Bab 17: Tempat Teraman

2016 Words
Anastasia sudah gila membiarkan akal sehatnya hilang berulang kali. Entah itu karena pesona sang duke, dia tidak bisa menolak dan pada akhirnya membiarkan waktu mereka berlalu seperti malam pernikahan. Dia tidak bisa bergerak. Bukan karena sakit yang dirasakannya, melainkan tubuhnya seperti ditindih oleh beban berat dan membuatnya kesulitan bernapas. Kantuk yang sebenarnya masih menghinggapinya seketika terusir dan memaksanya untuk bangun dari tidur nyenyaknya. Apa yang terjadi saat dia membuka mata adalah tubuhnya dipeluk dari belakang. Sangat erat sampai menempelkan kulit yang masih lembap karena kehangatan lindungan selimut. Ditambah sisa kehangatan semalam yang kembali menyebar saat matanya terbuka lebar. Detak jantung yang kembali terpacu pagi itu pasti hanya karena dia takut dengan orang yang akan membunuhnya sewaktu-waktu. Sudah seharusnya dia segera pergi menjauh dari kedekatan mereka. Dia tidak boleh tertipu lagi pada tatapan sang duke yang selalu merayu akal sehatnya. Sayang sekali ketika niatnya akan dilaksanakan, tangan sang duke turun ke bawah hingga mencapai perutnya. Menciptakan sensasi lain yang menggelitik dan membuat napasnya tertahan. Dia tidak bisa bergerak karena tubuhnya seakan kaku oleh gerakan tanpa dosa sang duke yang sengaja mengembuskan hawa panas di tengkuknya dan menciumi bahunya dengan lembut. "Apa terasa sakit?" Sakit? Apakah maksud sang duke perbuatan mereka semalam? Awal malam pernikahan memang sangat sakit setengah mati yang dirasakannya namun untuk kali ini tidak begitu sakit. Hanya sedikit nyeri yang tidak terlalu berarti. Dia masih bisa menahannya tanpa harus memerlukan perawatan lebih. "Tidak." Sang duke bisa puas dengan usahanya yang mana lebih banyak menunggu tadi malam. Membaca setiap raut wajah yang menegang akibat dilumuri rasa takut. Sampai ketika Anastasia telah siap dibawa memasuki dunia kenikmatan, baru dia menyentuh bagian terdalam dari diri Anastasia. Dia melakukannya perlahan dan tidak terburu-buru agar tidak menyisakan rasa sakit nantinya. "Aku sudah memenuhi janjiku," sang duke beranjak dari ranjang, kemudian menjangkau kemejanya yang tergeletak di lantai, "Sebentar lagi waktu belajarmu akan dimulai. Bersiap-siaplah sebelum Gilda memberikan hukuman untukmu," mengenakan kancing kemejanya satu persatu. "Aku tidak ingin belajar," bangkit pula sembari memegang erat ujung selimut agar tetap bertahan menutupi tubuh bagian depannya, "Kita memang sudah menikah, tapi kau harus ingat kalau pernikahan kita atas dasar kerja sama saja. Kau tidak mempunyai hak untuk mengaturku." Sang duke yang belum sampai selesai mengancingi bajunya, mendengar bantahan Anastasia membuatnya harus menolehkan kepala, "Kau juga harus ingat kalau orang yang kau nikahi adalah pemimpin Distrik Edelweiss. Etika adalah apa yang harus istriku miliki ketika harus berhadapan dengan penduduk yang aku pimpin." Anastasia bersikeras dengan pendiriannya. Dia tidak ingin seenaknya diatur oleh orang yang memanfaatkannya, "Aku tetap tidak mau," menghadapkan tubuh ke kanan sehingga tampak sisi pinggang yang tidak tertutup seluruhnya. Punggung itu hanya ditutupi oleh rambut panjang yang terurai tidak beraturan. Setelah sang duke selesai dengan urusan pakaiannya, dia menghampiri Anastasia yang berada di sisi ranjang lain. Dia hanya berdiri sambil menatap keangkuhan yang terpancar jelas di mata Anastasia. Wanita itu tengah menunjukkan perlawanan dengan menantangnya secara terang-terangan melalui tatapan tajam yang menusuk. "Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya," menaikkan kedua bahu secara bersamaan seolah tidak memiliki jalan keluar, "Tadinya aku berpikir untuk mendisiplinkanmu agar kau bisa keluar dari Morning Glory, tapi tampaknya kau lebih betah menghabiskan waktumu di dalam tempat persembunyian." Mendengar kalimat yang mengarah pada kebebasan menegakkan telinga. Anastasia langsung berubah pikiran saat itu juga. Dia yang menolak untuk belajar, ketika tawaran menggiurkan diberikan padanya tentu tidak akan disia-siakan begitu saja. "Maksudmu aku bisa keluar dari tempat ini?" tanya Anastasia ingin memastikan bahwa apa yang didengarnya bukan imajinasi semata. Sang duke masih berdiri tegak di tempatnya sekarang. Dia tahu kalau tawarannya tidak akan ditolak. Mengingat Anastasia sangat ingin kabur dari Morning Glory. Risiko yang harus ditanggungnya adalah apa yang diikatnya bisa saja kabur namun tujuan awalnya akan tercapai. Dia bisa memantau pergerakan Anastasia dan mencari tahu jawaban mengenai siapa Anastasia. Dengan begitu dia akan mendapatkan jawaban pula mengenai kematian Putri Haura. Jika benar bukan Anastasia pembunuh Putri Haura, mendengar Anastasia bebas pasti akan mengguncang pembunuh yang sebenarnya. Mereka akan mengupayakan segala cara untuk menyingkirkan Anastasia. Memang akan ada banyak risiko yang harus diterimanya namun hanya itu satu-satunya cara untuk menangkap pelakunya. "Ya. Kau bisa berjalan-jalan dengan status barumu," sikapnya tidak menunjukkan kepedulian akan pilihan Anastasia, "Sayang sekali karena kau tidak ingin belajar bersama Gilda. Jadi, aku harus menarik tawaranku kembali." "Jangan!" spontan Anastasia berteriak dan langsung sadar akan pelajaran yang diberikan oleh Gilda. Seorang wanita terhormat tidak boleh berteriak ketika berbicara. Dia berdeham pelan untuk menetralkan suasana, "Aku akan belajar," ucapnya pelan, "Tapi," menatap ke arah sang duke kembali, "Apakah aku juga bisa mengunjungi Distrik Syringa?" Kerutan tipis sejenak singgah di dahi sang duke. Dia tahu pasti apa tujuan Anastasia mengucapkan pertanyaan itu. Sebegitu pentingkah pria yang ada di Distrik Syringa itu sampai-sampai Anastasia rela menjadikan nyawa sebagai taruhannya? Distrik Syringa sudah jelas adalah tempat tinggal Anastasia yang mana ada banyak orang akan mengenali identitas lama Anastasia. Kemungkinan untuk mencari tempat bersembunyi di sana juga sangat kecil. "Kau hanya boleh mengunjungi Distrik Syringa bersamaku." "Kenapa aku harus pergi bersamamu?" tanyanya dengan nada menolak. Anastasia tidak ingin sang duke mengikutinya saat dia mengunjungi keluarganya. Percuma saja dia menjauh dari keluarganya jika orang yang akan membunuhnya sendiri ikut bersamanya. "Kenapa kau harus pergi bersamaku?" Pertanyaan bodoh apa itu? Apa wanita itu sangat polos sampai harus disadarkan berulang kali? Sang duke menarik salah satu lengan Anastasia mendekatinya hingga kini mereka berdiri saling berhadapan. Dia mengertakkan gerahamnya sangat kuat. Menahan kemarahan yang kini bergemuruh di dalam d**a, akan tetapi dia berusaha menahan kemarahannya agar tidak menyakiti Anastasia. "Jika aku tidak pergi bersamamu, kau akan lenyap dan tidak bisa kembali lagi. Bukan hukuman tertutup lagi yang akan didapatkan oleh pembunuh yang masih berkeliaran sepertimu. Demi menenangkan keresahan Kerajaan Orchid, kau akan dihukum di depan orang banyak. Mereka akan menebas kepalamu tanpa memberikanmu kesempatan untuk memohon ampun sedikit pun. Apa kau tahu itu?!" Anastasia tampak pucat mendengar bagaimana penggambaran kematian yang akan didapatkan. Sampai sekarang ternyata dia masih belum siap untuk menyusul ayahnya. Meninggalkan keluarganya tanpa sempat membawa mereka ke tempat yang aman. *** "Apa yang sedang kau lakukan di sini, Myla?" Myla menolehkan kepalanya ke sumber suara yang mana dia tahu siapa pemiliknya, "Oh, Kesatria Flint," menundukkan kepalanya sedikit untuk menghormati kesatria di depannya, kemudian melirik pintu kamar sebentar sebelum kembali menatap Flint, "Saya baru akan memanggil Nyonya Anastasia untuk menghadiri pelajaran sebelum terlambat." Flint tersenyum memandangi sikap formal Myla yang mana diperuntukkan menyembunyikan hubungan mereka. Dia tidak bisa mengomentari karena memang hal itu harus dilakukan. Dia juga harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Myla. Untuk itu kepalanya juga ditundukkan menghormati lawan bicara. Meskipun sang duke sudah mengetahui hubungan mereka namun masih ada Anastasia yang belum tahu mengenai mereka dan juga semua penghuni di Morning Glory. Sudah seharusnya dia tidak gegabah jika memang kesalahan pernah dilakukannya sampai hubungan mereka diketahui sang duke. Menyampingkan hubungan mereka yang harus disembunyikan, tadi malam sungguh mengagetkan ketika mereka mendengar suara dentingan seperti benda jatuh. Apa yang mereka lihat setelah itu lebih mengagetkan lagi karena sang duke dan Anastasia sedang berciuman pula di dalam sana. Mereka cepat menyingkir dan untung saja keberadaan mereka tidak disadari. Terlebih dari itu dia akhirnya bisa menyimpulkan kalau sang duke memang sudah jatuh cinta pada Anastasia. Hanya saja mungkin pria yang selalu menolak berbagai macam wanita itu tidak mengetahui perasaannya sendiri. Ternyata kehadiran wanita seperti Anastasia lah yang mampu meluluhkan hati sang duke. Sungguh sebuah takdir yang sangat mengejutkan. "Kesatria Flint?" mengibas-ngibaskan tangan berulang kali di depan wajah Flint dan bertanya-tanya apa yang membuat kekasihnya termenung sehingga panggilan yang mana sudah ke-tiga kalinya masih tidak digubris juga. Setelah akhirnya disadari oleh Flint, baru dia kembali bersuara, "Apa yang Kesatria Flint lakukan di sini?" Flint hampir saja lupa apa tujuannya mendatangi kamar sang duke. Sudah diingatkan oleh Myla, dia pun langsung mengatakannya, "Kami harus mengunjungi istana kerajaan untuk melaporkan tugas yang diberikan Raja Sargon. Seharusnya kami sudah pergi, tapi sampai saat ini tuan masih belum berada di tempat. Kedatanganku di sini untuk menemui tuan secara langsung." "T-tugas?" Flint termangu sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Dia tidak bisa menjawab rasa penasaran yang mungkin sedang ada di pikiran Myla. Lebih baik tugas yang mana bukan ranah Myla, tidak disentuh sama sekali karena dia tidak ingin jika wanita yang dicintainya ikut terlibat nantinya. Suara tapak sepatu menggema di lorong itu. Mereka menolehkan kepala ke sumber suara yang mana ada di belakang Flint. Dari jauh tampak Gilda sedang berjalan dengan langkah cepat tidak terkesan buru-buru. Sikap Gilda tenang dan elegan seperti biasanya namun Myla bisa melihat alis wanita itu mengerut dalam seakan sedang menonjolkan kemarahan di sana. Apa yang harus dilakukannya untuk meredakan kemarahan Gilda? Orang yang dia tunggu masih belum menampakkan tanda-tanda akan keluar dari kamar. Dia tidak ingin ada hukuman lagi yang mana hanya akan menyulitkan Anastasia. Otaknya berpikir keras hingga sebuah ide muncul di kepalanya, "Bukankah Kesatria Flint berkata ingin menemui Duke Lucherne secara langsung?" "Ya. Benar," Flint membenarkan perkataan yang mana memang merupakan alasannya berada di depan kamar pemimpin Distrik Edelweiss. Namun, untuk apa Myla bertanya lagi? Dia sudah menjelaskan maksud kedatangannya tadi. Tanpa menjelaskan maksud dari pertanyaannya, Myla kembali menoleh pada Gilda yang hampir sampai di depan mata. Sikapnya sama tenangnya dengan Gilda, elegan dan mencerminkan seorang pelayan yang taat. Dia tahu kalau kehadiran Gilda di Morning Glory untuk mendisiplinkan Anastasia yang mana sangat menjunjung tinggi kesopanan. Setelah berhadapan dengan Gilda, dia menyambutnya dengan sikap ramah. Tersenyum dan menunduk hormat tanpa memunculkan kesalahan sedikit pun. Dia sudah tahu jelas maksud kedatangan Gilda namun dia akan membiarkan orang yang lebih tua dengan status yang lebih tinggi darinya berbicara lebih dulu. Itu adalah etika yang dia pelajari dan dia dapatkan sebelum resmi menjadi pelayan di Morning Glory. Gilda memberi hormat pada kesatria Flint sebelum mengarahkan ucapannya pada Myla, "Jam pelajaran sudah lewat sepuluh menit yang lalu, tetapi aku masih belum bertemu dengan orang yang akan diajari. Katakan padaku ada di mana Nyonya Anastasia sekarang?" "Maafkan saya karena terlambat memberikan kabar pada pengajar yang terhormat di Morning Glory," dia bisa melihat kalau Gilda sedang tersenyum karena pujian darinya, "Nyonya Anastasia masih berada di dalam kamar," bibirnya mengurai sebuah senyuman dengan sikap tenang, menunjukkan kerendahan hati atas kemarahan yang semakin terpapar jelas di wajah Gilda, "Duke Lucherne sudah kembali bersama Kesatria Flint dan sekarang sedang menghabiskan waktu bersama Nyonya Anastasia," ucapnya kemudian menyudahi kalimat yang sebenarnya sejak tadi ingin dijadikannya sebagai senjata untuk melawan Gilda. Gilda melirik kesatria yang didengarnya selalu menemani sang duke ke mana pun pergi. Keberadaan Flint sudah membuktikan kalau memang sang duke sudah sampai. Wajahnya sedikit merona malu mendengar pernyataan Myla namun rasa malunya bisa diatasi secepat mungkin. Tidak ada yang boleh mengubah tatanan pengajarannya sekalipun Anastasia sendiri, akan tetapi jika pemimpin Distrik Edelweiss yang memperkerjakannya mengubah tatanan itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk sekarang yang bisa dilakukannya adalah menyusun ulang tatanan tersebut. "Katakan pada Nyonya Anastasia jika sudah selesai nanti, aku akan menunggunya di ruang perpustakaan. Selain itu," melirik pintu kamar yang masih hening tanpa suara. Tidak bisa diprediksi apa yang terjadi di dalam sana, tetapi yang jelas bukan sesuatu yang patut untuk dibayangkan, "Hari ini hukuman ditiadakan," membalikkan badan setelahnya dan pergi menjauh dari sana. Flint tertegun memandangi sikap Myla yang mana jauh berbeda dari biasanya. Tidak menunjukkan Myla sebenarnya yang selalu ekspresif dan mudah dibaca perasaan dan tujuannya. Dia selalu bisa menebak Myla namun tadi ketika ada Gilda, entah apa yang akan dilakukan oleh Myla dia tidak tau. Padahal mereka sudah mengenal lama sebagai sepasang kekasih. Apakah dia terlalu berlebihan atau memang dia yang sudah terhipnotis? Myla sungguh cantik dengan senyuman tanpa dosa bagaikan putri kerajaan itu. Sangat murni dan dalam ketegasan serta ketenangan berkata-kata membuatnya semakin jatuh hati pada sosok Myla. Bahkan kemarahan Gilda yang terkenal membuat para pelayan takut saja bisa disulap sekejap mata hanya menggunakan beberapa kalimat biasa seperti tadi. Dari mana Myla mendapatkan ide cemerlang itu? Dia saja tidak terpikirkan kalau kebersamaan sang duke dan Anastasia akan menjadi penghalang kemarahan Gilda. Apalagi setelah mendengar pernyataan dari para pelayan tadi malam kalau Gilda sampai membuat Anastasia menangis. Sudah pasti kalau pengajar seperti Gilda bukan orang yang bisa dianggap remeh. Sang duke saja sampai terbahak karena akhirnya bisa menundukkan Anastasia, meskipun melalui orang lain. Tawa yang merebak sungguh mencengangkan penghuni Morning Glory. Tidak pernah mereka melihat sang duke terbahak sampai seperti itu selama tinggal di Morning Glory. Sungguh sebuah keajaiban yang luar biasa, yang satu tawa sang duke dan yang satunya lagi tangisan wanita penentang sang duke seperti Anastasia. "Kesatria Flint?" lagi-lagi Myla harus mengibaskan tangannya berulang kali untuk menyadarkan Flint.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD