Beberapa hari ini Anastasia diberi berbagai macam pelajaran bagaimana orang terhormat harusnya bersikap. Diajarkan etika berdiri, etika duduk, etika makan, etika bertutur kata, dan sekarang adalah etika minum teh.
Butuh waktu lama bagi Gilda untuk mengajarkan karena Anastasia tidak membiasakan diri dengan apa yang telah diajarkan. Gilda harus memberi hukuman agar pelajarannya dituruti dengan maksimal. Oleh sebab itu hingga sekarang perubahan Anastasia tidak begitu signifikan dibandingkan awal pertemuan mereka.
"Nyonya harus mengangkat cawan dengan tangan kiri dan cangkir teh dengan tangan kanan. Cangkir dipegang dengan sikap spesifik. Mencubit pegangan cangkir dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian bagian bawah pegangan cangkir ditopang menggunakan jari tengah. Pegangan cangkir harus berada di posisi arah jam tiga dan nyonya juga harus menyeruput teh di satu titik yang sama guna menghindari banyak jejak pewarna bibir menempel di cangkir."
Anastasia menghela napas yang tertahan lambat-lambat. Ucapan tanpa jeda itu memusingkannya seketika. Dia bingung kata apa saja tadi yang dia dengar. Bisa dibilang kalau dia lupa semuanya.
Sambil mengamati ekspresi Anastasia, Gilda memperagakan secara langsung bagaimana sikap yang benar saat minum teh. Beberapa kali mereka beradu pandang dan hal itu semakin membuatnya marah karena tidak fokusnya Anastasia. Bagaimana tidak? Ditambah yang sekarang sudah tiga kali dia mengucapkan kalimat yang sama dan memperagakan memegang cangkir dengan baik dan benar, akan tetapi Anastasia masih belum bisa menerapkannya.
Sebenarnya alasan tidak bisa fokusnya Anastasia adalah karena dia tidak merasa nyaman dengan tubuhnya. Dia sangat lelah dengan pelajaran yang menguras tenaga dan otaknya beberapa hari ini sehingga membuatnya bangun kesiangan. Hukuman yang harus dijalaninya adalah dia tidak diberi waktu untuk membersihkan diri. Padahal kemarin setelah belajar, dia melewatkan waktu mandi karena langsung rebah di kamarnya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana keringat kemarin menyatu dengan keringat yang sekarang.
Beruntung orang yang merancang pakaiannya sudah tiba. Jadi dia memiliki stok baju yang bisa dipakainya karena Gilda memberikan hukuman yang membuatnya harus mengganti pakaiannya berulang kali. Dia sudah seperti seorang pelayan karena berbagai hukuman yang harus diterimanya, mencuci gorden Morning Glory yang ukurannya entah berapa meter dan membersihkan ruang perpustakaan yang mana memiliki buku yang sangat banyak. Memang semuanya dibantu oleh pelayan namun Gilda mengawasi sehingga dia tidak bisa hanya berdiam diri saja atau menyerahkan pekerjaan itu pada para pelayan sepenuhnya.
Setelah memastikan kalau Anastasia bisa mengikutinya, baru Gilda memberikan isyarat pada pelayan yang sedaritadi berdiri di belakang kursinya. Salah seorang pelayan kemudian menghampiri Anastasia dengan sebuah nampan di tangan. Sesuai apa yang diperintahkan sebelum memasuki ruangan, isi dari nampan diletakkan satu persatu dengan rapi di hadapan Anastasia.
Hal yang sama juga berlaku pada Gilda. Pelayan lainnya meletakkan isi nampan yang serupa ke hadapannya. Piring mereka berisikan Sandwich yang terdiri dari irisan mentimun, ayam asap, telur dengan krim moster.
Waktu makan siang sudah lewat dan Anastasia memang sangat lapar sekarang. Melihat satu piring Sandwich berada di hadapan masing-masing sudah pasti kalau Sandwich tersebut memang sengaja disediakan untuk mengisi kembali energi mereka siang hari ini. Namun, Anastasia bingung akan keberadaan garpu dan juga pisau yang ikut serta menghiasi meja. Sepengetahuannya saat diberi suguhan buku pelajaran oleh Gilda, dia pernah membaca kalau makanan sejenis roti bisa langsung dimakan menggunakan tangan.
"Makan siang yang ada di hadapan Nyonya adalah Sandwich d**a ayam dengan krim yang diolah dari biji moster hitam," membuka serbet yang sudah dipersiapkan, lalu meletakkannya ke pangkuan, "Kita akan melanjutkan pelajaran sambil menyantap makan siang."
Jadi waktu makan siang juga disisipi pelajaran? Memangnya pelajaran yang seperti apa? Sesaat Anastasia sadar pelajaran apa yang akan dia hadapi. Dia tergelak di dalam hati lantaran merasa sudah diremehkan. Mungkin Gilda ingin menguji kemampuannya memotong roti. Sayang sekali tantangan itu bukan masalah besar baginya karena dulunya dia adalah seorang koki di Réserve.
Penuh percaya diri dia meletakkan serbet pula di pangkuan, lalu memegangi alat makannya dan dengan elegan memotong bagian roti menjadi kecil-kecil. Pisaunya bergerak lambat namun tegas tanpa mengeluarkan bunyi akibat gesekan. Hasil potongan roti itu rapi seperti kemampuan yang sudah dilatih terus-menerus.
Gilda sempat tertegun memandangi roti yang rapi potongannya namun dia masih tidak melupakan tujuan awalnya menyisipkan pelajaran di sela makan siang. Bukan potongan roti yang harus diamatinya, melainkan cara makan Anastasia dari awal sampai akhir. Dia harus memastikan apa yang diajarkannya sudah diterapkan dengan sempurna.
Hingga waktu berlalu makan siang telah tandas semuanya. Tidak ada sisa sedikit pun makanan di piring mereka. Sepertinya mereka sangat menikmati sajian makan siang yang dibuatkan oleh koki terlatih yang ada di Morning Glory. Secara bersamaan serbet pun dilipat dan diletakkan di atas meja.
Anastasia sangat puas dengan etika makan yang bisa dikatakan sesuai dengan pelajaran yang diajarkan Gilda padanya. Tanpa membiarkan cela merusak etika makan itu. Dia makan dengan mulut yang tertutup saat mengunyah dan tidak menimbulkan suara. Selain itu juga menelan semua makanan yang ada di mulut sebelum minum. Kini dia menatap Gilda dengan sikap menantang seolah wanita tua yang ada di hadapannya sudah kalah.
Lain halnya dengan Gilda yang tidak terlalu puas dengan hasil pengamatannya. Memang Anastasia telah menerapkan etika makan dengan baik dan benar, tetapi ada hal yang terlupakan. Sangat mengusiknya karena apa yang diajarkannya nyaris sempurna diterapkan, kalau tidak dirusak oleh satu hal itu.
Tanpa memberikan tanggapan apa pun, Gilda meminta pelayan tadi untuk membawakan makanan yang sama ke hadapan mereka. Hal itu terjadi berulang kali sampai Anastasia benar-benar tahu di mana letak kesalahannya. Namun, sampai perut kembung masih saja kesalahan itu dilakukan.
Anastasia bangkit dan menyalurkan kekuatannya pada meja dengan kedua telapak tangan, membuat sebuah suara yang cukup keras menggema di ruang teh itu, "Aku ... cukup sudah ... tidak sanggup lagi," suaranya rendah dan pelan, berusaha mengunyah satu gigitan Sandwich yang masih berada di dalam mulut. Gigitan pertama dari Sandwich ke limanya dan akan menjadi yang terakhir.
Pada akhirnya rasa tidak sanggup itu menjadi akhir bagi Gilda menyerukan perintah pada pelayan, kemudian dia terpaksa mengatakan di mana letak kesalahan Anastasia karena tidak kunjung mengetahuinya, "Saya sudah katakan pada Nyonya untuk meletakkan garpu di sebelah kiri dan pisau di sebelah kanan dengan bagian pisau yang tajam menghadap ke dalam."
Anastasia melebarkan kedua mata saat mendengar hal itu. Dia tidak membantah ketika dipaksa makan dengan porsi berlipat namun Gilda sudah keterlaluan jika alasannya adalah kesalahan yang mana seharusnya bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tidak harus menyiksanya dengan membuat perutnya kembung. Padahal dia berpikir sudah menang menghadapi Gilda dengan sedikit keahlian yang dimiliki dan ternyata anggapannya salah. Bukan keahliannya yang membuatnya memenangkan pelajaran. Sekarang dia seperti dibodohi oleh kenyataan dan sangat menyakitkan.
Saat itu juga Anastasia tanpa menghiraukan pelajaran dari Gilda lagi keluar dari ruangan itu dan pergi menuju kamar. Dia sangat marah dan tanpa diinginkan selama perjalanan ke kamar air matanya jatuh satu persatu. Hari yang dijalaninya selama di Morning Glory sangat berat. Betapa dia sangat ingin pulang bertemu dengan keluarganya.
***
Langit mulai berubah gelap dan suasana kamar gelap tanpa cahaya. Biasanya akan ada pelayan yang menyalakan lilin namun sekarang karena Anastasia tidak ingin seorang pun masuk ke kamar, dia harus menyalakannya sendiri.
Ketukan pintu dan suara yang menanyakan bagaimana keadaannya tidak lagi terdengar. Mungkin Gilda atau para pelayan sudah lelah menunggu tanpa adanya sahutan. Hanya isak tangis yang menjawab segala kekhawatiran mereka.
Rambutnya masih setengah basah setelah membasuh diri beberapa waktu yang lalu. Ini masih belum jam tidur, tetapi dia sudah mengantuk. Kalau menunggu rambutnya sampai kering rasanya akan memakan waktu cukup lama. Kakinya pun dibawa menuju ranjang. Namun, ketika sudah mendekati ranjang tidak sengaja dia menendang sebuah benda di lantai.
Dia mengambil lilin dan menerangi bawah ranjangnya dengan cahaya kecil itu. Digeser-gesernya lilin sampai sebuah benda yang tadi ditendang akhirnya ditemukan, kemudian diraihnya benda itu dan dibawanya keluar bersama lilin sehingga bisa tampak apa yang dipegangnya saat ini.
Sebuah belati ditemukan dan entah milik siapa. Dia teringat siapa yang kemungkinan besar bisa memiliki benda tersebut. Benda tajam yang tidak boleh disimpan oleh orang biasa. Siapa lagi kalau bukan sang duke, orang yang selalu mengacungkan pedang padanya. Mungkin saja sang duke tidak sengaja menjatuhkannya.
Kini belati itu ada di tangannya. Tidak mungkin dia memberikannya pada sang duke karena belati itu bisa membantunya suatu saat nanti. Jika dia diancam sang duke lagi dengan sebilah pedang, maka dia akan melawannya dengan belati.
Lilin diletakkannya kembali ke atas meja dan belati itu disimpan di bawah bantal. Dia membaringkan kepala di atas bantal setelahnya bersama tubuhnya yang ikut terbaring. Setidaknya dengan posisinya sekarang, dia bisa menyimpan belati dengan aman.
Matanya dipejamkan dan tidak lama setelah itu setetes air keluar dari ujung mata. Membasahi pipi yang masih lembap karena air mandi tadi. Hanya satu alasan yang membuatnya menangis yaitu keluarganya. Dia sangat merindukan saat-saat bersama ibunya dan kedua adiknya. Saat di mana kehangatan keluarga bisa selalu dia gapai setelah pulang bekerja dan kini hanya sebuah angan untuk diimpikan.
Andai saja dia tidak menerima tawaran untuk bekerja di Istana Primrose, mungkin kerinduannya itu akan terbalaskan. Dia tidak perlu menjadi orang yang diburu. Meski hidupnya susah, akan tetapi dia bisa merasakan tawa. Dia tidak meminta lebih. Itu saja sudah cukup, asalkan bisa hidup bersama keluarganya.
Sebuah gerakan membayang di kala matanya masih dipejamkan. Seketika matanya dibuka lebar sepenuhnya. Dia bisa merasakan kalau memang ada seseorang di belakangnya kini. Seperti ada yang hendak menerkamnya dari belakang. Tidak tahu apakah hal itu merupakan imajinasinya saja atau tidak, tetapi dia sangat yakin.
Dia sudah mengunci pintu kamar dan seharusnya tidak ada orang yang bisa masuk. Astaga! Apakah dia sudah mengunci jendela kamar? Pantas saja malam itu sangat dingin dibandingkan biasanya.
Tangannya lambat-lambat menyusup ke bawah bantal. Untung saja dia punya senjata untuk melumpuhkan lawan. Tetapi dia semakin takut ketika sebuah pikiran mengenai siapa pemilik belati itu melintas.
Dia hanya berasumsi tadi kalau belati itu milik sang duke. Pada kenyataannya dia tidak pernah melihat sang duke bersama belati yang dipegangnya kini. Apakah pemiliknya datang untuk mengambil belati itu? Seketika ketakutannya meningkat dan pikiran yang harusnya senyap langsung sibuk mencari jalan keluar. Apa yang harus dilakukannya kalau malam itu dia dibunuh?
Tidak!
Dia harus tetap bertahan sampai titik darah penghabisan. Dia sudah berjuang mati-matian bisa hidup hingga saat ini. Dia tidak boleh menyerah begitu saja. Lagi pula jika orang itu mencari belati, berarti yang memiliki senjata di tangan adalah dia saat ini. Oleh karena itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan kalau dia bisa menguasai belati dengan baik.
Mengumpulkan seluruh keberanian, dia bangkit dan secepat mungkin mengacungkan belati ke arah lawannya. Dia langsung membeliak dan ekspresinya berubah kaget memandangi siapa lawannya. Ternyata orang yang menjadi sarang ketakutannya sejak tadi adalah sang duke.
Kedua tangan sang duke setengah terangkat ke atas seakan sedang berada dalam posisi menyerah. Belati itu dekat sekali hampir menggores pipinya kalau dia tetap melangkah maju. Di sisi lain dia tidak menyangka jika belati yang dicarinya berada di tangan Anastasia.
Tampaknya Anastasia cukup lihai mencari kesempatan. Dia bergeming dan tidak berniat menurunkan belati tersebut. Sekarang adalah kesempatannya untuk kabur dengan mengancam balik sang duke. Dia tidak boleh menyia-nyiakannya. Penyisiran distrik telah dilakukan dan jika dia kabur tidak akan sulit. Dia tinggal memakai identitas Anastasia nanti jika seseorang mencurigai siapa dirinya.
"Bi-biarkan aku pergi dari tempat ini. Kalau tidak aku akan membunuhmu," tangannya yang lain dibawa menggenggam belati. Sehingga ada dua tangan yang menggenggam belati sekarang. Semakin erat genggamannya seiring keyakinannya bertambah besar bisa meruntuhkan sang duke dengan belati di tangan.
"Kau sedang mengancam seorang duke?"
Dagunya diangkat dan tatapannya angkuh. Dia berusaha menyembunyikan ketakutannya melalui sikap itu, "Ya! Aku sedang mengancammu. Kau tidak punya pilihan lain selain membebaskan aku."
Percakapan bersama Flint tempo lalu membuat sang duke semakin yakin kalau Anastasia tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Entah mengapa dia sedikit kecewa dengan kenyataan itu. Wanita di depannya sekarang sangat ingin bebas sampai berusaha mencari celah untuk pergi beberapa kali. Tidak pernah kehilangan akal untuk mencari kesempatan.
"Kau tidak melupakan statusmu sebagai seorang pembunuh, bukan?"
"Terserah apa yang kau katakan karena aku hanya ingin pergi dari sini."
"Kau akan tertangkap jika luput dari pengawasanku. Hukuman mati akan kau terima tanpa menunjukkan siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Kau akan dicap sebagai seorang pembunuh sampai ke generasi selanjutnya," tangannya yang terangkat ke atas pun diturunkan lambat-lambat, "Alicia adalah seorang wanita tidak berperasaan yang telah membunuh Putri Haura yang baik hati. Kau tidak ingin hal itu terjadi, bukan?"
Saat Anastasia lengah oleh kebimbangan yang tercipta dari serangkai kalimat itu, sang duke menyingkirkan belati hingga jatuh ke lantai. Kemudian Anastasia didorong kuat sampai menempel ke ranjang. Kedua tangan wanita itu langsung dikunci di atas kepala.
Secepat itu Anastasia bisa diruntuhkan pertahanannya. Ancamannya dan keberanian yang dikumpulkan tidak berguna sama sekali. Tidak ada gentar atau ketakutan yang bisa didapatkannya dari bola mata yang menatapnya dengan jarak dekat.
Sang duke membawa tangan kanannya mengusap ekor mata yang berair hampir mengalirkan air mata itu, sedangkan Anastasia langsung sadar kalau dia tadi menangis sebelum sang duke membuatnya takut. Tiba-tiba saja wajahnya merona merah sampai ke telinga memikirkan bagaimana sang duke memperhatikannya sangat detail.