pakaian untuk dikenakan. Dia ingat kalau sang duke pernah mengatakan kalau orang yang merancang pakaiannya belum datang. Mungkin karena itu dia harus memakai beberapa potong pakaian yang sama setiap kali selesai mandi. Hal itu pernah ditanyakannya pada Myla dan jawabannya adalah pakaian orang terhormat tidak ada yang boleh menyamakan. Pakaiannya harus dirancang secara khusus oleh perancang yang khusus pula. Tidak ada yang boleh mengetahui berapa ukuran setiap jengkal tubuh istri sang duke. Segala tentang dia hanya sang duke yang boleh mengetahui karena sejak ikrar pernikahan diucapkan, dia sudah menjadi milik sang duke sepenuhnya. Oleh karena itu baik ukuran tubuh sekalipun juga hanya boleh diketahui sang duke dan perancang pakaiannya saja. Itu yang dikatakan Myla padanya. "Aku sudah siap, Myla," menarik gagang pintu. Bersama pelayannya itu dia digiring menuju ruang perpustakaan. Hanya sampai batas pintu saja Myla mengantarkannya karena setelah masuk nanti, ada orang lain yang akan menemaninya. Lebih tepatnya memberikan sebuah pelajaran membosankan padanya. Di sana sudah ada Gilda yang menunggu kedatangannya. Sesudah peringatan tadi tampaknya Anastasia tidak berniat membantah lagi, walaupun sebenarnya sangat kesal dan ingin mengeluarkan tindak tanduknya yang dipendam jauh. Belum sempat dia menurunkan pinggulnya untuk duduk, Gilda lebih dulu berdiri meninggalkan kursi yang diduduki. Anastasia tahu kata disiplin yang harus diterapkan dan mungkin saja jika dia duduk akan mengundang kesalahan karena sepengetahuannya seseorang tidak boleh duduk sebelum dipersilakan. Apalagi duduk di saat orang yang lebih tua sedang berdiri. Pada akhirnya Anastasia tetap berdiri di samping kursinya, menunggu Gilda memberikan aba-aba padanya. Gilda mengangkat sedikit dagu Anastasia, kemudian berjalan ke belakang untuk meluruskan tulang punggung yang membungkuk itu agar berdiri tegak. Bahu yang lemas kemudian ditarik ke belakang dengan tulang rusuk menjadi pusatnya hingga bisa terlihat bagaimana postur yang baik saat berdiri. Kini Gilda berdiri di depan Anastasia sambil memperhatikan postur itu dengan saksama, "Nyonya harus berdiri dengan satu kaki sedikit berada di depan yang lain," agar bisa di mengerti, Gilda memperagakannya secara langsung, "Pastikan kedua kaki menempel di lantai dan lutut ditekuk sedikit saja," mengerutkan dahi ingin marah karena perintahnya tidak juga diindahkan. Anastasia hanya ingin semua pelajaran yang akan dia hadapi bisa selesai secepatnya. Oleh karena itu dia menuruti keinginan Gilda. Kaki kanannya dimajukan ke depan kaki kirinya, kemudian ditekuk sedikit seperti apa yang diperintahkan. Posisinya sama seperti posisi yang diperagakan Gilda padanya. "Pertahankan posisi yang seperti sekarang ketika berdiri," Gilda menghampiri kursinya dan sebelum dia duduk, Anastasia dipersilakan duduk terlebih dahulu karena biarpun dia lebih tua namun dalam kastanya Anastasia menduduki tempat yang lebih tinggi darinya. Dia harus menghormati status istri sang duke tersebut. Sudah dipersilakan baru Anastasia mengambil langkah. Dia menarik kursinya dan kemudian duduk di sana. Dia duduk seperti biasanya dia duduk sehari-hari. Bersandar nyaman di kursi yang empuk itu. Lagi-lagi Gilda harus mengoreksi posisi Anastasia, kali ini posisi duduk. Punggung itu ditegakkan seperti tadi bersama bahu yang juga ditarik ke belakang, "Nyonya harus menyentuhkan b****g ke sandaran kursi dan pastikan bobot tubuh terdistribusi secara merata pada kedua pinggul." Apa yang di maksud oleh Gilda? Anastasia sama sekali tidak mengerti. Dia ingin menanyakan "Bobot tubuh terdistribusi secara merata pada kedua pinggul" itu seperti apa namun niatnya urung karena dia tidak ingin memperpanjang masa belajarnya. Dia pun akhirnya menuruti apa yang dikatakan padanya. Bokongnya digeser ke belakang sampai menyentuh sandaran kursi. Untuk perintah kedua entah benar atau tidak apa yang dilakukannya, dia mencoba sebisa mungkin menyembunyikan tidak pahamnya dan bergerak sedikit saja untuk menandakan kalau perintah kedua sudah dijalankan. Senyuman menjadi akhir dari urusan posisi duduk. Puas dengan respons itu, Gilda pun bisa duduk di kursi kembali. Sikapnya serupa elegannya dengan posisi duduk Anastasia kini. Perbedaannya Gilda sudah terbiasa, sedangkan Anastasia masih tegang dan harus dibiasakan berada dalam postur yang sudah diajarkan. "Silakan Nyonya buka buku yang sudah saya sediakan," memperhatikan bagaimana kebingungan Anastasia saat meraih buku tersebut, "Buku itu berisikan kata-kata yang boleh digunakan dan yang tidak boleh digunakan. Nyonya harus menghafalnya keseluruhan." Buku itu tebal dan Anastasia diminta untuk menghafalkannya? Perintah tidak wajar apa lagi yang diberikan padanya? "Sebagai orang yang terhormat, berkata sopan dan bersikap ramah adalah hal yang paling utama. Berbicara dengan artikulasi yang jelas, penuh percaya diri, dan tidak berteriak," jelas Gilda tenang dan lambat layaknya orang terhormat. Seakan-akan ucapan Gilda telah dirancang oleh sang duke untuknya. Meskipun sang duke tidak berada bersamanya sekarang, tetapi pelajaran hari ini seperti bertujuan untuk menyinggungnya secara tidak langsung melalui Gilda. Pasti di suatu tempat sang duke sangat senang karena telah mengirimkan neraka padanya. *** "Apa Tuan sakit?" Sang duke menggosok hidungnya yang terasa gatal, "Tidak. Aku hanya tiba-tiba bersin." "Seseorang pasti sedang memikirkan Tuan saat ini," mengetahui jelas maksud alis sang duke yang naik sebelah itu, menandakan tidak paham akan maksudnya. Kemudian Flint memberikan penjelasan lebih, "Kebanyakan orang yang mengalami mendefinisikannya begitu. Jika Tuan bersin tiba-tiba berarti seseorang sedang merindukan Tuan." "Aku tidak termasuk ke dalam kebanyakan orang itu," mengambil cangkir minuman dan meneguk air yang tersisa sekaligus. "Kenapa tidak? Ada Nyonya Anastasia yang memiliki kemungkinan itu." Sang duke meletakkan cangkirnya kembali. Alisnya mengernyit sesudahnya sembari menatap Flint yang kini tampak senang tanpa alasan yang jelas. Dia tentu tidak setuju dengan pendapat tidak berdasar yang dilontarkan oleh Flint. "Kau tahu siapa Anastasia dan untuk apa pernikahan dilakukan. Hal-hal yang seperti merindukan jelas tidak ada di dalam hubungan yang di peruntukkan kerja sama," bangkit dari duduknya dan keluar dari restoran kecil yang disinggahi. Perkataan Flint sungguh merupakan sesuatu yang konyol baginya. Tidak mungkin bersin dikaitkan dengan kerinduan seseorang. Apalagi orang yang di maksud adalah Anastasia. Wanita itu jelas selalu mencoba kabur setiap kali memiliki kesempatan. Merindukannya? Jangan bercanda. Anastasia bahkan selalu ketakutan saat dia datang. Sesekali bersikap sok berani dengan menantangnya. Persis seperti seekor kucing yang tersudutkan oleh predator yang akan memangsa. Di samping itu sejauh pertemuan mereka hanya ada teriakan, cercaan, dan tatapan tidak suka yang didapatkannya kebanyakan dari Anastasia. Lalu rindu yang seperti apa jika keadaannya begitu? Flint bergegas menyusul sang duke setelah membayar makanan dan minuman yang dihabiskannya. Dia terus berlari hingga berhasil mengejar sang duke yang mana langkahnya sangat cepat. Padahal sang duke hanya berjalan lambat saja dan tidak terburu-buru. Tepat satu jam yang lalu mereka sebenarnya sudah sampai di Kerajaan Magnolia. Kini mereka berada di Distrik Zinnia, tempat di mana sang duke dibesarkan. Sebelum menyelesaikan tugas yang diberikan Raja Sargon, mereka singgah lebih dulu ke distrik tersebut. Sudah lama sang duke tidak bertandang ke tanah kelahirannya. Kebetulan tugas yang diberikan padanya mengharuskan dia untuk datang ke Kerajaan Magnolia. Dia akhirnya memiliki kesempatan langka itu. Kedatangannya membawa nostalgia lama yang sudah sangat dirindukannya. Di Distrik Zinnia dia dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Distrik itu jauh dari pusat kota, bahkan menjadi tempat yang terasingkan. Meskipun begitu setiap kenangan yang dilalui bersama ibunya menjadikan tempat itu lebih berharga dari tempat mana pun. Distrik Zinnia masih saja sepi sejak terakhir kali dia datang. Tidak banyak aktivitas penduduk terjadi. Banyak yang memilih mengadu nasib ke luar distrik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Mungkin orang-orang yang mendiami distrik sekarang adalah orang yang tidak memiliki kemampuan mencapai kehidupan layak tersebut dan lebih memilih tinggal di tempat yang jarang penghuninya. Distrik Zinnia memiliki kebebasan dan aturan masing-masing individu saja. Tidak ada duke yang menjadi pemimpin distrik karena memang tidak ada yang bersedia memimpin tempat yang tidak memiliki kehidupan itu. Seperti mendapatkan kesialan, mereka yang memimpin akan dianggap memiliki status terendah meski gelar yang diberikan sama. Selain itu tidak ada penduduk yang akan membangkitkan ekonomi distrik. Ditambah kursi pemimpin yang kosong membuat Distrik Zinnia buta tanpa arah. Menjadikannya sebagai tempat yang hampa tanpa kehidupan. Bukan hanya kehidupan penghuninya saja yang tidak terurus, bahkan tempat yang hampir didominasi oleh pepohonan itu juga. "Saya akan sangat senang tinggal di tempat yang seperti ini, Tuan," ucap Flint menampilkan sebuah senyuman lebar di wajahnya. Sang duke tergelak, "Apa yang akan kau lakukan di tempat tanpa kehidupan seperti ini?" "Jarang sekali saya menjadi pusat perhatian dan di Distrik Zinnia, saya mendapatkannya. Sejak datang ke tempat ini semua mata tertuju pada kita. Mereka melihat kita seperti seorang malaikat." Memang kedatangan mereka menjadi pusat perhatian sejak tadi. Mungkin hal itu karena jarang ada seseorang berseragam datang ke Distrik Zinnia. Sikap penduduk sangat ramah pada mereka meskipun makanan biasa yang mereka beli tidak seharusnya mahal namun dia mengerti kalau itu merupakan cara penduduk untuk bertahan hidup. "Kalau begitu kau harus merelakan Myla hidup bersama orang lain karena aku tidak yakin ada satu wanita pun yang bersedia tinggal di tempat terpencil ini." Flint terkejut bagaimana sang duke bisa tahu mengenai hubungannya dengan Myla. Padahal dia tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Sikap mereka di Morning Glory juga dibuat agar tidak ada yang curiga. Pertemuan mereka hanya sesekali saja dan tidak di tempat yang sering dilalui. Bahkan mereka harus mengendap-endap seperti seorang pencuri agar tidak ketahuan. "Bagaimana Tuan bisa tahu?" tanyanya masih diliputi rasa terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD