Baby Honey

1159 Words
"Selamat menuju ajalmu." Seringainya membuat Lona terkekeh dan membuat Lesham diam. "Waktumu hanya 10 detik hitunganku Lesham. Kau yang akan mati. Rahwana selalu mati di pertempuran terakhirnya." Ucap Lona terbata-bata namun dapat didengar Lesham dengan baik. "APA MAKSUDMU?!" Bentaknya menarik rambut Lona dengan kasar. "Ramayana selalu punya senjata. Panah yang membunuh Rahwana. Dan aku sudah menancapkan jarum berisi racun tarantula tanpa kau sadari. "Seringainya membuat Lesham menegang. Memang benar pria itu semakin sesak nafas tanpa sadar. Penglihatannya juga semakin mengabur. "SIALAN KAU TENGIK!" Erang Lesham saat limbung dihadapan Lona. Ia masih mencoba mencekik leher Lona hingga gadis itu memberontak. Gadis itu bergetar mencoba untuk bangkit. Wajahnya yang cantik kini berubah mengerikan dipenuhi darah. Ia melihat Lesham yang sudah terkapar. "Kerahkan pasukan untuk mengevakuasi semua orang. Semua sudah aman." Ucap Lona lapor pada Elthifar. Pasukan utama yang segera datang. Namun Ax dan Kenzie berlari mencari Lona. Gadis itu tidak ada. Namun mereka bisa melihat pertempuran yang cukup serius dengan pisau dan pistol serta ceceran darah dimana-mana. Yang ada hanyalah mayat Lesham yang terbaring. Hal ini membuat Ax frustasi dan cemas pada Lona. "LONA....." Teriaknya hingga semua orang yang ada dibawah mendengar. "Aku disini." Ucap lemah Lona dibalik tangki air dan membuat siapa saja yang melihatnya terkejut. Separuh wajah yang berlumuran darah. Luka gores maupun sobek membuat Ax menitikkan airmatanya. "Sayangku...."Lirih Ax dengan tangan gemetarnya ingin memeluk Lona. Gadis itu berjalan dengan sebelah tangan menyangga lengan satunya dan mencoba meraih saudaranya. Semua menjadi haru melihat keduanya yang saling menangis dalam rengkuhan. Ax begitu hancur melihat adiknya terluka begitu mengenaskan. Rasa menyesal dan marah bercampur aduk. Pria yang berhati dingin tersebut mengelus puncak rambut Lona dengan lembut dan mengecup adiknya dengan sayang. "Adikku kuat. Maaf..."Tangisnya hingga tubuhnya merosot dihadapan Lona. Lona langsung dibawa Ax ke Rumah sakit setelah limbung dihadapannya. Ruang operasi yang tertutup rapat selama 2 jam cukup membuat Ax resah. Lisa yang datang dengan raut marahnya. Menatap nyalang putra semata wayangnya. Tamparan cukup keras dilayangkan Adrian. "CUKUP!" Cegah Allegra menatap datar Adrian. "Alle, kau datang? " "Aku datang untuk menjemput putriku kembali. Kukira kalian bisa melindungi dan membuat dia menjadi gadis yang berani. Keterlaluan berani, hingga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Aku sudah memantau dan aku puas melihat dia membaik. Tapi, mungkin aku yang lebih pantas merawatnya. "Ax menggeleng kuat dan melihat mamanya menitikkan airmatanya. Ini kesalahannya. "Aku yang salah telah memasukkannya ke Echelon. Tapi bukankah selama ini anda mencintai ibuku? Sekarang anda bisa lihat dia menangis karena kau mengambil permata darinya?" Gerget Ax menatap tajam ayah kandungnya. "Kau selalu pintar. Seperti diriku yang tak pernah takut nak. " "Aku bukan anakmu. " "Tapi kita kembali pada masa awal kita, aku mengambil separuh Lisa untuk kubawa." "Aku mohon Allegra. " "Maaf." 6 jahitan di kening dan 2 keretakan di tulang lengan membuat penampilan Lona memprihatinkan. Namun gadis itu cukup kuat karena sudah tersadar. "Bagaimana keadaanmu princess? " "My king." Peluknya rindu membekap tubuh Allegra. "Hai, masih sakit ?" "Aku sudah baik." Senyumnya. "Hati-hati dengan kepalamu sayang. Kau punya kelainan disana. " "Tapi penampilanku sekarang keren ya papa?" "Hahaha, iya. Mau pulang bersama papa?" Lona terdiam dan melihat sekitarnya. Dimana kakaknya hanya mampu menunduk menyembunyikan luka hatinya dan ibunya yang menitikkan air matanya. "Apa papa akan mengabulkan semuanya? "Tanya Lona pelan dan membuat ibu maupun Ax menatapnya tak percaya. "Ya. Pasti." "Aku ikut papa setelah kenaikan kelas." Putusnya membuat Ax begitu hancur. Flashback. "Lona." "Ya letnan. " "Aku punya sesuatu untukmu. " "Apa ini?" "Undangan dari FBI khusus untukmu." Lona tercengang menatap surat yang diterimanya dengan tak percaya. Sebelum ia pergi ke Sekolah, entah kenapa Elthifar memanggilnya. "Aku tidak menyangka ini." Senangnya. "Tapi tentukanlah dan putuskan bersama keluargamu." Lona terdiam. Mungkin akan berat keputusan kali ini. Cukup beresiko sangat tinggi. Apa Ax akan mengizinkan? Melihat Ax begitu khawatir padanya. "Baiklah letnan." Flashback off. Mungkin inilah keputusan berat Lona. Bila ia bersama Allegra, dia akan mengabulkan semua permintaan Lona. Dan Allegra punya beberapa koneksi yang menembus apa saja, apalagi FBI. Hanya beberapa minggu waktu Lona bersama Ax maupun Kenzie. Mungkin terlalu jahat kalau Lona tidak mengakui dia menyukai Kenzie. Dia orang pertama yang dikenal Lona sebagai teman bagaimanapun keadaannya. Pria yang selama ini menjaganya bagai perisai, kini hanya berdiri menatap keindahan dari Balkon kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Hati Lona terasa tersayat melihat begitu hancurnya Ax. Kepulan asap dari mulutnya yang tak pernah diperlihatkan pada Lona. Serta cairan hijau yang sama sekali tidak dipercaya Lona. Merokok merupakan solusi terbaik bagi seorang laki-laki untuk menghilangkan bebannya. Begitu juga minuman alkohol yang mampu menghilangkan beban tersebut. Bagaimana seorang kakak yang dipisahkan oleh adiknya beberapa tahun. Lalu kembali dipertemukan dan dipisahkan kembali. Mereka bahkan terlahir dan didalam kandungan bersama. Lona dapat merasakan betapa pedihnya Ax. Ax sama sekali tidak menyakiti Lona sejak kecil. Pria itu selalu siap sedia untuk Lona. "Kak Axel. "Panggilnya bergetar menahan tangis. "Hey. Kenapa tidak tidur? "Tanyanya berbalik sambil membuang sebagian rokoknya. "Kakak kenapa tidak tidur?" "Aku-" Ax sangat tercekat. Lona hanya menghambur dalam pelukannya dan menangis. Pria yang selalu datar tersebut juga menangis membekapnya sayang. "Aku sayang kakak." "Tapi kenapa kamu kembali?" "Aku tidak ingin kakak mengkhawatirkan aku. Aku tahu kakak kena marah kemarin. "Tangisnya. "Aku siap dengan segala konsekuensi demi dirimu. Kau adalah adik kesayanganku Lona. Dalam dunia ini hanya kau yang paling berharga. Bahkan kau adalah wanita pertama yang sangat aku sayangi melebihi mama. Lalu kenapa kau menyiksaku? " Dada Lona begitu sesak melihat manik mata Ax. Ax akan berikan apa saja untuk kebahagiaan Lona. Dan mulai sekarang ia ingin Ax juga memikirkan kebahagiaan untuknya sendiri. "Aku tidak meninggalkan kakak. Aku juga akan sering berkunjung dan kakak juga bisa menjenguk. " "Berjanjilah untuk menjaga dirimu." Desahnya berat disenyumi Lona. "Kakak juga. Aku ingin menghabiskan minggu ini dan mengisinya dengan memori indah untuk ku bawa." "All you want honey. " "Kak." "Hemm?" "Kalau aku suka Kenzie bagaimana?" Ax hanya diam mematung dan menatap Lona sekejap. Lalu beberapa menit ia tertawa kencang dan membuat Lona mengerutkan keningnya. "Sialan ! Dia pakai jimat atau apa? Hebatnya ia membuat adikku terperosok dengan pesonanya." "Kakak..... aku serius." Kesal Lona tidak terima. "Ahahahaha.... iya. Ungkapkan saja sebelum kau pergi agar semua bebanmu ringan." Lona terdiam beku. Memang waktunya terlambat, atau ia memang salah untuk melibatkan cinta? "Tapi responnya nanti bagaimana? " "Dia tidak akan menolakmu. Kalaupun kau ditolak, ia akan menyesal." Smirknya menatap layar ponsel. "Kakak setelah aku pergi nanti jangan sehancur ini. Kakakku kuat lebih dariku. Bagaimana rival kakak tahu bahwa kakak juga selemah ini. Jadikan aku kekuatan kakak. Bukan kelemahan kakak. " "Maaf, aku cuma bingung harus bagaimana. "Murung Ax. "Lalu apa dengan minum absinthe semua akan punya jalan keluarnya? Alkohol hanya melupakan masalah kakak. Namun tidak pernah memberi solusi. Absinthe itu berbahaya kakak. Kalau kakak masih sayang diriku, hiduplah dengan panjang. Agar kakak bisa menemaniku. Kadar Absinthe 85%, kalau kakak mau, minum saja minyak kayu putih milik nenek asal Indonesia. Rasanya mungkin sama." Ax mencoba menahan tawanya. Adiknya sedang memarahinya, bukan membuat lawakan. Ini mungkin salah satu yang akan membuat Ax rindu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD