Bab 16: Mencuri Rindu

2190 Words
"Aku mendengar kabar kalau seorang pembunuh telah dikalahkan oleh pengajar yang tidak lagi muda dan pembunuh itu menangis atas kekalahannya." "Aku tidak menangis karena kalah!" Sang duke menipiskan bibir, "Lalu apa yang membuat pembunuh tidak berperasaan sepertimu menangis?" Anastasia ingin menjawabnya namun dia berpikir kalau keluarganya bukan sesuatu yang bisa dibahas di antara mereka. Dia hanya seorang pembunuh bagi sang duke dan sang duke hanya sebagai tempat berlindung baginya sampai nanti ketika kebenaran terungkap, dia akan pergi meninggalkan Morning Glory. Tempat persinggahan itu sebaiknya tidak perlu dia pupuk dengan sebuah cerita yang hanya akan membuat informasi mengenai dirinya semakin diketahui oleh orang yang paling berniat untuk membunuhnya. Sesaat sang duke mengernyitkan alis. Ada semacam gejolak kemarahan di dadanya lantaran tidak bisa mendapatkan jawaban untuk mengatasi rasa penasarannya. Anastasia memiliki banyak misteri yang sulit untuk dia pecahkan. Entah mengapa dalam menyelesaikan kasus kematian Putri Haura, dia menjadi lebih tertarik mencari tahu siapa sosok di balik Anastasia sebenarnya. Sekalipun dia turun langsung ke Distrik Syringa untuk mencari informasi mengenai Anastasia, dia masih tidak bisa menemukannya. Data yang ditemukan adalah Anastasia tinggal seorang diri di sebuah rumah kecil dan bekerja sebagai pelayan biasa di Réserve, juga pernah terlibat dalam kasus pencurian. Sama persis seperti apa yang ditemukan Flint sebelumnya. Sang duke melepaskan tangan yang dia kunci, lalu membalikkan tubuhnya hingga rebah di samping Anastasia. Sang duke memandangi langit-langit kamar sambil menerawang pikirannya sendiri, sedangkan Anastasia berusaha menstabilkan jantungnya yang berdetak kencang. "Aku mengunjungi tempat tinggalmu sebelum kembali." Anastasia membelalakkan mata dan dia langsung bangkit duduk sembari memperhatikan sang duke. Di pikirannya sekarang hanya ada ibunya dan kedua adiknya. Dia sangat ingin mendengar kabar mereka. Apakah baik-baik saja selama dia tidak ada? "Lalu? Apa kau melihat seseorang di sana?" Sang duke menolehkan kepala menghadap Anastasia yang mana sangat semangat menanti jawaban darinya. Memangnya berita apa yang ditunggu sampai harus seperti itu? Sudah jelas Anastasia tinggal seorang diri di Distrik Syringa. Untuk apa menanyakan kabar seseorang yang tidak ada? Atau ... Ada seorang pria yang disukai Anastasia di sana? Seketika sang duke bangkit dan beranjak dari ranjang menuju area duduk. Kenapa dia tidak suka dengan Anastasia yang menyukai orang lain? Dia menghela napas yang terasa sesak itu sambil meraih satu botol sampanye dari dalam lemari kaca. Menuangkannya ke dalam gelas yang sudah sengaja disediakan untuk menikmati sampanyenya. Anastasia masih diliputi oleh rasa keingintahuan. Dia yang masih duduk di ranjang langsung menyusul sang duke. Langkah cepat membawanya sampai di dekat sang duke dalam waktu singkat. "Katakan padaku apa kau melihatnya?" Baru saja sang duke akan meminum sampanye, tiba-tiba gelas tersebut diletakkan di atas meja. Suasana hatinya sangat buruk saat ini dan daripada meminumnya dari gelas, dia lebih memilih untuk menenggaknya langsung dari botol. Pertanyaannya dijawab sangat lama sekali. Anastasia sudah tidak sabar mendengar bagaimana kabar keluarganya. Menunggu sang duke menghabiskan satu botol sampanye sungguh sangat lama baginya. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Anastasia naik ke atas kursi agar bisa menyamakan tingginya dengan tinggi sang duke. Setidaknya dia bisa meraih botol sampanye itu. Dia merebut botol sampanye dari tangan sang duke sebisa mungkin. Tenaganya harus dikeluarkan banyak karena tidak mudah baginya melawan kekuatan sang duke. Guncangan membuat isi botol keluar dari jalurnya sehingga sang duke harus menyerah karena kalau tidak, pakaiannya akan terkena dampaknya. Dia tidak ingin repot membersihkan diri untuk yang ke-dua kalinya dan mengganti pakaian basahnya dengan yang baru. "Aku tidak melihatnya. Bisakah kau puas dengan jawaban itu?" Isi botol itu baru habis setengahnya dan sang duke hilang selera untuk menghabiskannya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke ranjang dan berbaring di sana. Mencoba menenangkan gejolak kemarahan yang sudah membuatnya hilang akal. Curiga mungkin apa yang dirasakan Anastasia saat ini. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan sampai sang duke bersikap aneh. Menghindarinya seperti tidak ingin memberitahukan bagaimana keadaan keluarganya. Apa mungkin telah terjadi sesuatu pada keluarganya? Pikiran buruk itu membawa Anastasia segera berlari dan naik ke atas ranjang. Anastasia menarik kuat lengan kukuh sang duke agar wajah yang membelakanginya itu bisa dilihat. "Apa sesuatu yang buruk sedang terjadi sampai kau tidak mau mengatakannya padaku?" mencengkeram lengan sang duke dengan kedua tangan, meskipun harus mengeluarkan kekuatan besar karena lengan itu begitu liat. Mengguncangnya sedikit sembari memasang raut wajah sendu, "Aku mohon katakan padaku agar aku bisa tenang," matanya berkaca-kaca sebelum air mata mulai mengalir. Sang duke mengangkat tubuhnya dan cengkeraman itu lepas seiring dia berhasil duduk di samping Anastasia, "Apa kau sangat mencintainya?" Anastasia mengangguk tanpa terselip sedikit pun keraguan. Selama ini bersama keluarganya dia sudah berjuang, bahkan ketika ayahnya telah tiada. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kedekatan yang terjalin di antara mereka. Oleh karena itu Anastasia sangat mencintai keluarganya. Sang duke mengepalkan tangan sebelum kepalan tangan akhirnya mengendur. Dia menangkup pipi yang dibasahi air mata itu dan mengusapnya lembut. Dia seharusnya sadar akan posisinya sebagai orang asing yang mana mengikat seorang wanita dengan pernikahan hanya untuk kepentingan. Seharusnya dia tidak berpikiran terlalu jauh dari rute kerja sama mereka. "Siapa sebenarnya orang yang bisa membuatmu sampai memohon dan menangis seperti ini?" setelah hilang tangisan itu, sang duke menghadapkan kepalanya ke arah lain, "Aku tidak melihatnya karena memang rumahmu kosong tidak berpenghuni." "K-kosong?" Anastasia tidak bisa menebak ke mana perginya ibunya dan kedua adiknya. Tidak ada tempat lain yang bisa disinggahi. Apa keluarganya sudah tertangkap makanya tidak berada di rumah? Dia sangat cemas setengah mati dan tidak akan bisa tenang jika tidak memastikan dengan mata kepalanya secara langsung. "Apakah ada kemajuan mengenai kematian Putri Haura?" tanyanya masih digelimangi kekhawatiran. "Aku mendatangi Distrik Syringa untuk mencari tahu tentang orang-orang yang berkaitan denganmu agar aku bisa melanjutkan pencarian. Sayangnya tidak ada jejak sama sekali. Kau hidup sebatang kara dengan berbagai kesulitan hidup yang rumit." Apa sang duke sedang mengejek kehidupannya sekarang? Hidupnya memang rumit dan jauh dari kehidupan sang duke yang berkelas, tetapi dia bukan berarti tidak bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Lagi pula dia bahagia bisa hidup bersama keluarganya. "Tarik kembali ucapanmu karena aku bukan sebatang kara." "Oh, ya?" menaikkan sebelah alisnya, sang duke sedikit tergelak membayangkan Anastasia dengan pria yang ada di Distrik Syringa itu, "Kau pasti memiliki kisah cinta yang sangat romantis dengannya," melihat bagaimana Anastasia menganggap pria itu ada, dia menyesal telah memberitahukan bahwa dia berkunjung ke Distrik Syringa, "Baiklah. Kau bukan sebatang kara." *** Diam-diam Flint mendatangi dapur pada malam itu. Di dalam sana sudah ada Myla yang menunggu. Mereka sudah berjanji untuk bertemu setelah kepulangannya dari kerajaan Wisteria. Dapur kotor menjadi tempat pertemuan mereka karena biasanya pada malam hari tidak ada aktivitas lagi dan tidak ada prajurit yang berjaga di sana. Melalui pintu yang masih menyisakan celah, dia melihat ada di mana Myla. Tampak wanita yang dicarinya sedang berdiri di sisi meja pantri sambil melambaikan tangan sedang menyambut kedatangannya. Mengangguk sebagai tanda bahwa semuanya aman, tidak ada orang yang akan mengetahui keberadaan mereka. Dia menutup pintu rapat-rapat dan setelahnya berjalan menuruti rute menuju Myla yang dihafalnya barusan. Dapur kotor gelap tidak memiliki pencahayaan karena memang tidak digunakan menjelang tengah malam. Biasanya semua koki sudah mempersiapkan bahan makanan untuk besok dan beristirahat di jam seperti sekarang. Sudah bisa berada di dekat tujuannya, dia langsung memeluk Myla erat-erat. Mengobati rindu setelah beberapa lama tidak bertemu, sedangkan Myla sepertinya juga memiliki kerinduan yang sama karena pelukannya dibalas dengan erat pula. "Apa kau baik-baik saja selama aku tidak ada?" tanya Flint ingin memastikan lagi meskipun apa yang dilihatnya saat ini kekasihnya itu baik-baik saja seperti terakhir kali mereka bertemu. "Bagaimana aku bisa baik-baik saja jika aku merindukanmu?" Kalimat Myla mampu menyenangkan hatinya setinggi mungkin. Baru saja datang gairahnya sudah terpacu oleh kehangatan yang diberikan padanya. Tidak bisa menolak lagi akhirnya kata rindu diucapkan melalui sebuah ciuman singkat sebelum menjadi lebih dalam. Mereka saling mengungkapkan kerinduan dengan pertautan bibir. Meningkatkan gejolak api asmara yang menghangatkan kulit yang tadinya dingin oleh terpaan udara malam. Tidak ada dari mereka yang berniat untuk berhenti membagi kerinduan yang mereka pendam selama tidak bertemu. Flint mengangkat tubuh Myla dan mendudukkannya di atas meja pantri yang berukuran besar di ruangan itu, kemudian melanjutkan ciuman mereka yang semakin panas. Tali yang mengait satu sama lain dilepaskannya sehingga dia bisa membuang blazer begitu saja. Setelah itu blus yang mana kerahnya berserut karet diturunkan perlahan dan membuat bahu yang tidak terlalu tampak kemewahannya karena gelap, mengintip hampir turun sepenuhnya dari sana. Sayangnya sampai di situ saja kerinduan mereka terlaksana karena tiba-tiba saja seberkas cahaya menerangi dapur. Sebelum cahaya semakin lebar mereka langsung bersembunyi. Menunduk di sisi meja pantri seperti seekor tikus yang tidak ingin ketahuan karena mencuri di dapur. Mencuri kerinduan. "Ya, ampun! Bagaimana bisa aku lupa menambahkan garam pada ayamnya? Royanne bisa memarahiku jika tahu." Pelham yang kala itu sudah akan beristirahat, tiba-tiba teringat akan persiapan bahan masakan besok. Dia bertanggung jawab terhadap ayam yang akan dijadikan menu esok hari. Oleh sebab itu dia langsung bergegas datang mengunjungi dapur untuk menambahkan garam pada ayam-ayamnya. Di bawah sana mereka yang sedang bersembunyi diliputi kegelisahan. Lambat-lambat bergeser untuk menutupi diri mereka agar tidak tampak ketika Pelham beranjak. Saat berusaha bersembunyi, tatapan Myla tertuju pada blazer yang tergeletak di lantai. Letaknya jauh dari mereka namun dekat dari Pelham. Apa yang harus mereka lakukan dengan itu? Dia menarik lengan baju Flint dan menunjuk blazer tersebut dengan telunjuk yang berada dekat dengan wajahnya. Seketika mata mereka sama-sama mengarah pada blazer tersebut. Sebentar saja karena mereka harus kembali bergeser kalau tidak, mereka akan ketahuan. Pelham meletakkan nampan berisi ayam itu ke dalam lemari pendingin. Akhirnya dia telah menyelesaikan kegelisahannya dan bisa tidur tenang tanpa dibayang-bayangi oleh kemarahan Royanne. Hendak meninggalkan ruangan, tiba-tiba dia berhenti lantaran menginjak lantai yang tidak datar. Setelah pandangan diturunkan ke bawah, dia melihat seonggok blazer berwarna coklat di sana. Tanpa pikir panjang dia memungut blazer, "Siapa yang membuang blazer ini?" melirik ke sekeliling dapur untuk mencari tahu jawabannya namun dia lupa kalau hanya dia yang ada di dalam dapur tengah malam ini. Entah siapa pemilik dari blazer dia tidak tahu. Dia pun menepuk-nepuk bagian blazer yang tidak sengaja terinjak olehnya tadi, "Padahal blazer ini masih bisa dipakai," bersama senyum lebar dia beranjak pergi keluar dari dapur. Sepeninggal Pelham, mereka yang bersembunyi bisa bernapas lega setelah pintu akhirnya ditutup kembali. Keberadaan mereka tidak disadari dan itu adalah kabar baik, tetapi Myla harus merelakan blazernya diambil oleh Pelham. "Sebaiknya kita mencari tempat lain untuk bertemu." Flint juga menyetujui usul itu karena dapur yang dirasa bisa dijadikan sebagai tempat pertemuan ternyata masih jauh dari kata aman. Mereka harus mencari tempat lain agar kerinduan mereka tidak dihentikan lagi. Mereka keluar dari dapur dan berjalan sambil celingak-celinguk memastikan kalau memang tidak ada orang selain mereka di lorong. Baru setelah itu mereka bisa berjalan santai seperti biasanya. Mereka bersikap seolah kejadian di dapur tidak ada. Mereka terus berjalan hingga tiba di area belakang Morning Glory. "Myla, ada yang ingin aku sampaikan padamu," menghentikan langkahnya, "Tuan sudah mengetahui hubungan kita." "B-bagaimana Duke Lucherne bisa mengetahuinya?" Bagi Myla yang baru mengetahui hal itu berpikir kalau tidak mungkin ada yang mengetahui hubungan mereka. Selama ini pertemuan mereka sangat singkat dan berjalan di tempat sepi saja. Hanya sesekali ketika mereka benar-benar rindu untuk bertemu seperti saat sekarang. "Aku juga tidak tahu bagaimana Tuan bisa tahu," memegang bahu Myla untuk menenangkan, "Kau tidak perlu khawatir karena Tuan tidak mempermasalahkan hubungan kita. Aku sangat yakin jika Tuan bukan seseorang yang akan membocorkan rahasia pada orang lain." Jika itu yang dikatakan padanya, maka Myla akan menurutinya. Dia tidak akan khawatir soal hubungan mereka yang sudah diketahui. Pria yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang kesatria yang bisa dipegang kata-katanya. "Aku mengerti," ucapnya sepenuhnya menenangkan diri. Setelah itu dia yang belum terpuaskan akan kerinduan mereka tadi, lebih dulu memeluk Flint. *** Anastasia menelan ludahnya kasar hingga mengeluarkan suara yang bisa didengar sang duke, sedangkan pria yang ada di belakang Anastasia sekarang sedang tertawa kecil menyaksikan apa yang mereka lihat. Jendela kamar mereka masih terbuka dan di luar sana adegan panas sedang terjadi di antara Flint dan Myla. Langsung saja Anastasia membalikkan badan agar tidak lagi memandangi hal yang tidak patut dilihat orang lain. Tanpa sengaja mukanya menempel ke d**a sang duke karena jarak mereka yang sangat dekat. Sebelumnya sang duke mengambil belati yang jatuh untuk disimpan namun percakapan mereka membuat pelajaran bagaimana menggunakan belati dengan baik dan benar terjadi. Siapa sangka jika mereka harus berhenti karena suara orang berbicara terdengar di luar kamar. Tidak pernah mereka kira jika orang itu adalah Flint dan Myla. Sang duke mengangkat dagu Anastasia dengan jari telunjuknya. Dia menatap wajah yang kini merona merah karena malu akan apa yang telah dilihat. Sikap Anastasia yang seperti itu memercikkan gejolak tersendiri di dadanya. Bukan rasa tidak suka seperti seorang pria yang dekat dengan Anastasia, melainkan keinginannya untuk menumpahkan segala hasrat yang terpancing oleh sikap manis Anastasia. Kepalanya ditundukkan agar bisa mencapai bibir yang sedikit terbuka itu. Dia menarik pinggang Anastasia hingga menempel padanya. Belati yang masih berada dalam genggaman dijatuhkan hingga suara dentingan terdengar agar orang yang berada di luar sana pergi dari hadapan. Tidak ada yang boleh melihat dia yang bermesraan dengan istrinya. Setelah mereka pergi baru dia membaringkan Anastasia perlahan. Ciuman tanpa jeda membuat d**a mereka naik turun dengan cepat, tetapi masih bisa dibawa untuk berbicara. Dia menarik tangan Anastasia hingga menyentuh pipinya, "Kali ini tidak akan sakit." Perkataan itu membuat Anastasia ingat pada malam pernikahan yang mereka lakukan pertama kali dan membuatnya sedikit ragu, "Aku ...," menahan hasrat yang bercampur dengan ketakutan. Sang duke menghirup aroma yang tercipta dari telapak tangan itu sebelum menatap Anastasia kembali, "Aku berjanji." Anastasia menganggukkan kepala lambat-lambat berusaha meyakinkan diri. Entah kenapa kewarasannya sudah hilang sepenuhnya dengan membiarkan sang pemangsa menyelami dirinya untuk yang ke-dua kali. Pegangannya di lengan liat itu dieratkan sembari menanti janji yang diucapkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD