"Luce.."
Panggilan itu membuat sang duke mau tidak mau harus menolehkan kepala. Anastasia kini tengah berdiri di balik punggungnya. Mengulurkan sebuah handuk kering sembari memasang tampang memelas. Membuatnya hilang akal untuk mengatasi kejadian yang memancing kemarahannya.
"Bisakah kau membantuku mengeringkan rambut, Luce?"
Entah mengapa kemarahannya jadi padam saat mendengar Anastasia memanggil namanya. Mampu menyalurkan kehangatan sampai menyentuh hatinya yang paling dalam. Hingga tanpa sadar dia bergerak meraih handuk dari tangan Anastasia.
Para pelayan yang melihat bagaimana kemesraan sang duke dan Anastasia tidak dapat berkata apa-apa. Ternyata mengenai cinta yang dihalangi oleh jarak dan waktu itu benar adanya. Sungguh merupakan hubungan yang sangat romantis dan membuat jiwa mereka meronta hebat.
Tidak ingin pemandangan yang bersifat pribadi itu dilihat, Pelham segera menutup pintu. Mengusir para pelayan agar pergi menjauh dari pintu kamar tersebut. Sebelum itu Pelham dilirik tajam dan diberikan senyuman sinis. Para pelayan wanita itu jelas tidak suka dengan Pelham yang menyelamatkan diri sendiri.
Meninggalkan Pelham dan para pelayan, di dalam kamar Anastasia langsung merebut handuk yang tadinya diberikan pada sang duke. Sebenarnya dia sengaja bersikap demikian agar sang duke berhenti membuat para pelayan ketakutan. Dia pernah di posisi itu dan tidak ingin ada orang tidak bersalah seperti para pelayan tadi merasakannya.
Sang duke mengerutkan dahi dipenuhi oleh kebingungan. "Bukankah kau meminta bantuanku untuk mengeringkan rambutmu?"
"Aku melakukannya agar kau berhenti menakuti para pelayan." Berlalu pergi menjauhi sang duke, Anastasia kemudian duduk di kursi sembari mengeringkan rambutnya. Bersenandung ria seperti tidak terjadi apa-apa.
Nyatanya sikap Anastasia mengundang kekesalan bagi sang duke. Entah mengapa dia yang terpengaruh oleh tatapan sayu yang begitu lemah itu menjadi menyesal. Bagaimana dia bisa tertipu oleh Anastasia? Padahal saat mendengar namanya dipanggil, dia merasakan kehangatan yang begitu nyaman memyelimuti dadanya.
Ternyata semua itu palsu.
Menyampingkan kekesalannya, sang duke berlalu ke area duduk dan menghampiri perapian. Dia berjongkok di sana sembari memandangi hampanya tungku tanpa api yang membakar kayu. Perapian memang tidak digunakan karena sekarang adalah musim semi yang mana hangatnya tungku masih belum diperlukan benar.
Anastasia yang masih sibuk mengeringkan rambut, melihat sang duke berjongkok terlalu lama di depan perapian memunculkan pertanyaan di benaknya. Padahal tidak ada yang perlu diperhatikan dengan serius soal perapian itu. Rasa penasaran akhirnya membawanya datang menghampiri sang duke.
Dia mengarahkan tatapan matanya pada apa yang dilihat oleh sang duke. Sama fokusnya hingga akhirnya dia menyerah. Ternyata memang tidak ada apa-apa di sana. Mungkin saja sang duke kurang kerjaan dan menatap perapian adalah caranya mengisi waktu luang. Pria yang sangat aneh.
Sang duke memegangi tangan Anastasia yang hendak pergi itu. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Cengkeraman di pergelangan tangan Anastasia dilepaskan ketika wanita itu memilih ikut berjongkok bersamanya. Dia mengarahkan tatapannya kembali menghadap perapian.
Satu persatu kayu dipindahkan ke sisi kosong lainnya sehingga tampak bagian bawah tungku. Ada garis berbentuk persegi empat di sana. Apakah itu merupakan sebuah ruang rahasia? Kalau benar rahasia mengapa sang duke membocorkannya pada Anastasia yang mana adalah musuhnya? Dan lagi apa sebenarnya yang ada di dalam tempat rahasia itu?
Sang duke beranjak mengambil belatinya, kemudian menyelipkan belati ke garis itu. Seperti tuas belatinya didorong ke bawah hingga persegi empat tersebut bergeser ke atas layaknya sebuah kotak yang dibuka penutupnya. Anastasia tidak bisa melihat apa-apa karena ruangan yang baru saja dibuka penutupnya itu sangat gelap. Entah apa yang ada di dalam sana, dia tidak bisa menebak dan tidak berani untuk bertanya.
Berbeda dengan Anastasia yang diliputi oleh rasa takut, sebaliknya sang duke dengan berani memasukkan tangannya ke ruangan gelap tersebut. Tidak lama karena sebuah benda perlahan muncul dari sana. Benda itu adalah sebuah peti persegi panjang yang mana kulit luarnya tidak lagi bagus. Seperti hangus dibakar oleh api. Mungkin penyebabnya adalah karena tempat diletakkan peti itu berdekatan dengan perapian.
Peti itu mengingatkan Anastasia pada benda yang serupa dengan apa yang dilihatnya tadi. Sang duke membawa peti yang mana lebih bagus dibandingkan peti yang muncul dari tempat penyimpanan rahasia itu. Seketika pandangannya dialihkan pada meja yang ada di area duduk, tempat di mana peti itu berada.
Sang duke beranjak ke area duduk dan meletakkan peti yang tidak lagi bagus di samping peti yang masih bagus tampilannya. Tepat di saat sampai di Morning Glory tadi, dia pergi bersama Flint untuk menemui seseorang. Orang tersebut pembuat peti yang ada di hadapannya sekarang. Dia berniat untuk mengganti peti yang lama agar ketahanan benda yang disimpan tetap terlindungi di bawah perapian.
"Aku sudah menyimpannya selama bertahun-tahun." Mengusap peti tersebut dengan ibu jarinya. Sudah bertahun lamanya dia menyimpan benda warisan itu dan sekarang harus dibukanya kembali. "Tidak aku sangka akan membukanya secepat ini."
Setelah mempersiapkan diri sang duke membuka peti perlahan. Terdapat kain penutup lain yang membuat benda rahasia di dalamnya tidak langsung tampak. Dia membuka kain itu dan kini bisa terlihat jelas benda warisan yang membawa kembali kenangan masa lalunya. Benda itu adalah dua buah pedang yang terdiri atas dua elemen yang mirip dan dipakai keduanya ketika menghadapi lawan.
Sang duke mengambil salah satunya dan mengamati bagaimana kondisi pedang tersebut. Apakah masih sama meskipun tidak disentuh dalam waktu yang cukup lama? Dia menggeser telunjuknya di salah satu bilah tipis pedang tersebut. Sedetik kemudian darah langsung mengalir. Hal itu menandakan kalau pedang masih memiliki ketajaman yang sangat bagus, hanya hitungan detik bisa mengalirkan darah.
Kini ujung pedang yang tajam dipegang dan gagang pedang disodorkan pada Anastasia. Sebelumnya dia sudah menimbang-nimbang apakah pedang warisan itu mampu dikuasai oleh orang seperti Anastasia. Selama mengulur waktu dengan alasan menyapa para penduduk distrik Edelweiss, dia membaca bagaimana karakter seorang Anastasia.
Dia menemukan keberanian yang murni dalam diri Anastasia. Sikap yang tulus menghadapi para penduduk, menyelesaikan berbagai macam masalah dengan gagah berani meski masih membutuhkan arahan untuk membuat keputusan yang bijak. Dia melihat itu semua dengan mata kepalanya sendiri dan membuatnya yakin untuk menyerahkannya. Anastasia akan cocok dengan pedang warisan itu.
"Kau bisa menggunakan pedang ini selama berada di distrik Syringa." Mengguncang pedang itu agar Anastasia segera mengambilnya. "Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Setidaknya kau bisa melindungi dirimu ketika kita tidak bersama."
"Bukankah kau juga akan pergi bersamaku ke distrik Syringa?"
Sang duke mengalihkan pedang dari tangannya secara sepihak ke tangan Anastasia karena tidak kunjung diambil. Lalu dengan telunjuknya yang berdarah itu dia mengangkat dagu Anastasia. "Kenapa? Apa kau takut kalau aku tidak pergi bersamamu?"
Menepis tangan sang duke, Anastasia meraih kain penutup tadi dan menghapus darah sang duke dari pedang itu. "Justru aku menantikan waktu bebas tanpamu." Ucapnya tidak peduli dengan tanggapan sang duke atas keinginan yang secara terang-terangan dia lontarkan.
Sang duke mengertakkan gerahamnya memikirkan pertemuan romantis yang akan terjadi di distrik Syringa nanti. "Tampaknya kau sangat ingin bersenang-senang di sana."
***
Peti yang berisi barang-barang keperluannya diletakkan di lantai. Caroline memperbaiki posisi topi di kepalanya sembari mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan diterima. Pintu kamar diketuk lambat-lambat dan dia berusaha menenangkan diri. Dia berusaha tidak terburu-buru dan lebih memilih untuk menunggu sampai pintu dibuka tanpa ingin mengetuknya lagi.
Orang yang dinantikan muncul tanpa perlu menunggu lama. Memandangi Caroline dengan kebingungan dari atas sampai bawah. Caroline memang sengaja menggunakan pakaian bagus dari biasanya hari ini. Kebahagiaannya telah datang dan dia harus berdandan cantik untuk menyambut itu semua.
"Liana," memegangi lengan kirinya untuk menyembunyikan ketakutan. "Aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik di luar distrik." Tidak adanya respon membuatnya harus mencari akal agar Liana tidak mempermasalahkan kepergiannya. "Kau tau? Bekerja di Réserve tidak terlalu menguntungkan, sedangkan aku harus menggantikan Alicia sebagai tulang punggung di keluarga ini. T-tenang saja. Aku akan," kalimatnya terhenti ketika sebuah pelukan didapatkannya. "Liana?"
"Terima kasih, Carol. Kau sudah membantuku selama Alicia tidak ada." Ucapnya bergetar menahan kesedihan hingga akhirnya bulir-bulir air mata berjatuhan. "Maafkan kami telah menyulitkanmu."
Caroline yang sudah tercengang mendapatkan pelukan dari Liana, terpaksa menikmati alurnya saja. Dia menelan ludahnya kasar dan bibirnya bergetar di saat hati dan pikirannya berkecamuk. Dia membalas pelukan hangat Liana yang membuatnya terbayang akan sosok ibunya yang entah seperti apa.
"Tidak. Kau tidak menyulitkan aku." Memberi jarak di antara mereka agar bisa melihat raut wajah Liana. "Aku akan mengirimimu uang untuk biaya hidup secara rutin. Kau bisa memakainya untuk Hana dan Hani juga."
Liana mengusap pipi Caroline lembut. "Alicia sungguh beruntung mendapatkan teman baik sepertimu."
Nuraninya bergetar untuk membatalkan rencana kepergiannya namun dia ingat ucapan Darwin yang mengharuskannya membuang jauh-jauh rasa iba itu. "A-aku harus pergi." Menurunkan tangan Liana menjauhi wajahnya, lalu peti tadi diangkatnya kembali. "Sampai jumpa lagi, Liana." Membalikkan badan dan pergi. Dia menguatkan hati untuk tetap melangkahkan kaki. Terus berjalan hingga tanpa sadar air matanya mengalir.
Kenapa dia menangis? Bukankah seharusnya hari ini adalah hari kebahagiaannya? Atau dia terlampau senang sampai-sampai air matanya berjatuhan? Tetapi dadanya terasa sesak sekarang dan menyakitkan. Padahal mereka hanya tinggal bersama sebentar saja namun kenapa sudah bisa membuatnya merasa kehilangan?
Di ujung sana Darwin sedang menunggunya dengan kereta kuda. Tangisannya langsung dihapus dan kesedihannya dipaksa menyingkir. Dia tidak ingin Darwin mengetahui kalau dia menjatuhkan air mata karena alasan iba yang mana hanya akan menimbulkan perdebatan atau keraguan di dalam hubungan mereka.
Sebelum masuk ke dalam kereta kuda, mereka menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada sepasang mata pun yang mengetahui keberadaan mereka. Darwin mengambil alih peti yang dibawa dan membukakan pintu. Caroline dibantu menaiki kereta kuda dan disusul oleh Darwin pula.
Tidak lama setelah itu kereta kuda memulai perjalanannya. Darwin membuka tudung kepala yang selalu digunakannya ketika menembus lingkungan luar. Melepaskan jubahnya dan membuangnya begitu saja ke jalanan. Hari ini adalah pencapaian tujuannya dan dia tidak membutuhkan penyamaran lagi.
"Kau membawa semuanya?"
"Ya," mengetuk peti yang ada di tengah-tengah keberadaan mereka dengan kakinya. "Semuanya tanpa terkecuali. Aku menyembunyikannya di antara pakaianku."
Mengenai pakaian, Darwin tidak pernah tau kalau Caroline begitu cantik dengan pakaian yang sekarang. Dia tau kehidupan Caroline seperti apa di luar sana. Hidup seorang diri dengan hanya menjadi pelayan di Réserve. Tidak banyak penghasilan yang bisa didapatkan dari pekerjaan itu.
Apakah Caroline sengaja membeli pakaian baru yang mewah itu demi merayakan kemenangan mereka? Sepenting itukah dirinya bagi Caroline? Seketika hatinya diliputi oleh kesenangan. Dia sangat senang kalau wanita yang dicintainya memang memikirkannya.
Darwin meraih tangan Caroline dan menghadiahkan sebuah kecupan di punggung tangan itu. Masih dalam keadaan menunduk, dia melirik ke arah Caroline. "Kau tidak usah repot mengurusi kepindahanmu karena sebentar lagi ada banyak pakaian yang akan menunggumu."
Caroline membeliak ketika perlakuan Darwin yang menurutnya manis itu menggetarkan perasaannya. Tetapi dia cepat menarik kesadarannya akan keterpanaannya. Dia menarik tangannya sembari memasang tampang cemberut. "Aku masih marah padamu karena kau terlalu lama membawaku pergi bersamamu."
Darwin menegakkan tubuhnya tanpa memundurkan duduknya. "Tapi sekarang aku telah membawamu dan akan menjadikanmu sebagai milikku seutuhnya. Apakah itu masih belum cukup untuk menebus kesalahanku padamu?"
Caroline tersenyum hangat karena sebentar lagi keinginannya untuk memiliki Darwin akan segera tercapai. Selama hidupnya tidak ada yang lebih membahagiakan lagi selain menghabiskan waktunya bersama Darwin.
"Belum cukup. Aku ingin meminta lebih." Ucapnya bersungut-sungut. "Kau harus mencintaiku seumur hidup dan tidak memasukkan wanita lain ke dalam hatimu." Pintanya angkuh sembari mencari tali pengikat topi yang akan ditariknya.
Caroline yang baru hendak membuka tali pengikat topinya, lengan satunya lagi tiba-tiba ditarik dan dia dibawa duduk ke pangkuan Darwin. Niatnya dilanjutkan oleh Darwin yang menarik tali pengikat hingga lepas dari simpulnya. Topi itu jatuh perlahan seiring wajahnya didorong pelan mendekati wajah Darwin.
"Tanpa kau memintanya, aku akan melakukannya." Bisiknya mengembuskan napas panasnya di bibir Caroline.
Awal tercapainya tujuan mereka dirayakan dengan ciuman penuh hasrat yang menggila. Darwin merasakan kemenangan dalam setiap sentuhan yang mereka buat. Mengalirkan hasratnya pada Caroline yang juga diburu oleh kemenangan yang sama. Mereka saling menginginkan, mereka menahan, dan mereka akhirnya mencapai penantian yang cukup panjang itu. Menguras hati dan otak untuk memikirkan bagaimana jalan agar mereka dapat bersatu.
Tubuh yang duduk itu direbahkan agar Darwin bisa menyentuh diri Carol yang lain. Bibir yang masih basah dibawanya turun menyentuh leher yang nadinya telah hangat disebabkan campur tangannya. Napasnya tersenggal namun dia tidak berhenti sampai di situ. Dia menyusup, mengeraskan gigi sampai tubuh mereka benar-benar membara oleh panasnya gejolak api asmara yang menginginkan untuk segera bersatu.
"Aku.. mencintaimu, Carol.." Ucap Darwin disela kesulitannya mengekspresikan bagaimana kenikmatan itu menyatu dengan dirinya. Sungguh tidak ada kenikmatan yang paling membahagiakannya selain bisa menjalani hidup bersama Caroline.
"Darwin.." Carol bisa merasakan gejolak di dadanya yang memanas menjadi lebur dalam setiap melekatnya kulit mereka yang hangat. Tidak ada kata-kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana rasa cintanya terhadap Darwin.
Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka sampai kapan pun. Mereka akan melakukan apa pun untuk mempertahankan tali cinta mereka. Siapa pun yang menghalangi akan disingkirkan tanpa pandang bulu. Bagaimana pun caranya termasuk membunuh sekali pun.