The Gift

963 Words
Kenzie seakan membatu melihat gadis dihadapannya. Begitu menyeretnya dalam pesonanya. Ia tak menyangka seorang Lona memiliki Tatto dilengannya. "Kau sudah menyesal menyia-nyiakan batu permata demi sebuah kerikil. Selamat berjuang mendapatkan Lona diantara serigala-serigala yang juga mengincarnya sekarang." Bisik Ax didekat Kenzie. Pria itu hanya diam menegang. Ax benar, mulai sekarang banyak pria yang akan berusaha mendapatkan Lona. Dan kalau Lona tidak berpaling dari Kenzie, maka itu adalah keberuntungan Kenzie. Semua mata terang-terangan tertuju pada Lona. Langkah Lona masih ragu dalam langkahnya. Hatinya merasa resah sejak awal. Kini malam puncak telah tiba. Sambutan kepala sekolah membuat semua terdiam khidmat mendengarkan pidato. Ax mulai diam membeku. Terasa genggaman Lona semakin menegang. Ax hanya diam seakan mempertajam inderanya. "Ada apa kak?" "Aku mendengar suara detak jam yang begitu jelas." Tidak ada yang setajam Ax bahkan Lona yang merasa tidak mendengar. Langkah Ax bersama Lona mulai mendekati lantai marmer melingkar. Meski mereka rela berdesak-desakan dengan semua orang. Semua tidak lagi memperhatikan Kepala sekolah, melainkan Ax dan Lona. "Ada apa kalian?" Tegur kepala sekolah melihat tingkah Ax dan Lona. Ax hanya diam dan mulai berjongkok. Menempelkan telinganya pada lantai meski banyak orang sudah menatapnya aneh. Dadanya bergemuruh dan tangannya meraba lantai marmer, keringat yang mulai bercucuran. Lona terdiam dan berlari menuju bawah panggung. Ia mengeluarkan sebuah palu. Lona segera menyerahkan pada Ax dan segera menghancurkan lantai tersebut. Semua mata membulat melihat bom yang ditanam di bawah lantai. Waktu yang menunjukkan kurang 20 detik dan membuat semua orang panik. Pintu yang tertutup rapat semakin membuat panik. Bahkan Lona merasakan pusing dan sesak. "SEMUA DIHARAPKAN TENANG!" Teriak Ax pada semua orang sambil membekap tubuh Lona. "Kak, waktunya tidak banyak lagi." Getarnya membuat Ax semakin membekapnya dengan erat dan membuat Kenzie semakin mengepalkan lengannya. "Sttt, aku yakin kita bisa. Kau masih ingat jenis bom rakitan ini Lona? "Tunjuk Ax membuat Lona mengangguk. "Buatan Amerika Serikat. Masih pakai analog." "Kau juga masih ingat menjinakkannya?" "Aku takut." Cicitnya membuat Ax menggeleng. "Anggap dia binatang yang harus kau jinakan Lona. Nyawa semua orang ada ditanganmu, kau pasti bisa. Pertama hentikan waktunya, lalu kau bongkar isinya." Lona meyakinkan hatinya melihat semua orang yang berada di ruangan begitu ketakutan. Ia mulai memperhatikan benda tersebut dan memotong bagian kabelnya dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Tinggal 5 detik terakhir namun ia masih berkutat dengan kabelnya. Hingga hitungan kesatu, bom berhasil dihentikan. Semua tepuk tangan untuk Lona. Gadis itu sungguh cerdas dan pemberani. "Jadi ini hadiahnya? "Ucap Ax mengamankan bom rakitan tersebut. "Untuk berjaga-jaga aku membawa palu. Memang kakak mirip Thor. "Kekeh Lona membuat Ax ikut tersenyum. "Aku bangga punya dirimu yang begitu cerdas dan berani." "Aku juga bangga punya kakak. " Kemesraan keduanya membuat Kenzie panas kebakaran. Pria itu hendak pergi meninggalkan Ax dan Lona. Namun Ax mengetahui Kenzie dan menghampirinya. "Dia adik kembarku. Axeliona Thalia." Tukas Ax terkekeh sebelum meninggalkan Kenzie yang linglung. "Hah? Apa maksudmu? " "Dia adikku, aku memberitahukan padamu bahwa memang kau tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. " "Lalu siapa sebenarnya kalian? Bagaimana dia bisa menjinakkan bom dan secerdas itu?" "Dia Lona. Hanya Lona, the amazing my lady. Lambat laun kau akan tahu siapa dia sebenarnya. Dan selamat bersaing untuk menjadi adik iparku." "Sialan! " Lona datang berbeda dari biasanya. Dagunya terangkat menampilkan wajah berseri dan cantiknya. Semua orang yang mencibirnya, kini terang-terangan mulai menyapanya dengan manis. "Hemm. Brengsek. "Smirk Lona memasuki kelasnya.Tak henti-hentinya tatapan pria memujanya dan membuat semua gadis membicarakannya dengan heboh. "Hai." Sapa Kenzie dengan senyumannya. "Oh, Hai. " "Jujur aku lebih suka kau yang dulu." Ucap Kenzie membuat Lona terkekeh. "Really? Mulutmu adalah harimaumu. "Sungging Lona membuat Kenzie menundukkan kepalanya bersalah. "Percuma, semua sudah terjadi. Yang kau lakukan adalah menerima kenyataan." "Maaf." "1000 maaf tidak akan bisa mengembalikan angin yang sudah menerjang dan memporak-porandakan suatu tempat. Begitu pula dengan hatiku yang sudah hancur tak bersisa. " "Aku adalah pria yang paling bodoh. Tapi aku harap aku masih punya kesempatan. " "Tenang saja, aku datang kesini untuk mendampingimu. Suatu saat, bila semua sudah selesai dengan urusanku, maka aku akan pergi dari hidupmu. " Ucapan Lona begitu menyayat Kenzie. Dia tidak akan membiarkan Lona pergi darinya. Ia akan mencari tahu apa tujuan Lona, dan ia akan berusaha menggagalkan rencananya agar tetap bersama Lona. Ax datang menghampiri Lona dengan wajah seriusnya. Semua sudah memaklumi hubungan keduanya. "Hasil rapat para guru, kemungkinan situasi sekolah akan terus mengkhawatirkan. Apakah dia mengirim emailnya lagi?" "Aku masih menunggu. Tapi dia sama sekali tidak meresponnya. " "Tetap waspada. " Sepanjang hari Kenzie selalu memikirkan Lona. Apa tujuan Lona? Ia sampai memijit keningnya lelah. Lona bukanlah gadis biasa, ia harus tahu siapa identitas aslinya. "Kenzie sudah pulang." Ucap mamanya antusias dihadapan para tamu. "Papa kamu akan datang sebentar lagi. Mau makan bersama sekalian? Atau mau berbicara dengan Grieta? "Ucap mamanya membuat Kenzie semakin muak. Elthifar yang baru datang dengan wajah penatnya. Ia melihat kondisi Kenzie yang baik-baik saja. Ia juga mendengar kabar kalau Lona terluka demi menyelamatkan putranya. Ia juga akan menyampaikan kabar tersebut pada istrinya, pasti ia akan senang mendengar Lona. Gadis yang disukai istrinya dan lama tidak bertemu. Dilain sisi, Lona kembali terusik dengan email yang terkirim. Peneror itu kembali mengirimnya teka-teki. Kau pasti lega mendengarnya. Kita akan selesaikan semuanya. Lona, aku ingin lihat kau akan menjadi peran apa? Dewi Shinta, Rama, Jatayu, atau hanuman? Aku akan datang untuk pertempuran terakhir. Mari kita libatkan kedua pasukan kita, raksasa dan para prajurit kera. Persiapkan dirimu. Salamku, Rahwana. Lona memijit keningnya lelah. Wajahnya gusar menatap pesan Rahwana kali ini. Memang setiap pesan dari Rahwana selalu berbahaya. Tapi kata SELESAI menandakan bahwa memang pesan ini untuk yang terakhir. Ia segera memperlihatkan pada Ax tentang pesan tersebut. Pria itu hanya diam dengan raut wajahnya yang serius. "Dia yang akan datang. Untuk itu kita harus temukan siapa dia." Ucapnya. "Akan terlibat banyak orang dilihat dari pesannya, persiapkan pasukan raksasa dan kera? "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD