Bullying

620 Words
Aku tidak melakukannya. " Satu tamparan membuat Lona syok dan menatap tajam gadis tersebut. Dilain sisi, Kenzie yang tidak sengaja melihat hal tersebut. "Jangan keterlaluan. "Tekan Lona mengancam gadis tersebut. Lona tanpa takut menatap nyalang segerombolan tersebut. "Bisa apa kau?" Ledek salah satu diantara mereka. Kenzie nampak diam memperhatikan aksi tersebut tanpa berniat membantu Lona. Ia juga bingung mengapa orang yang sama sekali tidak peduli dengan wanita, jadi simpatik padanya.Sedangkan Lona sudah menyerigai dan meninggalkan gerombolan tersebut. Ia menahan amarah saat orang lain mengingatkan perbuatan neneknya. Langkahnya dihadang dan sudah ada kursi lipat yang siap-siap menghantam tubuh mungilnya. Cukup sudah kesabaran Lona. Ia berbalik dan mencengkeram salah satu kaki kursi dengan sebelah tangannya.Mata Kenzie membelalak melihat kekuatan dan ketangkasan Lona. Nampak lawannya kesulitan menghantam Lona dengan kedua tangan. "Aku sudah peringatkan! Tapi kenapa kau tidak peduli."Tekan Lona mengancam. "Siapa kau sebenarnya? " Lona tidak menjawab dan langsung pergi. Kenzie yang seolah tidak tahu apa-apa duduk dibangkunya ketika Lona kembali. "Jangan memikirkan hal yang tidak penting. " Ucap Lona Lirih sambil membaca buku. Namun Kenzie langsung menengang dan menatapnya. "Hah? Kau bicara padaku?" "Menurutmu? " Datar Lona malah asik dengan bukunya. "Siapa kau sebenarnya? Kau dalam pengawasanku. " Gumam Kenzie membuat Lona terkekeh. Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang dihindari Lona. Ia selalu gugup karena dipandang orang-orang. Saat guru mengambil nilai Olahraganya, ia sama sekali tidak bergerak dan membuat semua temannya tertawa mengejek. "Hahahaha, dasar bodoh."Keringat bercucuran hingga membuat jemari Lona bergetar memegang bola. Cuaca yang semakin panas terik membuat guru tersebut tanpa belas kasih menghukum Lona untuk terus berdiri di Lapangan. Kenzie terkekeh sambil mendrible bola mengelilinya. Lona menundukkan kepalanya dalam dan membuat Kenzie semakin tersenyum kemenangan. "Jadi keahlianmu hanya di matematika? "Ledek Kenzie membuat Lona mengepalkan tangannya. "Brengsek. "Ucap Lirih Lona yang masih didengar Kenzie. Pria tersebut awalnya terkejut, namun ia kembali tertawa kearah Lona dan mendorong tubuh Lona dengan mudahnya. "Kau keberatan? Kira-kira kau bisa apa?" Sungging Kenzie membuat Lona diam. Ia tahu Kenzie sedang memancingnya. Lona terkekeh dan membuat Kenzie seketika diam kesal. Gadis itu menegakkan kepalanya dan menatap Kenzie. Bahkan gadis itu menepuk pundak Kenzie sambil tersenyum. "Coba saja lakukan kegiatanmu yang sia-sia itu Zie."Merasakan Lona menatangnya, membuat Kenzie meninggalkan Lona sendiri. "Kita lihat saja." Lona yang melihat Ax sedang push up tanpa mengenakan atasan dan memperlihatkan tubuh kekarnya. Ototnya serta sispack yang jadi pemandangan indah. Serta dada bidang dan tatto nama panjang ibunya di daerah tersebut. "Ada apa Lona?" "Aku minta pada kakak jangan dekat-dekat denganku, boleh?" Tanya tidak enak Lona pada Ax yang nampak menyerngit tak suka. "Kenapa? Aku harus melindungimu." "Tapi kakak malah mempersulit diriku, fans kakak yang berlaku tidak menyenangkan padaku. "Ax menghembus nafasnya berat dan mengepalkan tangannya. Lona menepuk pundaknya dan tersenyum. "Bisa? Aku akan kembali belajar memegang senjata." Ucap Lona membuat Ax menyunggingkan senyumnya. Nampak pria tersebut berjalan membuka lokernya. Berbagai pisau milik tentara dimiliki Ax. Bahkan pelumas sejak perang dunia 2 dimiliki pria tersebut. "Aku dapat kalung ini dari mama. Sangat indah dan tajam. Namanya White Rose, pisau sangat tipis dan kecil berukiran mawar dan asli dari perak. Kau mau?" "Tidak! Aku tahu itu milik kakak. Jangan pisau." "Bagaimana kalau cincin? Aku pernah dapat hadiah dari kakek sebuah cincin yang dapat menyimpan serbuk racun dan jarum didalamnya." "Aku mau." Senang Lona membuat Ax memberikan tanpa Cuma-Cuma. "Mau berlatih menembak? Kau tidak mungkin lupa teorinya kan?" Ucap Ax bercermin sambil memasang peluru. "Boleh. " Hari ini Lona bersama kakaknya di arena menembak. Pistol yang dibelikan Ax untuk Lona adalah model klasik. "Great baby." Puji Ax setelah puas dengan bidikan Lona. Lona nampak gembira dengan latihannya. Tak memakan banyak waktu untuk Lona kembali belajar menembak. "Besok aku akan bawakan laras panjang. Untuk sekarang istirahatlah, aku ada janji dengan teman-teman kakak. " "Ya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD