Bab 18: Insiden Kecil

2002 Words
Semenjak percakapannya dengan sang duke tempo lalu, Anastasia benar-benar belajar sesuai apa yang dijanjikan. Bukan sekadar belajar saja karena Anastasia juga menerapkannya ke kehidupan sehari-hari, sebagai istri seorang duke yang harus memiliki etika saat menghadapi orang banyak. Anastasia dipoles dari yang bertingkah sembrono menjadi lebih teratur. Melalui Gilda, dia mempelajari banyak hal. Tidak hanya berbagai macam etika saja, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan. Pastinya pelajaran sekelas bangsawan yang mana tidak pernah dipelajarinya ketika menjadi Alicia. Balasan yang dia dapatkan adalah kebebasan untuk keluar dari Morning Glory. Namun, awal kebebasannya bukan langsung mencapai tujuannya yaitu mengunjungi Distrik Syringa. Ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi dan atas status yang dimiliki dia bersedia melakukannya tanpa membantah. Di sinilah Anastasia sekarang bersama sang duke, berdiri di hadapan semua penduduk. Turun ke Distrik Edelweiss untuk menyapa langsung para penduduk. Ini yang pertama baginya berinteraksi dengan mereka semua. Sedikit banyaknya dia terpana karena tidak pernah ter bayangkan akan menjadi seseorang yang sangat dihormati. Tentu saja dia merasa begitu setelah apa yang dilalui di Distrik Syringa. Dia bekerja sebagai koki rendahan yang mana hanya dijadikan sebagai tempat mencari keuntungan semata. Tidak ada penghargaan layak yang didapatkannya selama bekerja di Réserve. Kalau tidak karena bayarannya lebih besar dari pekerjaan lain, mungkin dia tidak akan sudi bekerja di sana. "Nyonya Anastasia," seorang anak perempuan dengan senyum penuh keceriaan tiba-tiba mendekat, "Aku memiliki hadiah untukmu," setangkai bunga muncul dari balik punggungnya. Bunga tersebut disodorkan menggunakan kedua tangan kecilnya. Anastasia ingin menerima tawaran bunga yang diberikan padanya, akan tetapi dia belum diajari apa yang boleh diterima dan apa yang harus ditolak. Untuk mencari jawabannya, seperti yang dikatakan oleh Gilda, dia bisa menanyakannya pada sang duke. Dia pun menolehkan kepala pada sang duke yang berada tepat di sebelahnya saat ini. Di saat yang bersamaan sang duke juga melirik Anastasia dan langsung mengetahui alasan kenapa bunga tersebut masih belum diambil juga. Mengusir kebingungan yang terpapar jelas di wajah Anastasia, dia akhirnya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa dia mengizinkan bunga itu boleh diterima. Sudah mendapatkan jawabannya, Anastasia langsung meraih bunga itu dengan sikap lembut, "Aku sangat menyukainya," menurunkan tubuhnya agar bisa menyejajarkan tatapan mereka, "Boleh aku tahu siapa namamu?" Anak perempuan itu mengangguk cepat tanpa dihantui oleh keraguan sedikit pun di matanya, "Namaku Helian. Ayah sengaja memberikan nama bunga matahari yang melambangkan keceriaan untukku," menyentuh tangan yang menggenggam bunga pemberiannya, "Untuk bunga teluki putih ini, melambangkan kesetiaan dan mewakilkan perasaan cinta seseorang." Anastasia mengulas sebuah senyuman tulus di wajahnya, "Terima kasih, Helian. Aku pasti akan memberikannya pada orang yang berharga untukku," bangkit dan memberikannya pada Myla yang berdiri di belakangnya agar bisa menyimpannya untuk sementara waktu. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengunjungi setiap sudut di Distrik Edelweiss selama beberapa hari ini. Pasar, fasilitas umum, berbagai acara seperti perayaan atau peringatan sampai melihat bagaimana kehidupan para petani. Dari sana Anastasia tahu kalau sang duke ternyata bukan hanya pemimpin yang pandai menghukum namun juga pandai dalam bidang mengelola sebuah distrik yang damai seperti Distrik Edelweiss. Dia bisa menekan pandangan buruknya terhadap sang duke kini. Ternyata sang duke tidak seburuk yang dibayangkan. Tetapi dia tetap tidak akan lengah terhadap musuh yang paling dekat dengannya. Bisa jadi kebaikan yang ditunjukkan itu adalah siasat untuk melemahkannya. Sang duke memperhatikan pakaiannya apakah ada yang salah. Seragamnya dikenakan rapi dan jika dilihat berapa kali pun tetap tidak ditemukan letak kesalahannya di mana. Namun, kenapa Anastasia sejak berada di atas kereta kuda memandangi dadanya? Apakah Anastasia sedang menginginkannya? Selama ini ketika mereka akan bercinta, memang hanya dia saja yang datang menghampiri. Mungkin saja Anastasia bukan seorang wanita yang berani meminta padanya. Bukankah itu berarti dia harus peka terhadap keinginan wanita yang sudah menjadi istrinya itu? "Anastasia," panggilannya membuat mata mereka saling bertemu, "Apakah kau," ucapannya keluar ragu sebelum kata terakhir bisa lolos dari keraguan, "Menginginkannya?" sengaja berdeham setelah itu lantaran malu oleh pertanyaannya sendiri, "Maksudku ... Kau memelototi dadaku sejak tadi. Jadi aku bertanya apakah kau menginginkannya?" Anastasia berpikir sebentar sebelum akhirnya mengerti maksud dari ucapan sang duke, "Kau benar-benar pria yang tidak sopan! Berani-beraninya berpikiran kotor terhadap seorang wanita!" Lagi-lagi sang duke harus menerima cercaan dari Anastasia. Dia tergelak hingga memenuhi satu ruangan kereta kuda. Bukan karena lucu namun dia tidak habis pikir ternyata pelajaran yang diberikan oleh Gilda selama ini tidak berpengaruh apa-apa pada sikap Anastasia. Dia tetap saja diteriaki dengan cercaan yang menusuk. "Ketika aku memikirkan sesuatu yang menyenangkan tentang istriku, apakah itu bisa dibilang sebagai pikiran kotor?" Anastasia semakin malu oleh perkataan yang seakan membenarkannya. Ternyata memang pria di hadapannya sangat tidak sopan. Memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai dirinya. Bagaimana dia harus menyikapinya? Dia tidak boleh lengah lagi dan harus membuat perlawanan. "Tentu saja! Kita sama-sama tahu kalau tujuan pernikahan dilaksanakan hanya untuk kerja sama. Jika kita tidak menikah, hubungan kita hanya sebatas orang asing." Sang duke mengembuskan napasnya lambat-lambat sembari menyandarkan punggungnya, "Dan sejak lama kau sudah mati di tangan orang asing itu." Memang kalau dihadapkan dengan pembicaraan yang mengarah pada kematian, Anastasia tidak dapat melawan karena dia tidak punya kuasa untuk itu. Dia adalah pihak yang paling lemah tanpa memiliki senjata apa pun. Berbeda dengan sang duke yang mana bisa membocorkan identitasnya kapan saja dan para prajurit di setiap sudut distrik akan senantiasa menangkapnya. Apa yang harus dilakukannya untuk melawan sang duke? Dia tentu tidak ingin berlama-lama tinggal di tempat yang setiap detik bagaikan ancaman baginya. Rencana pelariannya harus disusun secepatnya dan kali ini tidak boleh gagal lagi. "Aku ingin berlatih menggunakan pedang." Sang duke terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan jawaban apa yang cocok untuk permintaan itu. Dia tahu untuk apa Anastasia tiba-tiba ingin berlatih menggunakan pedang. Tidak masalah baginya jika Anastasia menginginkannya. Dia akan mengabulkannya karena berlatih pedang juga penting untuk pertahanan diri. Apalagi seorang pembunuh seperti Anastasia memiliki banyak musuh di mana-mana. Dia memang mengincar pembunuh Putri Haura dan yang memiliki kemungkinan besar menjadi pelakunya adalah Anastasia. Wajar saja jika Anastasia berusaha mati-matian untuk kabur dari pembunuhnya. Namun, kenapa dia tidak menyukainya? Apakah karena dia tidak bisa membiarkan seorang pembunuh berkeliaran bebas di luar sana? Apakah itu murni karena dunia kemiliteran yang dia miliki untuk selalu menegakkan kebenaran? Atau karena dia tidak ingin jika Anastasia kabur darinya? Apa yang dirasakannya kini sungguh menyesakkan d**a. "Aku akan menyuruh Flint mencarikan pengajar untukmu." "Tidak! Aku ingin kau yang mengajariku. Tidak ada yang lebih ahli menggunakan pedang dibandingkan dirimu." Sang duke yang duduk bersandar tadinya memajukan tubuhnya agar bisa melihat Anastasia dengan jelas. Memindai tujuan dari seorang Anastasia yang sebenarnya dari bola mata yang begitu yakin itu, "Aku penasaran musuh seperti apa yang akan kau hadapi sampai membutuhkan pengajar yang ahli," matanya menyipit ketika semakin tampak tujuan itu, "Apakah itu aku?" Anastasia menelan ludahnya sendiri. Dia ingin lari dari tatapan mata yang sedang menyudutkannya, akan tetapi seluruh tubuhnya seakan kaku di tempat. Mulutnya begitu kelu untuk berbicara dan yang bisa dilakukannya adalah menerima serangkai pendapat sang duke terhadapnya. Sang duke terkenal akan keahliannya menggunakan pedang. Jika dia belajar dari sang duke, pasti dia bisa menghancurkan musuh-musuhnya yang lain. Hingga saat pelarian nanti dia bisa melindungi dirinya. Dia berada di bawah perlindungan sang duke sekarang, tetapi tidak tahu apakah selanjutnya akan tetap sama. Dia harus mempersiapkan diri sebelum semuanya terlambat. "Baiklah," entah benar atau tidak pendapatnya terhadap Anastasia yang mana ingin melawannya, dia akan melihatnya nanti ketika waktunya sudah tiba, "Aku akan melatihmu menggunakan pedang." *** Di depan sana Flint dan Myla yang duduk bersama kusir tengah bercakap-cakap sembari menunggu mereka sampai di Morning Glory. Myla memandangi dua tangkai bunga teluki putih yang dipegangnya. Satunya pemberian Anastasia yang harus disimpannya untuk sementara waktu, sedangkan satunya lagi adalah pemberian Flint. Tadi sebelum kereta kuda berangkat, Flint mengambil kesempatan untuk membeli setangkai bunga yang sama. Setelah mengetahui makna dari bunga teluki dari anak pemilik toko bunga yang ada di Distrik Edelweiss, dia ingin mengungkapkan bagaimana isi hatinya pada Myla melalui bunga itu. Myla yang mendapatkannya tentu sangat senang karena mendapatkan ungkapan kasih sayang dari pria yang dicintainya. Dia tidak berhenti memandangi cantiknya kelopak bergerigi seperti mahkota itu. Betapa dia sangat senang ketika Flint memberikan kejutan saat menawarkan tangan untuk membantunya naik ke atas kereta kuda. "Apa bunga itu lebih menarik dibandingkan aku? Kau tidak berhenti memperhatikannya dan mengabaikan aku yang duduk di sampingmu." Myla terkekeh dan dia baru mengalihkan pandangannya ke arah Flint ketika sudah disadarkan, "Aku memikirkanmu saat memperhatikan bunga yang cantik ini," dalihnya kemudian tertawa, "Oh," mengingat sesuatu yang terlupakan olehnya, "Bukankah Duke Lucherne dan Nyonya Anastasia akan pergi ke Distrik Syringa besok? Kalau begitu aku harus mempersiapkan segala kebutuhan Duke Lucherne dan Nyonya Anastasia selama di sana." Flint mencegah tatapan itu berpaling darinya, lalu dia menundukkan kepala sampai bisa mencapai telinga Myla. Dia sedikit memberikan pelukan agar kusir tidak mencurigai dan melihat tindakan mereka sebagai sepasang kekasih yang mencurahkan kasih sayang saja. "Kau tidak perlu melakukannya." Bisikan itu membuat wajah Myla merona merah namun dia tidak bisa menolak rasa penasaran akibat ucapan yang melarangnya untuk melakukan tugas seorang pelayan. Dia menolehkan kepala dan tatapannya langsung tertuju pada Flint yang mana jarak mata mereka hanya terpaut satu jengkal saja. "Kenapa," bibirnya langsung dihalangi oleh telunjuk Flint, seakan memintanya untuk merahasiakan perbincangan mereka. Dia melirik ke arah kusir yang mana sekarang sedang fokus mengendarai kuda. Sesekali sibuk mengusap keringat dan sepertinya kusir tersebut tidak berani melihat ke arah mereka. Kemudian dia menatap Flint kembali dan menyetujui untuk berbicara pelan saja, "Kenapa aku tidak perlu melakukannya?" "Tuan dan Nyonya Anastasia akan datang ke Distrik Syringa sebagai pengembara." "Kenapa harus begitu?" Bagaimana Flint harus menjawab kebingungan Myla? Identitas lama Anastasia jelas tidak boleh terbongkar. Dia tidak bisa memberitahukannya pada siapa pun, termasuk pada Myla. Kesetiaannya pada sang duke menuntutnya untuk merahasiakan berita yang sangat penting mengenai identitas Anastasia. "Tuan bekerja sama dengan Duke Charles untuk memberantas pengedar tanaman Hull Gill di Distrik Syringa. Oleh karena itu perjalanan mereka harus dirahasiakan agar tidak menghalangi pencarian." "L-lalu kenapa Nyonya Anastasia juga ikut dalam pencarian itu?" Untuk yang kedua kalinya Flint harus berbohong agar rahasia tetap aman, "Kau tidak ingat malam itu? Bagaimana tuan mencium nyonya? Mereka adalah pasangan baru dan sulit untuk dipisahkan. Untuk itu tuan akan membawa nyonya bersama." Bagaimana Flint bisa memberikan alasan itu di saat hubungan sang duke dan Anastasia selalu dibumbui oleh pertengkaran? Dia pasti sudah gila membiarkan otaknya selalu mengingat kejadian malam itu. Menyimpulkan sendiri kalau sang duke sudah jatuh cinta pada Anastasia. Jika sang duke mengetahuinya, entah hukuman apa yang harus dijalaninya. Setelah dijelaskan, Myla akhirnya mengerti dan tidak mempermasalahkan lagi topik yang sama. Pandangannya dibawa lurus kembali menghadap jalan. Sementara itu Flint yang melihat reaksi tidak biasa dari Myla mencoba menebak-nebak. Setelah memberikan penjelasan tadi kekasihnya seakan larut dalam pikiran sendiri. Apa sebenarnya yang dipikirkan Myla? Padahal apa yang mereka bicarakan bukan sesuatu yang harus terlalu dipikirkan. Flint melirik bunga teluki yang hampir lepas dari genggaman dan segera bergerak menggapainya. Myla yang sadar akan aksi Flint langsung melakukan hal yang sama. Dia juga berusaha menggapai bunga teluki yang lepas dari genggaman namun dicegah dan dia langsung dibawa masuk ke dalam pelukan. Hampir saja dia terjatuh dari kereta kuda kalau tidak ditangkap oleh Flint. Kusir yang mengetahui kejadian itu langsung berinisiatif menghentikan laju kuda. Cukup sulit untuk menghentikannya secara mendadak karena laju kuda sangat kencang. Bisa saja kereta kuda menjadi terbalik jika dia secara sembarangan menghentikannya. Flint memberikan sedikit jarak untuk melihat apakah Myla baik-baik saja. Wanita itu tampak terkejut bercampur takut sembari memegangi satu bunga teluki di tangan. Sayang sekali dia tidak bisa menyelamatkan bunga teluki satunya lagi, tetapi untung saja yang lebih berharga dari bunga itu bisa dilindunginya. Dia kembali memeluk Myla sembari menciumi pucuk kepala itu untuk menjauhkannya dari ketakutan. Di dalam sana sang duke dan Anastasia kebingungan dan pertanyaan mereka sama. Kenapa kereta kuda tiba-tiba berhenti? Apakah terjadi sesuatu di luar sana? Sang duke membuka jendela kereta dan mencoba mengintip dari sana. Dia hanya bisa melihat kusir yang menoleh ke kiri, tempat di mana Flint dan Myla duduk seharusnya, "Flint, apakah terjadi sesuatu?" mengangkat sebelah alisnya sembari memperhatikan Anastasia yang diliputi perasaan khawatir. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan. Tidak terjadi apa-apa di luar. Semuanya aman terkendali." Tidak lama setelah itu kereta kuda kembali melanjutkan perjalanan. Mengetahui semuanya baik-baik saja, Anastasia bisa bernapas lega. Dia melirik sang duke yang mana tengah menatapnya. Entah sudah berapa lama dia tidak tahu. Segera setelah itu dia menyingkir ke sudut semula, yang jauh dari jangkauan sang duke. Memberikan jarak yang lebar di antara mereka karena dia tidak ingin selama perjalanan dihidangkan pemandangan musuhnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD