Anastasia dengan malas melangkahkan kaki menuju kamar. Secara bergantian bahunya ditepuk pelan menggunakan kepalan tangan. Setelah itu lengannya ditekuk dan diputar untuk melemaskan otot yang tegang. Menyapa para penduduk distrik Edelweiss sungguh menguras tenaga dan membuatnya kelelahan.
Dia hanya berjalan seorang diri sekarang. Tadi setelah turun dari kereta kuda, sang duke dan Flint langsung pergi entah kemana. Dia tidak berniat untuk bertanya karena baginya yang terpenting adalah kebebasannya usai melalui berbagai macam kesibukan. Sedangkan Myla bergegas menyiapkan air hangat untuk mandinya malam nanti.
Setibanya di kamar, dia harus dibuat kebingungan oleh kehadiran perancang pakaiannya. Padahal mereka tidak memiliki janji temu hari ini. Pakaian yang dirancang untuknya tempo lalu juga belum dipakai seluruhnya. Apakah jadwal pertemuan mereka dimajukan? Tetapi Myla tidak memberitahukan apa-apa padanya mengenai hal itu.
"Selamat sore, nyonya Anastasia." Memberi hormat seperti yang biasa dilakukannya ketika berhadapan dengan pelanggan yang statusnya berada di atasnya. "Saya datang memenuhi panggilan duke Lucherne." Beralih pada bingkisan yang ada di meja. Kain pengikat bingkisan dilepaskan dan tampak isi dari bingkisan itu. Ada pakaian yang mana dilipat rapi di dalam sana. "Duke Lucherne meminta saya untuk merancang pakaian dan mengantarkannya sebelum besok."
Anastasia ingat ketika sang duke mengatakan kalau mereka harus mendatangi distrik Syringa sebagai pengembara. Mungkin itu adalah alasan kenapa Pirsa berada di kamarnya dengan pakaian-pakaian itu. Mengingat pakaian yang mereka miliki semuanya mencerminkan kaum kelas atas yang mana tidak cocok dikenakan oleh pengembara. Kecurigaan hanya akan terjadi jika pemimpin distrik Edelweiss beserta istri datang ke distrik Syringa tanpa pemberitahuan atau undangan.
Kalau hal itu benar-benar terjadi, dia tidak bisa mengunjungi keluarganya. Gerakannya tidak akan bebas dan akan selalu diawasi kemana pun pergi. Mau tidak mau dia harus menuruti saran sang duke untuk rencana keberangkatan ke distrik Syringa besok.
"Bagaimana dengan pakaian yang saya rancang untuk nyonya? Apakah nyonya nyaman menggunakannya?"
Setelah pakaiannya dirancang oleh Pirsa, mereka memang tidak pernah bertemu lagi. Waktu itu dia harus melaksanakan hukuman dari Gilda dan membuat pertemuan mereka tidak terjadi. Dia hanya mendengar dari Myla kalau Pirsa singgah membawa pakaian yang telah jadi.
Sungguh mengejutkan tidak ada pakaian yang ukurannya meleset dari perkiraan. Dia sempat khawatir karena Pirsa hanya mengitarinya saja tanpa mengukur tubuhnya dengan pita ukur. Ternyata apa yang didengar Myla dari orang-orang bukan bualan semata. Pirsa yang memiliki warna mata unik itu bisa menentukan ukuran tubuh seseorang dengan hanya melihat posturnya saja.
"Aku sangat nyaman menggunakannya."
"Syukurlah," Pirsa meletakkan tangan di d**a dan mengembuskan napas pelan. Ada raut lega terpapar jelas di wajah itu kini. "Merancang pakaian untuk nyonya adalah sebuah penghargaan besar. Saya sangat senang jika nyonya nyaman menggunakan hasil rancangan yang saya buat."
Anastasia mengerti dengan kekhawatiran itu. Dia tau kalau sang duke tidak hanya terpandang namun juga sangat dihormati oleh orang banyak. Rasa syukur yang Pirsa miliki adalah apa yang dia rasakan ketika menyapa para penduduk. Dia juga bagian dari penduduk sebelum tinggal di Morning Glory. Sedikit banyaknya dia tau bagaimana perasaan penduduk. Apalagi Pirsa diberi tugas oleh sang duke yang mana jika hasilnya mengecewakan, akan membuatnya ikut kecewa karena keinginan sang duke juga merupakan keinginan distrik Edelweiss.
Anastasia melangkah maju dan menggenggam kedua tangan Pirsa menjadi satu. "Aku yang seharusnya senang bisa menggunakan rancangan pakaian dari tangan hebat sepertimu."
Pujian itu bukan omong kosong saja karena memang pakaian yang dikenakannya sangat nyaman untuk digunakan. Meskipun pakaian sekelas bangsawan tampak berat, rumit, dan gerah namun dia tidak merasakan hal itu sama sekali. Sebaliknya pakaiannya seperti sengaja dibuat ringan, elegan dalam kata sederhana, dan tidak gerah saat memakainya.
Kemudian dia membuat jarak di antara mereka dan memperlihatkan gaun cantik yang sudah dibawanya menyapa penduduk distrik Edelweiss sejak pagi tadi. "Aku menyukai pita ini." Menyapu sebuah pita yang tersemat di dadanya. "Lengan ini juga aku menyukainya. Desainnya unik dengan renda dan pita kecil sebagai penghiasnya."
Pirsa tersenyum dan apa yang ada di pikirannya sekarang adalah dia tidak mengira jika pelanggan barunya sangat ramah. Banyak pelanggan datang ke butik kecilnya atau dia yang mengunjungi istri orang-orang terpandang itu langsung, akan tetapi kebanyakan dari mereka suka memerintah dan memamerkan status mereka. Baru kali ini dia mendapatkan pujian yang begitu tulus dari pelanggannya dan membuatnya sangat berterima kasih pada Anastasia.
"Bagaimana kalau nyonya mencoba pakaian yang saya rancang terlebih dahulu?"
Anastasia tergelak sembari menutupi mulutnya. "Melihat pakaian baru yang aku kenakan, sepertinya kita tidak perlu mencobanya. Aku sangat yakin dengan keahlianmu dan aku juga sangat yakin akan menyukainya."
Pirsa ikut tergelak dengan sikap yang sama. "Nyonya terlalu memuji. Saya masih jauh dari kata pujian itu." Ucapnya merendah.
Sayangnya percakapan menyenangkan mereka harus berakhir karena air hangatnya sudah datang. Pirsa yang sudah menyelesaikan tujuan kedatangannya, tidak ada alasan lagi berlama-lama untuk berada di Morning Glory. Kepergian Pirsa berganti dengan Myla, para pelayan, dan..
Sang duke muncul dari balik pintu di saat yang bersamaan. Kedatangan sang duke membuat Anastasia memalingkan muka ke arah para pelayan yang sibuk memindahkan air hangat ke dalam bak mandi. Mereka juga mengganti handuk yang menggantung dengan yang baru serta menyiapkan pakaian ganti. Usai menyiapkan segalanya, dengan sikap sopan mereka undur diri meninggalkan kamar.
Setelah pintu ditutup rapat, sang duke dan Anastasia baru bergerak melaksanakan apa yang mereka ingin lakukan sejak tadi. Anastasia segera berlalu menghadap cermin dan melepaskan topi diikuti anting, riasannya dihapus kemudian. Selesai dengan urusannya, dia membalikkan badan hendak ke kamar mandi namun apa yang dilihatnya adalah sang duke berada di dalam kamar mandi yang mana pintunya tidak ditutup.
Sang duke tengah bersandar sambil menengadahkan kepala di dalam bak mandi. Menikmati air hangat yang seharusnya adalah miliknya. Dia sangat lelah dan sudah menunggu pijatan air hangat itu sejak tadi. Tetapi tanpa diliputi rasa bersalah sang duke berendam nyaman di sana. Seharian ini dia sudah bersabar namun kali ini dia tidak bisa bersabar lagi.
Sang duke masih belum membuka matanya waktu Anastasia memasuki kamar mandi. Lebih baik baginya begitu karena sang duke tidak akan melihat apa yang akan dilakukannya. Perlahan pakaiannya diturunkan dan Anastasia masuk ke dalam bak mandi yang sama. Berendam sambil membelakangi sang duke dengan tampang kesalnya. Membiarkan kerut mendiami dahinya lama-lama sebagai bentuk pelampiasannya.
Sang duke yang hanyut dalam nyamannya air hangat itu langsung membelalakkan mata ketika permukaan air bergerak dan menciptakan suara akibat cipratan yang mengenai dadanya. Dia lebih terkejut lagi melihat pemandangan yang ada di depannya. Seingatnya Anastasia menolak keras untuk berendam bersamanya. Lagi pula percakapan bersama Myla waktu itu tidak benar sepenuhnya. Memandikan Anastasia hanya dijadikan alasan agar para pelayan tidak mempertanyakan kenapa dia menyuruh untuk berhenti memandikan Anastasia.
Tadi di kereta kuda juga begitu dan ketika ditanya apakah Anastasia menginginkan dirinya, penolakan keras berupa cercaan diterima sebagai balasan. Dia bisa menerima karena mungkin saja dia yang sudah salah paham akan situasi waktu itu namun sekarang bagaimana dia akan salah paham kalau Anastasia secara terang-terangan duduk di dalam bak mandi yang sama dengannya?
"Tidakkah kau merasa pegal berlama-lama melipatkan kakimu?"
Walaupun sangat berani masuk ke dalam bak yang sama, bukan berarti Anastasia berani mendekati sang duke dalam posisi tanpa pakaian, hanya terhalangi oleh kelopak bunga dan air saja. Oleh karena itu dia memilih sisi tepi dan berharap tidak menyentuh kedua kaki sang duke yang mana paling dekat dengannya sekarang. Dia hanya memakai sedikit ruangan dengan duduk sambil lutut ditekuk ke atas. Menjaga keseimbangan agar mereka tidak saling bersinggungan.
"Tentu saja aku sangat pegal karena kau menghabiskan banyak ruang." Menyisipkan upaya untuk menyingkirkan sang duke dengan kalimat sindirannya.
Sayang sekali sindiran itu tidak mengenai sang duke. "Ada banyak ruangan tersisa di tengah-tengah bak mandi. Kau bisa memakainya tanpa melipatkan kaki." Memainkan ujung rambut Anastasia yang melayang di permukaan air.
Apa sang duke sudah gila? Jika dia meluruskan kaki di tengah-tengah bak mandi, dia akan duduk berdekatan dengan sang duke dan dia tidak menginginkan hal itu. Tetapi.. kenapa tawaran itu tidak dijadikan kesempatan saja? Jika kalimat pengusirannya tidak mempan, bagaimana dengan tindakan? Dia bisa membuat sang duke tidak nyaman dengan keberadaannya dan sang duke sendirinya akan keluar dari bak mandi. Bukankah itu adalah ide yang cemerlang untuk menyingkirkan sang duke?
Anastasia mendorong tubuhnya ke belakang hingga kakinya bisa diluruskan. Selanjutnya apa lagi? Apakah dia harus menyikut perut sang duke, lalu mengatakan kalau dia tidak sengaja melakukannya? Atau dia mendesak sang duke seakan bak mandi itu benar-benar sempit untuk dimasuki oleh dua orang? Dia harus mencari cara untuk menyingkirkan sang duke dari dalam bak mandi secepatnya.
Di balik rencana jahat Anastasia, sang duke tersenyum tipis setelah tadinya terkejut kalau ternyata tawarannya benar-benar diterima. Tangan yang bersembunyi di dalam kehangatan air pun dikeluarkan dan dibawa menutup mata Anastasia. Tangannya didorong perlahan sampai kepala Anastasia bisa bersandar di dadanya.
Tindakan yang tiba-tiba itu membuat Anastasia menolehkan kepala. Dia menelan ludahnya kasar lantaran melihat pemandangan yang menyejukkan di depan mata. Rambut sang duke yang basah disisir rapi oleh jemari dan permukaan kulit yang lembap itu seolah menemukan penyegarnya. Tampilan yang seperti itu membuat sang duke kelihatan polos tanpa beban memicu gejolak aneh merayapi hatinya.
Sang duke menopang lengannya ke tepian bak mandi dan memperhatikan Anastasia yang kini tampak rileks dibandingkan tadi. "Bahumu terlalu tegang di dalam air hangat yang seharusnya kau nikmati."
Kesadaran Anastasia kembali pulih dalam waktu singkat. "Jangan sok tau! Bahuku tidak tegang dan aku menikmatinya."
Tidak bisa ditahan, akhirnya tawa lebar keluar dari mulut sang duke. "Itu berarti kau menikmati waktu berendam denganku?"
Anastasia berpaling untuk menyembunyikan malu yang mungkin saja tergambar jelas di wajahnya. "Berhenti berbicara yang tidak-tidak." Menjangkau sebuah botol kaca yang isinya biasa dipakai olehnya untuk membersihkan rambut namun terlalu jauh karena dia berusaha agar kakinya tidak menyentuh kaki sang duke.
Melihat kesulitan itu membuat sang duke membantu Anastasia. Dia menggapai botol yang di maksud dengan mudahnya dan memberikannya pada orang yang menginginkannya. Langsung saja Anastasia membuka tutup botol dan menuangkan isinya ke telapak tangan, lalu mengusapkannya ke kepala. Sesudah itu memberikan botol tersebut pada sang duke.
Tanpa bantahan sang duke meletakkannya ke posisi semula, kemudian ikut serta memijit rambut Anastasia. Sesekali tangannya memdapatkan pukulan lantaran Anastasia yang tidak ingin dia ikut campur namun dia tetap bersikeras hingga Anastasia membiarkannya.
Cairan yang ada di dalam botol itu seperti sampo namun tidak ada busa yang ditimbulkan karena memang cairan itu terbuat dari minyak zaitun dan kandungan lain yang mana tidak bertujuan untuk menciptakan busa.
***
Pelham memperlambat langkah yang akan dibawanya tadi menuju kamar peristirahatan ketika melihat para pelayan sedang berkumpul. Berbisik-bisik seperti maling yang sedang menyusun strategi untuk mencuri. Lebih membingungkan lagi tempat mereka beridri sekarang mengundang perhatian.
"Hey! Apa yang kalian lakukan di depan kamar duke Lucherne?" Berbicara dengan nada tinggi, tidak berniat merendahkan suaranya sedikit pun.
Para pelayan langsung membentuk barisan rapi. Tidak ada yang berani menegakkan kepala karena mereka sudah ketahuan mencoba mengintip tempat privasi pemimpin distrik Edelweiss. Entah apa yang akan didapatkan jika tindakan kurang ajar mereka diketahui oleh pemilik tempat privasi itu sendiri.
"Kalian ingin mengintip duke Lucherne dan nyonya Anastasia?" Ucapnya masih dengan nada yang sama. Kali ini disertai oleh gelengan tidak percaya akan tingkah laku para pelayan yang menurutnya sangat tidak sopan.
"K-kami tidak bermaksud buruk, Pelham." Salah seorang pelayan menyatukan kedua tangan diikuti oleh pelayan lainnya. "Kami hanya penasaran akan kisah cinta duke Lucherne dan nyonya Anastasia."
Pelham melirik buku dan juga pena yang terselip dalam genggaman seorang pelayan. Menyadari lirikan Pelham, seketika pelayan tersebut memasukkan buku itu kembali ke dalam saku. Pelayan itu semakin menundukkan kepala dan bibirnya dikatup rapat.
"Kau berniat untuk mengabadikan kisah cinta duke Lucherne dan nyonya Anastasia dengan menuliskannya di kertas?!"
Teriakan itu berhasil membuka pintu yang tadinya tertutup rapat. Dari dalam sana orang yang dibicarakan muncul. Pelham segera menyatu dalam barisan para pelayan dan menunjukkan sikap yang sama, memberi hormat pada sang duke. Mereka semua sangat ketakutan menghadapi kemarahan yang akan diterima.
"Ada urusan apa para pelayan mengunjungi kamarku malam-malam seperti ini?"
Pelham yang tidak ingin menerima kemarahan sang duke memacunya untuk memberitahukan penyebab berkumpulnya mereka. "M-maafkan saya, tuan. Saya hanya tidak sengaja melihat para pelayan wanita berdiri di depan kamar tuan." Seakan menyelamatkan diri sendiri, Pelham dilirik tajam oleh para pelayan tersebut.
"Untuk apa mereka berkumpul di depan kamarku?"
Pelham yang digubris oleh sang duke memunculkan kesenangan tersendiri di dalam hatinya. Dia yang tadinya ragu, kini begitu yakin untuk memberitahukan alasannya. "Mereka berniat mengabadikan momen kebersamaan tuan dan nyonya melalui tulisan."
Pelayan yang memiliki buku itu spontan memegangi sakunya. Berharap tidak ketahuan namun sikapnya sekarang justru memberitahukan pada sang duke secara tidak langsung kalau dia yang berniat atas tuduhan Pelham.
"Sungguh lancang menembus area privasi tanpa izin pemiliknya!" Nada suaranya tinggi hingga membuat siapa pun yang mendengar gemetar ketakutan.