Ax Talent

734 Words
"Itu sudah sangat lama kakak. Aku tahu mereka masih mengenaliku atau tidak." "Mereka akan kenal gadis cerewet berusia 5 tahun yang ahli menyadap. Apa kau mau bergabung dan bekerja dengan para detektif ? Aku tahu kau ingin sekali." "Sungguh?" "Ya. Kau mau?" "Sangat." Dilain sisi, seorang pria tengah duduk bersama keluarganya untuk makan malam. Wajahnya datar dan dingin menatap anggota keluarganya. "Papa baru datang dan mengajak dia?" Lirik Kenzie melihat gadis yang tersenyum padanya. "Sedikit sopan Zie. Dia mama jodohkan dengan kamu." "Kenapa?! Kenapa mama ambil keputusan ini?!" Sentak marah Kenzie meninggalkan makanannya. "Zie, makanlah. Papa besok akan kembali tugas. Dan keputusan ibumu itu lebih baik." "Aku sudah punya tambatan hati sendiri pa. "Bela Kenzie membuat semua terdiam. "Zie, aku suka sama kamu." Tutur gadis yang awalnya hanya terdiam. "Bulshit!" Kedua orang tua Kenzie hanya saling pandang dan bingung. Kenzie menyukai Lona. Ya, Kenzie jatuh cinta pada gadis sederhana tersebut. Kenzie membayangkan bila wajah Lona bisa cerah dan berseri, mungkin akan cantik. Tapi seperti itu saja, Kenzie sudah bersyukur dan dia berharap bisa menjadikan Lona kekasihnya. Meskipun ada Ax, ia tidak peduli.Sedang kedua orang tuanya sedang menatap balkon dengan tatapan kosong. "Bagaimana bila Kenzie benar-benar punya kekasih?" Tanya papa Kenzie membuat istrinya diam. "Kita tidak tahu gadis seperti apa. Meski ada Grieta, aku masih mengingat gadis yang lucu itu. Mungkin sekarang umurnya sama dengan Kenzie. Dia begitu mempesona dan berbeda. " "Dia cucu keluarga Devano dan anak tuan Allegra. Dia keturunan mafia yang sangat cerdas. Aku juga terpukau pada dua anak kembar tersebut. Pemikiran mereka sangatlah dewasa. Aku berharap suatu saat aku bertemu dengan mereka." "Yah, bagaimana nasib gadis itu setelah dipisahkan neneknya dari ibu kandungnya?" Terawang mama Kenzie. "Kau bisa mengenalinya. Keturunan Devano punya Tatto lambang keluarga mafia bergambar mawar hitam. Dan lambang keluarga Allegra gambar daun ganja." "Sudahlah mustahil kita bisa bertemu dengan dia." Sendu mama Kenzie pada suaminya. "Sebaiknya kita tidur karena aku akan kembali ke Skotlandia untuk melatih para agen Echelon." Lona memandang bangunan luas nan rindang. Kini ia sedang berada di Skotlandia bersama Axeliano. Pria itu menggenggam tangannya dan menggandengnya untuk masuk. Senyum terbit di wajah Ax membuat semua orang menatapnya. "Anda siapa?" Tanya seseorang pria muda yang membuat Ax menatapnya. "Kau pasti baru disini. Namaku Ax, lulusan disini. "Ucap Ax memperkenalkan diri yang hanya ditatapi curiga. "Berapa umurmu? Kau nampak masih muda. " "Kami 17." "Kalian berusaha membohongi diriku?" "Kami tidak ada waktu untuk meladeni dirimu tuan, kami ingin bertemu Letnan Jenderal Elthifar. "Kesal Ax mulai tak sabar. "Aku hanya penasaran, benarkah omongan besarmu itu. Aku ingin kau membuktikannya." "Dengan apa?" Datar Ax. "Aku terkenal handal menembak. Mau bertanding denganku?"Ax hanya mengangguk ikut dibelakang bersama Lona. Mereka sudah digiring ke Arena menembak. "Pistol sudah biasa. Bagaimana kalau laras panjang? Kau akan tahu bakatku. "Sombongnya hanya ditanggapi kakehan Ax. "Mau taruhan?" Tantang Lona membuat pria tersebut menyerngit. "Nampaknya seru. Apa?" "Kalau aku menang, adikku harus dapat posisi penting dalam keanggotaan Echelon. "Sungging Ax membuat pria tersebut membola. Nampak ia lama memandangi gadis yang bersembunyi dibalik tubuh jangkung kakaknya dengan malu dan ragu. Ia juga nampak berfikir dan tersenyum. "Baiklah karena aku tahu kemampuan diriku. Bila aku yang menang, kalian harus jadi anak buahku." "Deal." Ax memilih senapan dan mencoba membidik. Pria itu hanya tersenyum sombong menatap Ax. "Targetnya bukit itu." Tunjuk pria tersebut pada perbukitan yang terpasang bendera merah. Kira-kira jaraknya 10 KM. Bahkan Lona harus menyipitkan matanya. "Kau dulu." Tenang Ax masih asik mengontrol titik fokusnya. Pria itu sudah melesatkan kearah sasaran dan tersenyum puas saat bunyi tembakan mengenai sasaran dan bendera tersebut jatuh. Ada pria lain yang kembali memasang bendera.Ax mengatur pernafasannya dan melesatkan tembakannya. Begitu halus bagai hembusan angin yang menerpa bendera tersebut. "Kau memakai peredam? "Tanyanya membuat Ax terkekeh dan menyerah senjata tersebut pada pria tersebut. "Coba tembak saja." Ia menuruti Ax dan kembali membidik. Nyatanya bunyi tembakan terdengar. Ia masih tidak menyangka kehebatan pria yang ia tantang tadi. "Wah, ternyata kau sangat hebat." Pujinya membuat Ax terkekeh. "Jangan lupa taruhannya. " "Makanya jangan sombong. Kakakku tidak ada duanya." Sahut Lona membanggakan kakaknya. "Maaf. Aku tetap akan memenuhi janjiku." Sesalnya membuat Ax dan Lona mengangguk. Mereka masih melanjutkan berjalan dengan santai. Nampak pasukan yang baru datang dan terkejut dengan kedatangan Ax dan Lona. "Ax? Lona?" Tanya orang-orang memastikan bahwa kedua remaja tersebut adalah Ax dan Lona.Ax tersenyum dan membuka sedikit tulang selangkanya yang tertutupi kemeja dan Lona yang menggulung lengan kaosnya dan memperlihatkan Tatto miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD