"Wah, dijam pertama seorang gadis membolos di Perpustakaan. "Ucap seseorang membuat Lona berjenggit kaget.
"Maaf pak. Saya sedang dihukum karena tidak mengerjakan tugas. "Ucapnya menunduk tidak tahu.
"Kamu murid baru ya? Saya Mahsel. Kepala sekolah, lucunya kamu tidak tahu siapa nama kepala sekolah kamu." Tawanya membuat Lona kikuk.
"Maaf pak."
"Sudahlah, sebaiknya kamu segera ke Kelas. Tidak baik dalam kondisi seperti sendirian. "Titahnya membuat Lona mengangguk patuh.
Lona mengetuk kepalanya berkali-kali. Dia memang konyol dan bodoh. Bagaimana ia tidak tahu nama kepala sekolahnya. Benar-benar bodoh. Ia akan catat namanya Mr. Mahsel. Langkahnya terhenti seketika. Matanya membulat sempurna. Dadanya bergemuruh tegang, dan keringat mulai bercucuran.
Lona berlari kearah kelasnya. Meramaikan suasana yang sunyi dan senyap. Chipnya sudah menyala dan seketika membuat Ax waspada.Lona dengan tergesa-gesa membuka pintu kelas dan membuat semua orang memandangnya. Ia hanya bisa tersenyum kaku menatap guru pengajar.
"Maaf saya ada keperluan di perpustakaan tadi."
"Ya, silahkan."
Seketika ruangan yang sunyi terusik kembali dengan suara speaker. Rahang Lona maupun Ax menegang sempurna.
"Speaker ini sudah kami sadap. Dan seisi sekolah ini sudah kami bajak. Akan ada orang bersenjata, dan turuti semua perintahnya. Atau kalian akan MATI. "Suara serak yang mengisi begitu mencekam terlebih penekanan diakhir kalimatnya.
Rasanya Ax ingin bertemu dengan Lona. Namun orang itu sudah masuk ke kelasnya juga kelas Lona.
"Lona, kau baik-baik saja?" Suara Ax lewat chip.
"Aku baik kakak. Fokus saja." Ucap Lona membuat Kenzie menatapnya.
"Kau bicara pada Ax ?"
"Hah? Kau kurang fokus mungkin. Aku tidak pegang telfon, bagaimana aku menghubunginya?" Datar Lona menatap pria berpakaian serba hitam dengan senjata laras panjang.
"DENGARKAN AKU BAIK-BAIK. MAJU SATU PERSATU TANPA PERLAWANAN ATAU AKU TEMBAK." Ucapnya membuat semua siswa menciut.
Kenzie sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Ia meresahkan gadis yang ada disampingnya. Yang membuat Kenzie bingung karena raut datar Lona.Semua tangan diborgol hingga giliran Lona yang akan diborgol. Ia tersenyum dan membuat pria misterius tersebut mewaspadainya. Tepukan Lona berikan tanpa takut didepan pria tersebut sehingga membuat semua orang membulatkan matanya.
"Kau seharusnya yang dengarkan aku. Turuti perintahku, karena aku tuanmu. Hanya aku yang bisa membawamu kembali dalam kegelapan. Mengerti?" Lembut Lona berbisik didekatnya.
Pria tersebut mengangguk pelan dan membuat Lona tersenyum puas. Semua masih dibuat tercengang. Ternyata Lona bisa menghipnotis seseorang. Kini entah apa yang difikirkan Lona hingga ia ikut diborgol dengan keinginannya sendiri.
"Kalian semua aman. Dia ada dipihak kita. " Ucap Lona bersamaan dengan datangnya Ax. Pria itu nampak ngos-ngosan. Penampilan yang kusut khas orang berkelahi.
"Pria memang kasar." Kekeh Lona membuat Ax tersenyum canggung.
"Biar aku yang melepaskan borgolmu. "
"Ikuti saja alur mainnya. Lagipula kakak sangat beresiko." Dan benar saja, beberapa orang berpakaian serba hitam mulai berdatangan mencari Ax.
Lona hanya menatap kakaknya datar. Ax memang tangguh namun tugasnya juga harus mementingkan keselamatan yang lain. Dan ia lengah hingga kepalanya terkena pukulan vas bunga. Melihat darah yang bercucuran, membuat Lona tidak tinggal diam. Masih tersisa 5 orang lagi.
"HEYYY!!!! SEKALI LAGI KALIAN LUKAI DIA, KALIAN AKAN MATI DITANGANKU. "Teriak Lona mengalihkan semua pandangannya.
"Hahaha.... Gadis mungil ini ingin berbuat apa?" Tawa salah satu pria membuat Lona menggeram kesal dan marah diujung tanduk.
"Kita buktikan saja." Tangan Lona mulai digerakkan seperti diketukkan antar lengan kanan dan kiri. Dalam satu kedipan mata, borgol tersebut jatuh ke lantai.
Gelengan tidak percaya semua orang membuat Lona menyunggingkan senyumnya. Ax mulai paham dengan apa yang dimaksud memanipulasi. Lona memang cerdas dalam bermain sulap, sulap adalah seni manipulasi. Dan membuat orang yang melihat aksinya seakan menjadi orang bodoh.
"Wah... ternyata ada yang pandai main sulap." Ledek salah satu lawan Lona.
"Ya, aku lihat kalian terpukau. Aku juga masih punya teknik sulap yang tidak kalah keren. Mau coba?" Ucap Lona membuat penasaran.
"Lakukanlah. "Tawa semua pria dihadapannya. Lona menyerigai dan mengeluarkan sepoket kartu remi. Ia tersenyum manis dan mulai mengeluarkan kartu-kartunya.
"Coba kalian tangkap." Seringai Lona membuat pria dihadapannya tertantang.
Kartu dengan cepat beterbangan kearah mereka dengan kuat dan cepat. Hingga tanpa sadar mereka mengerang merasakan kulit mereka yang tergores. Lona masih setia tertawa dan melemparkan semua kartunya. Darah yang banyak menetes dilantai membuat semua orang diam terpukau.
"Sialan. Kartu apa itu?!" Lona tertawa dan mengambil salah satu kartunya. Ia menarik mika yang tertempel pada kartu remi.
"Setajam pisau ya? Padahal bukan pisau sungguhan. " Smirk Lona giliran mendekati lawannya.Tangannya yang lentik menepuk punggung lawannya dengan mulutnya yang mudah mengucapkan mantra tidur.
"Tidurlah, dan kalian hanya bisa mendengarkan aku. Kalian akan semakin tenggelam tanpa bantuanku. Aku akan membantu kalian dengan syarat kalian harus patuh padaku." Senyumnya karena diangguki.
"Letnan bertanya apakah kita sudah menemukan Rahwana tersebut, tapi bagaimana mereka bisa masuk kalau gerbang saja begitu rapat." Ucap Ax membuat Lona menatap semua orang.
"Berarti dia orang dalam." Ucapnya membuat Ax menegang.
"Kalian sebenarnya siapa? "Tanya guru pengajar yang menyadarkan Ax dan Lona.
"Ah maaf, kami tidak sopan. Kami pasukan penyelamat. Dan Lona adalah ketua forensik. Maaf selama ini mengganggu kalian. Tapi kami akan usahakan untuk melindungi kalian. "Ucapan Ax bagai dentuman keras bagi Kenzie.
Ia menyukai seorang gadis yang luar biasa. Bukan gadis biasa, dan Kenzie harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Setelah ini Kenzie akan berjanji masuk militer.
"Aku harus menemui dia." Ucap Lona menyiapkan senjatanya. Ax dan Kenzie melihatnya pedih. Seakan mereka tidak rela melepas Lona.
"Kau tahu dia?" Tanya Kenzie membuat Lona menatapnya sejenak.
"Kepala sekolah kita." Kekehnya membuat semua orang terkejut.
"Tidak mungkin pak Mahsel orangnya." Ucap Ax tak percaya. Lona kembali berdecak. Ini dia yang terlampau cerdas, kakaknya yang bergaya bodoh untuk merendah, atau memang tidak paham?
"Mahsel = lesham. Kata tersebut dibaca terbalik. Lesham adalah panggilan dari Rendlesham Troye. Aku akan keluar, kalau kalian tidak ingin mati. Jangan ada yang keluar hingga pasukan kami datang. TURUTI PERINTAHKU." Gadis tersebut segera keluar Kelas dengan wajah penuh keseriusan dan sesekali berbalik dan tersenyum pada Ax.
Gadis itu berada diatas Rooftop dekat tangki air. Menatap punggung seseorang yang menunggunya sambil menyerigai. Tangannya memegang pistol dan pisau.
"Jadi kau yang ambil peran Ramayana? Dimana senjatamu?" Tanyanya berbalik menghadap kearah Lona.
"Segera kita selesaikan semuanya. Aku sudah muak bermain-main denganmu."
"Ah... aku sangat terpukau melihat kecerdasanmu. Ternyata kau punya bakat yang menakjubkan. Semua prajurit milikku sudah kalah. "
"Dan pertempuran akhir kita."
"Aku harap kau tidak menyesal mengambil peran ini. Aku tidak segan-segan memandang lawanku entah kau pria atau wanita. Maka akan aku hancurkan semua." Seringainya membuat Lona menggeram.
Memang perlawanan yang cukup sengit. Pria itu menembak Lona beberapa kali, namun Lona selalu bisa menghindar.
"Aku tidak tahu sebenarnya apa tujuanmu."
"Menghancurkan putra kesayangan Elthifar. Aku ingin melihatnya hancur. Namun kalau kau tidak kubunuh, maka aku tidak akan bisa membunuhnya."
Lona menyerigai dan berhasil mengambil senjata Lesham dan membuat pria tersebut semakin brutal ingin menghabisinya. Tenaga wanita memang selalu kalah dengan pria. Nyatanya Lona sudah terengah-engah menghindari peluru yang terus menghujam.
Dorrr....
Bunyi tembakan pertama yang terkena sasaran. Ax yang selalu punya pendengaran yang tajam merasakan salah satu dari mereka terkena tembakan. Namun ia tidak dapat melihat dengan jelas karena tertutup tangki air. Sedangkan Lona sudah menyerigai melihat lawannya mengerang kesakitan. Darah yang mengalir membuat Lesham semakin murka.
Tidak ada lagi pistol maupun pisau. Tenaganya mampu meremukkan badan Lona. Pergerakan Lona tiba-tiba terkunci. Kepalanya dibenturkan kearah tangki air. Darah bercucuran merembes dari kening sampai pelipis. Lona tidak tinggal diam dan berusaha meraih tengkuk maupun rahang Lesham. Ia masih tidak bisa menjangkaunya hingga tangannya dipatahkan Lesham dan membuatnya menjerit tertahan.
Lona menggertakkan giginya dan membanting tubuh jangkung Lesham. Dengan sebelah lengan ia memukul wajahnya membabi buta. Keadaan kini terbalik, wajah Lona yang berada ditanah dan kaki Lesham yang ada diatas kepalanya. Darah mengucur hebat dari hidung dan mulut. Pria tersebut tertawa melihat Lona yang sudah diam tak berkutik. Memang kepala Lona serasa terhantam.