"Jangan sampai pasukan ikut apalagi Letnan Jenderal sendiri. Aku akan bertanya pada Quela di Skotlandia. " Ax menegang dan memandang cemas Lona. Elthifar sudah ada di Spanyol untuk itu dia harus menemui Elthifar.
"Aku akan kesana."
"Tapi bagaimana kalau Kenzie ada?"
"Kita pakai topeng. Yang jelas Letnan Jenderal tidak boleh turun langsung besok."
Malam itu pintu kediaman Elthifar didatangi 2 orang misterius dengan pakaian serba putih. Semua orang yang bersiap makan malam harus terusik dengan kehadiran mereka.Sosok pasangan suami istri paruh baya yang menatap keduanya tegang. Sedangkan Kenzie yang begitu pemasaran kali ini dengan tamu ayahnya.
"Silahkan ikut aku keruangan khusus." Ucap Elthifar segera paham.
Lona menatap Kenzie dan sekelilingnya. Ia mengepalkan kedua lengannya dan tersenyum sinis dibalik topeng.
"Memang brengsek! "
Ax yang langsung mengutarakan pesan Rahwana pada Elthifar dan mencegah pria tersebut untuk ikut serta.
"Baikhlah kalau begitu apa kalian bisa membahas rencana ?"
"Tapi letnan bagaimana?"
"Salah satu cara mengalahkan lawan ialah selangkah lebih maju dari dia. "
"Aku masih tidak tahu siapa dia sebenarnya? "
"Namanya Rendlesham Troye. Dia rivalku sejak dulu. Ia pernah masuk penjara karena aku yang menggagalkan usahanya dalam penyelundupan obat terlarang. "
"Lalu apa yang harus kita persiapkan?"
"Pesan itu mengartikan kalau ia tidak sendiri, ia juga membawa pasukan kali ini. Kalian harus berhati-hati, aku tidak akan turun tangan bila putraku tidak dalam bahaya. "
"Sebaiknya Kenzie tidak usah masuk besok."
"Berat Lona. Besok adalah pemilihan peserta olimpiade dan Kenzie pasti ingin ikut. Kita tidak tahu kedatangan dia kapan."
"Sebaiknya aku membawa pasukan utama besok." Ucap Elthifar membuat Lona mengeluarkan sesuatu dalam tas bawaannya.
"Aku sudah membuat chip khusus agar kita bisa saling terhubung. Kami berdua yang akan terjun lapangan, dan kalian yang memantau dari pusat." Ujar Lona membuat Elthifar tersenyum.
"Aku selalu bangga akan kerjamu. Kalau penyerangan di Sekolah, kalian juga harus mengutamakan keselamatan semua orang. Maka akan sangat berat bagi kalian berdua."
"Kami akan berusaha. Kali ini aku yang akan mencoba menghadapinya." Ucap Lona membuat Ax melototkan matanya.
"Tidak!"
"Jangan egois kakak. Nyawa banyak orang juga harus kita perhitungkan. Kakak yang harus melindungi mereka, dan aku akan urus dia. "Ucap Lona membuat Ax terdiam.
"Kalian sudah punya senjata?" Ucap Elthifar mengalihkan.
"Kami punya segalanya letnan. Kakek kami bahkan nenek dan ibu kami punya berbagai senjata." Kekeh Ax membuat Elthifar salah tingkah.
"Ah maaf, aku sampai lupa siapa kalian."
"Tapi kalau kita menggunakan manipulasi juga bagus." Celetuk Lona sambil menerawang.
"Maksudmu?" Bingung kedua pria dihadapannya.
"Serahkan saja padaku. Terkadang kita perlu menjadi jahat demi kebaikan, tanpa kejahatan maka kebaikan tidak ada gunanya." Seringainya.
"Berhati-hatilah kalian." Batin Elthifar memandang Ax dan Lona.
"Semoga kita berhasil." Batin Ax mencemaskan Lona.
"Kita akan bersenang-senang besok." Seringai Lona dalam batin.
Pagi yang ditunggu telah tiba. Dimana Ax dan Lona sama sekali tidak tidur untuk mempersiapkannya. Semua perlengkapan dan senjata diselundupkan dalam pakaian mereka. Chip yang sudah terpasang dan aktif ditubuh mereka.Ax membuka rak berisi senjata lengkap dan Lona yang mempersiapkan alat komunikasi dengan baik.
"Kakak gugup?" Tanya Lona melihat wajah Ax yang begitu resah.
"Aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Percayakan padaku kalau kakak menyayangiku. Aku bisa, kakak percaya bukan?"
"Tidak ada yang tahu kita Akan menghadapi seorang mafia."
"Hahaha... lucu sekali, kakak tidak sadar diri rupanya. Siapa kakak? Darah siapa yang mengalir dalam diri kakak? Bahkan seorang psikopat kakak. "Ucap Lona meninggalkan Ax yang diam membeku.
Hari ini Lona harus tahu Rendlesham itu. Ia langsung pergi ke Perpustakaan dan mencari tahu. Tapi hasilnya nihil. Lalu apakah orang tersebut berasal dari luar? Tapi bagaimana ia masuk Sekolah sedangkan pengawasannya begitu ketat?