Gadis yang tengah bercermin dengan seragamnya yang indah namun tetap saja kusut karena ia remas dengan gugupnya.
"Baby, ayo berangkat. " Teriak Ax dari lantai bawah membuatnya segera beranjak.
Langkahnya yang buru-buru dan ceroboh. Kacamata yang bertengger sempurna dihidung mancungnya serta rambut yang terurai bebas.
"Nanti kakak turunkan aku di dekat sekolah saja." Ucap Lona membuat Ax menyerngitkan keningnya.
"Kenapa?"
"Kata mama kakak sorotan utama. Aku sedikit tidak nyaman. Apa kakak bersedia?" Ax mendesah berat lalu menuruti keinginan Lona. Meski begitu ia selalu mengawasi Lona.
Mobil menggeram hingga membuat semua orang menoleh kearah sumber suara. Pria yang tampan dengan tatanan rambut rapi dan tampang angkuh intimidasi berdiri sombong bersandar mobilnya.
Axeliano Thalia, pria nomor 1 di Sekolahnya. Tampan, kaya, dan pintar. Sempurna hingga semua wanita menggilainya.
"Kak Axel. "Sapa pria bersama gerombolannya. Ax hanya mengangkat sebelah alisnya dengan meletuskan permen karetnya.
"Apa Zie? "
"Jadi gak kita balapan malam nanti?"
"Jadi dong." Rangkulnya pada temannya yang tak kalah tampan diantara kumpulannya.
Kenzie Elthifar, pria tampan kedua setelah Ax. Dia adalah badboy yang paling dihindari semua orang. Kelakuannya yang jahil serta playboy membuat sebagian orang menghindarinya. Meski begitu, ia tetap digandrungi banyak wanita.Langkah mereka disusul semua orang. Sedangkan Lona yang berusaha lari menyusul gerbang yang akan ditutup. Peluh membanjiri tubuhnya dan membuat tampilannya semakin kusut.
Semua orang memandangnya heran dan jijik. Adakah gadis seperti ini di sekolah mereka? Hanya orang-orang elit yang mampu bersekolah disini.
"Duluan." Ucap Ax buru-buru memasuki ruangannya.
Lain dengan Kenzie yang baru berpisah. Ia berbeda kelas dengan Ax. Langkahnya begitu santai dan sesekali tersenyum pada gadis yang ia lewati.
Bruuuuk
Kenzie nampak terkejut ketika ia ditabrak seorang gadis. Ia semakin terkejut melihat penampilan Lona yang udik.
"Ma- maaf saya tidak sengaja." Ucap Lona gugup dan takut menatap lawannya yang mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak sopan bila kau tidak menatap lawan bicaramu." Ucap Kenzie malah semakin membuat Lona menunduk. Hal ini semakin membuat Kenzie menyunggingkan senyumnya.
"Saya buru-buru. "Ucap Lona malah meninggalkan Kenzie yang ternganga tak percaya.
"Target terkunci." Sungging Kenzie berjalan berlainan arah.
Kenzie yang baru bolos pelajaran kimia harus dibuat terkejut lagi. Dimana ia melihat gadis asing itu tengah duduk dikursinya. Semua menatap minat tanpa berkedip. Mereka penasaran apa yang akan dilakukan Kenzie bila ada anak yang memasuki area terlarangnya.
"Kita bertemu lagi." Smirknya mengerikan mendekati Lona yang tetap sama menunduk diam.
"Kau minta pertanggungjawaban? " Tanya polos Lona membuat Kenzie sedikit menahan tawanya.
"Oh, sebenarnya kau dari planet mana?" Kekehnya membuat semua orang memandangnya tak percaya.
"Hah? Bumi." Ucap Lona menatap manik mata Kenzie karena bingung dengan pertanyaan Kenzie.
Pria itu nampak diam menilai penampilan Lona yang sangat sederhana. Tanpa ada alat make up yang bisa menghilangkan wajah kusamnya.
"Kenzie." Sapa gadis manja pada Kenzie yang langsung ditatapi malas.
"Apa?"
"Duduk bareng aku Yuk."Kenzie hanya menatapnya lalu melengoskan pandangannya dan duduk disebelah Lona.
"Apa? Balik ke alam sana." Usir Kenzie membuat semua menertawakan gadis tersebut.
Pelajaran berjalan dengan tenang hingga mata pelajaran kesukaan Lona tiba. Semua nampak sudah mengantuk dan tertidur saat guru buntal tersebut menjelaskan.
"Ada yang bisa mengerjakan? "Tanya guru tersebut membuat Kenzie tersenyum licik.
"Dia bu, dia malu mau menjawabnya." Tunjuk Kenzie pada Lona yang sudah duduk tegap menegang.
"Aku? Enggak kok. Kapan? "
"Tadi." Jawab santai Kenzie membuat semua orang menatap Lona remeh.
"Ya, silahkan." Ucap guru tersebut membuat Kenzie tersenyum puas.
Lona hanya mengangguk pasrah melihat 10 soal berbeda pembahasan. Seakan semua rumus ada. Dari linear& variabel, cosin&tangen, Aritmatika&geometri semua menjadi satu. Ia dengan ragu menoleh kebelakang, nampak senyum sinis dan kemenangan dari semua orang hingga membuatnya gemetar. Selama ini ia tak pernah mendapat pandangan seperti itu.
Lona menarik nafasnya dalam dan mulai mengurutkan nilai dan menyusun semua rumus. Nampak papan yang semakin penuh dengan angka.Semua ternganga terlebih Kenzie yang termasuk murid pintar harus tercengang melihat ketangkasan jemari lentik Lona dalam menghitung bilangan.
Tepuk tangan guru tersebut membuat Lona menarik nafasnya lega. Baginya ini mudah. Lona sangat menyukai kimia dan matematika. Ia sarjana muda matematika, asal bilangan 0 dapat diketahui Lona diluar kepala.
Ax yang tidak sengaja melintasi kelas Lona membuat pria tersebut tersenyum lega. Adiknya memang punya kelainan di syaraf otaknya sejak lahir, namun kelemahan tersebut adalah keunggulan Lona.Lona mampu mengingat kejadian bertahun-tahun dan mampu menghafal ribuan kosa kata asing dalam waktu sebulan. Bahkan kefokusannya yang sangat baik, membuatnya bisa menghipnotis seseorang.
Lona yang terharu melihat kamarnya didesain Ax. Nampak LCD, monitor, dan segala jenis alat teknologi canggih dan informasi menjadi hiasan ruangannya.Sempurna. Inilah yang selama ini diimpikan Lona, dan sekarang semua sudah diwujudkan oleh kakaknya. Ia sudah lama tidak bermain dengan layar seperti ini setelah hampir 12 tahun lamanya.
"Ini untukku?" Haru Lona menatap kakaknya yang mengangguk pelan.Lona memeluknya dengan erat dan menangis dalam pelukan kakak kesayangannya.
"Ada ruangan di balkon tempat aku meletakkan alat musikmu. Apa kau suka desainnya?" Tanya Ax diangguki cepat Lona.
"Sangat ! Terimakasih kakak sudah mewujudkan mimpiku selama ini."
"Sama-sama, aku masih ingat saat usia kita 5 tahun. Kau selalu menatap layar seperti ini di tempat kemiliteran. "
"Kakak masih mengingatnya?"
"Aku tahu ingatanku tidak sehebat dirimu. Namun aku juga tidak pikun."
Lona terkekeh dan memeluk Ax. Dengan hati gembira ia meraih gitarnya dan memetiknya sesuai moodnya hari ini. Rumah yang awalnya sepi dan sunyi, sekarang selalu mengalungkan melodi-melodi indah.
Keesokan harinya, Lona kembali bersekolah. Ia harus terkejut saat bola basket mengenai kepalanya dan membuat Lona tersungkur. Itu adalah ulah Kenzie yang sudah tertawa bersama semua orang. Lona menatap sekitarnya dengan gemetar takut.
Ia terus menunduk karena suara tertawaan semakin keras. Aroma yang tidak asing membuat Lona menoleh kesamping. Nampak Ax yang tersenyum padanya dan berjongkok menyamakan Lona. Semua bahkan sudah menganga tak percaya.
"Aku ada disini. " Ucap Ax membangunkan Lona dan membersihkan seragam Lona. Kenzie hanya diam beku melihat perlakuan Ax pada murid baru tersebut.
Tidak terima melihat pangeran mereka menolong Lona. Selama ini tidak ada yang bisa mendekati Ax dan membuat sebagian wanita iri pada Lona.
"Hei Stultus!" Ucap Gadis membuat Lona menyerngitkan keningnya bingung.
"Namaku Lona bukan idiot." Polos Lona membuat segerombolan gadis itu tersenyum remeh.
"Kau itu i***t! Penampilan yang menjijikkan, Pantaskah kau ada disini? Berani-beraninya kau mendekati Ax. "