Welcome To Echelon

764 Words
Semua merangkul dan bersalaman dengan Ax dan Lona. Semua berbincang-bincang ringan hingga kepala pasukan mereka datang. "Wah, ada tamu? Siapa?" "Axeliona dan Axeliano Letnan Jenderal. " Elthifar terkejut dan tidak menyangka kedua bocah kecil yang dulunya ia latih sekarang menjadi remaja yang tampan dan cantik. "Apakah benar kau Lona yang bandel itu?" Tanya Elthifar membuat Lona terkekeh. "Maaf letnan, saya selalu menyusahkan anda." Formal Lona membuat Pria gagah tersebut memeluknya. "Kemarin aku membicarakan dirimu bersama istriku. Dan aku tidak menyangka kau ada disini. " "Lona akan aku masukkan pada agensi Echelon. Dia sangat rindu dengan hobinya. Dan ia ingin menyalurkan. " "Baiklah biar aku kenalkan kau pada keanggotaan detektif negara tersebut. " Lona hanya tersenyum dan berjalan dibelakang. Semua tatapan bertanya dan aneh dilayangkan untuknya. "Perkenalkan dia Lona. Anggota kalian yang baru. Dia punya keahlian menyadap, menyamar, forensik, dan kerja lapangan lainnya. "Bangga Elthifar membuat Lona menunduk tersipu. "Ah aku bertemu dengan kakaknya, dan meminta jabatan untuk adiknya. Namun kami juga perlu bukti agar dia bisa disebut pantas untuk jabatan tersebut. "Ucap pria yang akan menantang Ax bermain laras panjang. "Aku siap." Semangat Lona membuat Ax tersenyum lega. Adiknya mulai mengalami perkembangan. Kini Lona menjadi pusat semua orang. Gadis itu dibawa ke ruang forensik. Nampak seseorang yang terbujur kaku dipenuhi banyak luka. "Dia mati di medan perang. Seorang tentara asal Afganistan. "Tutur Lona membuat semua orang terkejut. "Dari mana kau tahu?" "Bekas tanah yang masih menempel ditubuhnya khas. Kulitnya kecoklatan. Di daerah Eropa tidak mungkin mempunyai tekstur tanah yang seperti ini. Kornea matanya juga berbeda."Ucap Lona mengambil bekas tanah dan memperlihatkannya dengan serius. Semua terpukau dengan analisis Lona. Gadis ini sangat berbakat. Seakan ia punya banyak wawasan yang luas dan umurnya yang begitu muda. "Bisa saja dia dari Asia atau Afrika?" "Tanahnya sedikit kemerahan dan volumenya sedang. Tiap daerah mempunyai iklim yang berbeda yang terkadang membuat penduduknya mempunyai ciri khas tersendiri. Kadang ada kalanya kau berteman disosial media dengan memperhatikan wajah dan karakter mereka." "Hanya lewat gambar?" Lona terkekeh dan menepuk keningnya. Ia bisa seperti karena ia memang punya ketertarikan dengan hal semacam ini. Dan tanpa sadar ia bisa melakukan sesuatu yang sulit dilakukan orang lain. "Apa aku harus menjelaskan juga kematiannya?" "Kami duga dia terkena nuklir atau lukanya yang menghabiskan banyak darah. "Terang kepala bagian membuat Lona menahan tawa. "Dia hanya terkena serangan jantung." Tutur ringan Lona membuat semua terkejut. Bahkan pemikiran mereka tidak sampai disana. "Kau belum lakukan pemeriksaan? Lakukan saja. Tidak ada reaksi nuklir ataupun luka fatal." Semua menunggu hasil pemeriksaan dan terkejut melihat hasil yang keluar. "Bagaimana bisa?" "Hahaha, karena dia punya IQ sempurna. Di usia 5 tahun dia lulus militer. Kalian jangan coba lagi menguji kedua orang ini. Kemampuan kalian tidak ada apa-apanya." Kekeh Elthifar membuat semua menunduk malu. "Kau masuk agensi kami Lona, apakah kau bersedia memegang jabatan ketua forensik? " "Apa aku juga boleh terjun langsung ke lapangan? " "Tentu." Lona tersenyum dan menerima. Hari ini juga Lona masuk agensi Echelon, badan detektif negara. Ax memandang bangga dan bahagia melihat pencapaian adiknya. "Perjalanan dan petualanganmu akan dimulai. " “ Letnan Jenderal!" Panggil seseorang tergopoh-gopoh menemui Elthifar. "Ada apa?" "Saya mendapat kiriman dari seseorang yang tidak dikenal. Beliau berkata ingin balas dendam pada anda dan akan mencelakai keluarga anda." Ujarnya membuat semua terkejut. "Benarkah? " "Sekarang ia ada di Spanyol dan target pertamanya adalah putra anda. " Elthifar terkejut dengan raut Cemasnya. Putranya sama sekali tidak bisa bela diri. Ia sangat menyesal tidak mengajarkan putranya memakai senjata. "Kami berdua akan segera kembali ke Spanyol. Kami juga bisa mengawal putra anda." Terang Ax melihat raut kecemasan Elthifar. "Dia tidak suka di kawal, dan aku menyesal tidak mengajarkan dia bagaimana cara memakai senjata. " "Tidak apa Letnan, mungkin kami bisa mendekati dia layaknya teman. Jadi dia tidak merasakan kalau dia sedang dikawal." Ucap Lona membuat Elthifar memandang lembut maniknya. "Aku ingat dia. Dia bukan orang sembarangan Lona, ini sangat beresiko. " "Apa selama ini kau ragu mengajari kami? Dan kau ragu dengan kemampuan kami?" Sedih Lona membuat Elthifar menggelengkan kepalanya. "Tidak Lona, aku percaya pada kemampuan kalian. Tapi aku juga sangat menyayangi kalian." "Letnan jalankan tugas anda. Serahkan tugas itu kepada kami." "Baiklah, bila kalian perlu bantuan. Pasukan 15 akan membantu kalian." Desah beratnya. Tanpa menunggu lama, Lona dan Ax terbang ke Spanyol. Lona yang masih serius menatap layar laptopnya. "Aku sudah membajak email Letnan, bila orang itu menghubungi lagi, maka secara otomatis pesan itu terkirim padaku." Ucap Lona serius. "Aku juga khawatir padamu. Aku akan berusaha menjagamu." Usap lembut Ax dikepala Lona. "Aku bisa kakak. Kakak sudah lihat aku kembali?" "Ya. Aku sangat bahagia, kau sudah seperti mama. "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD